Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya dalam Kegelapan
Hujan yang semula hanya rintik-rintik, kini berubah menjadi badai yang mengamuk di luar sana. Suara guntur menggelegar sahut-menyahut, menggetarkan kaca-kaca jendela rumah utama pesantren yang biasanya tenang. Di dalam kamar, Lea baru saja selesai mandi dan mengenakan piyama panjangnya. Ia masih mengeringkan rambut pirangnya dengan handuk, mencoba menghalau rasa dingin yang merayap ke tulang.
Tiba-tiba, sebuah kilatan petir yang sangat terang menyambar diikuti suara dentuman yang memekakkan telinga. Detik berikutnya, seluruh cahaya di rumah itu padam. *Pet!*
"Aaaaakh!"
Jeritan Lea pecah seketika. Bagi Lea, kegelapan bukan sekadar tidak adanya cahaya; kegelapan adalah trauma masa kecil yang selalu membuatnya merasa tercekik. Ia segera meringkuk di sudut tempat tidurnya, menutup telinga rapat-rapat, dan memejamkan mata dalam ketakutan yang murni. Napasnya mulai memburu, memicu sesak yang menyesakkan dada.
"Kak Najwa! Arkan!" teriaknya histeris, sesaat lupa bahwa ia hanya berdua dengan pria yang paling ia hindari di rumah ini.
Di ruang tengah, Gus Malik baru saja meletakkan kitabnya. Ia segera menyalakan senter dari ponselnya. Mendengar teriakan melengking dari arah kamar tamu, jantungnya berdegup kencang karena khawatir. Tanpa memedulikan aturan jarak yang selama ini ia jaga ketat, Malik berlari menuju kamar Lea.
"Kalea? Kamu kenapa?" Malik membuka pintu kamar dengan terburu-buru. Cahaya senter dari tangannya menyapu ruangan dan berhenti pada sosok Lea yang gemetar di atas ranjang.
Begitu Lea melihat ada secercah cahaya dan bayangan seseorang, ia tidak lagi peduli siapa itu. Ia melompat dari ranjang dan langsung menghambur ke arah Malik.
*Grep!*
Lea memeluk erat pinggang Gus Malik, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. Tubuhnya menggigil hebat, dan isak tangis mulai terdengar. "Jangan pergi... tolong, jangan gelap..." bisiknya terbata-bata.
Malik mematung. Tangannya yang memegang ponsel gemetar. Ia bisa merasakan detak jantung Lea yang liar dan hangatnya air mata gadis itu yang menembus baju kokonya. Untuk sesaat, Malik ingin melepaskan pelukan itu demi menjaga kehormatannya, namun nuraninya berteriak bahwa wanita di pelukannya ini sedang mengalami serangan panik yang hebat.
Perlahan, dengan ragu yang sangat besar, Malik mengangkat tangannya dan menepuk bahu Lea dengan kaku, mencoba memberikan ketenangan. "Istighfar, Kalea... tenanglah. Saya di sini. Ini hanya mati lampu."
Setelah beberapa menit, tangis Lea mulai mereda meski ia masih enggan melepaskan pelukannya. Malik menarik napas panjang, mencoba menormalkan suaranya yang mendadak serak.
"Saya akan ambil lilin di dapur sebentar. Tunggu di sini," ucap Malik pelan, mencoba melepaskan diri.
"Enggak! Jangan!" Lea justru mempererat pelukannya. "Jangan tinggalin gue sendirian di kegelapan ini, Gus. Gue mohon..."
"Hanya sebentar, Kalea. Biar ada penerangan," Malik mencoba membujuk.
Akhirnya, dengan susah payah, Malik berhasil mengajak Lea berjalan bersama menuju dapur untuk mengambil beberapa batang lilin. Setelah lilin-lilin itu dinyalakan dan diletakkan di dalam kamar Lea, suasana ruangan berubah menjadi kuning temaram yang hangat. Bayangan mereka menari-nari di dinding kayu.
"Nah, sudah ada cahaya. Kamu tidurlah, saya akan berjaga di luar," kata Malik, hendak melangkah keluar.
Namun, saat ia sampai di ambang pintu, tangan Lea meraih ujung jaket hitamnya. Lea menatapnya dengan mata yang sembap dan penuh permohonan. Keangkuhan gadis London itu telah luntur sepenuhnya, menyisakan kerapuhan yang selama ini ia sembunyikan.
"Gus... tolong," bisik Lea lirih. "Tidur di sini malam ini. Gue takut kalau nanti lilinnya habis atau petirnya datang lagi. Gue nggak bisa sendiri."
Malik tertegun. Permintaan itu terasa seperti godaan sekaligus ujian yang teramat berat. Ia teringat janjinya pada Najwa, ia teringat status sah mereka, namun ia juga teringat akan prinsip kesucian yang ia pegang teguh.
"Kalea, saya bisa duduk di depan pintu kamarmu jika itu membuatmu tenang—"
"Tidur di sini, Gus. Di ranjang ini, atau di lantai, terserah. Tapi jangan keluar dari kamar ini," potong Lea dengan nada penekanan. "Tolong... cuma malam ini. Demi Kak Najwa."
Menyebut nama Najwa selalu menjadi titik lemah Malik. Ia menatap Lea lama, lalu menghela napas panjang, menyerah pada situasi. Ia berjalan menuju sudut kamar, mengambil sebuah bantal dan selimut tambahan dari lemari, lalu membentangkannya di lantai di samping ranjang Lea posisi yang sama seperti malam-malam sebelumnya, namun kali ini suasananya berbeda.
"Saya akan tidur di bawah. Kamu tidurlah di atas," ucap Malik datar, mencoba menutupi kegugupannya.
Lea naik ke ranjang, menarik selimut hingga batas dada. Ia menoleh ke arah Malik yang sudah berbaring di lantai dengan posisi membelakanginya. Di tengah temaram cahaya lilin dan suara hujan yang masih menderu, Lea merasa jauh lebih aman.
"Makasih, Gus," bisik Lea pelan.
Malik tidak menjawab, namun matanya terbuka lebar di kegelapan. Ia terus berdzikir dalam hati, mencoba mengalihkan pikirannya dari keberadaan wanita di atas ranjang yang hanya berjarak satu meter darinya. Malam itu, di rumah yang sunyi tanpa cahaya, sebuah benang tipis mulai terjalin di antara mereka. Sebuah benang yang tumbuh bukan dari paksaan, melainkan dari rasa butuh yang tulus dalam sunyinya malam.