Amelia menikah dengan seorang laki-laki yang di cintainya, namun laki-laki tersebut justru sangat membencinya, setiap hari Amelia selalu di perlakukan kasar, bahkan ia sering di tuduh sebagai pembunuh kekasih suaminya.
Adrian Aditama laki-laki tampan yang tak lain adalah suami Amelia, ia sangat membenci gadis itu, dan ia selalu menyalahkan Amelia sebagai pembunuh kekasihnya.
Bagaimana kisah mereka? simak terus ceritanya, jangan lupa tinggalkan komentar kalian di bawah, dan berikan dukungan kalian ya dengan cara vote sebanyak_banyaknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadisti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 Akan membawa pergi.
Happy Reading
Keesokan harinya, Adrian yang menginap di rumah sakit pun terbangun, ketika ia mendengar ponselnya berbunyi, di lihatnya layar ponsel miliknya dan ternyata Daniel lah yang tengah menghubunginya.
"Hey bro lo gak kantor?" Tanya Daniel setelah Adrian menggeser tombol berwarna hijau.
"Sekarang jam berapa?"
"Jam enam."
"Dasar sialan, baru jam enam lo sudah tanyain gw ke kantor atau tidak nya, benar_benar gak ada kerjaan lo." Ujar Adrian dengan kesal.
"Kan kerjaan gw gangguin tidur lo." Ucap Daniel di iringi dengan kekehannya
"Bulan ini lo gak dapat bonus."
"Ck ,, gw cuma becanda doang, lo serius amat."
"Gw lagi gak mood becanda sama lo, oh ya gw mungkin agak siangan jalan ke kantor."
",Tumben banget lo, biasa juga lo paling pagi datang ke kantor."
"Istri gw lagi di rawat, semalam dia kecelakaan dan sekarang dia koma." Ujar Adrian yang mulai merendahkan suaranya, matanya menatap Amelia dengan nanar.
"Apaaa? Istri lo kecelakaan, dan sekarang dia koma? Kenapa lo tidak memberitahu gw semalam." Balas Daniel dengan nada suara yang terdengar begitu khawatir.
"Ini gw udah beritahu lo, sudahlah lo gak perlu mengkhawatirkan istri gw begitu.".
"Brengsek lo, bagaimana pun juga gw sangat khawatir, jadi lo gak berhak melarang gw seenak jidat lo, kasih tau gw dimana istri lo di rawat?"
"Tidak akan." Setelah mengucapkan dua kata tersebut, Adrian pun langsung menutup panggilan dari Daniel, kemudian ia menaruh ponselnya kembali.
"Amel, cepatlah sadar. Aku janji aku akan membuat hidupmu bahagia, aku bersumpah Amel, Amel buka lah matamu." Gumam Adrian dengan pelan, kemudian ia mencium kening istrinya tersebut.
***
Pukul 09.00 pagi, Adrian baru meninggalkan istrinya setelah mama Laras datang, ia sebenarnya sangat enggan untuk meninggalkan istrinya tersebut, namun ia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya di kantor.
"Mah, Adrian pulang dulu ya, Adrian titip Amelia." Pamit Adrian.
"Iya sayang, kamu hati_hati ya."
Adrian pun hanya mengangguk dengan pelan, kemudian ia berjalan menghampiri istrinya yang kini masih dalam keadaan koma.
"Sayang aku pulang dulu ya, cepatlah bangun." Bisik Adrian di telinga Amelia, kemudian ia pun mencium lembut kening sang istri, lalu ia pergi melangkahkan kakinya.
Setelah kepergian Adrian, Vino yang sudah berada di rumah sakit pun, langsung masuk ke dalam ruangan dimana Amelia tengah di rawat, sementara itu, mama Laras yang menyadari kedatangan Vino pun sedikit terkejut.
"Kamu siapa.?" Tanya mama Laras dengan penasaran.
"Selamat pagi tante, perkenalkan saya Vino, saya orang yang akan membawa Amelia pergi." Ujar Vino dengan jujur, sementara mama Laras sangat terkejut mendengar ucapan Vino barusan.
"Maksud kamu apa? Ini adalah menantu saya, saya tidak akan membiarkan siapapun untuk membawanya pergi."
"Tante, mari kita bicara baik_baik." Ajak Vino sopan.
Mama Laras menatap lekat wajah tampan Vino, ia sangat penasaran dengan laki_laki tampan yang tiba_tiba saja datang dan akan membawa menantunya pergi. Untuk menjawab rasa penasarannya, mama Laras pun menerima ajakan Vino, mereka melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Amelia.
***
"Tante silahkan duduk." Ujar Vino dengan sopan, setelah mereka tiba di sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah sakit tersebut.
Mama Laras duduk, kemudian ia bertanya dengan tidak sabaran."Jadi apa maksudmu tadi?"
"Seperti yang saya sudah bilang, bahwa saya akan membawa Amel keluar negeri, saya akan merawat Amel disana, saya tidak ingin melihat wanita yang saya cintai di perlakukan dengan buruk."
"Jangan sembarangan kamu, saya tidak akan membiarkan mu membawa menantu saya pergi."
"Tante apa tante tidak tau kelakuan anak tante kepada Amel selama ini, kalau bukan gara_gara anak tante, mungkin Amel tidak akan seperti sekarang."
"Apa maksudmu.?" Tanya mama Laras dengan penasaran.
"Tante kalau mereka berdua tidak bertengkar tadi malam, Amel tidak mungkin berada di rumah sakit sekarang, kalau anak tante tidak memperlakukan Amel dengan buruk, mungkin Amel tidak akan pernah menderita, tante apa tante tau bahwa anak tante membawa perempuan lain tinggal di apartemen nya.?" Ujar Vino yang membuat mama Laras terkejut.
"Tidak ,, tidak mungkin anakku seperti itu, kamu jangan sembarangan memfitnah anak saya."
"Tante bisa tanyakan langsung kepada anak tante, jika tante tidak percaya dengan ucapan saya, tante saya sangat mencintai Amel, saya ingin membuat Amel bahagia, saya ingin merawatnya sampai dia sadar, saya tidak ingin Amel menderita, cukup selama ini saya bersabar tanpa melakukan apapun terhadap anak tante, saya harap tante memikirkan kebahagiaan Amel."
Mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Vino tersebut, membuat mama Laras terdiam, selama ini ia memang selalu berharap Adrian berubah dan memperlakukan Amelia dengan baik, tetapi Adrian sama sekali tidak berubah.
Andai saja mama Laras dulu membantu Amelia untuk bercerai dengan anaknya, mungkin Amelia tidak akan seperti sekarang.
Laras memang sangat menyayangi Amelia, dan Laras juga sangat ingin melihat Amelia bahagia, melihat keseriusan Vino membuat Laras berpikir bahwa mungkin dengan membebaskan Amelia dari anaknya, maka Amelia akan merasakan kebahagiaannya.
Tetapi disisi lain, Laras juga melihat penyesalan anaknya, bahkan Laras sangat yakin bahwa anaknya sudah mulai mencintai istrinya, namun dengan memikirkan ucapan Vino yang mengatakan bahwa anaknya membawa perempuan lain untuk tinggal di apartemennya, membuat Laras bisa merasakan rasa sakit Amelia selama ini.
"Tante, kalau tante benar_benar menyayangi Amelia, buatlah mereka bercerai, saya bersumpah, bahwa saya akan membuat Amelia bahagia ketika dia tersadar nanti." Vino kembali bersuara membuyarkan lamunan Laras.
"Berikan tante waktu, tante ingin menanyakan langsung kepada anak tante, apakah benar dia membawa perempuan lain ke apartemennya, kalau memang benar maka tante akan menyerahkan Amelia kepadamu, dan tante harap kamu merawatnya dengan baik."
"Terima kasih tante, saya janji saya akan merawat dan memberikan kebahagiaan yang tidak pernah Amel rasakan selama ini, terima kasih banyak tante." Vino berucap sambil menggenggam erat tangan mama Laras, air matanya jatuh seketika, perasaan bahagia dan juga sedih bercampur menjadi satu, sehingga membuat Laras sangat yakin bahwa Vino adalah laki_laki yang sangat mencintai Amelia.
"Adrian, mama harap ucapan anak ini sebuah kebohongan." Gumam Laras dalam hati, sambil menatap Vino yang masih menggenggam erat tangannya.
"Sudahlah, kamu tidak perlu berterima kasih, tapi kalau ucapanmu tadi sebuah kebohongan, maka tante tidak akan pernah membiarkanmu membawa pergi Amelia kemana pun."
"Baiklah tante, kalau begitu saya permisi dulu." Balas Vino sambil melepaskan tangannya, kemudian ia bangkit dari duduknya, lalu pergi melangkahkan kakinya pergi.
"Amel, saatnya aku membawamu sayang, aku bersumpah, aku akan merawat mu dan membuatmu bahagia, sayang bertahanlah." Gumam Vino dalam hati.
***
Di tempat lain, Adrian terlihat tidak fokus dengan pekerjaannya, di otaknya hanya ada Amelia yang kini tengah koma di rumah sakit.
Adrian selalu terbayang akan perlakuannya yang buruk terhadap Amelia, sehingga membuat Adrian kembali menjatuhkan air matanya, rasa sesal dalam hatinya terus membayanginya setiap detik, terutama ketika ia melontarkan hinaan kepada Amelia.
Tangisan Amelia sangat jelas tergambar dalam memory nya, kesedihan, penderitaan yang Amelia terima dari dirinya, membuat Adrian semakin terpuruk dan membuat pekerjaannya kacau.
"Amelia maafkan aku, maafkan kesalahanku, aku mohon segeralah sadar, aku bersumpah, aku akan menebus semua kesalahanku terhadapmu, Amel." Gumam Adrian dalam hati.
Drtt .. drttt .. ponsel Adrian berbunyi, Adrian meraih ponselnya, lalu ia menggeser tombol yang berwarna hijau.
"Iya mah, apakah Amelia sudah sadar.?"
"Belum, tadi mama sudah berbicara dengan dokter, dokter bilang, kemungkinan Amelia tidak akan sadarkan diri selama tiga bulan, itu kemungkinan terbaiknya."
"Ti ,, tiga bulan mah.?"
"Iya sayang."
Adrian yang mendengar ucapan mamanya pun kembali menjatuhkan air matanya, ia sungguh sangat membenci dirinya sendiri, kalau bukan karena keegoisannya, mungkin Amelia tidak akan seperti sekarang.
"Adrian sebenarnya mama menelponmu, mama ingin menanyakan sesuatu kepadamu, tetapi kamu harus menjawabnya dengan jujur."
"Apa mah, mama mau menanyakan soal apa.?"
"Apa kamu pernah membawa perempuan lain untuk tinggal di apartemenmu.?"
"Mama tau darimana.?"
"Kamu tidak perlu tau, jawab saja pertanyaan mama."
"Maafkan Adrian mah."
"Jadi semuanya itu benar, dan kalian bertengkar tadi malam sebelum Amelia kecelakaan?" Tanya Laras yang mulai terbawa emosi.
"Iya mah, maafkan Adrian mah, Adrian tidak mendengarkan ucapan mama, Adrian sangat menyesal mah." Ujar Adrian dengan suara yang lemah.
"Adrian, mama sangat_sangat kecewa sama kamu, kenapa kamu tidak punya hati Adrian? Bahkan nasehat mama pun kamu tidak mendengarkannya." Laras berkata dengan nada suara yang terdengar kecewa.
Tanpa menunggu Adrian berkata, Laras pun langsung mengakhiri panggilannya, kemudian ia pun langsung menghubungi Vino, dan juga pengadilan untuk membuatkan surat cerai untuk anaknya tersebut.
Karena pikirannya tidak fokus, akhirnya Adrian pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, dan menyerahkan semua pekerjaannya kepada Daniel sahabatnya.
"Sialan, lu benar_benar tidak mengizinkan gw buat nengokin istri lu." Ujar Daniel tanpa basa_basi sambil melangkahkan kakinya masuk ke ruangan sahabatnya tersebut.
"Lu yang sialan, masuk tanpa permisi, mau gw pecat lu." Geram Adrian yang merasa terkejut dengan suara sahabatnya tersebut.
"Ck ,, bokap lo yang bisa pecat gw, bagaimana keadaan istri lo.?"
"Dia masih koma."
"APAAAA."
"Gak bisa lu gak teriak hah.?"
"Gw mau liat keadaan Amelia, lo kasih tau gw dimana Amelia di rawat.?'
"Baiklah gw bakal kasih tau lo nanti, sekarang gw harus pergi ke rumah sakit, lo urus semua pekerjaan gw ok."
Setelah itu, Adrian pun langsung pergi melangkahkan kakinya, sementara Daniel masih diam berdiri, ia sungguh tidak menyangka bahwa gadis sekaligus istri sahabat yang di cintainya, kini terbaring koma di rumah sakit.
Tubuh Daniel terasa lemas, tangannya bergetar, matanya mulai menjatuhkan kristal bening, rasa sesak dalam dadanya muncul seketika.
"Andai saja dulu aku bisa membawamu pergi, mungkin semua ini takkan terjadi kepadamu Amelia, aku harap kamu segera sadar dari koma mu." Gumam Daniel dalam hati.
***
Rumah sakit.
Adrian sudah tiba di rumah sakit, ia langsung masuk ke dalam ruangan Amelia, terlihat mama Laras yang masih setia menunggu menantunya sambil menggenggam tangannya dengan erat, kesedihan sangat jelas terpancar dari tatapan matanya.
"Mah, maafkan Adrian."
"Sudahlah, semua ini sudah terjadi, kamu tidak perlu meminta maaf kepada mama."
"Mah, Adrian tau Adrian salah, tapi Adrian janji Adrian akan menebus semua kesalahan Adrian terhadap Amelia."
"Adrian semuanya sudah terlambat, mama sudah menyetujui Vino untuk membawa Amelia pergi, mungkin ini hukuman untukmu." Gumam Laras dalam hati sambil melihat anaknya tidak tega.
"Sayang, bangunlah, aku tidak bisa melihatmu seperti ini, aku sangat_sangat menyesal, aku mohon bangunlah, aku sangat mencintaimu sayang." Gumam Adrian sambil menggenggam erat tangan Amelia.
Laras yang menyaksikan kesedihan anaknya pun jadi merasa tidak tega, penyesalan Adrian terlihat sangat jelas, tetapi Laras juga tidak ingin mengulang kesalahannya kembali, ia tidak ingin Adrian kembali khilaf dan melukai Amelia, sehingga Laras memutuskan untuk mengatur perceraian Adrian dan juga Amelia.
Bersambung.
buat ap kembali sma ardian...
kan lebih seru...
jangan sampai kmu balikan lg sma sikeparat mantan suami ...