Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: PERTARUNGAN HIDUP DAN MATI
Suara itu bergema di seluruh penjuru hutan, lembut namun menusuk hingga ke ulu hati. Raga menelan ludah, tangannya mencengkeram gagang keris di pinggangnya begitu kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih.
Dari balik punden batu yang tua dan berlumut, perlahan muncul sosok yang sudah sangat dikenalnya.
Nyi Blorong.
Wanita itu berjalan melayang beberapa sentimeter di atas tanah. Ia mengenakan kebaya putih bersih yang kontras dengan kulitnya yang pucat pasi. Rambut hitam panjangnya terurai bebas, menutupi sebagian punggungnya. Wajahnya sangat cantik, sempurna tanpa cela, namun matanya... matanya hitam legam tanpa putih mata, dan dari sudut matanya terus mengalir air mata berwarna merah darah.
Di tangannya yang lentik dan panjang, ia memegang sebuah kipas bulu burung merak yang dikibaskannya pelan. Setiap kali kipas itu bergerak, aroma bunga kamboja dan wangi-wangian misterius semakin menyengat memenuhi udara.
"Kalian benar-benar nekat..." kata Nyi Blorong sambil tersenyum miring. Senyuman yang indah namun penuh racun. "Datang ke wilayah kekuasaanku membawa benda-benda itu... apa kalian ingin menggelar pesta pernikahan atau pesta kematian?"
Eyang Sastro melangkah maju selangkah, berdiri paling depan melindungi Raga dan Mbah Joyo. Tongkat kayunya dihentakkan ke tanah sekali.
DUG!
"Kami datang bukan untuk berperang, Nyi Blorong. Kami datang untuk menegakkan keadilan," suara Eyang Sastro lantang dan berwibawa, mampu menandingi aura mengerikan di tempat itu. "Janji leluhur dibuat atas dasar sukarela dan kasih sayang untuk menyelamatkan desa. Bukan untuk menakut-nakuti, meneror, dan memaksa hati anak muda!"
"HOH!" Nyi Blorong tertawa sinis. Suaranya berubah menjadi serak dan berat. "Hukum alam? Siapa yang membuat hukum? Yang kuat lah yang berhak! Sastro, urusanmu sudah selesai. Kau sudah terlalu tua. Kembalilah ke guamu dan tidurlah yang nyenyak. Jangan campuri urusan cintaku dengan calon suamiku!"
Wanita itu menunjuk jari telunjuknya yang panjang dan berkuku hitam tajam tepat ke arah wajah Raga.
"Dia milikku! Darahnya milikku! Nyawanya pun milikku! Sudah tertulis sejak ratusan tahun lalu! Datanglah kemari, Raga... masuklah ke dalam pelukanku... lupakan semua duniamu... kita akan hidup bahagia selamanya..."
Suaranya mulai berubah menjadi sangat memikat, seperti nyanyian yang memabukkan. Kepala Raga terasa pening, kakinya terasa berat dan seakan memiliki keinginan sendiri untuk melangkah maju mendekati sosok cantik itu.
"Raga! Fokus! Jangan lihat matanya! Ingat manik di jarimu!" teriak Mbah Joyo sambil mencengkeram bahu cucunya kuat-kuat.
Raga terguncang. Ia segera menunduk, menggigit bagian dalam pipinya hingga terasa perih dan berdarah sedikit. Rasa sakit itu membangunkannya dari pengaruh hipnotis. Ia meraba manik kristal bening di jari manisnya. Benda itu terasa hangat dan mengirimkan getaran tenang ke seluruh tubuhnya.
"Kau tidak akan mendapatkanku lagi, Nyi Blorong!" teriak Raga memberanikan diri. "Aku manusia! Aku ingin hidup normal! Ikatan itu sudah aku batalkan!"
Wajah Nyi Blorong seketika berubah masam merah. Senyumannya hilang digantikan oleh tatapan penuh amarah yang membara.
"Kau berani menolakku?! Manusia tak berguna!!!"
BRAAAAKK!!!
Tiba-tiba langit di atas mereka berubah menjadi gelap gulita. Angin kencang bertiup dengan dahsyatnya, menerbangkan daun-daun kering dan tanah ke segala arah. Ribuan makhluk halus yang tadi berdiri diam seribu bahasa kini serentak mengangkat kepala dan menjerit!
"KYAAAAAA!!!!"
Suara mereka memekakkan telinga, membuat Raga dan Mbah Joyo spontan menutup telinga mereka.
"HANCURKAN MEREKA!!!" teriak Nyi Blorong dengan suara yang bukan lagi suara manusia, melainkan auman binatang buas.
Secepat kilat, ratusan makhluk itu menerjang maju! Wajah mereka berubah menjadi mengerikan, ada yang kepalanya hanya mulut saja, ada yang matanya keluar, ada yang bertaring tajam. Mereka datang melayang dan berlari dengan kecepatan luar biasa, siap mencabik-cabik tubuh ketiga manusia itu!
"JAGA DIRI!!!" teriak Eyang Sastro.
Lelaki tua itu tidak mundur sedikitpun. Ia mengangkat tongkat kayunya tinggi-tinggi ke atas lalu mengayunkannya ke bawah dengan kuat!
TRANG!!! BUGHhH!!!
Seketika itu juga, gelombang cahaya kuning keemasan meledak keluar dari tubuh Eyang Sastro! Gelombang itu menyebar ke segala arah seperti ombak besar!
Makhluk-makhluk yang pertama kali menerjang terkena cahaya itu dan langsung menjerit kesakitan! Tubuh mereka terbakar dan hancur berkeping-keping menjadi asap hitam yang terbakar!
Namun, jumlah musuh terlalu banyak! Mereka datang tanpa henti bagai air bah!
"Ini gila! Mereka tidak ada habisnya!" teriak Mbah Joyo. Ia mengeluarkan sebotol air doa dan melemparkannya ke arah kerumunan makhluk yang datang.
BYURrr!
Dimana air itu memercik, di situ pula ada makhluk yang menghilang lenyap. Tapi segera digantikan oleh yang lain lagi yang lebih ganas.
"Raga! Jangan pedulikan kami! Cepat pasang pendopo ritual dan nyalakan api! Kami akan menahan mereka selama yang kami bisa!" teriak Eyang Sastro di tengah hiruk-pikuk pertarungan. Ia kini sibuk menangkis serangan makhluk-makhluk itu dengan tangan kosong dan tongkatnya. Setiap pukulannya selalu disertai cahaya dan ledakan kecil.
Raga mengangguk keras. "Siap, Eyang!"
Ia tidak membuang waktu. Dengan tangan gemetar namun cepat, ia berlari ke tengah area terbuka itu. Ia mengambil tiga tiang bambu yang sudah disiapkan, menancapkannya ke tanah dengan kuat, lalu membentangkan kain putih lebar sebagai alas sakral.
Selanjutnya, ia mengambil kotak berisi arang, batu api, dan minyak tanah suci.
"Ayo nyala... ayo nyala..." bisik Raga. Ia menggosokkan batu api.
KRETeK... KRETeK...
Api kecil muncul namun langsung mati seketika.
"Kau tidak bisa menyalakan api di wilayahku, Raga..."
Suara itu terdengar tepat di telinga kanannya, sangat dekat!
Raga menoleh dengan kaget!
BRUK!
Nyi Blorong sudah berdiri tepat di depannya! Hanya berjarak satu meter! Wajahnya sudah berubah total menjadi sangat mengerikan! Kulitnya menghitam dan mengelupas, mulutnya terbelah lebar sampai ke telinga memperlihatkan gigi-gigi runcing seperti hiu, dan matanya merah menyala besar!
"Mati kau!!!"
Nyi Blorong mengayunkan tangannya yang panjang dan berkuku tajam itu tepat ke arah leher Raga! Gerakannya secepat kilat!
"ARRRGH!!!" Raga tidak sempat berpikir, ia hanya bisa refleks memiringkan kepalanya!
WUSSS!
Kuku itu nyaris menyentuh dagunya, hanya tertahan beberapa milimeter saja! Gesekannya membuat udara terasa sangat dingin dan kain kerah baju Raga terbelah!
"Jahat!!!" Raga mengumpat keras. Dengan sekuat tenaga, ia mengayunkan siku tangannya ke arah dada sosok menyeramkan itu!
DUGHhh!
Terdengar suara benturan keras seperti menumbuk dinding batu. Nyi Blorong terhuyung mundur beberapa langkah, tampak kaget karena manusia biasa berani melawannya dan bahkan bisa menyakiti dirinya.
"Kau... berani memukulku?!" serunya dengan suara parau.
"Karena kau bukan jodohku! Kau hanyalah penghisap nyawa!" teriak Raga. Ia segera mencabut keris pusaka dari pinggangnya!
SRiNG!
Bilah keris itu berkilauan memancarkan cahaya kuning terang di tengah kegelapan malam! Saat melihat cahaya keris itu, Nyi Blorong spontan mundur selangkah dan menutupi wajahnya dengan tangan, seakan silau dan takut pada benda pusaka itu.
"Keris Penawar... benda sialan..." desisnya.
Tapi Nyi Blorong bukan lawan biasa. Ia segera memulihkan diri. Dengan satu lambaian tangan, ia mengirimkan serangan energi gelap berbentuk seperti ular besar yang melompat menerkam Raga!
"AWAS RAGA!!!" teriak Mbah Joyo dari jauh.
Raga dengan sigap menangkis menggunakan bilah keris!
TRANGGG!!!
Benturan keras terjadi! Percikan api terbang ke mana-mana! Raga terdorong mundur beberapa langkah hingga tumitnya terasa sakit menahan beban serangan itu. Napasnya memburu. Keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
Di sisi lain, Eyang Sastro dan Mbah Joyo juga semakin terdesak. Lingkaran pertahanan mereka semakin sempit karena jumlah musuh yang terus bertambah.
"Raga! Cepat! Api harus menyala sekarang juga! Tenaga kami tidak akan bertahan lama!" teriak Eyang Sastro yang wajahnya sudah mulai pucat dan berkeringat banyak.
Raga menatap ke arah tumpukan arang. Ia tahu ini satu-satunya harapan.
"Kalau kau tidak mau menyala dengan cara biasa..." Raga mengatupkan giginya. Ia mengambil selembar kain kasa, mencelupkannya ke minyak tanah, lalu memegangnya dengan ujung keris.
"NYALA!!!"
Ia menyalakan korek api sekali lagi. Kali ini, api berhasil menangkap kain yang berminyak itu dan membakarnya dengan besar!
Dengan cepat, Raga memasukkan api itu ke dalam tumpukan arang!
JLEB!
Akhirnya! Api suci menyala besar! Warnanya tidak oranye biasa, melainkan berwarna biru bersih yang menenangkan! Api itu berdiri tegak lurus ke atas meski angin berhembus kencang!
"YES! Menyala!" Raga bersorak dalam hati.
Saat api biru itu menyala, seluruh makhluk halus yang menyerang seketika berhenti bergerak. Mereka mendesis kesakitan dan mundur menjauh, seakan tidak tahan dengan cahaya dan panas api suci itu.
Nyi Blorong menjerit panjang mendengar suara api itu berkumandang. Wajahnya tampak panik dan sangat marah.
"TIDAK!!! JANGAN BERANI KAU LAKUKAN ITU!!!"
Ia bersiap menerjang Raga dengan kekuatan penuh untuk mematikan api itu dan menghabisi nyawa pemuda itu.
"Jangan harap bisa lewat!!!"
Tiba-tiba, Eyang Sastro melompat tinggi dan mendarat tepat di antara Raga dan Nyi Blorong!
"Nyi Blorong! Hormati sidang adat! Jika kau berani melanggar saat api suci menyala, kau akan melawan seluruh kekuatan alam semesta!" gertak Eyang Sastro.
Nyi Blorong berhenti. Tubuhnya bergetar hebat menahan amarah yang meluap-luap. Ia menatap Eyang Sastro, lalu menatap Raga, lalu menatap api biru yang menyala indah di tengah sana.
"Bagus..." desisnya pelan namun penuh ancaman. "Kalau kau mau main adat... ayo kita main adat... TAPI INGAT... JIKA KALIAN KALAH... AKU AKAN MEREMUKAN TULANG-TULANG KALIAN SATU PERSATU!"
Pertarungan fisik berhenti sejenak. Namun ketegangan justru meningkat berkali-kali lipat. Sekarang saatnya pembacaan mantra dan pembuktian di hadapan saksi langit dan bumi.
Raga mengambil gulungan kulit kambing hitam yang berisi tulisan mantra pembatalan. Tangannya gemetar, tapi matanya kini tajam dan penuh keyakinan.
Permainan baru saja dimulai.