Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Tetua Dewan tertawa meremehkan, suara parau itu memecah keheningan lembah yang mencekam.
"Kamu hanya seorang gadis yang besar di dunia manusia, Selena. Kamu memegang senjata legendaris, tapi kamu tidak tahu cara menggunakannya. Darah Bulan di tubuhmu hanyalah mutiara di tangan babi."
"Kita lihat saja," balas Selena.
Ia merasakan getaran dingin dari hulu Breaker merambat ke jantungnya dan memberikan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tetua itu mengangkat tongkat taringnya. "Tangkap dia! Habisi serigala North-Bound itu!"
Pasukan zirah perak itu merangsek maju. Dua orang melompat ke arah Riven dengan pedang perak terhunus, sementara sisanya berlari di atas danau membeku menuju Selena. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Saat kaki para prajurit Dewan menyentuh permukaan danau, es yang tadinya kokoh bagi Selena tiba-tiba retak dengan bunyi yang memekakkan telinga.
"Apa?!" Tetua Dewan membelalak.
Air danau yang hitam dan sedingin es menelan beberapa prajurit seketika. Jiwa-jiwa yang terperangkap di dasar danau menarik mereka ke bawah, seolah menuntut balas atas ketidakmurnian niat mereka. Namun, sebagian besar prajurit berhasil melompat dan mendarat di altar batu mengelilingi Selena.
"Riven!" teriak Selena saat melihat Riven terdesak di tepian danau dan bahunya teriris pedang perak yang beracun bagi kaumnya.
Amarah Selena menyulut energi Breaker. Bilah cahaya itu mendesis, memancarkan gelombang kejut yang mementalkan prajurit yang mendekatinya. Selena mengayunkan pedangnya secara horizontal bukan tebasan fisik yang terjadi, melainkan gelombang cahaya perak berbentuk sabit yang menebas udara.
Cahaya itu menghantam zirah para prajurit dan menghancurkan pelindung perak mereka seolah-olah itu hanya terbuat dari kaca tipis. Mereka terpental jatuh ke danau, namun Selena tidak berhenti di situ. Fokusnya sekarang tertuju pada Tetua Dewan yang mulai merapalkan mantra dari tongkatnya.
"Kamu pikir kamu bisa menghentikan takdir?" teriak sang Tetua, mengarahkan tongkatnya ke langit. Petir hitam menyambar dari balik kabut, mengincar Selena.
Selena mengangkat Breaker tinggi-tinggi dan bukannya menghindar, ia justru membiarkan petir itu menghantam bilah pedangnya. Energi gelap itu diserap sepenuhnya, diubah menjadi cahaya murni oleh Breaker, lalu dilepaskan kembali ke arah sang Tetua dengan kekuatan dua kali lipat.
Ledakan besar terjadi. Debu dan serpihan es memenuhi udara. Saat kabut mulai menipis, sang Tetua terkapar lemas dan tongkatnya patah menjadi dua. Sisa pasukannya mundur dalam ketakutan, melihat pemimpin mereka dikalahkan oleh seorang gadis yang baru saja mengenal jati dirinya.
Selena terengah-engah, tangannya gemetar namun cengkeramannya pada Breaker tetap kokoh. Ia menoleh ke arah Riven yang sedang berjuang berdiri, darah merah merembes dari luka di bahunya.
"Riven! Kamu tidak apa-apa?" Selena berlari melintasi danau, es di bawah kakinya tetap tenang dan kokoh.
Riven menatapnya dengan kekaguman yang bercampur rasa tidak percaya. "Kamu benar-benar melakukannya. Kamu memanggil kekuatan Breaker tanpa latihan sedikit pun."
Namun, di tengah kemenangan singkat itu, sebuah raungan panjang memecah kesunyian dari arah pegunungan utara bukan raungan Stalkers dan bukan geraman prajurit Dewan. Itu adalah raungan Alpha yang penuh otoritas dan kerinduan.
Riven menajamkan pendengarannya, lalu tersenyum tipis meski menahan sakit. "Sepertinya "kompas" itu sudah sampai, Selena dan dia membawa pasukan."
Dari balik bayang-bayang hutan di pinggir lembah, sesosok serigala besar dengan bulu sehitam jelaga dan mata emas yang menyala muncul. Di belakangnya, puluhan serigala lain melompat keluar dari kegelapan.
Selena terpaku. Ia tahu aroma itu. Ia tahu tatapan itu. "Joan," gumamnya lirih, sementara Breaker di tangannya berdenyut pelan, seolah mengenali pelindung sejatinya yang telah kembali.
Serigala hitam besar itu melompati bebatuan dengan kecepatan yang nyaris tidak tertangkap mata dan mendarat tepat di antara Selena dan sisa-sia pasukan Dewan yang masih mencoba bangkit. Saat kaki depannya menyentuh tanah, getaran otoritas seorang Alpha menyapu seluruh lembah dan memaksa udara yang dingin terasa semakin berat.
Dalam satu gerakan yang halus namun mengerikan, serigala itu bertransformasi. Bulu hitamnya menyusut, tubuhnya memanjang, dan Joan berdiri di sana masih dengan perban yang melilit bahunya, namun wajahnya kini sekeras pahatan batu.
"Joan!" Selena hendak berlari mendekat, tetapi langkahnya terhenti saat Joan menoleh.
Tatapan mata emas itu tidak lagi hanya berisi kelembutan yang Selena kenal di kabin. Ada kemarahan yang berkobar, bercampur dengan kelegaan yang begitu dalam hingga membuat tangan Joan gemetar saat ia menatap Selena dan senjata di genggamannya.
"Aku sudah memintamu untuk lari, Selena," suara Joan rendah, serak oleh rasa sakit dan kelelahan. "Tapi kamu malah berjalan lurus ke sarang ular ini."
"Aku tidak bisa terus melarikan diri, Joan," balas Selena, suaranya mantap meski matanya berkaca-kaca melihat kondisi Joan yang masih terluka. Ia mengangkat Breaker sedikit lebih tinggi. "Terutama saat aku tahu kalian semua menderita karena apa yang ada di dalam darahku."
Joan terdiam sejenak dan matanya beralih ke arah Tetua Dewan yang terkapar. Di belakangnya, puluhan serigala dari kawanan Joan sudah mengepung sisa prajurit zirah perak. Tidak ada ampun di mata mereka. Dewan telah melampaui batas dengan menyentuh Lembah Pembuangan.
"Riven." Joan melirik pria itu yang masih terduduk lemas di tepi danau. "Terima kasih telah membawanya sampai ke sini."
Riven mendengus pelan dan mencoba menahan ringisannya. "Jangan berterima kasih padaku. Dia yang menyelamatkan nyawaku berkali-kali di jalan tadi. Dia lebih dari sekadar legenda."
Joan kembali menatap Selena dan melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di hadapan gadis itu. Aroma hutan dan hujan yang familiar kembali menyelimuti indra penciuman Selena yang memberikan rasa aman yang selama ini hilang sejak penyerangan di kabin.
"Darah Bulan telah terbangun sepenuhnya," bisik Joan, tangannya yang besar dan kasar perlahan terangkat, membelai pipi Selena dengan sangat hati-hati, seolah takut Selena akan menghilang. "Dan kamu telah memegang kunci kehancuran Dewan, tapi ini baru permulaan, Selena. Lucian tidak akan tinggal diam setelah merasakan ledakan energi ini."
Selena menggenggam tangan Joan yang ada di pipinya. "Biarkan dia datang! Aku sudah selesai menjadi tawanan dan aku sudah selesai menjadi mangsa."
Cahaya biru keperakan dari Breaker seolah menyetujui perkataannya, memancarkan denyut yang hangat. Namun, ketenangan itu terusik saat salah satu prajurit Dewan yang tersisa berteriak putus asa, "Kalian tidak akan pernah menang! Lucian sudah berada di perbatasan lembah dengan pasukan yang jauh lebih besar! Dia menginginkan pedang itu dan dia akan meratakan tempat ini!"
Joan mengeratkan rahangnya. Ia menoleh ke arah kawanannya dan memberi aba-aba singkat.
"Bawa yang terluka ke tempat perlindungan di balik tebing. Kita tidak bisa bertempur di tempat terbuka ini jika Lucian membawa seluruh pasukannya."
"Joan," sela Selena, matanya berkilat penuh tekad. "Kita tidak perlu bersembunyi. Breaker bukan hanya senjata untuk menghancurkan, tapi juga untuk membebaskan. Berikan aku waktu untuk memahami kekuatan penuhnya dan aku akan mengakhiri ini untuk ibumu, untukmu, dan untuk semua kaum kita."
Joan menatap dalam-dalam ke mata Selena dan mencari keraguan, namun yang ia temukan hanyalah kekuatan seorang ratu yang baru saja menemukan takhtanya. Untuk pertama kalinya sejak kabin mereka terbakar, Joan tersenyum tipis, sebuah senyum bangga.
"Kalau begitu, pimpin kami, Selena. Sang Darah Bulan telah kembali."