NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.

Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terungkap

“Ini serius Mbak Arelia benar-benar nggak datang lagi?” gumam Dhea sambil merebahkan kepalanya di atas meja kasir.

Sejak kejadian waktu itu, Arelia benar-benar tidak pernah muncul lagi di hadapan Dhea.

Namun sebaliknya.

Aren justru selalu datang menemui dirinya. Sayangnya, Dhea sama sekali tidak mengetahui bahwa pria itu adalah sosok Arelia yang selama ini ia cari.

“Kamu benar-benar merindukannya?” tanya Aren yang duduk di samping Dhea.

“Iya,” jawab Dhea lirih. “Saya sangat merindukan Mbak Arelia.”

Deg.

Jawaban itu membuat hati Aren terasa sesak sekaligus hangat. Belum sempat ia kembali berbicara—

Kring!

Suara pintu toko terbuka membuat mereka berdua langsung menoleh. Dan hanya dalam hitungan detik, mata Dhea dan Aren langsung membesar bersamaan.

Reno.

“Kak Reno…” gumam Dhea pelan.

Reno langsung menyeringai kecil saat melihat Aren duduk di samping Dhea.

“Loh, masih juga mendekati adik sepupuku?” ejeknya santai.

Tatapannya lalu berubah tajam.

“Dan sekarang kamu memakai wujud aslimu?”

Deg.

Seketika Dhea langsung menoleh ke arah Aren dengan wajah penuh kebingungan. Sedangkan Aren terlihat menegang di tempatnya.

“Maksud Kakak apa?” tanya Dhea bingung sambil kembali menatap Reno.

Reno terkekeh kecil.

“Ya Tuhan, Dhea… kamu benar-benar polos ya?”

“Sampai-sampai kamu nggak tahu orang yang ada di sampingmu itu menyimpan rahasia besar.”

Suasana toko langsung terasa mencekam. Sedangkan Dhea mulai merasa jantungnya berdetak tidak tenang.

Tatapannya perlahan beralih kembali kepada Aren. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, ia mulai melihat kemiripan kecil antara Aren dan Arelia.

“Kamu nggak ada niat mengatakan yang sebenarnya kepada Dhea? Kasihan tahu dia, kamu bohongi begitu,” ucap Reno sambil menatap Aren sinis.

Seketika suasana di dalam toko menjadi semakin tegang.

Dhea langsung menatap Aren dengan penuh kebingungan.

Sedangkan Aren terlihat diam dengan rahangnya yang mengeras.

“Maksudnya bohong bagaimana?” tanya Dhea pelan.

Namun tidak ada yang langsung menjawab.

Reno justru kembali terkekeh kecil.

“Lucu banget,” gumamnya. “Kamu tiap hari nyariin Arelia, padahal orangnya ada terus di depan kamu.”

Deg.

Ucapan itu langsung membuat tubuh Dhea membeku. Tatapannya perlahan beralih kepada Aren yang masih diam tanpa berani menatap dirinya.bSedangkan jantung Aren terasa berdetak sangat kacau saat ini.

“Apa maksud Kak Reno…” suara Dhea mulai melemah.

Reno langsung menatap Dhea.

“Orang yang kamu panggil Mas Aren itu—”

“Aku Arelia.”

Seketika suasana langsung hening.bDhea langsung membelalakkan matanya. Sedangkan Aren perlahan menundukkan kepalanya pelan.

“Aku… Arelia,” ucapnya lirih lagi.

“J-jangan bercanda… i-itu nggak lucu,” ucap Dhea terbata-bata.

“Untuk apa aku bohong, Dhea?” jawab Reno santai. “Dia memang Arelia yang kamu cari. Tapi wujud aslinya dia seorang pria bernama Aren.”

Seketika tubuh Dhea terasa melemas. Tatapannya kembali mengarah kepada Aren yang sejak tadi hanya menundukkan kepala. Pikirannya benar-benar kacau. Semua kejadian selama ini mulai teringat kembali satu per satu.

Cara Aren mengetahui banyak hal tentang dirinya. Jajanan yang sama seperti yang dibelikan Arelia. Tatapan mata mereka yang terasa mirip. Dan perhatian hangat yang selalu sama.

“M-mas Aren…” suara Dhea bergetar pelan. “A-apa itu benar?” tanyanya memastikan.

Suasana langsung terasa sunyi.

Aren perlahan mengepalkan tangannya kuat-kuat sebelum akhirnya mengangkat wajahnya pelan. Tatapannya terlihat penuh rasa takut. Takut melihat reaksi Dhea setelah mengetahui semuanya.

“Iya,” jawab Aren lirih. “Aku… memang Arelia.”

Deg.

Seketika mata Dhea langsung berkaca-kaca. Bukan karena jijik. Bukan juga karena marah. Melainkan karena dirinya benar-benar tidak menyangka sama sekali.

Dhea tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia benar-benar bingung harus menanggapi semuanya bagaimana.

Karena dirinya masih sangat terkejut mendengar kenyataan itu. Tiba-tiba saja Aren langsung bangkit dari duduknya.

“M-maafkan aku, Dhea. Aku pergi dulu,” ucap Aren lirih sebelum berjalan pergi.

“M-mas Aren!”

Sontak Dhea langsung berdiri dari duduknya saat melihat Aren pergi begitu saja. Namun pria itu tidak berhenti. Sedangkan Reno justru terkekeh kecil dengan wajah puas karena akhirnya berhasil membongkar jati diri Aren.

“Lihat? Dia kabur,” ejek Reno. “Dasar pengecut. Pantas saja dia berubah jadi wanita.”

Ucapan itu langsung membuat Dhea menatap Reno dengan sangat tajam. Ia benar-benar tidak suka mendengar perkataan tersebut.

“Apa?” tanya Reno santai. “Aku bicara sesuai fakta.”

Dhea mengepalkan tangannya pelan sambil menahan kesal.

“Bunga untuk Bunda ada di depan. Sudah aku bungkus,” ucap Dhea ketus. “Ambil saja. Tidak perlu bayar.”

Reno terlihat sedikit terkejut mendengar nada bicara Dhea yang berubah dingin kepadanya. Karena biasanya gadis itu selalu berbicara lembut. Namun kali ini berbeda. Dan Reno tahu, Dhea sedang marah kepadanya.

“Kalau sudah tidak ada kepentingan lagi, tolong pergi,” ucap Dhea sambil mulai membereskan barang-barang di meja kasir.

“Kamu mau ke mana?” tanya Reno kepada Dhea.

“Tidak perlu tahu,” jawab Dhea cepat.

“Mau ngejar Aren?” tanya Reno lagi membuat Dhea terdiam sesaat. “Ayolah, Dhea. Orang seperti itu nggak perlu kamu kejar. Dia pengecut.”

“Cukup!” bentak Dhea tiba-tiba membuat Reno langsung terkejut.

Dada Dhea naik turun menahan emosinya.

“Mau dia seperti apa pun, pasti ada alasannya kenapa selama ini dia menyembunyikan jati dirinya,” ucap Dhea dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kalau Kakak nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama dia, tolong berhenti menghina dia.”

Reno langsung terdiam mendengar ucapan Dhea yang penuh emosi.

“Jangan merasa Kakak paling sempurna,” lanjut Dhea dengan nada bergetar. “Padahal kenyataannya, yang pengecut itu justru Kakak. Beraninya cuma memakai kemewahan orang tua dibanding punya hasil sendiri.”

Deg.

Ucapan itu langsung membuat wajah Reno berubah.

Karena untuk pertama kalinya.

Dhea berani melawannya seperti ini. Sedangkan Dhea sendiri langsung mengambil tasnya dengan tangan gemetar. Saat itu, yang ada di pikirannya hanya satu.

Aren.

“Kasih tahu aku alamat dia,” ucap Dhea kepada Reno dengan nada tegas.

“Apa?” Reno mengernyit bingung.

“Kasih tahu aku alamat tempat tinggalnya.”

“Aku nggak tahu, Dhea.”

Seketika Dhea langsung menoleh dengan tatapan penuh

amarah.

“Jangan bohong, Kak,” ucapnya geram. “Katanya Kakak teman SMA-nya. Bagaimana bisa Kakak nggak tahu alamat rumahnya?”

Reno langsung menghela napas kasar.

“Aku memang benar-benar nggak tahu, Dhea,” jawabnya jujur. “Aku cuma teman sebatas di sekolah saja.”

Dhea langsung terdiam.

Wajahnya terlihat semakin gelisah. Karena sekarang ia benar-benar tidak tahu harus mencari Aren ke mana. Sedangkan Reno memperhatikan perubahan ekspresi Dhea beberapa saat.

“Kamu serius mau nyari dia?” tanyanya pelan.

Dhea langsung menggigit bibir bawahnya menahan rasa tidak tenang di dadanya.

“Iya.”

“Buat apa?”

Pertanyaan itu membuat Dhea perlahan menundukkan pandangannya.

“Aku takut dia kenapa-kenapa,” jawabnya lirih.

Deg.

Reno langsung membeku mendengar jawaban itu. Karena jelas sekali, Dhea benar-benar mengkhawatirkan Aren.

“Sekarang pergilah. Aku mau tutup toko,” ucap Dhea dingin kepada Reno.

“Dhea…” panggil Reno pelan.

“Aku nggak butuh komentar apa pun lagi, Kak!” bentak Dhea membuat Reno langsung terdiam.

Napas Dhea terlihat tidak beraturan. Matanya bahkan mulai memerah karena menahan emosi dan rasa khawatir yang bercampur menjadi satu.

Sedangkan Reno hanya bisa menatap adik sepupunya itu tanpa berkata apa-apa lagi. Karena ia sadar, kali ini Dhea benar-benar marah kepadanya.

“Pergi, Kak,” ucap Dhea lagi dengan suara yang mulai melemah.

Reno akhirnya menghela napas pelan sebelum berjalan keluar dari toko.

Kring!

Suara pintu kembali terdengar saat Reno pergi meninggalkan tempat itu. Dan setelah toko kembali sepi, Dhea langsung terduduk lemas di kursinya. Tangannya perlahan memegang dadanya sendiri yang terasa sesak.

“Aren…” lirihnya pelan.

Pikirannya benar-benar kacau saat ini. Ia masih belum bisa memproses semuanya dengan baik. Namun satu hal yang paling jelas di hatinya sekarang adalah dirinya tidak ingin Aren menghilang lagi.

1
Dinda Putri
lanjut semangat thooorrr love sekebon deh
Dinda Putri
lanjut thoor 💪💪💪
Dinda Putri
nexs
Dinda Putri
up lagi thoorr jangan lama
Dinda Putri
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!