Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat untuk Pulang
Pagi yang seharusnya berjalan tenang di akhir pekan itu terasa begitu sunyi bagi Alana.
Setelah kepergian Hendra, gadis itu masih berdiri di depan pintu kontrakannya selama beberapa menit tanpa bergerak. Koridor sempit yang tadi menjadi saksi pertengkaran mereka kini kembali kosong. Hanya ada suara ayam berkokok dari rumah tetangga dan deru kendaraan yang sesekali melintas di jalan utama.
Tangannya masih menggenggam tas kain kosong tempat ia menyimpan uang hasil kerja kerasnya.
Kosong.
Benar-benar kosong.
Perlahan Alana masuk kembali ke dalam kontrakan. Langkahnya terasa berat. Ia duduk di tepi kasur tipisnya sambil menatap lantai.
Biasanya setelah mengalami hal buruk, ia akan langsung sibuk mencari solusi. Menghitung pengeluaran. Menyusun rencana. Memikirkan cara agar semuanya tetap berjalan.
Tapi kali ini...
Ia benar-benar lelah.
Bukan karena uangnya hilang.
Bukan karena modal usahanya raib.
Melainkan karena kenyataan bahwa setelah tiga tahun berlalu, keluarganya masih saja menemukan cara untuk melukainya.
Alana mengusap wajahnya kasar.
"Tahan, Alana," gumamnya lirih.
Namun matanya tetap terasa panas.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu membuat Alana tersentak.
Ia buru-buru berdiri dan mengusap wajahnya lagi sebelum membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, matanya langsung membulat.
"Nai?"
Di depan kontrakan berdiri Naira bersama kedua orang tuanya.
Pak Haris dan Bu Ratna.
Wajah ceria Naira yang biasanya selalu berisik mendadak berubah bingung saat melihat kondisi sahabatnya.
"Ya Allah, muka lo kenapa?" tanya Naira spontan.
Alana refleks menggeleng.
"Nggak kenapa-kenapa."
Bohong.
Bahkan orang buta pun mungkin tahu kalau gadis itu baru saja menangis.
Matanya merah.
Kelopak matanya sembab.
Wajahnya pucat.
Bu Ratna langsung melangkah maju.
"Alana..."
Suara lembut wanita itu membuat pertahanan Alana goyah.
"Kenapa, Nak?"
Alana berusaha tersenyum.
"Nggak apa-apa kok, Ma."
Namun Bu Ratna tidak berkata apa-apa lagi.
Wanita paruh baya itu hanya membuka kedua tangannya lalu menarik Alana ke dalam pelukan hangatnya.
Dan entah kenapa...
Pelukan sederhana itu langsung menghancurkan seluruh benteng yang sejak tadi susah payah dibangun Alana.
Tubuh gadis itu menegang.
Lalu perlahan bergetar.
"Ma..." suaranya pecah.
Bu Ratna mengusap punggungnya pelan.
"Cerita sama Mama."
Kalimat sederhana itu membuat mata Alana kembali panas.
Karena sudah lama sekali tidak ada yang mengatakan kalimat seperti itu kepadanya.
Sejak kedua orang tuanya meninggal.
Sejak rumahnya dirampas.
Sejak ia dipaksa tumbuh dewasa terlalu cepat.
Jarang ada orang yang bertanya bagaimana perasaannya.
Yang ada hanya tuntutan agar ia kuat.
Agar ia bertahan.
Agar ia terus berjalan.
Dan sekarang...
Seseorang menyuruhnya bercerita.
Alana akhirnya menyerah.
Air mata yang sedari tadi ditahannya kembali jatuh.
Beberapa menit kemudian mereka duduk bersama di dalam kontrakan sederhana itu.
Naira duduk di samping Alana.
Bu Ratna dan Pak Haris duduk berhadapan dengan mereka.
Dengan suara pelan, Alana mulai menceritakan semuanya.
Tentang kedatangan Hendra pagi tadi.
Tentang uang yang dirampas.
Tentang modal jualan yang habis.
Tentang ancaman balas budi yang terus digunakan pamannya selama bertahun-tahun.
Semakin lama bercerita, suasana semakin sunyi.
Naira yang biasanya cerewet bahkan tidak menyela sedikit pun.
Wajah gadis itu berubah merah karena marah.
"Ya ampun..." gumamnya.
"Masih aja begitu?"
Alana mengangguk pelan.
"Udah tiga tahun."
Pak Haris menghela napas panjang.
Rahang pria itu mengeras.
Jujur saja, sejak dulu ia memang tidak pernah menyukai keluarga Hendra.
Terlalu banyak hal yang terasa tidak beres.
Namun karena saat itu Alana masih di bawah umur dan sedang berduka, mereka tidak bisa berbuat banyak.
Bu Ratna menggenggam tangan Alana.
"Kamu nggak sendiri, Nak."
Kalimat itu membuat Alana kembali menunduk.
"Saya capek, Ma..."
Suara gadis itu nyaris berbisik.
"Bukan karena uangnya hilang."
Air mata kembali menggenang.
"Saya capek karena mereka nggak pernah berhenti."
Ruangan mendadak sunyi.
Naira langsung memeluk bahu sahabatnya.
Sedangkan Bu Ratna tampak menahan rasa haru.
Karena mereka tahu.
Selama ini Alana selalu terlihat kuat.
Selalu tertawa.
Selalu bercanda.
Seolah hidupnya baik-baik saja.
Padahal tidak.
Gadis itu hanya menyimpan semuanya sendirian.
Setelah suasana sedikit lebih tenang, Pak Haris akhirnya membuka suara.
"Untuk kontrakan, kamu jangan pikirkan dulu."
Alana langsung mengangkat kepala.
"Hah?"
Pak Haris tersenyum tipis.
"Bayaran kontrakan bulan ini tidak usah dipikirkan."
Alana spontan menggeleng keras.
"Nggak bisa, Pak."
"Bisa."
"Nggak."
Pak Haris tertawa kecil.
"Keras kepala sekali."
Alana menunduk.
"Saya tetap mau bayar."
"Tapi uangmu habis."
"Saya cari lagi."
"Alana."
Gadis itu menggigit bibir bawahnya.
"Saya nggak mau merepotkan Bapak dan Mama."
Bu Ratna langsung mengusap kepalanya.
"Nak."
"Sungguh."
"Saya bisa bayar pelan-pelan."
Pak Haris dan Bu Ratna saling berpandangan.
Lalu tersenyum.
Mereka sudah menduga jawaban itu.
Karena Alana memang seperti itu.
Lebih memilih kelaparan daripada merepotkan orang lain.
"Kalau begitu bayar nanti saat sudah ada rezeki."
Alana masih ingin membantah.
Namun Pak Haris mengangkat tangannya.
"Tidak ada debat."
Gadis itu akhirnya mengangguk pelan.
Meski matanya kembali memanas.
Suasana mulai mencair setelah beberapa saat.
Naira yang sedari tadi menahan diri akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Padahal niat awal kita ke sini tuh buat sarapan."
Alana berkedip.
"Sarapan?"
"Iya."
Bu Ratna tertawa kecil.
"Tadi Mama pengen makan ayam geprek buatan kamu."
Alana menoleh ke arah etalase.
Lalu teringat.
Ia bahkan belum membuka kedainya hari ini.
Semangatnya sudah keburu hancur sejak pagi.
Naira mengangkat bahu.
"Tapi ternyata pas datang malah nemu drama keluarga."
Alana tertawa kecil untuk pertama kalinya pagi itu.
"Maaf."
"Jangan minta maaf terus."
"Refleks."
"Itu juga harus diobati."
Mereka semua tertawa pelan.
Suasana yang tadinya berat perlahan berubah lebih hangat.
Setelah hampir setengah jam mengobrol, Bu Ratna tiba-tiba berdiri.
"Ayo."
Alana menatap bingung.
"Ayo ke mana?"
"Sarapan."
"Hah?"
Naira langsung ikut berdiri.
"Iya."
Pak Haris mengambil kunci mobil.
"Kita keluar."
Alana langsung panik.
"Nggak usah, Pak."
"Kenapa?"
"Nanti mahal."
Naira memutar bola matanya.
"Denger nggak sih? Kita ngajak sarapan, bukan ngajak beli hotel."
"Tapi..."
"Nggak ada tapi."
Bu Ratna tersenyum.
"Hari ini kamu ikut."
Alana masih terlihat ragu.
Namun melihat tiga pasang mata yang menatapnya penuh harap, akhirnya ia menyerah.
"Yaudah."
"Bagus."
Naira langsung menarik tangannya.
"Buruan ganti baju."
"Emang baju gue kenapa?"
"Lo kayak korban sinetron yang baru kehilangan warisan."
Alana melotot.
"Naira!"
Naira tertawa keras.
Bahkan Pak Haris dan Bu Ratna ikut tersenyum geli.
Untuk pertama kalinya sejak pagi yang menyebalkan itu, tawa kembali terdengar di dalam kontrakan kecil Alana.
Dan saat gadis itu berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian, sebuah perasaan hangat perlahan memenuhi dadanya.
Mungkin ia memang kehilangan banyak hal dalam hidup.
Rumah.
Restoran keluarga.
Warisan.
Bahkan keluarga yang seharusnya melindunginya.
Namun pagi ini Alana kembali diingatkan bahwa ia tidak benar-benar sendirian.
Karena terkadang...
Keluarga bukanlah mereka yang terikat oleh darah.
Melainkan mereka yang tetap tinggal saat seluruh dunia memilih pergi.
Dan tanpa Alana sadari, di luar sana roda takdir mulai bergerak semakin cepat.
Karena dalam waktu dekat, masalah yang datang ke hidupnya tidak hanya berasal dari keluarga pamannya.
Melainkan juga dari seorang dosen berhati dingin bernama Arsen Laurent Wijaya... dan dua anak laki-laki yang perlahan mulai mengubah jalan hidupnya.