NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Perjalanan menuju restoran terasa begitu panjang dan mencekam di baris depan.

Di dalam mobil, Amira hanya diam, memaku pandangannya ke luar jendela, menatap lampu-lampu Jakarta yang benderang namun terasa asing baginya.

Sementara itu, di kursi belakang, Felia bernyanyi dan tertawa kecil, tidak menyadari perang dingin yang sedang terjadi di antara kedua orang tuanya.

Daniel sesekali melirik ke arah Amira, memperhatikan profil wajah istrinya yang mengeras.

Ada rasa bersalah yang mengganjal di dadanya, namun ia memilih bungkam demi menjaga suasana hati Felia.

Setengah jam kemudian, mereka telah sampai di sebuah restoran mewah yang berkonsep terbuka dengan pemandangan taman di pusat kota.

Mereka turun dari mobil. Langkah Amira yang tertatih-tatih langsung menarik perhatian.

Banyak orang melihat Amira yang pincang mengenakan kebaya tradisional sederhana di antara kerumunan pengunjung yang tampil glamor dan modern.

Bisik-bisik mulai terdengar, namun Amira mencoba menegakkan badannya, menahan rasa malu yang membakar dadanya.

Daniel mengajak duduk dan ia membuka buku menu untuk memilihkan makanan terbaik untuk istri dan anaknya. Namun, ketenangan kecil itu hancur seketika saat aroma parfum yang menyengat mendekat, dikejutkan dengan kehadiran Anita yang tiba-tiba berdiri di samping meja mereka dengan senyum meremehkan.

"Astaga, Daniel... Ada ondel-ondel dari mana nih? Malam-malam ke restoran bintang lima pakai kebaya lusuh begitu?" sindir Anita dengan suara yang sengaja dikeraskan.

Mendengar ucapan sarkas tersebut, beberapa orang di meja sekitar tertawa terbahak-bahak, ikut memandangi Amira dengan tatapan mengejek.

Wajah Amira seketika memerah padam, sementara Daniel baru saja akan bangkit berdiri dengan rahang mengeras karena murka.

Tepat saat itu, seorang pelayan datang membawa semangkuk nasi hangat pesanan mereka.

Melihat celah, Anita sengaja menyenggol lengan pelayan itu, membuat mangkuknya oleng dan nasi panas tersebut jatuh tepat di atas kebaya Amira.

"Ooops... maaf. Sengaja," ucap Anita dengan nada mengejek tanpa dosa.

Kebaya milik Amira kini kotor dan basah. Menahan air mata yang sudah di ambang kelopak, Amira segera bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan pakaiannya yang kotor.

Begitu Amira menjauh, amarah Daniel meledak. Ia menatap Anita dengan tatapan membunuh.

Daniel meminta Anita untuk pergi dari sini sekarang juga sebelum ia menggunakan otoritasnya untuk menghancurkan wanita itu.

"Oke, oke. Bye, Daniel. Nikmati malammu dengan wanita kampung itu," ucap Anita acuh tak acuh seraya melangkah pergi dengan angkuh.

Daniel menoleh ke arah putrinya yang mulai ketakutan.

"Felia duduk di sini dulu ya, Papa mau ke Mama," pamit Daniel lembut. Felia menganggukkan kepalanya dengan patuh, duduk ditemani oleh suster yang berjaga di dekat meja.

Daniel bergegas menuju area toilet. Tok tok tok! Ia mengetuk pintu toilet wanita yang tampak sepi.

"Amira, buka pintunya," panggil Daniel cemas.

Pintu akhirnya terbuka. Amira berdiri di sana dengan bagian depan kebayanya yang basah dan bernoda. Tatapan matanya kosong dan dingin.

"Apa lagi, Daniel? Sudah cukup semuanya. Aku capek. Aku mau pulang," ucap Amira dengan suara bergetar, memotong kalimat Daniel sebelum pria itu sempat meminta maaf.

"Tapi Amira, ayo kita makan malam dulu. Jangan biarkan ucapan Anita—"

"Daniel, aku minta uang," potong Amira tegas, menengadahkan tangannya.

Daniel tertegun. "Uang?"

"Iya," jawab Amira singkat.

Tanpa berpikir panjang, Daniel mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang pecahan besar.

Ia mengira Amira akan membeli sesuatu di sana, mungkin pakaian ganti di butik hotel terdekat untuk mengganti kebayanya yang kotor.

Namun, setelah menerima uang itu, Amira menatap Daniel lurus-lurus.

"Aku pulang dulu. Aku capek."

"Amira!" panggil Daniel panik, mencoba mengejar.

Amira tidak memedulikan panggilan suaminya. Dengan langkah pincang yang dipaksakan secepat mungkin, ia berjalan keluar menuju lobi utama restoran.

Di depan gerbang, Amira langsung memanggil taksi dan masuk ke dalamnya, meninggalkan Daniel dan Felia begitu saja di restoran.

Di dalam taksi yang bergerak menjauh, air mata Amira runtuh seada-adanya. Dada dan fisiknya teramat sakit.

Malam ini, di tengah tatapan penuh penghinaan dari semua orang, ia benar-benar lelah untuk berpura-pura menjadi ibu Felia dan istri dari seorang CEO yang hidupnya dipenuhi bayang-bayang masa lalu dan racun yang mematikan.

Daniel berdiri mematung di lobi restoran, menatap hampa ke arah jalanan tempat taksi Amira baru saja menghilang.

Rasa sesak dan bersalah kini berkumpul di dadanya.

Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menguasai emosinya, Daniel membalikkan badan dan melangkah kembali ke meja makan.

Ia harus kuat di depan putrinya. Daniel kembali dan melihat Felia yang sedang duduk tenang menunggu bersama susternya.

Begitu melihat sang papa kembali sendirian, mata bulat Felia langsung celingukan mencari sosok ibunya.

"Mama mana, Pa?" tanya Felia dengan nada kecewa.

Daniel terpaksa menelan kebenaran yang pahit. Ia berlutut di samping kursi Felia dan membelai pipi putrinya.

"Mama sedang mencari obat, Sayang. Baju Mama kotor karena nasi tadi, jadi Mama harus bersihkan dulu," bohong Daniel lagi.

"Ayo kita bawa pulang makanan ini. Mama menunggu di rumah."

Mendengar bahwa mereka akan makan bersama di rumah, kesedihan di wajah Felia langsung sirna.

Felia menganggukkan kepalanya dengan semangat.

Setelah membungkus makanannya, ia kembali melajukan mobilnya membelah malam kota Jakarta. Namun, di sepanjang jalan, pikiran Daniel tidak pernah lepas dari Amira.

Ucapan Felia tentang gaun Selena, dorongan Anita, hingga kebayanya yang kotor akibat ulah licik itu terus berputar di otaknya.

Daniel tersadar, Amira benar; ia belum membelikan satu pun pakaian baru untuk istrinya sejak mereka menikah.

Di tengah perjalanan, mata Daniel menangkap papan nama sebuah pusat perbelanjaan kelas atas yang masih buka.

Dengan tekad bulat, ia berhenti di sebuah butik dan membelikan pakaian, tas, sepatu, dan sandal untuk istrinya.

Daniel memilih sendiri gaun-gaun kasual, pakaian rumah yang nyaman, hingga alas kaki yang lembut untuk kaki Amira yang masih sakit—kali ini, semuanya murni dipilih berdasarkan selera Amira yang bersahaja, tanpa ada kaitan sedikit pun dengan masa lalu.

Ia ingin membuktikan bahwa ia menghargai Amira sebagai dirinya sendiri.

Sementara itu, di dalam taksi yang melaju membelah malam, Amira terus terisak.

Dadanya naik-turun menahan sesak. Ia memandangi beberapa lembar uang yang diberikan Daniel di genggamannya.

Amira tahu, jika ia pulang ke rumah mewah itu sekarang, ia hanya akan menghadapi rasa bersalah dari Daniel dan kepura-puraan yang melelahkan.

Ia butuh ruang untuk bernapas tanpa bayang-bayang Selena, Gayatri, maupun Anita.

"Pak," panggil Amira pada sang sopir taksi dengan suara parau.

"Sementara itu, Amira meminta sopir untuk mengantarnya ke sebuah hotel."

Sopir taksi itu melirik dari kaca spion, melihat kondisi Amira yang menangis dengan kebaya yang kotor.

Tanpa banyak bertanya, ia mengangguk patuh. "Baik, Ibu. Mau ke hotel terdekat dari sini?"

"Iya, Pak. Hotel apa saja yang tenang," jawab Amira lirih.

Ia ingin menyendiri di sana, menjauhkan dirinya dari status sebagai "istri CEO" atau "ibu pengganti" yang terasa begitu mencekik lehernya malam ini.

Malam kian larut ketika mobil mewah Daniel berbelok memasuki pekarangan rumah.

Daniel dan Felia tiba di rumah mewah mereka dengan membawa bungkusan makanan dan beberapa tas belanjaan berisi pakaian baru untuk Amira.

Di dalam bagasi dan kursi samping, berderet logo butik ternama tempat Daniel menghabiskan waktu untuk memilihkan gaun, tas, sepatu, hingga sandal terbaik yang murni disesuaikan untuk kenyamanan istrinya.

Daniel berharap, kejutan kecil ini bisa mengobati luka di hati Amira.

Namun, begitu melangkah melewati pintu utama, rumah terasa sunyi dan dingin, tidak seperti malam sebelumnya.

Tidak ada kehangatan yang menyambut. Hanya ada bising detak jam dinding yang menggema di ruang tengah.

Daniel merasakan firasat buruk yang mulai mengusik hatinya.

Cengkeramannya pada tas belanjaan mengerat saat matanya menatap lorong lantai bawah yang gelap.

Tanpa membuang waktu, Daniel bergegas menuju kamar tamu di lantai bawah untuk menemui Amira.

Ia ingin segera meminta maaf secara langsung dan menunjukkan barang-benar belanjaannya.

"Amira, ini aku bawakan makanan dan..."

Kalimat Daniel menggantung di udara. Pintu kamar terbuka, namun kamar tersebut kosong dan rapi.

Ranjang tertata sempurna seolah tidak pernah disentuh sejak sore tadi. Kamar mandi di dalam pun kering. Tidak ada tanda-tanda Amira berada di sana.

Diliputi rasa cemas yang kian memuncak, Daniel berbalik dengan langkah lebar.

Daniel segera menemui suster pengasuh Felia dan menanyakan keberadaan istrinya.

Ia berharap Amira mungkin sedang berada di dapur atau di sudut rumah yang lain.

"Suster, di mana Amira? Apa dia ada di belakang?" tanya Daniel, suaranya naik satu oktav.

Wajah suster itu tampak bingung sekaligus takut melihat raut panik sang majikan. Suster mengatakan kalau Amira belum pulang sama sekali sejak mereka pergi ke restoran.

Untuk memastikan, Daniel langsung menghubungi pos keamanan depan melalui interkom.

Namun, penjaga gerbang rumah juga mengonfirmasi tidak ada taksi yang datang atau menurunkan penumpang wanita sejak sore hari.

Deg.

Hantaman kenyataan itu membuat lutut Daniel mendadak lemas.

Daniel menyadari bahwa uang yang diminta Amira di restoran bukan untuk membeli baju baru, melainkan untuk melarikan diri darinya. Amira sengaja memintanya agar memiliki ongkos yang cukup untuk pergi sejauh mungkin dari jangkauannya.

Rasa panik dan bersalah langsung mendera pikiran Daniel, mengoyak ketenangannya sebagai seorang pria yang terbiasa memegang kendali.

Ia telah mengusir istrinya sendiri dengan ketidakpekaannya.

Di tengah kepanikan itu, Felia mulai rewel dan kebingungan karena tidak mendapati mamanya di rumah.

Air mata anak kecil itu mulai mengambang di pelupuk matanya, mengingat janji papanya bahwa mama mereka sedang menunggu di rumah.

"Papa, Mama mana? Katanya Mama menunggu di rumah? Felia mau makan sama Mama..." isak Felia sambil menarik-narik ujung kemeja Daniel.

Daniel menarik napas dalam-dalam, mencoba menekan seluruh kepanikannya demi sang anak.

Ia berlutut, menenangkan Felia dan menyerahkannya kepada pengasuhnya.

Daniel mengusap air mata di pipi putrinya dengan lembut, lalu Daniel berkata, "Felia sama Suster dulu, Papa mau mencari Mama."

Felia menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca, tangan kecilnya menggenggam jemari Daniel erat seolah menyalurkan harapan besar.

"Papa harus bawa Mama pulang, ya? Janji?" pinta Felia dengan suara parau.

Daniel mengangguk pasti, meskipun di dalam hatinya, ia sendiri tidak tahu ke mana taksi malam itu telah membawa pergi wanita yang teramat terluka oleh masa lalunya.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!