---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Di sebuah rumah tua yang dijadikan markas, suara pecahan kaca terdengar bertubi-tubi.
PRANG! PRANG! PRANG!
Melisa menghajar apa saja yang ada di dekatnya. Vas bunga, gelas, bahkan kursi kecil ia tendang sampai terbalik. Wajahnya merah, rambutnya berantakan, dan matanya melotot penuh kemarahan.
“BAJINGAN! BANGSAT! MONYET! GAGAL LAGI?!”
Ia berteriak sambil menggebrak meja besar di tengah ruangan.
Para sekutu yang duduk di sekeliling meja hanya bisa menunduk. Mereka tidak berani menatap mata Melisa.
Seorang pria bertato mencoba bicara, “Bu… kami sudah—”
“DIAM!!” Melisa menjerit seperti orang kesurupan.
“Kenapa kalian bisa mati satu mobil?! HAH?! SATU MOBIL HILANG?!”
Sekutu lain gemetar.
“Bu… sepertinya mereka dijebak… Ada pasukan lain yang ikut campur…”
“AYOLOH! MASA OTAK KALIAN NGGAK ADA?!” Melisa kembali memaki.
“Mungkin kalau semua binatang yang aku sebut tadi ada di sini, mereka masih lebih pinter daripada kalian!”
Salah satu sekutu sampai refleks menggeser kursi menjauh. “Ibu makin serem, sumpah…”
Melisa memutar tubuhnya cepat, menatap mereka satu-satu dengan tatapan tajam.
“Dengar baik-baik! Aku tidak peduli berapa orang yang mati. Aku tidak peduli risiko! Kalian TANGKAP NIRMALA! HIDUP ATAU MATI!”
Aurelia dan Kayla yang hampir jadi korban membuat emosi Melisa semakin tidak terkontrol.
Ia menggertak gigi, wajahnya tampak seperti binatang buas terpojok.
“Kalau perlu,” suaranya berubah rendah, dingin, mematikan,
“AKU habisi anakku sendiri.”
Para sekutu serentak menelan ludah.
Beberapa saling pandang dengan rasa ngeri—bahkan mereka mulai meragukan apakah mengikuti Melisa masih masuk akal atau tidak.
---
Di Rumah Keluarga Wira
Sementara itu, Kayla memilih untuk tidak pulang. Trauma masih menyelimuti pikirannya. Meledaknya mobil para pengejar benar-benar membekas.
Ia duduk di ruang tamu bersama Pak Wira yang sedang menyeruput teh hangat. Kayla menggigiti kuku jarinya, gelisah.
“Om… kenapa nggak lapor polisi aja sih?” tanya Kayla akhirnya.
“Kan gampang. Polisi datang, tangkap Melisa, selesai. Masuk penjara.”
Pak Wira menghela napas panjang.
“Tidak semudah itu, Kay.”
“Lho, kenapa? Bukti udah banyak!”
“Justru itu masalahnya.”
Pak Wira menatap Kayla dengan wajah letih.
“Semua bukti tidak cukup kuat. Melisa sangat licin. Dia punya jaringan. Dan… dia ahli menghilangkan jejak. Salah sedikit, kita malah diserang balik.”
Kayla memutar bola mata. “Ih, ribet amat hidup jadi orang kaya berkuasa.”
Pak Wira tersenyum pahit.
“Makanya jangan nikah sama orang yang keluarganya bermasalah.”
“Aku aja belum nikah, Om…”
Kayla mendengus. “Suamiku aja belum ada.”
Belum sempat mereka lanjut bercanda, terdengar suara retakan halus dari arah dapur.
Dan di saat semua orang menoleh—
“MALAAAAA!! KENAPA?!” teriak Daren refleks.
Ternyata Mala memegangi perut sambil meringis.
“Aku… aku mau makan…” katanya lemah.
Daren langsung panik.
“Kamu kontraksi? Pusing? Mual? Sakit?!”
Mala menggeleng cepat.
“Enggak. Aku cuma… mau makan… abang…”
Daren melongo. “Hah?”
Semua orang di ruang tamu diam.
Mala menatap suaminya sambil merengek halus.
“Aku mau surabi. Yang di kota. Yang dekat café aku itu.”
“Sekarang??”
Daren langsung bengong.
“Iya, Bang… ngidam…”
Mala menambahkan, “Tapi makannya harus di sana. Biar masih panas…”
Semua terdiam.
Kayla langsung menepuk jidat.
“Mal… Ini bukan ngidam biasa. Ini ngidam mendadak ekstrim!”
Tuan Armand berdiri, menautkan kedua tangan di depan tubuhnya.
“Baik. Kalau calon cucuku minta, kita harus turuti.”
“TUAN ARMAND DON’T SAY IT LIKE THAT!” Kayla hampir terpekik.
Nyonya Maya tertawa kecil.
“Dasar anak muda, kalau hamil ya begitu.”
Daren memegang kepala. “Ini bahaya, Pa… Mama… Di kota itu pasti ada orang Melisa…”
Tuan Armand menatap semua bodyguard.
“SEMUANYA BERSIAP!”
Para bodyguard yang tadinya duduk langsung berdiri serentak seperti pasukan tempur. Termasuk Nina, Dimas, dan tim bayangan yang datang tanpa suara.
“Formasi tetap,” ujar Tuan Armand.
“Mobil depan dua, tengah satu, belakang tiga. Pengintai drone siaga. Tim bayangan bergerak di area gelap seperti biasa.”
Kayla mengangkat tangan.
“Om… Serius mau keluar cuma buat surabi?”
Pak Wira menjawab datar.
“Anak hamil kalau ngidam itu jangan dilawan, Kay.”
“Tapi Om ini nggak waras juga…” gumam Kayla.
Aurelia memegang tangan Mala. “Kak, yakin mau ke kota? Ini bahaya…”
“Aku kuat,” jawab Mala lembut.
“Dan aku mau makan itu… sama abang.”
Daren mendesah panjang.
Oke. Kalau sudah begini, ia tidak bisa menolak.
“Baiklah.”
Ia berlutut di depan Mala.
“Kalau kamu mau, Abang siap.”
Mala tersenyum kecil. “Makasih, Bang…”
Kayla memutar mata sambil berkata pelan,
“Romantis sih… tapi tetap aja gila. Bener-bener keluarga Marvel…”
---
Persiapan Keberangkatan
Halaman rumah mendadak berubah seperti markas operasi militer.
6 mobil hitam sudah siap.
Bodyguard berbaris.
Drone melayang di udara.
Tim bayangan bergerak tanpa suara seperti hantu.
Tuan Armand berdiri di tengah, memberi instruksi.
“Target: Capé Surabi.”
“Tujuan: menjaga Nirmala tetap aman sambil memenuhi ngidam.”
“Ancaman: kemungkinan besar ada penyergapan.”
Para bodyguard mengangguk serentak.
Daren memapah Mala masuk mobil VIP yang terletak di tengah formasi.
Setelah semua berada di posisi masing-masing…
Tuan Armand mengangkat tangan.
“BERANGKAT!”
Assalamualaikum selamat pagi
jangan lupa like and komen nya
Selamat membaca