Warning!!
***
Mawar datang ke keluarga terpandang itu sebagai menantu yang sempurna.
Cantik, lembut, dan tampak penuh bakti.
Namun di balik senyumnya yang manis, tersimpan dendam yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.
Pernikahannya bukan tentang cinta.
Melainkan jalan untuk menghancurkan keluarga Black dari dalam.
Semua berjalan sesuai rencana… hingga satu hal mulai menggoyahkan tekadnya.
Suaminya.
Arestio Black mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga. Tanpa syarat.
Tetapi ketika kebenaran akhirnya terungkap, cinta berubah menjadi luka paling dalam.
***
“Apa selama ini… kamu hanya memanfaatkan ku, sayang ?” bisik Arestio, suaranya retak.
Mawar tersenyum tipis, mata-nya berkabut. “Jika iya… apa kamu masih ingin memeluk ku, suamiku ?”
Di antara hasrat, tipu daya, dan rahasia masa lalu,
balas dendam berubah menjadi permainan perasaan yang mematikan.
Karena terkadang… racun paling berbahaya bukanlah kebencian. Melainkan cinta yang tumbuh di tempat yang sala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19.
0o0___0o0
Malam telah larut. Mansion itu sunyi, terlalu sunyi hingga terasa menekan.
Mawar duduk sendiri di ruang tengah, tubuhnya tegak namun pikiran-nya gelisah. Tatapan-nya berulang kali jatuh ke arah pintu utama, lalu ke layar ponsel di tangan-nya.
Ares belum pulang. Tidak biasanya laki-laki itu hilang kabar seperti ini.
Ia menekan tombol panggil sekali lagi.
Sunyi.
Lalu suara operator kembali terdengar.
Mawar menurunkan ponselnya perlahan. Jemarinya mencengkeram benda itu sedikit lebih kuat dari seharus-nya.
“Di mana Ares…?” gumam-nya pelan, nyaris tak terdengar.
Ia melirik jam di pergelangan tangan-nya. Pukul dua belas malam. Alisnya berkerut.
“Ares selalu memberi kabar kalau pulang terlambat…” lanjutnya lirih, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Tidak pernah dia seperti ini.”
Perasaan tak nyaman mulai merayap di dadanya. Awalnya kecil. Namun perlahan… membesar.
Mawar bangkit dari duduknya. Ia mulai berjalan mondar-mandir, langkah-nya pelan namun tak beraturan.
“Apa terjadi sesuatu padanya…?”
Pertanyaan itu akhirnya terucap. Dan sejak detik itu, ia tak bisa lagi mengabaikan-nya.
Mawar terdiam di tengah langkahnya. Nafasnya terasa sedikit berat. Tangan-nya tanpa sadar menekan dadanya sendiri, mencoba menenangkan debar jantung yang tiba-tiba tak beraturan.
Perasaan ini… asing.
Ia tahu betul pernikahan ini bukan tentang cinta.
Ini adalah rencana.
Balas dendam.
Semua sudah dia susun dengan rapi sejak awal bertemu dengan Ares.
Namun Ares… tidak pernah menjadi bagian dari kebencian itu.
Tatapan Mawar melembut, meski kegelisahan masih jelas terpancar.
“Ares tidak ada hubungan-nya…” bisiknya pelan.
Bayangan pria itu muncul di benaknya.
Sikapnya yang lembut.
Perhatian-nya yang diam-diam.
Dan cara Ares selalu ada, tanpa banyak kata.
Dada Mawar terasa sesak. Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan.
“Aku…” suaranya tercekat. “Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa…”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Jujur.
Tanpa topeng.
Tanpa rencana.
Hanya perasaan yang tak bisa lagi ia tahan.
Dan malam itu untuk pertama kalinya, Mawar menunggu bukan sebagai istri dalam rencana balas dendam-nya.
Tapi sebagai seseorang yang benar-benar… mengkhawatirkan suami'nya.
0o0__0o0
Klub malam.
Lampu-lampu neon berpendar liar, memantul di setiap sudut ruangan klub yang di penuhi musik menghentak.
Dentuman bass terasa sampai ke dada, menenggelamkan percakapan-percakapan di sekitarnya.
Di salah satu area VIP yang lebih tenang, Ares duduk tegap.
Setelan jasnya rapi, ekspresi-nya datar seperti biasa saat berhadapan dengan klien.
Di hadapan-nya, seorang pria paruh baya—klien penting sedang berbicara panjang lebar tentang kerja sama yang mereka rancang.
Ares mendengarkan.
Fokus.
Sesekali mengangguk singkat.
Segelas minuman wine di letakkan di depan-nya. Ia sempat melirik sekilas, lalu tanpa curiga, meraihnya dan meneguknya perlahan.
“Kerja sama ini akan sangat menguntungkan bagi kedua pihak,” ucap sang klien.
Ares menaruh kembali gelasnya. “Selama tidak merugikan saya,” jawabnya datar.
Percakapan terus berlanjut.
Namun beberapa menit kemudian…
Ares mengernyit. Ada sesuatu yang terasa… aneh. Pandangan-nya sedikit kabur. Ia mengedipkan mata, mencoba menyesuaikan fokus.
“Excuse me…” gumam-nya singkat, suaranya tetap terdengar tenang, meski ada ketegangan samar di dalam-nya.
Klien itu tampak sedikit bingung, namun mengangguk.
Ares berdiri. Langkah-nya masih mantap untuk saat ini. Namun saat ia berjalan menjauh dari meja, sensasi panas mulai merambat di tubuhnya.
Nafasnya berubah.
Lebih berat.
Lebih dalam.
Alisnya berkerut tajam.
“Tidak mungkin…” desisnya pelan.
Ia berhenti sejenak di lorong yang lebih sepi. Tangan-nya mencengkeram dinding, mencoba menahan tubuhnya yang tiba-tiba terasa tidak stabil.
Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
Jantung-nya berdetak lebih cepat dari seharus-nya.
Bukan karena alkohol. Ini… efek sesuatu yang lain.
Tatapan Ares menajam. Ia langsung menyadari, minuman-nya telah di campur sesuatu.
Seketika, instingnya sebagai pria yang terbiasa menghadapi bahaya langsung aktif.
Siapa ?
Dan untuk apa ?
Saat itu juga suara langkah pelan terdengar dari ujung lorong.
Ares mengangkat wajahnya. Sorot matanya berubah dingin.
Dan di sana Dresto bersandar santai dengan senyum tipis yang penuh arti.
“Akhirnya obat itu bereaksi juga,” ucap Dresto santai, seolah ini hanya permainan kecil.
Rahang Ares mengeras. “Lo…” suaranya rendah, tertahan.
Dresto berjalan mendekat perlahan, kedua tangan-nya di masukkan ke saku celana.
“Tenang saja,” lanjutnya ringan. “Gue hanya ingin melihat… seberapa kuat adikku ini.”
Ares mengepalkan tangan. Tubuhnya semakin terasa panas. Nafasnya tidak teratur, tapi ia tetap berdiri tegak, memaksa kesadaran-nya untuk tetap jernih.
“Lo sudah gila, kak.”
Dresto tertawa kecil.
“Gila ?” ulangnya santai. “Tidak. Gue hanya penasaran… bagaimana reaksi Mawar nanti… kalau melihat suaminya kehilangan kendali. Dan meniduri wanita lain.”
Ares terhuyung lebih keras hingga bahunya membentur dinding. Napasnya memburu, berat, seperti setiap tarikan udara terasa membakar paru-parunya.
Keringat kini bukan lagi sekadar membasahi pelipis, melainkan mengalir deras, menandakan tubuhnya benar-benar sedang melawan sesuatu yang tidak wajar.
“Dresto…” suaranya pecah, rendah dan bergetar, bukan hanya karena marah, tapi karena ia mulai kehilangan pijakan atas dirinya sendiri. “Lu… bangsat…”
Tangan-nya mencengkeram kepalanya sendiri, jari-jarinya menyusup ke rambut, seolah mencoba menarik keluar sesuatu yang merayap di dalam tubuhnya.
“Apa… yang lu masukkan…?” giginya bergemeletuk, rahangnya mengeras sampai nyaris berderit.
Pandangan Ares mulai goyah. Sesaat ia menatap lurus ke arah kakaknya, tajam, penuh kebencian namun detik berikutnya fokus itu pecah. Dunia di sekitarnya terasa berputar, kabur, dan panas… terlalu panas.
“Tsk…” ia tersenyum miring, tapi senyum itu retak. Tidak utuh. “Kau pikir… ini cukup untuk menghancurkan ku…?”
Tubuhnya tiba-tiba menegang hebat. Ia memukul dinding di sampingnya, keras.
BUG!
BUG!
Suara benturan menggema, tapi Ares bahkan tak bereaksi pada rasa sakitnya sendiri. Ia berusaha keras menahan efek obat perangsang itu.
“Aku harus… sadar…” desisnya, napasnya tersengal, tidak stabil. “Dan selama aku masih sadar, aku tidak akan… jatuh ke dalam permainan sakit mu…”
Namun kalimat itu terdengar seperti janji yang hampir runtuh.
Langkahnya goyah. Ia mundur setengah langkah, lalu lagi seolah mencoba menjauh dari sesuatu yang bahkan tidak terlihat. Kedua tangan-nya kini mengepal kuat, bergetar hebat.
“Aku tidak akan…” suaranya berubah lebih rendah, lebih gelap, hampir seperti ancaman terakhir yang dipaksakan keluar dari sisa kesadarannya. “Membiarkan Mawar… Masuk ke dalam permainan ini…”
Ia mendongak lagi. Kali ini matanya benar-benar berbeda merah, liar, dan mulai kehilangan batas antara amarah dan dorongan yang tidak bisa ia kendalikan.
“… Dan aku akan membalas mu, Dresto,” bisiknya parau. “Bukan sebagai kakak… tapi sebagai musuh.”
Hening sesaat.
Lalu Ares terengah, tubuhnya kembali goyah dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang mengerikan terlihat jelas: bukan hanya kemarahan… tapi tanda bahwa ia benar-benar berada di ambang kehilangan kendali sepenuhnya.
Dresto tidak bergerak sedikit pun.
Di tengah kekacauan yang terlihat jelas pada diri Ares, ia justru berdiri santai, punggung-nya bersandar ringan, kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana.
Sudut bibirnya terangkat perlahan… lalu berubah menjadi seringai tipis yang nyaris tidak manusiawi.
“Bagus…” gumam-nya pelan, suaranya tenang, kontras dengan napas Ares yang memburu. “Reaksi yang sangat… memuaskan.”
Matanya menelusuri setiap gerakan Ares, setiap getaran, setiap usaha menahan diri, seperti seorang penonton yang menikmati pertunjukan paling langka.
“Dia masih mencoba melawan, ya ?” lanjutnya, sedikit terkekeh. “Selalu begitu… selalu keras kepala. Selalu merasa lebih kuat.”
Ia menggeleng pelan, langkahnya maju satu kali, tidak tergesa, penuh perhitungan.
“Tapi kali ini berbeda, Ares.” suaranya merendah, dingin. “Ini bukan tentang kekuatan mu. Ini tentang batas mu.”
Dresto berhenti tepat beberapa langkah di depan Ares. Tatapan-nya turun sedikit, mengunci pada mata adiknya yang mulai kehilangan fokus.
“Aku ingin melihat…” bisiknya hampir seperti rahasia, “…seberapa lama kau bisa bertahan menahan efek obat perangsang itu, sebelum akhirnya… runtuh.”
Seringainya melebar.
“Dan lebih dari itu, aku ingin tahu…” ia memiringkan kepala, seolah benar-benar penasaran, “…apakah Mawar akan tetap mencintai mu… setelah melihat kamu menghabiskan malam panas dengan wanita lain.”
Ia tertawa kecil. Ringan. Santai. Seolah semua ini hanyalah permainan.
“Tenang saja,” tambah-nya dengan nada yang hampir terdengar ramah, namun justru terasa lebih mengancam, “aku sudah menyiapkan segalanya.”
Tatapan-nya sekilas melirik ke arah pintu kamar.
“Semua sudah ku persiapkan…” bahunya terangkat samar. "Dengan sangat sempurna. ”Kembali ia menatap Ares tajam, penuh kepastian. “Kau hanya perlu… menyerah dan menikmati.”
Hening sesaat.
Lalu Dresto tersenyum lebih lebar, penuh kemenangan. “Dan biarkan aku… menghancurkan hidupmu dengan cara yang paling indah.”
0o0__0o0
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣