Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Move On
"Mikaila, itu tadi siapa, kamu kenal?"
Mikaila menoleh ke belakang, ke arah Althan yang masih duduk di kursi taman.
"Nggak kenal yah, tapi kayanya dia lapar," jawab Mikaila polos.
"Hah? Lapar? Dilihat dari penampilannya kayanya dia bukan pengemis deh. Kamu harus hati hati Mikaila, jangan mau didekati orang asing, takutnya dia jahat,"
Mikaila menganggukkan kepala. "Baik, Ayah."
"Oh ya, tadi Ayah sudah minta izin sama bu guru, buat ajak Mikaila ke rumah sakit bertemu Rika. Mikaila mau kan ketemu Rika?"
"Mau dong Yah, Aku juga kangen banget sama Rika,"
"Oke deh,"
Pria yang menjemput Mikaila barusan adalah Johan, ayah Rika. Mikaila pernah bilang pada Rika kalau dia pengen punya ayah seperti Rika, jadi Rika menyuruhnya memanggil ayahnya dengan sebutan Ayah juga. Dan itu menjadi kebiasaan sampai sekarang.
Kali ini, Johan menjemput Mikaila karena Rika kangen padanya. Kemarin, penyakit lama Rika kambuh, jadi anak itu harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Hari ini, Rika menangis terus karena tidak bisa bertemu Mikaila, jadilah Johan dan Anita memutuskan untuk menjemput Mikaila saja. Tentunya setelah meminta izin kepada Vivi dan ibu guru yang ada di sekolah.
Tapi, fakta itu tentunya tidak diketahui oleh Althan. Setelah kepergian Mikaila dan pria yang ia kira ayahnya itu, Althan masih terduduk beberapa lama di kursi taman. Menenangkan perasaannya sendiri yang terasa campur aduk.
"Sadarlah Althan, ini sudah berapa tahun? Wajar jika Vivi sudah punya penggantiku. Dia dulu meninggalkan aku, tentu saja itu karena dia sudah punya pengganti yang lebih baik,"
Althan menundukkan kepala. Rasa penasaran yang sejak kemarin menguasai pikirannya sekarang dipenuhi rasa sesal. Kenapa dia harus penasaran dan mencari tau? Kalau tidak mencari tau, mungkin perasaannya tidak akan sekacau ini.
"Sudahlah, buat apa bersedih. Wanita itu memang jahat, jadi seharusnya aku pun move on darinya," ucapnya bertekad. Setelah itu, Ia pun bangkit dan berjalan pergi.
Sementara itu, di sebuah studio yang biasanya dipakai Althan bekerja, Vivi dan Roni sedang berdiskusi. Di tengah diskusi, Roni mendapatkan telepon dari Althan.
"Halo, Than? Apa? Mabok? Astaga, mukul orang? Dimana?!"
Roni langsung berdiri dari duduknya, membuat Vivi terkejut.
"Oke, Oke, aku ke sana sekarang," Roni terlihat panik, kemudian ia berjalan pergi begitu saja. Setelah beberapa saat, ia kembali lagi mendekati Vivi. "Mbak Vivi, saya pamit duluan ya buat jemput Althan. Nanti kalau pekerjaan kamu udah selesai, kamu pulang duluan aja nggak papa,"
Vivi mengangguk. Sebenarnya ia penasaran, tapi sepertinya Roni sedang terburu-buru. "Iya Mas," katanya akhirnya.
Setelah kepergian Roni, Vivi jadi sedikit tertegun. "Mabok? Sejak kapan Althan mabok? Di siang bolong pula. Apa yang terjadi?" pikirnya bertanya-tanya.
...----------------...
Dengan kecepatan penuh, Roni sampai di bar dalam waktu sepuluh menit.
Segera saja pria itu masuk ke dalam dan menemukan Althan sudah terkapar di atas sofa. Di sekitarnya, ada beberapa orang berkerumun, dan ada satu orang laki laki yang marah marah sambil menahan sakit karena wajahnya babak belur.
"Liat ya, bakalan gue viralin Lo!"
Roni langsung mendekat dengan panik. "Eh, eh, jangan dong Bang. Kita bicara dulu yuk baik baik,"
"Nggak! Gua nggak mau! Pokoknya gua mau lapor polisi!"
"Jangan lah Bang, kita bakalan ganti rugi kok, janji,"
"Berani berapa lo?!"
"Kita masuk dulu ya..." Kata Roni sambil menuntun pria itu ke tempat yang lebih privat.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya pria yang dihajar Althan pun mau menerima kompensasi. Bukan hanya itu, Roni juga harus mengorek kantong lebih dalam demi membungkam orang-orang yang berkerumun di lokasi kejadian. Jangan sampai berita ini tersebar ke media dan menyebabkan skandal untuk Althan.
Setelah semuanya beres, barulah Roni menghampiri Althan yang masih terkapar di atas sofa.
"Sebenarnya kamu kenapa sih, Than? Kok tiba tiba jadi begini?"
Roni menepuk nepuk pipi Althan. "Than, bangun. Ayo pulang,"
Mata Althan mengerjap beberapa kali. Kepalanya terasa pusing luar biasa. Ia menyipitkan mata karena silau, dan setelah beberapa lama, netranya menangkap sosok Roni yang berada di depannya.
"Bang," katanya dengan suara lemah.
"Iya, kamu kenapa Than? Kenapa tiba tiba mabok di siang bolong? Kenapa pula sampe ngehajar orang begitu?"
Althan mencengkeram pundak Roni, sebagai pijakannya untuk bangkit. Setelah bangkit, ia menatap Roni dengan tatapan sendu.
"Kenapa dia bisa bahagia, bang? Padahal dia yang nyakitin aku, tapi kenapa dia tidak menderita? Sebaliknya, di sini, aku yang disakiti, aku yang menderita terus,"
Roni sebenarnya tak mengerti maksud ucapan Althan. Kata 'dia' yang diucapkan Althan itu juga tidak tau ditujukan kepada siapa. Roni tak pernah diberitahu dan memutuskan untuk tak usah tau. Tugasnya sebagai manajer hanya memastikan Althan sehat baik secara fisik maupun mental. Hanya saja, ia tau kalau yang dimaksud Althan adalah seorang wanita, mantan pacarnya dulu.
"Apa kita perlu ke psikiater lagi, Than? Biar kamu jadi lebih tenang?" Roni menawarkan.
Althan menggeleng. "Aku sudah lelah minum obat obat itu bang,"
"Terus, kamu mau apa? Begini saja. Kenapa kamu nggak coba buat move on? Carilah wanita lain, siapa tau kamu bisa melupakannya,"
Althan menatap Roni tanpa berkedip. "Apa aku bisa melupakan dia begitu saja?"
"Tentu saja bisa. Kamu tunjukkan kepada orang yang menyakiti kamu itu, kalau kamu pasti bisa bahagia tanpanya,"
Althan terdiam. Lalu beberapa menit kemudian matanya terpejam lagi, dan tubuhnya pun ambruk ke depan. Roni dengan sigap menangkapnya. Ia pun membawa Althan pulang.
...----------------...
Keesokan harinya, Vivi datang ke apartemen Althan seperti biasa. Jujur, kali ini ada sedikit rasa khawatir di hatinya, mengingat kemarin ia mendengar Althan mabuk mabukan di siang bolong. Bahkan, dari percakapan Roni di telepon, sepertinya Althan sampai memukul orang.
Apa dia baik baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Althan punya masalah? Batinnya bertanya tanya.
Selama perjalanan menuju apartemen, ia terus meyakinkan diri sendiri untuk menanyakan apa yang terjadi kemarin pada Roni. Karena siapa tau dia bisa membantu kalau Althan benar-benar terkena masalah.
Ting Tong!
Vivi memencet bel apartemen. Ia menunggu beberapa menit, sampai kemudian pintu pun terbuka.
"Pagi Mas, saya—"
Kalimat Vivi terasa berhenti di tenggorokan, saat ia mendapati yang membuka pintu apartemen bukanlah Roni seperti biasa, tapi seorang wanita yang sangat cantik.
"Kamu.. siapa?" tanya wanita cantik itu pada Vivi.
Vivi tak langsung menjawab. Ia mundur dulu beberapa langkah, untuk melihat apakah mungkin dia salah apartemen. Tapi, tidak kok. Nomor apartemennya benar.
"Siapa?" terdengar suara Althan dari dalam. Wanita cantik itu menoleh sambil tersenyum.
"Nggak tau tuh, sayang. Ada cewek yang mencet bel apartemen kamu. Kamu kenal emangnya?"
Mata Vivi sontak terbelalak. Apa katanya tadi? Sayang?
Althan mendekati pintu masuk dan terdiam sejenak saat melihat Vivi, tapi kemudian ia mendekati wanita cantik itu dan merangkul pinggangnya.
"Dia personal stylish aku sayang, suruh masuk aja," katanya sembari mengecup lembut pipi wanita itu.
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara