Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.
Nantikan Perjalanan Kedua nya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
POV: RIANI
Jumat siang pukul dua belas, Riani duduk di kantin kampus satu sambil memandangi pintu masuk. Di mejanya ada sepiring nasi ayam geprek yang baru setengah habis dan segelas es jeruk yang sudah mulai mencair.
Dinda duduk di seberangnya, sibuk scrolling ponsel sambil sesekali menyuap nasi gorengnya.
"Ri, kamu nunggu siapa sih? Dari tadi matamu ke pintu terus," Dinda berkomentar tanpa mengangkat kepala dari ponselnya.
"Nggak nunggu siapa-siapa."
Dinda meletakkan ponsel, menatap Riani dengan satu alis terangkat. "Wahyu ujian sampai jam berapa?"
Riani berpura-pura sibuk memotong ayam gepreknya. "Nggak tahu."
"Bohong."
"Din—"
"Ri, aku tahu kamu nunggu Wahyu. Dan itu nggak apa-apa." Dinda tersenyum. "Kamu bilang ujiannya pagi tadi kan? Berarti sekarang mungkin sudah selesai."
Riani menghela napas. "Aku cuma... penasaran gimana ujiannya."
"Uh-huh. Penasaran." Dinda mengangguk-angguk dengan ekspresi yang mengatakan: tentu saja.
Riani mengabaikan ekspresi itu dan kembali makan.
Tapi tidak sampai tiga menit, ponselnya bergetar.
Pesan dari Wahyu.
Riani hampir menjatuhkan sendoknya.
Wahyu: "Ujian selesai."
Singkat, seperti biasa. Tapi Wahyu yang mengirim pesan duluan—tanpa Riani tanya lebih dulu.
Riani mengetik dengan menahan senyum.
Riani: "Gimana? Lancar?"
Wahyu: "Bisa dikerjakan. Soalnya seperti prediksi."
Riani: "Alhamdulillah! Kamu pasti bagus. Di mana sekarang?"
Tiga titik muncul, lalu hilang, lalu muncul lagi. Seperti Wahyu sedang ragu mengetik sesuatu.
Wahyu: "Baru keluar ruang ujian. Masih di kampus 3."
Riani: "Nanti ke kampus 1? Kalau iya, makan siang bareng yuk. Aku lagi di kantin."
Tiga titik muncul lagi. Kali ini lebih lama.
Dinda yang dari tadi memperhatikan wajah Riani berbisik, "Dia balas nggak?"
"Tunggu," bisik Riani.
Lalu ponselnya bergetar.
Wahyu: "Aku ada urusan BEM dulu. Mungkin jam satu bisa ke kampus 1."
Riani: "Aku tunggu di kantin sampai jam setengah dua ya."
Tidak ada balasan.
Tapi juga tidak ada penolakan.
Riani meletakkan ponsel, kembali makan dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari tadi.
"Dia mau datang?" Dinda langsung menangkap ekspresi Riani.
"Mungkin."
"Mungkin itu lebih baik dari tidak." Dinda menyeringai. "Aku mau pergi sebelum dia datang ya. Biar kalian berdua."
"Dinda—"
"Aku serius! Kalian lebih nyaman kalau nggak ada aku di sini. Aku sudah lihat pola ini." Dinda berdiri, mengambil tas. "Tapi aku minta update detail ya!"
"Nggak ada yang perlu di-update—"
Tapi Dinda sudah melambai dan berjalan pergi dengan santai.
Riani memandang kepergian sahabatnya dengan perasaan campuran antara geli dan gugup.
Lalu dia kembali makan, kali ini pelan-pelan, sambil sesekali melirik pintu kantin.
Pukul satu lewat dua puluh menit, Wahyu muncul di pintu kantin.
Dia mengenakan kaos putih polos—bukan hoodie seperti biasanya, mungkin karena hari ini panas—dan jeans hitam. Rambutnya sedikit berantakan, mungkin efek kelelahan setelah ujian.
Matanya menyapu ruangan sebentar, lalu menemukan Riani.
Riani melambai pelan.
Wahyu berjalan mendekat, duduk di kursi yang tadi Dinda tinggalkan.
"Dinda mana?" tanyanya.
"Pergi tadi." Riani menahan senyum. "Kamu sudah makan?"
"Belum."
"Pesan dulu, nanti aku temenin."
Wahyu memanggil pelayan, memesan nasi putih dengan lauk sederhana—ayam goreng dan sayur bayam. Riani memesan es teh manis tambahan untuk keduanya.
Saat makanan Wahyu datang, mereka makan dalam keheningan yang sudah familiar—bukan canggung, hanya... tenang.
"Wahyu," Riani memulai, "tadi soalnya susah nggak?"
Wahyu menelan suapannya. "Ada beberapa soal kasus yang lumayan tricky. Tapi konsepnya sudah aku pelajari, jadi bisa dianalisis."
"Soal kasus? Kayak gimana?"
"Misalnya diberikan skenario sengketa waris, terus ditanya siapa yang punya hak mengajukan gugatan, bukti apa yang diperlukan, dan prosedur pengadilan yang harus ditempuh."
Riani mengangguk-angguk meskipun tidak sepenuhnya mengerti. "Dan kamu bisa jawab?"
"Bisa."
"Bagus!" Riani tersenyum. "Aku tadi agak khawatir."
Wahyu mengangkat kepala. "Kenapa kamu khawatir?"
"Karena aku tahu kamu nggak bisa tidur nyenyak malam-malam tadi. Dan ujian dengan kondisi kurang tidur itu susah."
Wahyu menatap Riani beberapa detik. "Aku tidur cukup."
"Jam berapa kamu tidur?"
Jeda. "Jam dua belas."
"Dan bangun jam berapa?"
Jeda lebih panjang. "Jam lima."
"Wahyu, itu cuma lima jam."
"Cukup untuk ujian."
Riani menghela napas. "Kamu harus lebih jaga kesehatan."
"Kondisiku baik-baik saja."
"Fisik mungkin. Tapi mental—"
"Riani." Wahyu memotong, tapi nada suaranya tidak tajam—lebih seperti... peringatan halus. "Aku sudah biasa dengan jadwal seperti ini."
Riani tahu kapan harus berhenti mendorong. "Oke. Tapi setidaknya siang ini istirahat ya. Nggak usah langsung balik ke kost buat ngerjain sesuatu."
Wahyu menatapnya. "Kamu tahu aku selalu ada kerjaan sesudah ujian?"
"Aku menebak."
Ekspresi Wahyu berubah sedikit—sesuatu yang hampir menyerupai apresiasi. "Translation project. Deadline Sabtu."
"Selesaikan setelah istirahat. Otak yang capek tidak akan menghasilkan terjemahan yang baik."
"Aku bisa handle—"
"Wahyu."
Wahyu berhenti.
Riani menatapnya tenang. "Kamu baru selesai ujian. Kamu kurang tidur. Boleh nggak, hari ini kamu... nggak ngapa-ngapain dulu? Cuma duduk, makan, terus istirahat?"
Wahyu menatap balik.
Ada pertarungan kecil di matanya—kebiasaan lama yang bilang "harus terus bekerja" berhadapan dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang berbisik "mungkin boleh berhenti sebentar".
Lalu Wahyu menundukkan kepala, kembali makan.
"Satu jam," ujarnya akhirnya.
Riani tidak mengerti. "Apa?"
"Aku istirahat satu jam. Setelah itu aku harus mulai translation."
Riani tersenyum. "Deal."
Mereka melanjutkan makan.
Di tengah keheningan itu, Riani teringat sesuatu.
"Wahyu, aku mau bilang sesuatu."
"Hmm."
"Proposal kelompok kita... aku baca ulang semalam. Dengan semua revisi yang sudah kita masukkan, aku rasa ini benar-benar kuat sekarang. Terutama bagian analisis hukum yang kamu tulis."
Wahyu tidak langsung menjawab. Dia menyuap satu sendok nasi, lalu berkata, "Masih ada yang perlu diperbaiki di bagian proyeksi impact."
"Impact-nya? Yang soal estimasi jumlah penerima manfaat?"
"Iya. Angkanya terlalu optimistis. Kita perlu tambahkan catatan tentang asumsi dan limitasinya. Kalau saat presentasi dosen tanya, kita harus bisa pertanggungjawabkan angka itu."
Riani langsung membuka catatan di ponselnya. "Oke, aku catat. Kamu ada saran angka yang lebih realistis?"
"Tergantung scope pilot project. Kalau satu kelurahan, target penerima manfaat di tahun pertama sekitar dua ratus sampai tiga ratus orang. Itu realistis. Yang tiga ribu orang di draft awal itu terlalu ambisius untuk skala pilot."
"Iya, masuk akal." Riani mengetik catatan. "Kamu... sudah banyak banget bantu project ini, Wahyu. Jauh dari ekspektasi awalku."
Wahyu mengangkat kepala. "Ekspektasi apa?"
Riani ragu sebentar. Lalu jujur. "Jujur... waktu pertama lihat nama kamu di kelompok, aku khawatir kamu nggak akan mau berkontribusi. Karena kamu selalu menjaga jarak."
Wahyu diam sebentar. Lalu, dengan nada yang lebih pelan, "Aku tidak suka komitmen yang setengah-setengah. Kalau sudah masuk kelompok, aku akan berkontribusi penuh."
Riani mengangguk. "Aku tahu itu sekarang."
"Bagaimana awalnya kamu bisa... bertahan?" tanya Wahyu tiba-tiba. Suaranya pelan, seperti pertanyaan yang sudah lama dia simpan.
"Maksudnya?"
"Mencoba deket sama aku. Aku sudah berkali-kali tidak ramah, bahkan kasar. Tapi kamu tetap ada." Wahyu menatap mejanya, tidak langsung ke Riani. "Kebanyakan orang sudah menyerah jauh sebelum ini."
Riani meletakkan sendoknya. Berpikir sebentar sebelum menjawab.
"Karena aku pernah kehilangan seseorang karena aku menyerah terlalu cepat," jawab Riani pelan.
Wahyu mengangkat kepala.
Riani melanjutkan. "Dulu waktu SMP, ada teman yang... sedang dalam masa sulit. Dia mulai menarik diri, jadi pendiam. Aku coba dekati beberapa kali, tapi dia selalu menolak. Akhirnya aku menyerah. Berpikir, 'dia memang nggak mau temenan sama aku'." Riani berhenti sebentar. "Beberapa bulan kemudian aku dengar dia pindah sekolah dan nggak ada yang tahu ke mana. Aku nggak pernah sempat minta maaf atau bilang aku peduli."
Hening.
"Dan waktu aku lihat kamu pertama kali di kampus," lanjut Riani lebih pelan, "sesuatu di dalam aku bilang... ini familiar. Orang yang menarik diri bukan karena tidak butuh teman, tapi karena takut disakiti." Mata Riani bertemu dengan mata Wahyu. "Aku nggak mau buat kesalahan yang sama dua kali."
Wahyu menatap Riani dalam waktu yang cukup lama.
Lalu dia mengalihkan pandangan. Meraih gelas es tehnya, minum pelan.
"Teman SMP itu," ujar Wahyu akhirnya, suaranya pelan, "aku rasa dia tahu kamu peduli. Meskipun dia nggak bilang."
Riani terdiam sebentar. "Kamu bilang begitu karena kamu ngerti perasaannya?"
Wahyu tidak menjawab.
Tapi itu sudah cukup.
Satu jam berlalu tanpa terasa.
Mereka menghabiskan waktu dengan ngobrol—tidak selalu tentang hal berat. Riani bercerita tentang kejadian konyol di kelas Manajemen Strategi hari Senin, Wahyu mendengarkan dengan ekspresi yang datar tapi matanya tidak kosong. Riani bercerita tentang Dinda yang minggu lalu lupa mengumpulkan tugas karena ketiduran, Wahyu berkomentar singkat: "Tidak ada backup reminder?"
Hal-hal kecil. Ringan.
Dan Wahyu... ada.
Bukan dalam artian fisik saja, tapi benar-benar hadir—tidak melirik jam, tidak terlihat ingin segera pergi, tidak memasang tembok kaca yang biasa dia pasang di antara dirinya dan orang lain.
Ketika akhirnya Wahyu berdiri, mengecek jam dan berkata, "Sudah lebih dari satu jam. Aku harus mulai kerja," Riani mengangguk tanpa protes.
"Oke. Tapi makan dulu tadi sudah cukup kan?"
"Cukup."
"Bagus." Riani berdiri juga. "Hati-hati di jalan. Dan Wahyu—"
Dia menunggu sampai Wahyu menatapnya.
"Kamu tadi bagus di ujian. Aku yakin itu."
Wahyu menatap Riani beberapa detik.
Lalu—sangat singkat, sangat kecil, hampir tidak terlihat—sudut bibirnya terangkat.
Setengah senyum.
Dan itu, bagi Riani, jauh lebih berharga dari senyum penuh siapa pun.
"Terima kasih," ujar Wahyu. Lalu dia berbalik dan berjalan keluar kantin.
Riani berdiri di sana, memandangi punggungnya sampai hilang di balik pintu.
Lalu dia duduk kembali, mengambil ponselnya, dan mengetik pesan ke Dinda.
Riani: "Din. Dia setengah senyum."
Balasan Dinda datang dalam tiga detik.
Dinda: "SETENGAH SENYUM??? RI INI PROGRESS BESAR!!!"
Riani tertawa kecil sendirian di kantin yang mulai sepi.
Iya. Progress besar.
Pelan-pelan.
Tapi pasti.
Bersambung.....