NovelToon NovelToon
PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Budidaya dan Peningkatan / Tamat
Popularitas:27.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: A Lubis

Up setiap jam 8 malam.

Seorang bayi dilahirkan tanpa orang tua dengan berkah api matahari dilengan kanannya.
Dia kemudian ditemukan seorang janda yang merawatnya dengan kasih sayang yang tulus, namun tanpa sadar dia mengeluarkan api yang membakar seluruh rumah yang membuat ibunya meninggal.
Karena itulah dia menjadi pemuda yang jahat dan gemar menghancurkan perguruan diwilayahnya.
Namun seorang guru akhirnya menunjukan jalan kebenaran, dan akhirnya dia dapat mengendalikan api mataharinya.
Namun bersamaan muncul kekuatan besar akan ada kekuatan jahat yang juga terlahir, mampukah dia memenuhi panggilan takdirnya.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keraguan Sungsang Geni

Kelima orang yang

berada didekat Sungsang Geni merasa terintimidasi, Sungsang Geni bisa merasakan

kekuatan Nyai Bidara berada pada level berbeda dengan kelima orang didekatnya.

Pangeran Widura menatap

Sungsang Geni dengan perasaan kesal, kalau bukan pertanyan Sungsang Geni

mungkin Nyai Bidara tidak akan menjadi semarah ini.

“Dengan segala hormat,

tolong tenangkan dirimu Nyai Bidara?” Sungsang Geni menundukan kepala memberi

hormat.

Nyai Bidara baru sadar,

ternyata Sungsang Geni sama sekali tidak terpengaruh dengan aura membunuh yang

dimilikinya, bahkan terkesan biasa saja.

“Sepertinya kita telah

dijebak,” lanjut Sungsang Geni.

Nyai Bidara menatap

Sungsang Geni dengan heran, “Apa maksudmu anak muda?”

“Perkenalkan saya

adalah Sungsang Geni, pengawal Putra Mahkota Kerajaan Majangkara.” Sungsang

Geni melepaskan aura api matahari, membuat aura membunuh Nyai Bidara tiba-tiba

menghilang, “Seperti pangeran Widura, kerajaan kami juga mendapat surat perihal

lamaran kepada Putri Kerajaan Surasena.”

Wajah Nyai Bidara

tiba-tiba menjadi merah, dia tidak mengerti apa maksud semua ini.

Pangeran Widura

tampaknya telah pasrah jika putri Kerajaan Surasena tidak menjadi miliknya, dia

sudah cukup pesimis sebelumnya, ditambah lagi informasi yang baru saja

didengarnya.

“Surat itu asli,

terdapat segel Kerajaan Surasena.” Sungsang Geni melanjutkan ucapnnya, “Tapi

kita tidak tahu sebenarnya apa yang direncanakan Kerajaan Surasena dengan

mengumpulkan seluruh Putra Mahkota dari Kerajaan yang dikuasainya.”

“Anak muda, perkataanmu

membuatku merasa tidak nyaman, jika ada sesuatu yang penting harusnya lebih

bijak jika mereka mengatakannya dengan jujur.” Nyai Bidara kembali duduk dan

menenangkan diri.

Sementara Widura, dia

nampak gelisah dengan situasi ini, mereka tidak memiliki apapun jika ternyata Kerajaan

Surasena berniat menaikan upeti, dengan menyandra putra mahkota.

“Menurutmu apa yang

harus kita lakukan?” Nyai Bidara bertanya kepada Sungsang Geni, nampaknya dia

mulai menyukai pemuda matahari itu.

“Jika mereka berniat

untuk membunuh Pangeran Mahkota tentu tidak mungkin, itu sama saja mereka

melepaskan kerajaan kecil yang menopangnya.” Sungsang Geni menggaruk dagunya,

“Kita telah datang sejauh ini, perjalanan ke Surasena tidak begitu jauh lagi,

alangkah baiknya kita tanyakan langsung kepada Raja Cakra Mandala.”

Nyai Bidara berpikir

sejenak, semenjak mengetahui masalah ini tidak terdengar lagi suara tawa dari

mulutnya.

“Aku setuju denganmu

anak muda!” Nyai Bidara menganggukan kepalanya, “Kita harus cari tahu

kepastiannya!”

“Sebaiknya anda mencari

tahu keberadaan Pangeran Miksan Jaya,” ucap Sungsang Geni, “Meski surat dari

Kerajaan Surasena asli, tapi bukan ber-arti itu tidak palsu. Bagaimana jika

memang ada yang mengincar Putra Mahkota?”

“Kau benar sekali anak

Muda.” Nyai Bidara segera berdiri, “Aku harus menemukan pangeran bodohku

secepat mungkin.”

Kemudian Nyai Bidara

segera melayang meninggalkan penginapan Cempaka Putih. ‘ilmu meringankan tubuh

yang cukup baik’ pikir Sungsang Geni.

“Pangeran Widura, aku

tidak bisa menyarankan apapun untuk anda?” ucap Sungsang Geni, “Anda punya hak

untuk kembali menuju kerajaan Pancala, atau ikut bersama kami menuju Kerajaan

Surasena untuk mencari tahu kebenarannya.”

“Kami akan kembali saja

ke Pancala setelah bermalam ditempat ini.” Ucap Pangeran Widura, “Kami tidak memiliki

apapun untuk dipertaruhkan disana.”

Trenggolo dan Cengkreng

yang tadi hanya tertunduk tertawa kecil, namun kembali ketakutan menyadari

Sungsang Geni menatap mereka dengan dingin.

“Jika kalian mengganggu

Pangeran Widura, aku akan mencari kalian.” Ucap Sungsang Geni, “Pergilah,

sekarang!”

Trenggolo dan Cengkreng

hanya mengangguk, mereka tak memiliki keberanian untuk membantah.

 Setelah memberi hormat, mereka lalu bergegas

meninggalkan penginapan.

“Terima kasih tuan muda,

kau telah membela kami,” ucap Pangeran Widura, kemudian memberi hormat diikuti

dua pengawal lainnya.

“Tidak masalah

Pangeran. Sebaiknya anda berhati-hati diperjalanan besok pagi, sejauh ini belum

ada kepastian siapakah dibalik rencana pernikahan ini.” Sungsang Geni

mengerutkan keningnya, tampak berpikir keras. “Aku berharap ini bukanlah perbuatan

kelompok Kelelawar Iblis.”

 

***

Setelah matahari mulai

menyinari bumi, Sungsang Geni beserta rombongannya segera melanjutkan perjalan.

Perihal tadi malam, dia

tidak berniat memberi tahu Dewangga, khawtir jika Pangeran itu melakukan

perbuatan yang membahayakan nyawanya.

Sebelum berjalan,

Sungsang Geni menanyakan kabar Pangeran Widura kepada gadis pelayan, namun

ternyata mereka telah pergi bahkan sebelum pagi datang.

Sungsang Geni

tersenyum, memang sebaiknya mereka pergi dipagi buta untuk menghindari para

bandit yang menghadang.

Akhirya Sungsang Geni

beserta rombongan melanjutkan perjalanan, dan meninggalkan kerajaan Tombok

Tebing.

“Geni, aku melihat  kegelisahan diwajahmu?” Mahesa mendekati

Sungsang Geni yang duduk di atas atap kereta kuda, “Apa kau sedang memikirkan

sesuatu?”

“Memang benar aku

sedang berpikir,” jawab Sungsang Geni, “Tapi aku belum menemukan jawaban

sebelum kita tiba di kerajaan Surasena.”

Mahesa menjadi

penasaran, namun tidak berniat bertanya lebih jauh takut menyinggung perasaan

Sungsang Geni.

“Durada bisakah kita

lebih cepat ?.” Pangaeran Dewangga nampaknya mulai jenuh dengan perjalanan

panjang ini.

Durada hanya

mengangguk, kemudian mencambuk punggung kuda, dan membawa kereta kuda berlari

cepat.

Sungsang Geni menatapi

jalan didepannya, berharap tidak ada lagi rintangan yang mengganggu perjalanan.

Semakin cepat tiba di Surasena,

maka pertanyaan yang mengganggu pikirannya akan semakin cepat terjawabkan.

Setelah dua hari

perjalannan, akhirya mereka tiba disebuah sungai besar. Sungai itu dinamakan

sungai Kapuas, setiap hari akan selalu ramai pedagang yang berjualan di pinggir

Dermaga itu.

Dermaga yang cukup

besar. Dari jalur ini, Dermaga ini adalah satu-satunya yang memiliki rute ke

Kerajaan Surasena.

Beberapa kereta kuda

terlihat sedang menunggu antrian  untuk

masuk kedalam kapal, dan beberapa  pedagang berebutan naik ketangga kapal.

Diantara mereka adalah

pedagang kaya, terlihat dari pakaianya yang rapi dan bersahaja, sisahnya adalah

pedagang biasa yang menjual hasil ternak dan pertanian mereka.

Durada mengahampiri

petugas dermaga, menanyakan kapal yang menuru Kerajaan Surasena.

“Ma’af tuan, kapal

menuju kerajaan Surasena baru saja berangkat.” Petugas tampak sibuk dengan

beberapa kertas diatas mejanya.

“Apa tidak ada kapal

lain yang akan pergi ke sana?” Durada melirik beberapa kapal besar yang sedang

memuat barang.

“Semua kapal telah

berangkat tuan, jika tuan mau menunggu 3 hari lagi, baru ada kapal yang menuju

Kerajaan Surasena?” jawab Petugas dermaga.

“Trima kasih tuan,”

Durada segera kembali menemui Dewangga.

Akhirnya mereka

terpaksa memutuskan untuk mencari penginapan terdekat, menunggu selama tiga

hari lagi.

“Dewangga aku akan

berkeliling sebentar.” Sungsang Geni berkata.

“Aku akan menemanimu!” ucap

Mahesa.

Dewangga terlihat

berpikir sebentar, dia kemudian menoleh kearah kiri , “Disana! kami akan ke

penginapan Dermaga Biru, temui kami disana!”

Sungsang Geni hanya

tersenyum, kemudian berlalu didalam kerumuman para pedagang, yang dibuntuti

Mahesa.

“Geni, apa yang terjadi?”

Mahesa yang dari kemarin menyadari tingkah Sungsang Geni, akhirnya angkat

bicar.

“Kita akan

membicarakannya di tempat sepi, kita cari rumah makan yang sedikit jauh.” Ucap

Sungsang geni, lalu tersenyum seperti biasanya, tapi Mahesa mengerti senyuman itu

sedikit terpaksa.

1
Garuda Phoenix
terbaik
merah putih
kemana keris pusaka?
Aufaaaaa
widih autor nak panen kawe😄😄😄
Lily
ada" aja kakek satu ini 🤣🤣🤣
diina acuy
Luar biasa
zayick
mnjijikan
zayick
novel paling menjengkelkan adalah ktika mc lemah trhadap musuh wanita sungguh menjijikan jikapun ada dlam kehidupan nyata dengan senang hati saya membunuh mc macam ini walau dia hamba tuhan palih salih skalipun
Hidayat Dayat
Luar biasa
Hidayat Dayat
Lumayan
ridzuan yusoff
Luar biasa
Sudar Manto
asu
Malim Rieza DiWa
the best one
Yurnalis Yurnalis
pokuslah duly sama mcnya supaya kuat thor
Yurnalis Yurnalis
ini makananya ibis gak ada yg lain
Adian Oe
dari sekian bnyk cerita yg ku baca..ku akui ini yg plin the best..👍👍👍
Andre Oetomo
keren
Beni Nugroho
mantap tetap anti korupsi
Beni Nugroho
wadaow
Beni Nugroho
sabar itu adalah ujian aja
Beni Nugroho
deklarasi yang cukup bersejarah di dalam dunia pernovelan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!