NovelToon NovelToon
Setelah Lima Tahun Berlalu

Setelah Lima Tahun Berlalu

Status: tamat
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Single Mom / Tamat
Popularitas:290.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.

Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.

Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.

" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

"Nah, kalau begitu aku harus segera pergi ke kantor," kata Bagas, bangkit dari kursi. Ia mencium puncak kepala Aldian. "Aldian, Om janji nanti malam Om akan datang lagi, oke? Aldian main di rumah saja dengan Bunda. Jangan kemana-mana."

"Iya, Om Bagas!" jawab Aldian riang.

Bagas menoleh ke Kyra, tatapannya penuh peringatan. "Ingat, Kyra. Jangan pergi. Aku akan menelepon Dika untuk memantau dari jauh. Jika kau keluar dari rumah ini, aku akan tahu."

Kyra hanya membalas tatapan Bagas dengan ekspresi dingin dan penuh penolakan. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Bagas mengira keheningan itu berarti Kyra patuh. Ia mengambil kunci mobilnya, mengenakan jasnya, dan melangkah keluar dari kontrakan, menutup pintu dengan pelan di belakangnya.

Kyra menunggu. Ia membantu Aldian membereskan sisa sarapan mewah yang dibawa Dika. Ia mendengar suara mesin mobil mewah Bagas menderu pelan, menjauh dari gang sempit itu. Ia menunggu hingga suara itu benar-benar hilang, memastikan Bagas tidak akan kembali dalam waktu dekat.

Kyra menghembuskan napas panjang, keras, seolah baru saja menahan napas sejak tadi.

“Ya ampun…” gumamnya sambil memijit pangkal hidung. “Laki-laki itu benar-benar…”

Aldian menatap ibunya polos.

“Bunda… Om Bagas udah pergi?”

“Iya, Sayang.” Kyra mengambil tas kecil Aldian. “Ayo. Kita pergi juga.”

Aldian menggenggam tangan Kyra. “Mau ke mana, Bun?”

“Ke rumah Bu Lilis."

"kita mau ngapain kesana Bun. Bunda mau kerja ya" tanya Aldian seolah mengetahui maksud ibunya itu.

"iya sayang, bunda hari ini mau kerja dulu ya, biar kita ada uang biar bisa beli semua yang Aldian mau. Nanti dirumah Bu Lilis jngan nakal ya, ingatkan pesan bunda" ucap kyra.

"ingat bunda" ucap Aldian sambil menggukkan kepalanya.

"pintar anak bunda"

..........

Ia tiba di depan gedung, merapikan kemeja dan celana panjangnya yang sederhana. kyra melihat sekitar memastikan tidak ada Bagas disekitar sana.

Merasa aman kyra langsung menuju lokernya, disana sudah ada Amel yang tengah duduk bersama Arya.

"ehh kyra, kamu udah sembuh, katanya kamu sampai masuk rumah sakit" sapa Amel.

Kyra mengangguk dan meletakkan tasnya di loker. "aku ngga papa kok cuma demam biasa"

"maafin kita ya Ra, ngga sempat jengukin kamu ke rumah sakit." ucap Arya.

" aku juga udah ngga papa kok, makasih ya udah ngekhawatirin aku"

Kyra tersenyum kecil pada Amel dan Arya, mencoba terlihat santai meski kepalanya masih sedikit pening.

“Beneran kamu udah sehat?” tanya Amel lagi, memandang Kyra dari atas sampai bawah. “Kamu keliatan capek banget.”

Kyra menutup loker dan menghembuskan napas.

“Ya begitulah. Namanya juga ibu-ibu, mana bisa istirahat beneran.”

Arya ikut menimpali. “Tapi jangan dipaksain juga, Ra. Kalau belum kuat, bilang aja ke Bu Rina. Dari kemarin shift kamu digantikan anak magang, kasihan juga dia.”

Kyra tersenyum tipis. “Aku bisa kok. Lagian aku nggak mau kerjaan aku numpuk.”

Amel menyenggol lengannya pelan. “Kamu kerja terlalu rajin, Ra. Kayak nggak punya pilihan lain.”

Kyra hanya tersenyum… pahit.

Memang tidak punya pilihan lain.

Arya meraih pel lantai. “Kalau gitu, nanti kamu lobi ya? Aku sama Amel bagian pantry dan gudang. Biar lebih cepat.”

“Oke, makasih.” Kyra mengangguk.

Siang hari.

Gedung mulai sedikit sepi karena jam makan siang. Pegawai kantor berdatangan keluar lewat pintu kaca depan, sebagian menuju food court, ada juga yang ke kantin perusahaan.

Sedangkan Bagas di waktu yang bersamaan, dia sedang turun kebawah untuk makan siang juga. Diikuti oleh Dika di belakangnya.

Ia baru saja melangkahkan kakinya melewati pintu lobi, ketika matanya menangkap siluet yang sangat familiar di ujung koridor lobi, memegang sapu. Rambutnya diikat ekor kuda sederhana, dan ia mengenakan kemeja kantor yang sederhana.

Bagas langsung membeku.

Kyra.

Emosinya seketika meledak. Dia sudah melarang, mengancam, memohon, bahkan tidur di sofa yang tidak nyaman demi memastikan Kyra istirahat. Dan wanita itu, di pagi hari yang sama, malah kabur dan kembali bekerja.

"kamu duluan saja Dika, kamu bisa pakai mobil perusahaan. Aku ada urusan sebentar"

Meski bingung Dika langsung menurutinya saja.

Bagas berjalan cepat, langkah kakinya yang berat tidak disadari Kyra karena wanita itu sedang fokus membersihkan noda di lantai.

"Kyra!" Suara Bagas terdengar rendah dan tajam, penuh emosi yang tertahan.

Kyra terkejut setengah mati. Sapu di tangannya terlepas, jatuh ke lantai marmer. Ia menoleh, dan melihat wajah Bagas yang merah padam karena menahan amarah, berdiri hanya beberapa langkah darinya.

"Bagas... Kau—"

Bagas tidak memberinya kesempatan untuk bicara. Ia meraih pergelangan tangan Kyra dengan genggaman kuat, hampir menyakitkan.

"Ikut aku. Sekarang!" desis Bagas.

Kyra berusaha memberontak. "Lepaskan aku, Bagas! Aku sedang bekerja! nanti kalo ada orang yang lihat mereka bisa salah paham"

Dengan kekuatan yang tak terbantahkan, Bagas menyeret Kyra keluar lobi. Ia membuka pintu mobil mewahnya yang masih menyala.

"Masuk! Sekarang!" perintah Bagas.

Kyra, yang ketakutan dan terkejut oleh tindakan impulsif Bagas, tidak punya pilihan. Ia didorong masuk ke dalam. Bagas menutup pintu dengan keras, lalu berlari memutari mobil dan masuk ke kursi pengemudi.

"Kau gila! Aku sedang bekerja! Kenapa kau melakukan ini?!" Kyra berteriak, panik.

Bagas mengemudi dengan kecepatan tinggi, rahangnya terkatup erat. Matanya hanya menatap jalan di depan.

"Aku gila? Aku gila karena khawatir denganmu dan Aldian! Sementara kau, kau malah membuang semua pengorbananku demi harga diri bodohmu!" desis Bagas, suaranya dipenuhi kekecewaan yang mendalam. "Kau bilang kau tidak akan pergi! Apa yang kau lakukan di sana, Kyra?!"

" kamu tidak melihatku sedang bekerja disana. aku sedang bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhanku dan juga aldian" balas kyra tak kalah emosi.

Bagas segera menepikan mobilnya di jalan yang cukup sepi. " aku sudah mengatakan kepadamu sebelumnya, aku akan menanggung semua kebutuhan kalian" desis Bagas.

" ya kamu memang menawarkannya, tapi apa kata orang-orang nanti wanita miskin di nafkahi oleh pria kaya raya. Kau tak pernah tahukan setiap kau datang kerumahmu orang-orang akan menatapku layaknya seorang gundik. Kau tak tahu itu kan" jelas kyra mencoba menahan amarahnya.

“Dan kenapa kau pikir aku peduli dengan apa yang dikatakan orang?!” suara Bagas naik setingkat lebih keras dari sebelumnya. “Kyra, aku sudah bilang… aku melakukan semua ini karena aku ingin. Karena aku peduli. Karena kalian berdua kau dan Aldian berarti sesuatu buatku.”

Kyra balas menatapnya dengan mata berkaca, tapi wajahnya tetap tegak.

“Itu bukan soal kau peduli atau tidak,” ucapnya lebih pelan, hampir bergetar. “Itu soal harga diriku, Bagas. Harga diriku sebagai ibu… sebagai perempuan. Aku tidak mau anakku mendengar orang berkata ibunya ditanggung oleh laki-laki asing. Aku tidak mau Aldian tumbuh dengan pikiran kalau Bundanya… hanya numpang hidup.”

Bagas memejamkan mata sekilas, rahangnya menegang kuat. " kau memandangku sebagai apa sih kyra. Aku mencoba memperbaiki hubungan kita, tapi kamu seolah tidak menginginkan kehadiranku disini. Kamu merasa seolah dirimu saja yang menjadi korban disini, aku juga korban kita berdua korban disini. Tolong mengertilah"

“Aku marah karena kau tidak percaya padaku. Karena kau kabur dariku tanpa penjelasan. Karena kau tetap memilih menderita… padahal aku sudah membuka pintu selebar mungkin untuk kalian.”

1
Lilik Juhariah
miris
ayu cantik
gantung
Lisa
Terimakasih y Kak utk karyanya..kita tunggu karya² selanjutnya y..👍😊
Atmita Gajiwi
/Heart//Heart//Rose/
Lisa
Wah sekarang rumahnya Bagas & Kyra selalu ramai tuh 😊
Nuri 73749473729
lanjut
Eno Pahlevi
LANJUTT.... DITUNGGU TRIPLE UPDATENYA THOR 🥰🥰🥰🥰
Muji Lestari
🤣🤣🤣lucu rewan
Nuri 73749473729
lanjut
Mazree Gati
SORRY THORR KLO AKHIRNYA BALIKAN SAMA BAGAS,,,END, UNSUB,,
Hari Saktiawan
lama banget update nya
Lisa
Happy wedding Revan & Dira..bahagia selalu & labggeng ya 🙏
Erna Riyanto
cerita Damian dan Dewi lanjutin dong thorrr....lama bgt lho...digantung
Uthie
Mampir untuk genre cerita seperti ini 👍👍👍
Boby The Blind Massage Entertaiment AND Freelance (BOBY_freelance)
Kalau sudah begini jalan ceritanya, kayaknya ini Prepare to ending.
Hari Saktiawan
dinovel nama arka kok banget Thor lu suka ya
ig: denaa_127: nama gebetan, jujurr🤭
total 1 replies
Arwondo Arni
jujur aja kl kamu mencintai Dira lgsg nikah aja biar ngak sepi
Lisa
😊 Kalau lagi sakit Revan baru inget tuh sama Dira 🤭
Lisa
Sehat selalu y Kyra, debaynya juga..
Maria Anyela Rosa
kok jadi melow begini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!