"Jadi kamu melangsungkan pernikahan di belakangku? Saat aku masih berada di kota lain karena urusan pekerjaan?"
"Teganya kamu mengambil keputusan sepihak!" ucap seorang wanita yang saat ini berada di depan aula, sembari melihat kekasih hatinya yang telah melangsungkan pernikahan dengan wanita lain. Bahkan dia berbicara sembari menggertakkan gigi, karena menahan amarah yang menyelimuti pikirannya saat ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi1208, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Apa kamu baru saja teringat padaku?" tanya Hany dengan kesal. Saat keluar dari kantor, dia mendapati Arya sedang menunggunya di luar.
"Maafkan aku Hany, keadaannya benar-benar di luar kendaliku," ucap Arya dengan menyesal.
"Di luar kendalimu? Memang apa saja yang kamu lakukan?"
"Kamu sengaja kan mengabaikan pesanku!" Belum sempat Arya menjelaskan, Hany sudah mencecarnya lagi dengan pertanyaan. Hany teringat saat malam itu dia berada di seberang rumah Arya, bayangan Arya yang semakin lama semakin merunduk ke arah ranjang, benar-benar membuat dadanya terasa sangat sesak. Malam-malam berikutnya dia pergi ke rumah Arya lagi, tapi rumah itu nampak tidak berpenghuni.
"Aku harus menginap di rumah mertuaku, jadi aku tidak bisa seenaknya bermain ponsel." Tentu saja Hany sangat tahu, kalau Arya begitu menghormati orang tua.
Huft.
Hany pun mendengus kesal. "Lalu kenapa kamu sekarang kesini? Sanalah pergi ke rumah mertuamu!" tegas Hany.
"Kami sudah pulang kembali, maka dari itu aku bisa menemui kamu sekarang," ucap Arya.
"Oh, jadi aku hanya kamu gunakan sebagai cadanganmu saja!" geram Hany.
"Tidak seperti itu Hany, ayolah ikut denganku, nanti akan aku jelaskan semuanya," ucap Arya. Arya segera memegang pergelangan tangan Hany tanpa menunggu respon dari Hany.
"Lepaskan Arya!" sentak Hany sembari berusaha melepaskan cengkraman tangan Arya yang sedikit kuat itu. Arya segera membuka pintu mobil dan memaksa Hany untuk segera masuk. Karena tidak tahan lagi dengan cengkraman tangan Arya, Hany pun memutuskan untuk segera masuk ke mobil.
"Hany, tenanglah, aku tidak akan menyakitimu," ucap Arya yang segera memasangkan sabuk pengaman pada Hany. Arya segera menutup pintu dan berjalan memutar dengan cepat, takut jika Hany tiba-tiba saja keluar dari mobil.
Setelah Arya berhasil masuk dan duduk di kursi pengemudi, Arya pun segera mengunci semua pintu. "Apa yang kamu lakukan? Aku membawa mobil sendiri!" kesal Hany.
"Kita jangan bertengkar di depan umum Hany," ucap Arya sembari menatap ke arah Hany, tapi Hany segera buang muka ke arah luar jendela.
Dak.
Dak.
"Keluarkan aku dari sini!" kesal Hany sembari menendangkan kakinya ke segala arah.
"Jangan begitu Hany, nanti kaki kamu bisa terluka," ucap Arya dengan lembut.
"Biarlah, yang kamu pedulikan kan hanya istri kamu itu! Jadi tidak usah berlaga peduli padaku!" ucap Hany sembari tetap membuang muka. Arya menarik nafas dalam, lalu dia segera menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara Hany masih tetap melihat ke arah luar jendela dengan wajah murung.
Tanpa mereka sadari, bahwa Mery melihat mereka berdua sedari tadi dari kejauhan. Setelah melihat mobil Arya meninggalkan area kantor Hany, Mery pun juga meninggalkan lokasi, tapi dia tidak mengikuti mobil Arya lagi, melainkan segera pulang ke rumah.
***
30 menit berlalu.
"Kita sudah sampai," ucap Arya, tapi Hany tidak menjawab.
"Hany, kita sudah sampai," ucap Arya lagi sembari menatap ke arah Hany kali ini. Arya melihat bahwa Hany tengah memejamkan mata, Arya tidak tahu kalau Hany tertidur sepanjang perjalanan, karena memang tidak ada obrolan sama sekali.
Arya menarik nafas panjang dan segera melepas sabuk pengaman, dia juga membuka kaca mobilnya, sehingga bisa menghirup udara malam yang sangat sejuk.
***
Beberapa saat kemudian, sayup-sayup Hany mulai membuka mata, dia mengedarkan pandangannya ke segala arah, dan mendapati bahwa Arya tidak ada lagi di kursi pengemudi. "Kurang ajar, aku malah ditinggalkan di mobil, emang bener-bener ya Arya itu," ucap Hany sembari menggeliatkan tubuhnya, agar otot-ototnya sedikit meregang.
Dak.
Saat dia mencoba membuka pintu mobil, ternyata terkunci. Hany pun hanya bisa menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan sedikit kasar. "Apa aku tidak salah lihat?" tanya Hany pada dirinya sendiri saat dia melihat ke arah depan mobil. Ternyata mobil Arya saat ini terparkir di depan toko tas langganannya saat mereka masih berpacaran dulu.
"Wah... sepertinya Arya akan mengajakku berbelanja. Hmb… dia memang pandai sekali menyenangkan hati wanita," ucap Hany dengan kegirangan.
Hany pun menyandarkan lagi punggungnya dan mencoba bersantai, sembari menunggu Arya yang entah pergi kemana. Hany menggunakan waktu tersebut untuk membetulkan riasannya.
"Apa kamu sudah bangun?" tanya Arya yang tiba-tiba saja membuka pintu mobil.
"Hmb, apa aku tidur terlalu lama? Kenapa kamu tidak membangunkan aku?" tanya Hany yang seketika emosinya membaik.
"Lihatlah apa yang aku bawa," ucap Arya dengan satu tangannya dia letakkan di belakang, seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
"Taraaam," ucap Arya sembari memberikan seikat bunga pada Hany.
"Makasih sayang," ucap Hany yang nampak tidak terlalu antusias.
"Sayang, kamu mengajakku kemari, apa kita akan berbelanja?" tanya Hany tanpa basa basi.
"Tentu saja, untuk apa lagi kita kemari," ucap Arya sembari mengulas senyum, ada rasa lega setelah melihat kekasih hatinya sudah tidak marah lagi padanya. Hany segera meletakkan bunga pemberian Arya di jok belakang, dan juga segera keluar dari mobil.
"Ayo sayang," ucap Hany dengan senyum lebarnya. Arya pun segera menutup pintu mobil dan menghampiri Hany, lalu Hany menggandeng lengan Arya, bak suami istri yang tengah menghabiskan waktu bersama.
Hany berjalan ke arah toko dengan antusias, sementara Arya menyempatkan menoleh ke arah mobilnya, dia melihat bunga yang tergeletak begitu saja di jok belakang.
***
Setelah semua selesai.
Arya pulang ke rumah dengan perasaan bahagia, karena sudah bisa berbaikan dengan kekasih hatinya.
"Dari mana saja kamu?"
"Astaga!" Saat Arya masuk dan hendak menuju ke tangga, dia dikejutkan oleh suara Mery. Rupanya Mery sedang ada di meja makan, dia meletakkan kepala di atas meja dengan lemas.
"Kamu ini mengagetkan saja," ucap Arya.
"Mana makan malamnya," ucap Mery dengan tidak beranjak, dia berbicara dengan tetap meletakkan kepalanya di atas meja, dengan rambut panjangnya yang terurai, terlebih ruang makan tersebut lampunya padam.
Arya pun segera berjalan ke arah ruang makan dan menyalakan lampu. "Apa... apa kamu belum makan malam?" tanya Arya.
"Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu yang akan menyiapkan makan malam," ucap Mery.
Glek.
Arya menelan salivanya, pasalnya dia sudah makan malam bersama Hany dan melupakan akan janjinya. "Lagian kamu kemana aja sih, bukankah saat jam makan malam kamu seharusnya ada di rumah!" keluh Mery. Saat ini dia berbicara dengan mengangkat kepalanya.
"Ayo," ajak Arya.
"Mau kemana?" tanya Mery.
"Katanya mau makan," jawab Arya.
"Oke," jawab Mery dengan antusias, seakan dia tidak mengetahui perangai suaminya yang baru saja keluar dengan pacarnya.
Mereka berdua segera berjalan keluar rumah dan masuk ke mobil Arya. Mery sempat menyalakan semua lampu mobil, hingga dia bisa melihat jok bagian belakang.
"Arya," panggil Mery.
"Hmb," jawab Arya yang baru saja masuk ke mobil.
"Apa kamu lupa memberikan ini padaku?" tanya Mery sembari mengambil seikat mawar merah yang ada di jok belakang.
"Eh, anu," ucap Arya dengan gugup, dia juga segera melonggarkan dasinya, karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa kamu salah membeli warna?" tanya Mery.
"Eh iya, aku salah, maka dari itu aku tidak jadi memberikannya padamu," jawab Arya.
"Tidak masalah, yang penting adalah niat kamu," ucap Mery sembari mengambil seikat bunga mawar merah tersebut dan menghirup aromanya.
Terlihat sangat berbeda, perlakukan Hany dan Mery saat memegang bunga mawar merah tersebut.
"Aku gak jadi makan deh," ucap Mery yang segera keluar dari mobil sembari membawa bunga mawar merah tersebut dengan hati yang riang.
"Kenapa tidak jadi makan?" teriak Arya yang baru saja bisa membuka kaca mobilnya.
"Aku udah kenyang setelah liat bunga ini," teriak Mery yang segera masuk lagi ke dalam rumah.
"Dasar orang aneh," gerutu Arya yang segera keluar juga dari mobilnya dan mengikuti Mery.
Dengan antusias, Mery segera mengambil toples kaca, serta mengisinya dengan air, lalu menata bunga mawar merah tersebut ke toples. "Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Arya.
"Aku akan membaginya menjadi dua, satu aku letakkan di meja makan, satu lagi di ruang tamu," ucap Mery sembari mengulas senyum.
"Di rumah ini pun gak pernah ada tamu," gumam Arya yang suaranya masih bisa didengar oleh Mery.
"Aku melakukannya, untuk diriku sendiri," sahut Mery tanpa mengalihkan pandangannya dari bunga mawar yang sedang dia rangkai. Tanpa disadari, Arya tiba-tiba saja mengulas senyum saat melihat Mery merangkai bunga mawar merah tersebut.