NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Kandang Singa, Foto Masa Lalu, dan Ancaman Bungkam

Aiswa dibuat terperangah ketika melangkah masuk ke dalam kamar istirahat pribadi yang ada di dalam ruangan kerja Devan. Bagaimana tidak? Kamar itu sangat luas, dengan interior minimalis modern bernuansa monokrom yang terlihat sangat berkelas dan mewah.

"Gila... ini kamar di kantor aja semewah ini, apa lagi di rumah pribadinya, ya?" gumam Aiswa tanpa sadar, matanya menjelajahi setiap sudut ruangan.

Namun, detik berikutnya dia menggelengkan kepala dengan cepat.

Ngapain juga gue mempertanyakan hal itu! Nggak penting! rutuknya dalam hati.

Aiswa segera melangkah masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Begitu dress berwarna butter itu melekat di tubuhnya, Aiswa menatap pantulan dirinya di cermin.

Dress tersebut sangat pas, tidak terlalu pendek sehingga tetap memberikan kesan sopan, namun potongannya dengan sempurna menonjolkan warna kulit putihnya yang bersih.

Aiswa memasukkan pakaian kotornya yang bernoda kopi ke dalam paper bag tadi, lalu berjalan keluar dari kamar mandi.

Baru beberapa langkah berjalan, sebuah pemandangan di dinding kamar menahan pergerakannya. Deretan lukisan estetik terpampang di sana. Saat masuk tadi, ia tidak menyadarinya karena posisi lukisan itu membelakangi pintu masuk.

"Bagus banget..." bisik Aiswa takjub.

Tangannya hampir terangkat untuk menyentuh tekstur lukisan tersebut, namun ia segera menariknya kembali.

Ah, jangan deh. Ini punya orang, nggak sopan main pegang-pegang.

Aiswa kembali melangkah, namun atensinya lagi-lagi teralihkan oleh sebuah bingkai foto yang terpampang di sudut meja nakas. Rasa penasaran membimbing langkahnya untuk mendekat. Di dalam bingkai itu, terlihat foto Devan bersama seorang wanita yang sangat cantik. Di foto itu, Devan tampak merangkul bahu sang wanita sambil mengulas senyum ceria yang sangat tulus.

Senyuman yang tidak pernah Aiswa lihat sebelumnya. Bukan senyuman miring penuh intimidasi, bukan tatapan otoriter, apalagi tatapan dingin sedingin es kutub yang biasa Devan perlihatkan padanya.

"Apa... ini mamanya Zianna, ya?" Aiswa bertanya-tanya pada diri sendiri, dadanya mendadak terasa sedikit aneh.

"Dih, ngapain juga gue peduli! Nggak penting banget!" ketusnya kemudian, buru-buru berbalik setelah menyadari kekonyolannya.

Aiswa berjalan cepat menuju pintu keluar. Namun tepat saat ia membuka pintu, di saat yang bersamaan tangan Devan sudah terangkat hendak mengetuk, pria itu merasa Aiswa terlalu lama berada di dalam.

Karena terkejut dengan kemunculan Devan yang tiba-tiba, keseimbangan tubuh Aiswa goyah. Ia terhuyung ke belakang.

"Huwaaaa!" teriaknya refleks.

Dengan gerakan refleks yang sangat terlatih, tangan kekar Devan langsung menyambar pinggang Aiswa, menarik tubuh mungil gadis itu ke dalam dekapannya agar tidak terjatuh ke lantai.

Deg!

Jarak di antara mereka seketika mengikis habis. Detak jantung Aiswa berpacu luar biasa cepat, sebagian karena terkejut, sebagian lagi karena posisi mereka yang terlalu intim.

Di sisi lain, Devan mendadak terpaku. Tatapannya terkunci pada sosok Aiswa yang terlihat berkali-kali lipat lebih cantik mengenakan dress pilihan Lucas itu. Warna butter tersebut benar-benar sangat cocok untuk gadisnya.

Satu detik... dua detik... tiga detik...

Kesadaran Aiswa kembali pulih. Ia segera memberikan dorongan kuat pada dada Devan hingga pegangan di pinggangnya terlepas.

"Kan sudah saya bilang, jangan asal sentuh-sentuh!" sinis Aiswa sambil merapikan dress-nya yang sedikit kusut.

"Kalau saya tidak menyentuhmu, kamu sudah jatuh ke lantai," balas Devan dengan nada tenang yang menyebalkan.

"Mending saya jatuh bebas ke lantai daripada disentuh sama Bapak!" ketus Aiswa.

Mendengar kata itu lagi, guratan kesal muncul di wajah tampan sang CEO.

"Aiswa, bisa berhenti panggil saya 'Bapak'? Saya bukan bapak kamu. Saya calon suami kamu," tegas Devan.

Dia merasa mendadak tua berabad-abad setiap kali kata 'Bapak' keluar dari bibir Aiswa.

"Ya kan memang Bapak itu bapaknya Zianna! Ya sudah sih, sama aja," ujar Aiswa dengan volume suara yang sengaja merendah di akhir kalimat.

"Lagian, ngaku-ngaku melulu calon suami. Ih, pede banget. Siapa juga yang mau nikah sama Bapak?"

Mendengar penolakan terang-terangan itu, tatapan Devan mendadak berubah serius. Langkah kakinya bergerak maju, memaksa Aiswa melangkah mundur hingga punggung gadis itu membentur dinding kamar. Devan mengunci pergerakan Aiswa dengan kedua tangannya yang bertumpu di dinding.

"Kamu bilang apa tadi?" tanya Devan dengan suara rendah yang menguar aura menyeramkan.

Aiswa meneguk ludahnya, mencoba sekuat tenaga untuk tetap terlihat tenang meskipun nyalinya sedikit menciut. Mengingat ancaman Devan yang bisa berbuat nekat, Aiswa akhirnya memilih mengalah demi keselamatan jiwanya.

Dia menarik napas panjang.

"Ya sudah deh, Tuan Devan yang terhormat... permisi, ya, saya mau lewat. Saya mau pulang."

Dengan gerakan gesit, Aiswa menyelinap di bawah lengan Devan dan berlalu menghentakkan kaki.

Melihat tingkah laku gadis itu, Devan tidak bisa menahan diri untuk tidak berdecak sambil menyunggingkan senyum tipis.

"Saya antar," ucap Devan mengikuti dari belakang.

Aiswa menoleh sekilas tanpa menghentikan langkahnya.

"Nggak usah, Pak! Saya punya kaki untuk jalan, punya tangan untuk pesen, punya ponsel, dan punya uang buat bayar taksi online!"

Namun, langkah lebar Devan dengan mudah mengimbangi pergerakan Aiswa. Tangan pria itu bergerak cepat menahan lengan Aiswa, memaksa gadis itu untuk kembali berbalik menatapnya.

Devan menatap manik mata Aiswa dengan sangat dalam, sementara tangan satunya terangkat lembut untuk merapikan anak rambut Aiswa yang berantakan di pelipis.

Aiswa sempat ingin menghindar, namun tatapan Devan mengunci seluruh sarafnya.

"Saya tahu kamu punya semua itu," bisik Devan pelan, suaranya terdengar begitu posesif.

"Tapi kamu... punya saya."

Setelah melayangkan kalimat yang membuat pasokan oksigen di sekitar Aiswa mendadak menipis, Devan langsung menarik tangan Aiswa masuk ke dalam lift pribadi yang berada di dalam ruangan tersebut, lift khusus yang langsung menuju ke basemen lantai satu tanpa harus keluar melewati lobi utama.

Aiswa hanya bisa menghela napas pasrah dengan dada yang bergemuruh kesal. Bagaimana caranya dia bisa lepas dari kungkungan duda ini jika situasinya sudah begini? Ini juga salahnya sendiri, bukannya istirahat dengan tenang di rumah, dia malah mengantarkan diri masuk ke dalam kandang singa kelaparan.

"Bapak kan sibuk, ya? Ngapain sih harus repot-repot nganterin saya segala?" omel Aiswa memecah keheningan di dalam lift.

"Karena saya mau," sahut Devan singkat, padat, dan mutlak.

"Kurang kerjaan banget tahu nggak," gerutu Aiswa lagi, bibirnya mengerucut.

"Mending Bapak kerja aja sana di meja, cari duit yang banyak."

Mendengar saran ajaib itu, seulas senyuman tipis kembali terukir di wajah Devan.

Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka di area basemen. Mereka berjalan keluar berdampingan. Beberapa karyawan divisi logistik dan sopir kantor yang kebetulan melintas di area basemen mendadak menghentikan langkah mereka dengan mata terbelalak.

Ini adalah pemandangan paling langka abad ini. Bos mereka yang terkenal kejam, dingin, dan tidak pernah tersenyum, baru saja berjalan sambil mengulas senyum tipis di samping seorang gadis! Gadis pendatang yang beberapa menit lalu membuat heboh satu gedung karena menjadi penyebab dipecatnya Dewi, salah satu kepala divisi penting.

Siapa sebenarnya cewek itu?

Semua orang di dalam hati menanyakan hal yang sama. Bagaimana tidak? Saat perusahaan memenangkan tender bernilai triliunan rupiah saja ekspresi Devan biasa saja, tapi hanya karena gadis ini, sang CEO bisa tersenyum begitu manis.

Begitu mereka sampai di area parkir khusus, seorang sopir pribadi langsung membungkuk hormat dan menyerahkan kunci mobil kepada Devan. Devan menerima kunci tersebut, lalu menuntun Aiswa menuju sisi pintu penumpang dan membukakannya dengan sangat sopan.

Dengan berat hati dan perasaan dongkol, Aiswa akhirnya menurut dan masuk ke dalam mobil. Begitu pintu ditutup oleh Devan, Aiswa langsung meluapkan kekesalannya dengan meremas-remas tangannya ke arah luar jendela, bertingkah seolah-olah sedang menjambak udara, bahkan menumbuk-numbukkan tinjunya seolah-olah bayangan di depannya adalah Devan Argian.

Namun, begitu pintu kemudi terbuka dan Devan masuk ke dalam mobil, Aiswa dalam sekejap merubah posisinya menjadi diam seribu bahasa. Ia memalingkan wajahnya 180 derajat ke arah jendela samping, membuang muka.

Melihat perubahan ekspresi yang begitu cepat itu, Devan lagi-lagi menyunggingkan senyum geli. Pria itu tiba-tiba mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Aiswa, membuat Aiswa tersentak kaget dan refleks merapatkan punggungnya ke jok mobil.

"Eh, eh! Mau ngapain?!" protes Aiswa dengan mata melotot panik.

Devan tidak menjawab. Dengan tenang, ia meraih sabuk pengaman di samping bahu Aiswa, menariknya melewati dada gadis itu, lalu menguncinya dengan bunyi klik yang tegas.

"Pasang ini," ucap Devan pelan, wajahnya sempat berada hanya beberapa sentimeter di depan wajah Aiswa sebelum akhirnya ia kembali ke posisi duduknya.

Aiswa hanya bisa menjawab dengan gumaman "Oh" yang nyaris tidak terdengar, wajahnya mendadak merona merah karena salah tingkah.

Devan meliriknya sekilas sambil mulai menyalakan mesin mobil.

"Kamu pikir saya mau ngapain tadi? Mau cium kamu?" tanyanya dengan nada menggoda.

"Orang kaya Bapak itu emang gerak-geriknya selalu mencurigakan!" sahut Aiswa sengit, berusaha menutupi rasa malunya.

Devan terkekeh kecil, lalu mulai melajukan mobil mewahnya membelah jalanan kota dengan kecepatan sedang.

"Memangnya di mata kamu, saya sebegitu buruknya?"

Aiswa langsung menoleh, menatap Devan dengan pandangan tidak percaya.

"Bapak beneran nanya begitu ke saya? Hah?!"

Aiswa menarik napas dalam-dalam, bersiap mengeluarkan mode khodam premannya yang sempat tertahan.

"Bapak itu sengaja membuat sekolah saya libur, terus ngadain seminar palsu entah gimana caranya sampai saya yang jadi peserta tunggalnya! Jangan bilang itu bukan ulah Bapak, ya, saya udah tahu pasti itu kerjaan Tuan Muda Argian ini!" ujar Aiswa menggebu-gebu dengan intonasi naik satu oktav.

"Terus, Bapak juga yang jadi investor di perusahaan Mas Aditya yang hampir bangkrut itu, kan? Dan dengan alasan dana itu nggak akan ditarik, Bapak memaksa Mas Aditya buat putus sama saya! Bahkan Bapak juga yang mengancam masa depan Arkananta juga waktu itu! Coba kasih tahu saya, dari semua kelakuan Bapak itu, di sebelah mana sisi baiknya?!" Aiswa meluapkan semua beban kekesalan yang dipendamnya sejak kemarin-kemarin.

Namun, bukannya tersinggung atau marah karena konspirasinya dibongkar habis-habisan, Devan justru tetap mengulas senyum tipis di bibirnya.

Melihat Aiswa mengomel dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah dan meluapkan emosinya secara blak-blakan justru membuat Devan merasa senang. Setidaknya, gadis ini tidak berpura-pura atau memasang topeng manis di hadapannya seperti orang-orang lain.

"Belum lagi kelakuan Bapak hari ini yang bikin jantungan! Sumpah ya, Pak, rasanya pengen saya ruqiyah aja Bapak sekarang juga!"

Aiswa masih hendak melanjutkan omelan babak keduanya, namun Devan langsung memotong kalimatnya dengan satu kalimat santai yang mematikan.

"Kamu bicara satu kata lagi, saya beneran cium kamu sekarang juga di dalam mobil ini."

Deg.

Kata-kata itu sukses membuat Aiswa langsung bungkam seribu bahasa. Bibirnya terkunci rapat, mengatup erat dengan bentuk mengerucut tanda menahan kekesalan yang teramat sangat. Devan yang melihat ekspresi itu lewat sudut matanya menjadi semakin gemas.

Aiswa akhirnya kembali memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela, memilih untuk mencari jalan aman saja. Mengingat betapa nekat dan tidak warasnya seorang Devan Argian, ancaman pria itu jelas bukan sekadar gertakan belaka.

Keadaan di dalam kabin mobil mendadak menjadi sunyi senyap selama beberapa menit, hanya menyisakan suara deru mesin yang halus.

"Mau makan?" tanya Devan tiba-tiba memecah keheningan.

"Mau," jawab Aiswa cepat tanpa jeda.

Devan hampir saja tertawa lepas mendengar jawaban super jujur itu. Jika perempuan lain sedang dalam mode merajuk atau marah, ditawari makanan pasti akan gengsi dan menolak dengan ketus. Namun, Aiswa berbeda. Gadis itu langsung mengiyakan tanpa pikir panjang.

Ya, bagi seorang Aiswa, daripada dia harus menahan lapar yang melilit perutnya sejak pagi akibat emosi menghadapi sidang dadakan dari Bunda Ayunda dan keriuhan para sahabatnya di rumah, mendingan dia membuang urat gengsinya jauh-jauh.

Lagipula, makan makanan mahal gratis dari seorang miliarder bukanlah sebuah kerugian, bukan?

1
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!