Berlatar di sebuah desa bernama Desa Suka Makmur. Anggap saja salah satu desa di Jawa Barat. Desa dengan beberapa fasilitas yang tersedia, seperti bangunan sekolah dasar, balas desa, puskemas pembantu, posyandu , lapangan sepak bola dan lainnya. Namun dibalik itu desa tersebut menyimpan kisah misteri dan terkenal dengan kemistisan nya. Desa pocong sebutan lain dari nama desa itu. Terdapat pantangan untuk tidak membuka pintu dan jendela di malam hari. Lebih-lebih keluar di waktu malam , apapun alasan nya. Jika melanggar maka siapapun akan terkena musibah. Sebuah teror, celaka , jatuh sakit , bahkan hingga kematian. Namun tak hanya itu , teror lain turut membayangi warga desa. Hingga seorang gadis pendatang baru yang tinggal di salah satu rumah yang terkenal angker berusaha mencari tahu tentang desa itu. Fitri namanya, gadis dengan kemampuan spiritual yang akan membantu warga desa terbebas dari ketakutan nyata teror pocong yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon qsk sri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seutas tali
Disepanjang perjalanan, Kojek terus saja nyerocos nanya ini itu sambil terus mengeluarkan jurus gombalan nya. Meski suaranya kadang hilang sebagian terbawa angin tetapi Kojek nampak tak menyerah. Fitri yang merasa dongkol lekas memasang headset di telinga nya,dia memutar lagu kesukaan nya dengan volume yang tinggi.
Tak lama mereka sampai di depan sebuah pusat perbelanjaan,tak begitu besar tetapi cukup berkesan dengan penataan ruang yang rapih. Pertama Fitri masuk ke area elektronik,dia memilih televisi dan dispenser. Setelah itu masuk ke area alat dapur. Di luar Kojek menunggu dengan sabar sambil sesekali mengedipkan mata ketika ada perempuan lewat.
Tiga jam kemudian,Fitri selesai berbelanja. Di tangan nya sudah ada berbagai bahan masakan ,juga makanan instan dan cemilan. Sedangkan untuk barang-barang lain sedang disiapkan pihak toko untuk dikirim nanti ke alamat Fitri.
"Ayo bang,gue udah selesai" Seru Fitri saat sudah berada di dekat Kojek.
Kojek sedikit berjengkit karena kaget,ia lekas memasang wajah tampan nya. Menurutnya,tetapi lain lagi dengan yang dilihat Fitri.
"Dih,ngapain pasang muka begitu coba. Bikin geli aja " Batin Fitri.
"Maaf neng,tadi itu teman saya " Ucap Kojek sambil tersenyum.
"Apa peduli gue ..." Batin Fitri lagi. Tanpa banyak berkata-kata, Fitri segera naik ke jok belakang sambil menenteng belanjaan nya di sisi kiri kanan.
Motor melaju dengan kecepatan sedang,sengaja Kojek membawa motor nya agak lama di jalan agar ada waktu lebih lama. Begitu pikirnya.
"Bang,gak bisa lebih lambat lagi apa? Balapan sama keong pasti keong yang menang " sindir Fitri.
"Oh,...maaf neng. Takut neng nya jatuh kalau kekengcengan " alasan Kojek.
"Gak bakalan. Ayo lebih cepat lagi ! Pinggang gue udah pegel nih "Teriak Fitri.
"Siap neng cantik !" Seru Kojek lalu menarik gas motor nya. Motor pun melaju dengan kecepatan tinggi.
Rupanya Kojek sangat tangkas dan cekatan,pria itu bisa menghindari lubang dan salip kendaraan lain dengan lihainya. Akan tetapi tiba-tiba dia mengerem mendadak saat melihat batu kecil di jalan.
Ckiiiiitttt.....
"Kok gak ada yang nabrak ?" Gumam nya dalam hati. Ia merasa punggung nya aman-aman saja tak ada benda kenyal yang biasanya menabrak punggung nya itu. Di belakang Fitri ternyata sudah antisipasi,dia berusaha sekuat tenaga menahan tubuhnya agar tak membentur ke punggung Kojek.
"Ayo bang ! Jalan lagi ! Ngapain malah bengong " seru Fitri.
Di depan rumah,nampak mobil pick up bermuatan pasir berhenti. Daryo yang sudah menunggu dari tadi segera meminta dua orang yang dibayarnya untuk menurunkan muatan pasir. Tak lama setelah pasir diturunkan,seorang pria dengan motor nya berhenti lalu menurunkan semen yang dibawanya dengan motor.
Beberapa saat kemudian motor yang dikemudikan Kojek sudah sampai.
"Jadi neng tinggal di rumah ini ? " Tanya Kojek dengan suara bergetar ,ia menelan ludah nya. Ada kengerian dalam dirinya saat melihat rumah itu. Rumah angker yang sudah puluhan tahun kosong dan terbengkalai.
Singkat cerita,setelah bahan-bahan bangunan terkumpul,proses renovasi rumah pun dilakukan esoknya. Fitri dibantu Nina menyiapkan hidangan untuk para pekerja. Jamilah and the genk tak ketinggalan,mereka juga ikut membantu. Dan tentu saja tanpa disadari para tukang yang bekerja. Tetapi cukup membuat bingung para tukang.
"Perasaan kemarin belum ada yang ngerjain bagian ini deh..."
"Kok bisa ?" Bingung mereka.
Kebingungan para tukang tentu tak luput dari perhatian Fitri. Namun gadis itu bersikap seperti tak tahu apa-apa,dia membiarkan para tukang kebingungan sendiri.
Dan pada akhirnya proses renovasi yang diperkirakan selesai dalam waktu satu mingguan,rupanya tiga hari pun sudah selesai. Berkat bantuan para pasukan tak kasat mata ,Fitri pun tak sampai mengeluarkan banyak uang untuk membayar para tukang.
"Udah kaya Bandung Bondowoso deh gue. Cuman bedanya gue renovasi rumah dibantu para setan, hahaha ..." Fitri tergelak sendiri dengan isi pemikiran nya.
...
Malam kembali menyapa,suara angin dan daun yang bergesek menjadi latar setiap malam nya. Ini adalah malam ke sekian saat para pocong mengadakan demo di rumah Fitri. Dan Fitri pun perlahan mulai terbiasa dengan kegaduhan di luar.
Namun malam ini nampak berbeda,tak ada suara ketukan di pintu , tak ada pula suara gedoran di jendela. Fitri merasa bingung dan aneh dalam waktu bersamaan. Jika orang lain normalnya akan merasa lega karena tak ada gangguan lagi,tetapi bagi Fitri tentu berbeda. Ia merasa ada yang aneh dengan tingkah para pocong itu.
"Kemana perginya mereka ? Tumben banget gak bikin rusuh di luar ,padahal gue udah nyiapin sesuatu buat mereka " Gumam Fitri sambil menatap ke arah pintu.
"Jamilah ....!" Panggil Fitri
Jamilah yang sedang duduk di samping televisi yang menyala , menyisir rambutnya dengan jari tangan menoleh.
"Apa ?" Tanya nya
"George kemana ? Gabung lagi sama pasukan pocong nya ?" Tanya Fitri.
"He'em. Tiap malam kan dia ikut sama pasukan nya. Siang hari dia di dalam rumah. Kenapa memangnya ?" Tanya Jamilah.
"Dia pernah ngomong gak sih,dia dan pasukan nya ngapain saja di luar ? Tentang kegiatan nya ,atau apa gitu mengenai teman-teman pocong nya ?" Tanya Fitri lagi.
"Dia mana pernah ngomong masalah itu,dia suka ngalihin pembicaraan kalau ditanya soal pasukan nya" Sambar Berliana yang sedari tadi fokus pada acara televisi.
"Kalian tahu gak ? Sebenarnya ada kisah apa sih di desa ini ?" Tanya Fitri yang memang beberapa hari ini merasa penasaran tentang masa lalu desa itu.
"Gak tahu ,dan gak mau tahu" Jawab Jefry.
Fitri menarik nafasnya,dalam kepalanya dia berpikir untuk mengungkap misteri di desa itu. Tapi dia juga tidak ingin gegabah,salah sedikit bisa-bisa dia sendiri yang celaka. Kabar misteri di desanya itu bukan hanya desas-desus biasa.
Dia sendiri telah membuktikan tentang larangan di desa jika dilanggar. Dia juga telah merasakan setiap malam diteror. Beruntung dirinya bukan tipe gadis penakut,tapi jika orang lain akan berbeda ceritanya.
"Fit...kamu lagi mikirin apa ? Awas jangan mikir yang aneh-aneh !" Tegur Maria ketika melihat Fitri yang terdiam dengan wajah serius,seakan tengah memikirkan sesuatu yang berat.
"Mikir yang aneh-aneh apaan ? Sotoy ! Orang gue lagi mikir gimana caranya gue dapet duit. Lama-lama duit gue bisa abis kalau begini terus, gak ada pemasukan yang ada pengeluaran terus " Ucap Fitri menyangkal.
"Biar aku saja keliling cari duit , tiap rumah pasti ada " Celetuk Edward.
"Emang Lo tuyul !" Seru Fitri sambil memicingkan mata ke arah Edward
"Ogah ah,itu nyolong namanya....! Gue gak mau makan duit haram. Ibadah gue jadi sia-sia jadinya " Seru Fitri cepat.
"Ya terus gimana dong ?" Tanya Maria
"Udah ah ,kita pikirkan itu nanti saja,gue mau tidur mumpung tuh poci-poci lagi libur gangguin gue, pasti gue tidur nyenyak malam ini " Ucap Fitri lalu segera beranjak ke kamar nya,namun sebelum dia menutup pintu dia berkata pada Berliana.
"Kalau udah nonton nya,tolong matiin. Tapi jangan dibanting tv nya,cukup tekan tombol merah di remote. Ngerti kan ?!" Ucap nya
"Iya...iya,ngerti. Maaf waktu itu aku gak tahu cara matiin tv " sabut Berliana.
Kemarin malam,saat Berliana diminta mematikan televisi, kuntilanak itu bukan nya menekan remote tetapi malah hendak membanting televisinya,untung saja ada Maria yang gercep segera menahan nya,kalau tidak mungkin saat ini televisi nya sudah berakhir di tukang servis atau justru lebih parah nangkring di tukang loak.
Kembali ke Fitri.
Fitri sudah bersiap untuk tidur,lampu tidur sudah menyala otomatis saat lampu kamar dimatikan. Baru saja matanya terpejam sayup telinga nya mendengar suara alat musik tradisional yang dimainkan ,seperti suara gong. Lalu diiringi suara alat musik lain nya,hingga tak lama suara itu terdengar seperti suara musik gamelan khas Jawa barat.
Semakin lama suara musik gamelan itu terdengar semakin jelas di telinga. Seolah begitu dekat jaraknya. Akan tetapi saat didengar baik-baik suara itu seolah menjauh.
"Jam segini masih ada yang hajatan ? Atau ...mereka yang hajatan " Gumam Fitri,ia teringat kata-kata Jamilah tempo hari,yang mengatakan jika setan juga bisa hajatan.
Rasa penasaran membuatnya ingin keluar,sekedar mengetahui dari mana asal suaranya,tetapi baru saja tangan nya menyentuh gagang pintu,seutas tali tiba-tiba saja menjerat kaki nya. Entah dari mana asal nya tetapi dalam sekejap tubuh Fitri jatuh lalu tertarik hingga masuk ke dalam kolong ranjang.
Bruuukkk'
........