*HARAP BIJAK*
Tulisan ini mengandung konten dewasa dan dikhususkan untuk yang sudah berusia 18+
Chloe adalah wanita yang dianugerahi dengan tubuh sempurna, hidup berkecukupan dan dikejar banyak lelaki. Setiap orang yang melihatnya sekilas akan menginginkan hidup sepertinya. Namun, tidak dengan dengannya. Apakah yang terjadi pada Chloe?
Mengampuni adalah satu kata yang mudah diucapkan namun sulit bahkan hampir mustahil Chloe lakukan. Masa lalu mengikatnya seperti tali dan mengikutinya layaknya bayangan.
Bagaimana Chloe bangkit dari masa lalu? Akankah ia berhasil melaluinya? Atau justru semakin tenggelam dan larut didalamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SRIYANTI 150317, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
God
“Chloe, sedang apa kau disini? Apa yang terjadi padamu?” tanya Axcel khawatir.
“Aku tak apa-apa. Jika aku disini itu bukan urusanmu,” jawab Chloe ketus untuk menutupi perasaannya.
Axcel bergegas melepas hoodie miliknya dan memberikannya pada Chloe. Chloe yang kesal lantas menampar Axcel.
“PLAKKKKK. Aku tak suka jika kau tak memasang jarak denganku. Jangan urusi urusanku dan aku bisa menjaga diriku.”
Axcel yang melihat kondisi Chloe sadar betul dengan apa yang di alaminya. Chloe sedang terguncang dan menahan air matanya. Axcel tak marah bahkan memasangkan jaketnya pada Chloe.
“Kau boleh menampar ku berulangkali bahkan lebih dari itu. Tapi aku tak rela jika kecantikanmu menjadi bahan kedengkian wanita lain.” (sambil memakaikan hoodie miliknya pada Chloe)
Chloe yang mendengar ucapan Axcel luluh dan tak berkutik saat Axcel memakaikan hoodienya. Bahkan air matanya mulai menetes deras tak tertahankan. Chloe merasakan dadanya sesak setiap mengingat perkataan kasar yang dilayangkan pelanggan padanya.
“Hei, ada apa? Apa yang bisa kulakukan untukmu?” Ucap Axcel menenangkan.
Lift terbuka dan mereka sudah sampai di lobby. Axcel yang tak mau orang lain melihat Chloe menangis memakaikan tudung kepala hoodie padanya dan merangkul Chloe.
Chloe yang sedang lemah spontan menghadapkan dirinya pada Axcel dan menangis dipundaknya. Chloe menangis sampai terisak. Tak ingin menjadi bahan tontonan, Axcel membawanya kembali menaiki lift dan membawa Chloe kekamar miliknya.
Kini Axcel dan Chloe duduk berhadapan. Axcel hanya memegang pundak Chloe untuk menenangkannya. Dia memberi waktu pada Chloe untuk menenangkan dirinya.
“Chloe, kau butuh minum. Ini, minumlah.”
“Hiks...hiks...Terimakasih.”
“Ada yang ingin kau ceritakan? Aku akan memberikan telingaku untuk mendengarmu.”
“Ti...tidak ada.” (masih terisak)
“Apa ada pria yang menolak cintamu? Ratu sepertimu tak mungkin ada yang berani menolak.”
Chloe yang mendengarnya tersenyum singkat.
“Maaf aku menampar mu tadi.”
“Jika kau masih ingin menampar ku, boleh saja. Aku tak akan marah bahkan aku berikan kau 2 kali kesempatan lagi untuk menampar.”
“Kau ini. Ada-ada saja.” (senyum Chloe mulai melebar).
Mereka diam beberapa saat hingga Chloe akhirnya memberitahu alasan ia menangis.
“Aku baru saja melayani pelanggan di hotel ini. Seperti biasa aku akan menghadapi berbagai macam jenis orang. Biasanya aku akan kuat dan menahan kekerasan baik secara fisik dan verbal. Namun, kali ini aku tak sanggup menerima perkataan kasar dari pelanggan” (menangis kembali)
“Apa yang dia katakan tentang dirimu?”
“Di...dia mengatakan aku...hiks...hiks...pemuas nafsu, wanita liar, murahan dan masih banyak lagi. Aku tahu itu sudah menjadi resiko dalam pekerjaanku tapi bagaimana pun juga aku adalah manusia yang bisa terluka kapan aja.”
Axcel mendekatkan dirinya pada Chloe dan menepuk pundaknya untuk menenangkan Chloe yang kembali menangis kencang.
Setelah tenang, Axcel menjawab Chloe dan menyampaikan perkataannya.
“Chloe, kau sangat berharga dimata Tuhan. Jika Tuhan saja menganggapmu berharga demikianlah seharusnya sesamamu. Tetapi, kamu juga harus tahu bahwa tak semua manusia bisa menghargai sesamanya. Terpenting saat ini adalah bahwa kau tahu dirimu berharga. Tak peduli sebanyak apa dosa dan pelanggaranmu, kau tetap berharga.”
“A...apa itu benar?”
“Aishhh, kau ini. Tentu saja kau berharga. Jangan bersedih lagi. Ini tidak seperti kau biasanya yang judes dan cuek.”
“Aku minta maaf sudah kasar padamu belakangan ini.”
“Tidak apa-apa. Aku tak sakit hati dan ambil pusing dengan hal itu.”
“Ba...bagaimana bisa kau disini?”
“Aku akan bertemu dengan teman lama besok jadi aku memesan kamar untuk kami.”
“Mengapa tak di rumahmu saja?”
“Besok ayahku akan mengadakan pertemuan dengan rekan kerjanya dirumah.”
“Oh begitu. Sebaiknya aku pulang saja. Supir sudah menunggu dibawah.”
“Mari aku antar. Jangan pikirkan perkataan pria itu. Perkataan kasar jika terlalu dipikirkan akan menjadi racun dalam pikiran dan tubuhmu.”
“Benar juga. Baiklah kalau begitu.”
“Yuk kita kebawah.”
Sesampainya dibawah Chloe pamit pada Axcel.
“Aku pulang dulu. Terimakasih untuk kebaikan hatimu. Hoodiemu akan aku kembalikan segera. Bye.”
“Sama-sama Chloe. Hati-hati dijalan (sambil melambaikan tangan).
Mendengar perkataan Axcel membuat hati Chloe jadi tenang. Bahkan ketika Axcel tak menunjukkan kemarahannya pada Chloe saat menamparnya membuatnya merasa bersalah.
“Bagaimana bisa pria itu bisa sangat lembut dan berhati-hati?” tanya Chloe dalam hati.
Chloe pun diantarkan supir mama-San sampai apartemen. Sesampainya dikamar, Chloe membersihkan kembali dirinya. Dia masih terbayang-bayang perkataan Axcel tentang Tuhan yang memandangnya berharga.
Setelah sekian lama ia kembali memikirkan tentang TUHAN. Sebelumnya ia bahkan tak peduli setelah kepahitan bertubi-tubi menimpa dirinya.
...****************...
SALAM DAN MAMPIR YA
KE ⚘⚘MENIKAHI PRIA URAKAN⚘⚘
yuk saling soppour
SALAM DAN MAMPIR YA
KE ⚘⚘MENIKAHI PRIA URAKAN⚘⚘
yuk saling soppour
SALAM DAN MAMPIR YA
KE ⚘⚘MENIKAHI PRIA URAKAN⚘⚘
yuk saling soppour
saling dukung sukses bersama kk
feedback nya ya kk🙏
jgn lupa mampir di novelku juga berjudul:
"My Annoying Wife" 🍃🍃🍃
kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowok polos 🍊🍊🍊
ku tunggu like and comment nya ya 🙏🙏☺️
like karya q ya
cinta rasa covid-19
the Thunder's love