Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NONIK MENGHILANG
7 JAM SEBELUMNYA
“Oke. Dah bagus ni.”
Rani mengoceh sambil merapikan jas dokter putih krem yang dikenakan Madun. Ini baru jam 5 pagi. Mereka sudah bersiap menuju rumah sakit K. Darto si Kerempeng itu dapat info kalau Nonik masih ada di ruang Melati. Hanya waktu itu dokter Bram yang menyuruh memindahkan Nonik ke ruang VIP pasien darurat supaya mendapat pelayanan lebih optimal.
“Ganteng kali boss.”
Darto tersenyum geli melihat Madun yang menjadi orang lain tidak seperti yang biasa dia lihat. Madun yang garang. Madun yang seram. Kini berubah menjadi sosok berwibawa berperan sebagai dokter dengan ID card dokter Santoso. Mereka mendapat perlengkapan dokter dari seorang teman, yang punya kenalan orang dalam rumah sakit. Beri uang maka perlengkapan rumah sakit tersedia. Pakaian suster pendamping dokter, pakaian dokter dan asisten dokter. Semuanya lengkap.
“Kamu jangan ragu-ragu.”
Madun berbisik kepada Darto.
“Kamu tau ini punya resiko Tingkat tinggi.”
“Boss. Aku ni udah tau gimana harus berperan. Tenang boss tenang.”
Darto tersenyum bangga. Dia membusungkan dadanya.
“Ni perkenalkan asisten dokter Santoso siap bantu dokter Santoso.”
“Aisss sudahlah. Kita tinggal cari target. Jangan lepas.”
“Beres boss.”
Darto mengacungkan jari jempolnya. Madun menampol jari jempolnya Darto.
“Ayo gerak.”
Mereka keluar dari mobil. Langkah mereka mencoba tegas dan penuh keyakinan. Beberapa orang memandang mereka. Mereka berlaku seolah-olah dokter asli yang benaran sedang ber tugas ke rumah sakit K.
Mereka menuju lobby rumah sakit dan minta tenaga kerja penerima tamu untuk mintakan ijin masuk ruang ICU dengan alasan mereka diperbantukan dari rumah sakit kota J kesini supaya dapat membantu kinerja dokter di rumah sakit K.
Dengan hormat tenaga kerja penerima tamu mengangguk hormat dan menghubungi pihak pekerja ICU ada dokter yang diperbantukan dari rumah sakit kota J rumah Sakit Tn. Setelah dipersilakan oleh tenaga kerja penerima tamu mereka segera menuju lift lantai 3. Ruang ICU. Ruang tempat Nonik dirawat.
Dengan penuh wibawa dokter Santoso melangkah pasti ke bangsal ICU. Suster-suster penjaga mengangguk hormat. Madun tersenyum ramah. Muka Codetnya sudah diganti muka halus oleh bantuan Rani yang pandai make up. Rani pernah kerja magang make up artis-artis film di negara H. Dia mendapat pengalaman untuk memperhalus muka, meyamarkan garis-garis kasar dan menyembunyikan gurat-gurat halus di wajah. Muka kasar diubah menjadi muka halus hanya dengan make up. Bahkan bossnya memuji kemampuan Rani dalam kerja make up.
“Seperti asli ya.”
Rani tersenyum saja mendapat pujian itu. Dia senang hasil kerjanya ada yang puji. Selama di negara H dia banyak mengumpulkan uang. Lalu dia kirim ke saudaranya yang merawat ibunya guna operasi besar ibunya di rumah sakit. Ibunya sekarang sudah baik tetapi di kursi roda. Dia kemarin sudah ketemu ibunya. Rani menangis haru. Selama 5 tahun di negara H dia merindukan ibunya.
Pintu terbuka. Mereka masuk. Di ruang itu ada perawat memeriksa kondisi Nonik. Alat monitor detak jantung berjalan teratur. Perawat itu memeriksa alat selang infus. Masih penuh. Memeriksa tabung oksigen. Masih penuh. Memeriksa dada Nonik. Nafas Nonik beraturan. Dia tertidur oleh obat tidur ringan. Menurut dokter Bram, supaya Nonik tidak terlalu kesakitan karena penyakit komplikasi itu sakit bagi anak.
Perawat mengangguk hormat.
“Suster bisa keluar. Aku harus meneliti keadaan pasien. Cari tau gejala-gejala penyakitnya. Supaya bisa ditangani lebih baik. Aku nggak mau diganggu. Butuh konsentrasi.”
“Baik dok.”
Madun sebagai dokter Santoso pura-pura memeriksa Nonik. Dia berpikir bagaimana bawa target. Madun menoleh ke Rani lalu berbisik-bisik. Rani mengangguk-anggukkan kepalanya. Darto mencoba mendengar. Kepalanya ditampol Madun karena terlalu dekat dengan Rani. Darto tersenyum kecut.
Rani keluar. Tidak berapa lama bawa tempat tidur pasien beroda. Madun menyuruh Darto membawa tabung oksigen, beberapa obat dan perlengkapan pasien lainnya. Darto sedikit menggurutu. Madun menampol lagi kepala Darto, mengisyaratkan supaya segera keluar.
Mereka membawa Nonik keluar. Suster-suster hanya melihat saja. Mereka tadi sudah diberitahu Rani, pasien mau dipindah lagi ke ruang VIP pasien darurat supaya perawatannya lebih optimal. Mereka hanya mengangukkan kepalanya saja. Karena kemarin juga Nonik sempat dipindah ke ruang VIP atas perintah dokter Bram supaya nafas asma Nonik stabil. Setelah dirawat beberapa lama akhirnya pasien dipindah lagi ke ruang ICU.
Mereka memondong Nonik yang tertidur pulas. Mobil melaju meninggalkan rumah sakit K.
7 JAM KEMUDIAN
Santi berbaring di tempat tidur pasien. Dokter Bram sedang memeperiksa nadi Santi. Lalu memeriksa mata Santi. Dody mengamat-amati saja. Mister Chow duduk disamping Ritonga. Mereka duduk dalam diam.
“Pak Dody. Nyonya Santi kelelahan. Sangat kelelahan. Dia perlu istirahat cukup.”
Dody menganggukkan kepalanya. Dokter Bram baginya sudah teman terbaik. Saat dirimya terpuruk, aset-aset perusahaannya dibekukan opa Darwis, dokter Bram memberikan kelonggaran-kelonggaran medis buat Nonik. Mungkin dokter lain tidak mau memberikan fasilitas seperti yang diberikan dokter Bram.
“Biarkan nyonya istirahat pak.”
Lalu masuk suster berbicara sebentar dengan dokter Bram.
“Pak Dody. Aku ada piket periksa pasien. Tolong sekali lagi jaga nyonya.”
Dody mengangguk untuk kedua kalinya. Meskipun dokter Bram cerewet tetapi dia dokter yang terbaik yang dimiliki rumah sakit K.
Dody memandang kepada mister Chow.
“Jadi bapak ini yang bawa Santi kesini.”
“Iya mas. Aku lihat nyonya Santi dalam kondisi kelelahan. Aku coba tolong supaya dia dapat sekedar rehat. Karena dia selalu memikirkan anaknya yang sakit komplikasi dirawat di rumah sakit.”
“Ya pak. Aku kenal Santi baru beberapa hari. Tapi aku salut dengan perjuangannya merawat anaknya. Bekerja keras demi anaknya. Cari biaya pengobatan buat anaknya.”
Mister Chow mengangguk-anggukkan kepalanya. Diapun juga kagum dengan Santi. Single mom yang pantang menyerah untuk anaknya. Karena itu dia bersimpati kepada Santi, dirinya senasib dengan Santi berjuang mencari uang buat perawatan istrinya Imna yang sakit keras. Asma akut. Sudah lebih dari 15 tahun.
“No….nik. Dimana kau….nak.”
Tiba-tiba Santi terbangun dari pembaringannya. Dia menyebut-nyebut nama anaknya. Dia masih teringat anaknya meskipun tadi pingsan. Ya pingsan. 1 jam-an lebih. Untung pada waktu itu dokter Bram sedang ada di rumah sakit sehingga mendapat pertolongan langsung dokter Bram.
“Udah. Rehat dulu. Nanti kalau sudah kuat, Nonik bisa dicari.”
Dody mencoba membujuk Santi untuk berbaring kembali. Dia kemudian membaringkan kembali Santi. Lalu menyelimuti tubuhnya.
“Tapi….Nonik.”
“Udah. Kamu rehat.”
Dody menjawab tegas. Suaranya penuh wibawa sehingga Santi terdiam.
“Biar nanti aku sama Ritonga cari Nonik. Bapak tolong jaga Santi pak.”
Dody memandang kearah mister Chow dengan muka memohon. Mister Chow mengangguk.
“Baik mas. Santi biar aku yang jaga. Mas tenang saja.”
Dody lalu mengajak keluar Ritonga. Mereka berbincang-bincang sebentar untuk pencarian Nonik.
“Gimana ni bro. ada masalah lagi.”
“Tenang. Aku punya teman yang bisa bantu.”
Ritonga menepuk pundak Dody.
“Ni udah masuk perkaraku. Kamu temanku.”
“Makasih bro. kamu adalah teman terbaikku.”
Ritonga tersenyum.
“Kita berangkat. Sekarang.”
“Oke.”
Keduanya berangkat dengan satu tujuan menemukan Nonik. Nonik yang sakit keras. Dody tidak bisa membayangkan. Orang tega bawa Nonik. Itu pasti orang suruhan.
“Kupikir. Ni ada yang ambil paksa Nonik karena suruhan.”
“Ya. Udah pasti. Kamu tenang saja.”
Ritonga mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah sakit K.
Di ruang pasien. Kamar 06. Lantai 2. Ruang Anggrek. Santi berusaha untuk bisa tidur. Tetapi pikirannya kemana-mana. Bagaimana Nonik kalau tiba-tiba kritis. Tiba-tiba ……Santi tidak bisa membayangkan hal-hal mengerikan terjadi kepada anaknya. Anaknya sejak kecil selalu bersama dengan dirinya saja dan Sony ayahnya sebelum dinyatakan meninggal. Tidak pernah kemana-mana. Di rumah saja. Tidak pernah diajak orang lain. Dulu waktu kecil sering digendong Oom Gendut. Hanya itu orang lain. Ibu Sony mana mau menggendong. Dia tidak suka Nonik yang sakit-sakitan.
Bersambung