Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Malam Terakhir di Hutan Bambu Ungu
Setelah berhasil mengalahkan Kerbau Tanduk Guntur, suasana di dalam hutan bambu ungu mendadak menjadi sunyi, tidak ada lagi suara benturan atau gemuruh, hanya sisa debu yang perlahan turun dan angin yang kembali berhembus pelan di antara batang-batang bambu yang rusak di sekitar mereka.
Long Chen berdiri memandangi tubuh besar yang kini tergeletak tak bergerak, matanya dipenuhi kekaguman yang sulit disembunyikan. “Teknik tingkat ketujuh Senior… benar-benar luar biasa,” ucapnya pelan, suaranya masih menyimpan sisa ketegangan dari pertarungan tadi.
Shi Hao tertawa kecil di sampingnya, tampak santai seolah hasil itu sudah ia duga sejak awal. “Itu sih wajar,” katanya ringan sambil menyilangkan tangan. “Bagaimanapun juga, dia yang paling senior di antara kita berdua.”
Mo Fan yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya tersenyum tipis, tidak menunjukkan kesombongan, seolah apa yang ia lakukan tadi hanyalah bagian dari hal yang seharusnya.
Mereka bertiga berjalan mendekat ke arah tubuh Kerbau Tanduk Guntur yang kini tergeletak diam, ukurannya yang besar membuat tanah di sekitarnya sedikit amblas, sementara sisa-sisa petir masih sesekali berderak lemah di tanduknya. Mo Fan mengulurkan tangannya dan menepuk sisi tubuh makhluk itu, memastikan benar-benar sudah tidak ada perlawanan tersisa. “Baiklah,” ucapnya tenang, lalu menambahkan, “sekarang kita akan membawanya pulang.”
Long Chen langsung mengernyit, menatap ukuran tubuh raksasa itu dari ujung ke ujung, lalu kembali ke Mo Fan dengan ekspresi tidak percaya. “…Bawa ini? Sebesar ini?” tanyanya, jelas merasa tugas itu tidak masuk akal.
Shi Hao hanya tersenyum santai, lalu mengeluarkan gulungan tali panjang dari pinggangnya. “Aku sudah menyiapkannya sebelum kita berangkat,” katanya ringan. “Dari awal memang sudah kupikirkan.”
Ia mulai mengikat kaki kerbau itu dengan gerakan cekatan, memastikan simpulnya kuat dan tidak mudah lepas, sementara Long Chen dan Mo Fan memperhatikan sejenak sebelum ikut membantu mengencangkan ikatan.
Namun ketika mereka mulai mencoba menariknya, barulah mereka menyadari kenyataannya bahwa tubuh kerbau itu terlalu berat untuk digerakkan.
Tanah berderit saat mereka menarik, otot-otot mereka menegang, namun tubuh besar itu hanya bergeser sedikit, meninggalkan jejak panjang di tanah yang lembap.
Shi Hao mengerutkan kening, napasnya mulai berat. “Ternyata… lebih berat dari yang kubayangkan,” gumamnya.
Long Chen ikut menarik dengan tenaga penuh, kakinya menghujam tanah untuk mendapatkan pijakan, namun tetap saja pergerakan kerbau itu sangat lambat.
“Ini berat sekali…” keluh Long Chen sambil mengerahkan seluruh tenaganya, tangannya mencengkeram tali dengan kuat sementara kakinya menekan tanah agar tidak tergelincir.
Shi Hao menghela napas panjang, bahunya sedikit turun karena kelelahan. “Sepertinya… ini akan butuh waktu lebih lama dari yang kita kira untuk sampai ke rumah,” katanya, suaranya mulai terdengar berat.
Mo Fan mendengus pelan, ekspresinya tetap tenang meskipun jelas ia juga merasakan beban yang sama. “Berhentilah mengeluh,” ujarnya singkat, lalu langsung mendorong tubuh kerbau itu dari sisi lain. “Dorong saja semampu kita.”
Tanpa pilihan lain, mereka bertiga mulai bekerja sama, menarik tali, mendorong dari samping, dan menyeret tubuh raksasa itu perlahan keluar dari kedalaman hutan. Tanah yang lembap tergores panjang, meninggalkan jejak yang jelas di belakang mereka, sementara suara gesekan berat terus terdengar di antara bambu-bambu yang mereka lewati.
Langkah demi langkah terasa berat.
Napas mereka semakin kasar.
Keringat mulai membasahi tubuh mereka meskipun udara masih dingin.
Namun mereka tidak berhenti.
Dengan susah payah, mereka terus bergerak maju, perlahan tapi pasti, membawa hasil buruan mereka kembali menuju rumah di tengah Hutan Bambu Ungu.
Sore hari mulai turun di sekitar rumah yang berdiri tenang di tengah Hutan Bambu Ungu, cahaya matahari yang menguning menyinari halaman dengan hangat, sementara angin berhembus pelan membawa aroma tanah dan bambu yang khas. Di depan rumah, Meng Wu duduk santai di kursi kayu, memegang cangkir kopi di tangannya, ekspresinya tenang seolah tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.
Di sampingnya, Ling Er berdiri sambil memegang pegangan kursi roda Mei Ling, wajahnya terlihat sedikit cemas, alisnya mengerut saat ia menatap ke arah hutan. “Lama sekali mereka bertiga…” gumamnya pelan, jelas mulai tidak sabar.
Ia kemudian menoleh ke arah Meng Wu. “Guru, izinkan aku menyusul mereka. Sudah terlalu lama mereka memburu itu,” lanjutnya dengan nada yang lebih serius.
Namun Meng Wu hanya menggeleng pelan, tidak menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran. “Sepertinya itu tidak perlu,” jawabnya tenang.
Ia menyesap kopinya sebentar sebelum melanjutkan, “Aku sudah merasakan aura mereka.”
Tatapannya mengarah ke kejauhan, seolah bisa melihat lebih jauh dari yang terlihat.
“Mereka sebentar lagi akan sampai.”
Beberapa saat kemudian, Mei Ling yang sejak tadi memperhatikan ke arah hutan perlahan tersenyum, matanya menangkap sesuatu lebih dulu dibanding yang lain. “Itu mereka…” ucapnya pelan namun pasti.
Ling Er langsung menoleh cepat ke arah yang sama, matanya menyipit mencoba memastikan, dan benar saja, di kejauhan terlihat tiga sosok yang semakin lama semakin jelas, bergerak dengan langkah berat sambil menarik sesuatu yang ukurannya jauh lebih besar dari tubuh mereka.
“Wow… besarnya…” gumam Ling Er, matanya membesar saat akhirnya bisa melihat dengan jelas apa yang mereka bawa.
Tidak lama kemudian, Mo Fan, Shi Hao, dan Long Chen akhirnya tiba di halaman, tubuh mereka penuh keringat dan napas mereka berat setelah perjalanan yang melelahkan. Dengan satu dorongan terakhir, mereka menjatuhkan tubuh Kerbau Tanduk Guntur itu ke tanah.
BOOM!
Tanah bergetar ringan saat tubuh raksasa itu jatuh di halaman.
Ketiganya langsung duduk di tempat, tidak lagi menjaga sikap, napas mereka terengah-engah, dada mereka naik turun dengan cepat setelah menguras tenaga hampir sepenuhnya.
Shi Hao mengusap keringat di dahinya, Long Chen menunduk sambil mencoba mengatur napas, sementara Mo Fan hanya menarik napas dalam namun tetap terlihat lebih stabil dibanding yang lain.
Ling Er langsung bersorak begitu melihat hasil buruan mereka, wajahnya kembali cerah seperti biasa. “Yey! Malam ini kita makan besar!” serunya penuh semangat, matanya berbinar melihat ukuran kerbau yang luar biasa itu.
Di sisi lain, Mei Ling menatap Long Chen dengan lembut, memperhatikan napasnya yang masih belum stabil dan tubuhnya yang jelas kelelahan. “Kau terlihat sangat lelah, junior Long Chen…” ucapnya pelan.
Long Chen tertawa kecil, meskipun napasnya masih berat, ia tetap berusaha santai. “Sepertinya… aku tidak perlu menjelaskan lagi, kan? Senior bisa lihat sendiri seberapa capeknya kami bertiga,” jawabnya sambil mengusap keringat di wajahnya.
Mei Ling hanya tersenyum melihat reaksinya, senyum yang hangat dan penuh pengertian.
Tidak jauh dari mereka, Meng Wu perlahan berdiri dari tempat duduknya, ekspresinya kembali serius. Tanpa banyak kata, ia menghunus pedangnya dengan satu gerakan halus, bilahnya berkilau di bawah cahaya sore yang mulai meredup.
“Baik,” ucapnya tenang.
Tatapannya mengarah pada tubuh besar Kerbau Tanduk Guntur di hadapan mereka.
“Saatnya kita memotongnya.”
Malam hari menyelimuti Hutan Bambu Ungu dengan tenang, langit gelap dipenuhi bintang yang berkelap-kelip di atas, sementara di belakang rumah, api unggun menyala terang, memancarkan cahaya hangat yang menari di wajah-wajah mereka. Daging Kerbau Tanduk Guntur yang telah dimasak tersusun rapi di atas daun besar dan batu datar, uapnya masih mengepul, aromanya memenuhi udara dan membuat suasana terasa semakin hidup.
Mereka semua duduk bersama mengelilingi api, membentuk lingkaran sederhana namun penuh kehangatan. Mo Fan dan Shi Hao terlihat santai sambil menikmati makanan, Ling Er makan dengan penuh semangat tanpa menahan diri, sementara Mei Ling duduk di kursinya dengan senyum lembut, sesekali menikmati hidangan dengan perlahan. Meng Wu berada di antara mereka, tidak banyak bicara, namun kehadirannya sendiri sudah cukup membuat suasana terasa utuh.
Long Chen duduk di sana bersama mereka, menggenggam potongan daging di tangannya, matanya memandang sekeliling dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Api unggun berderak pelan di tengah lingkaran mereka, cahaya jingganya memantul di wajah setiap orang, sementara aroma daging yang matang masih menggantung di udara malam. Dalam suasana yang hangat itu, Meng Wu akhirnya membuka suara, nadanya tenang namun membawa bobot yang jelas.
“Turnamen Tujuh Divisi akan berlangsung selama satu minggu,” ucapnya perlahan, matanya menyapu ketiga muridnya. “Selama itu… kita tidak akan bisa berkumpul seperti ini.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap langsung ke arah Mo Fan, Shi Hao, dan Long Chen. “Kalian harus benar-benar bersiap,” lanjutnya dengan tegas. “Karena besok pagi… kita akan berangkat.”
Suasana yang tadi hangat perlahan berubah menjadi lebih serius, kata-katanya mengingatkan bahwa waktu santai mereka telah hampir habis.
Meng Wu kemudian menoleh ke arah Mei Ling, tatapannya sedikit melembut. “Mei Ling, apakah kau akan baik-baik saja jika kami tinggalkan?” tanyanya.
Mei Ling tersenyum tenang, tidak menunjukkan sedikit pun kekhawatiran. “Guru tidak perlu khawatir,” jawabnya lembut. “Aku tidak sendirian, kan ada Junior Ling Er yang akan tetap di sini.”
Ling Er langsung mengangguk cepat, seolah sudah menunggu untuk menambahkan. “Iya benar itu,” katanya dengan semangat, mencoba menjaga suasana tetap ringan. “Kalian fokus saja pada turnamen besok.”
Ia tersenyum, matanya berbinar penuh harap. “Dan kalau bisa… salah satu dari kalian harus masuk empat besar,” lanjutnya.
Ia menatap mereka bertiga.
“Supaya kita bisa turun gunung… bersama.”
Hening sesaat menyelimuti lingkaran kecil di sekitar api unggun, seolah semua orang tenggelam dalam pikiran masing-masing setelah mendengar kata-kata tadi, hingga akhirnya sebuah tawa kecil terdengar, memecah suasana yang sempat mengendap.
Suasana pun perlahan kembali mencair.
Mereka mulai makan bersama, menikmati daging hangat yang baru saja dimasak, obrolan ringan kembali mengalir tanpa beban, canda dan tawa terdengar silih berganti di antara mereka, mengisi malam yang sebelumnya sunyi menjadi hidup kembali.
Ling Er tertawa paling keras seperti biasa, Shi Hao sesekali melempar candaan, Mo Fan hanya tersenyum tipis sambil mendengarkan, sementara Mei Ling ikut tersenyum hangat melihat kebersamaan itu, dan Meng Wu duduk tenang, membiarkan momen itu berlangsung tanpa perlu banyak kata.
Long Chen memandang sekelilingnya sejenak, merasakan suasana itu dengan lebih dalam.
Di bawah langit malam yang luas, ditemani cahaya bintang dan nyala api unggun, momen sederhana itu terasa begitu berharga.
End Chapter 28