NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA 2

SUAMI PILIHAN PAPA 2

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 5
Nama Author: Rahmania Hasan

"Saat matahari tak bersinar lagi, bagaimana rembulan akan bercahaya"

Begitu halnya yang terjadi pada Naura dan Hasan, belajar ikhlas itulah kata yang ditanamkan keduanya di hati walau sangat berat dalam melaluinya. mampukah bertahan? atau menyerah dengan kenyataan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Usaha Hanis

CAPTER 28

USAHA HANIS

Seperti apa yang disepakati di telepon tadi pagi Ika membawa Hanis ke tempat pegadaian di daerah alun-alun kota. Setelah memarkir motor di sisi samping gedung mereka melangkah menuju teras gedung, satu orang satpam yang berjaga di luar pintu langsung mencegat mereka berdua.

"Pagi, ada yang bisa kami bantu? Adik-adik ini mau nebus atau mau gadai?!" tanyanya menghentikan langkah Ika dan Hanis.

"Kami mau gadai, Pak!" jawab Ika mewakili Hanis.

“Silahkan!” ucapnya memberi jalan ppada Hanis dan Ika berjalan ke pintu masuk.

Tidak perlu mendorong pintu karena satpam yang berada di dalam seketika membuka pintu, sebagai formalitas ia menyapa dan juga mengajukan pertanyaan pada Hanis dan Ika dengan

senyum sempurna menghiasi wajahnya.

“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu? Mbanya ini mau ambil, bayar angsuran atau mau gadai?” tanyanya.

“Kita mau gadai Pak,” jawab Ika lagi mewakili.

"Silahkan mengantri di sisi yang kiri! Tekan tombol hijau untuk mengambil nomor antrian!" tuturnya menerangkan dan juga menunjuk mesin antrian. Melangkah mereka berdua untuk mendapatkan nomor antrian sesuai petunjuk.

Suasana dingin langsung terasa menusuk tulang tapi tidak dengan Hanis, ia malah semakin berkeringat saja. Bayangan kedua orang tuanya dan Andik terus menghantui. Ia tidak banyak bicara hanya menutup mulut, menundukkan wajah. Ika yang duduk di samping meliriknya, sadar jika suatu masalahsedang dihadapi oleh Hanis ia pun bertanya.

"Nis, Kamu kenapa?! Ada masalah apa?!." Tangan Ika menggenggam tangan Hanis, membantunya mengurangi kekhawatiran.

Hanis tidak berniat menjawab, ia hanya menoleh ke Ika dan membalas genggaman itu. Ia juga berusaha tersenyum meski sangat berat dan jelas dipaksakan. Ika tidak bertanya lebih lanjut, ia diam saja menunggu antrian.Tidak mungkin baginya

memaksa Hanis buka mulut apalagi mereka berada di tempat umum, bukan tempat yang benar.

Syukurlah tidak seberapa lama tiba juga

giliran Hanis, lekas dua orang itu bangkit dari kursi. Berjalan menuju meja resepsionis mendatangi petugas pegadaian yang berseragam warna hijau kombinasi putih.

"Selamat datang di kantor pegadaian, ada yang bisa kami bantu?!" ucap petugas sebagai formalitas.

"Pak, teman saya mau menggadaikan perhiasan, apa harus disertai sama surat perhiasannya,Pak?!" kata Ika membantu Hanis.

"Tidak perlu, bisa dikeluarkan perhiasannya?! Biar kita timbang dulu!" sahut petugas tersebut.

Lekas tangan Hanis mengambil kotak aksesoris dari dalam tas, memberikan pada petugas tersebut yang berdiri di dahapannya, di balik kaca pemisah. Lewat lubang kecil yang tersedia Hanis

menyerahkan beberapa perhiasan. Petugas tersebut mengambilanya dan

meminta kedua orang itu untuk menunggu di kursi.

"Ini semuanya?!" tanyanya.

"Iya Pak!" jawab Hanis.

Petugas itu mengeluarkan beberapa perhiasan dari kotak aksesoriskemudian menyerahkan kembali kotak aksesoris tersebut pada Hanis lewat lubang yang sama.

"Silahkan ditunggu di kursi, saya cek dulu berapa beratnya!" kata petugas tersebut.

Hanis dan Ika duduk lagi di barisan kursi

paling depan, sementara petugas itu dibantu seorang petugas lagi mulai

memproses pengajuan pegadaian dengan menakar berat masing-masing perhiasan Hanis pada timbangan mas digital. Setelah berat didapat mereka berdua membuat taksiran harga sekaligus kisaran pinjaman yang bisa diajukan. Petugas itu memanggil lagi, Hanis dan Ika bangkit segera.

"Semua perhiasannya mas dua

empat karat, yang gelang rantai ini beratnya tujuh gram, maksimal pengambilan dua juta lima ratus tujuh puluh ribu. Untuk kalung beratnya empat belas gram termasuk sama gantungannya, maksimal pengambilan enam juta seratus delapan puluh ribu!  Untuk antingnya seberat tiga gram, maksimal pengambilan delapan ratus sepuluh ribu rupiah. Harga pegadaian

tidak sama dengan harga pasar, jadi bagaimana?!" kata petugas itu

sekaligus memberikan kesempatan bagi Hanis untuk memikirkan lagi.

Ika berbisik pada Hanis, menanyakan sebenarnya berapa jumlah yang dibutuhkan. Hanis menjawabnya dengan berbisik juga. Petugas

pegadaian kembali bersuara, menyela mereka berdua sekaligus memberikan masukan.

"Dana yang dibutuhkan berapa?! Sesuaikan saja!" ucapnya.

Hanis berpikir sejenak yang mana yang akan ia gadaikan atau mungkin semuanya ia gadaikan. Setelah berpikir banyak hal Hanis memutuskan untuk menggadaikan kalung yang ia miliki. Setidaknya kalung itu tersimpan oleh kerudung sehingga orang lain terutama Andik tidak akan menyadari.

"Saya gadai kalung aja Pak, tapi nggak ambil maksimal boleh?!" seru Hanis

memberi keputusan.

"Oh tentu boleh!" sahut petugas tersebut.

"Saya ambil lima juta Pak," lanjut Hanis.

Setelah jumlah pinjaman disepakati, petugas itu menyerahkan formulir untuk diisi oleh Hanis. Ia juga menanyakan jangka waktu pinjaman yang akan diambil oleh Hanis dan menjelaskan berapa bunga yang akan dikenakan. Sebenarnya Hanis tidak sungguh-sungguh mendengarkan, asal ia bisa mendapat uang sesuai jumlah yang diminta Boy baginya hal lain akan ia pikirkan belakangan.

Hanis selesai mengisi formulir, ia juga

mengambil jangka waktu maksimal yakni seratus dua puluh hari atau sekitar empat bulan. Hanis menyerahkan formulir yang sudah ia tandatangani.  Berikutnya petugas itu memprosesnya sebelum menyerahkan uang tunai melalui loket lain.

"Agunannya berupa kalung emas

seberat empat belas gram dengan pinjaman lima juta dan jangka waktu seratus dua puluh hari ya?! Nanti jika pada tenggak waktu tidak bisa melunasi bisa diperpanjang sebelum jatuh tempo, syaratnya hanya dengan membayar sewa modal saja! Silahkan Anda mengantri di loket pengambilan, sebelah sana!" tutur petugas tersebut dan menyerahkan formulir pengajuan.

Hanis mengambilnya dan berjalan ke loket yang dimaksud bersama dengan Ika yang pasti. Mereka berdua memilih duduk di kursi baris nomor dua dari depan. Kira-kira seperempat jam setelahnya Hanis dipanggil oleh petugas, ia menyerahkan formulir pendaftaran yang tadi dan berdiri menunggu. Petugas itu langsung memprosesnya, selang tak seberapa lama ia menyerahkan formulir tersebut yang sudah distempel sekaligus

menjelaskan kembali prosedur pembayaran dan jatuh tempo.

"Uang administrasinya dipotong disini atau Anda bayar langsung?!" tanyanya.

"Berapa administrasinya,Bu?!" tanya Hanis balik.

"Lima belas ribu," jawab ibu petugas.

Cepat Hanis mengeluarkan dompet, menyerahkan uang tunai sebanyak yang disebutkan tadi. Petugas itu menerima uang tersebut, kemudian menyerahkan sejumlah uang dan meminta Hanis untuk menghitungnya terlebih dulu sebelum keluar dari sana. Dibantu Ika Hanis menghitung uang tersebut sebelum memasukkan ke dalam tas dan berucap pada petugas.

"Makasih Bu," seru Hanis.

"Sama-sama, terimakasih telah melakukan transaksi pada kantor pegadaian. Kami hadir untuk

mengatasi masalah tanpa masalah!" balas petugas wanita tersebut dengan

senyum cerah di wajahnya.

Tidak hanya petugas yang di dalam, dua orang satpam juga memberikan sapaaan hangat pada setiap pengunjung. Mungkin agar mereka tidak jera datang kembali. Ika menghidupkan motor segera dan meninggalkan kantor pegadaian secepatnya mengingat jadwal perkuliahan sudah mepet.

"Ika nanti siang tolong ikut aku lagi ya?!" kata Hanis memohon.

"Ok, jam berapa nanti?!" tanya Ika.

"Sehabis materi," jawab Hanis singkat.

"Siap Bos! Ngomong - ngomong Kamu sebenarnya ada masalah apa,Nis? Kok sampek gadai perhiasan?!" ucap

Ika bertanya meski sempat ragu-ragu.

Ada jedah bagi Hanis buat menjawab pertanyaan itu, ia terdiam beberapa

saat dan Ika tidak menuntutnya menjawab. Saat keheningan tercipta tiba-tiba suara rendah dan cemas Hanis terdengar, telinga Ika mekar; siap mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah temannya itu.

"Itu Boy minta uang ke aku...." kata Hanis rendah dan juga tak berterus terang.

Tersentak dada Ika, spontan ia merespon dengan amarah yang kentara pada nada suaranya. Jujur wanita itu memang tidak terlalu menyukai Boy, terlebih ia tidak yakin jika laki-laki itu seorang mahasiswa. Di antara laki-laki yang sempat singgah mewarnai hari-hari Hanis yang paling tidak ia suka memang Boy tersebut namun ia diam saja.

"Nggak tahu malu banget itu anak?! Lagian kenapa Kamu kasih? Bukannya dia sering pinjam terus nggak ada kejelasannya?! Kamu ini Nis, masih banyak cowok kenapa malah nerima cowok benalu kayak gitu?" kata Ika meluapkan emosi.

"Aku ini emang bodoh, andai aku nurut sama kakakku semuanya nggak bakal

gini...." kata Hanis berat, tangis tertahan di kerongkongan.

"Nis, ada apa sih sebenarnya?! Kok

Kamu nurut gitu kesannya ke Dia?!" desak Ika bertambah penasaran.

"Dia ngirim aku foto ... Foto pas waktu kita berdua! Dia minta aku uang kalo nggak dikasih foto itu bakal disebarin...." ungkap Hanis.

Ika seketika itu langsung menepi, menghentikan laju motor dan memutar kepalanya ke belakang. Menatap Hanis yang kini tertunduk, antara sedih, takut dan juga malu. Tangan kanan Ika meraih pundak wanita itu, memberinya kekuatan untuk bisa menghadapi masalah yang sedang menimpa.

"Jadi cowok itu meras Kamu?! Pasti sengaja dia ngambil foto buat meras cewek!" seru Ika memastikan sekaligus berpendapat. Hanis hanya mengangguk

saja.

"Kita laporin aja ke polisi!" kata Ika mengusulkan.

"Lantasngimana kalo foto itu menyebar sebelum dia ditangkap sama polisi? Gimana sama masa depanku? Kuliahku? Orang tuaku? Orang-orang yang kenal sama aku pasti mereka mencela aku!" ungkap Hanis menumpahkan segala keresahan, ketakutan, cemas dan sedihnya.

"Iya ... Dampak sosialnya pasti ada, meski dia ditangkap imej baru bakal melekat, begitulah masyarakat?!" kata Ika menyadarinya.

"Nis, sebaiknya chat dari laki-laki itu jangan kamu hapus buat jaga-jaga!"

lanjut ia memberi saran.

Hanis tetaplah mengangguk saja, Ika kembali menjalankan motor menuju kampus. Setibanya di sana mereka cepat-cepat menyusuri lorong menuju ruang kelas mereka masing-masing. Berhubung jurusan yang mereka ambil berbeda, Ika mengambil  starta satu jurusan keperwatan medical bedah sedangkan Hanis keperawatan materniti.

Hingga siang menjemput konsentrasi Hanis bertambah kacau, apalagi saat materi sudah usai dan semua keluar dari kelas termasuk dirinya. Tangan Hanis tanpa perintah mengeluarkan ponsel dari saku celana, membuka ponsel itu dengan hati waspada. Benar seperti dugaannya Boy mengirim chat beberapa belas menit yang lalu. Ia meminta Hanis untuk segera datang di sebuah tempat makan yang tak jauh dari kampus.

Hanis segera menjawab dan meminta laki-laki itu untuk menunggu sebentar lagi. Ia sendiri tidak langsung pergi keluar dari gerbang kampus melainkan menunggu Ika yang belum nampak. Hanis memilih duduk di halaman kampus tepatnya di depan kelas Ika.

Belum cukup lama ia duduk di sana saat

mahasiswa keluar berhamburan dari kelas. Hanis bangkit, ia bergegas mendatangi Ika yang juga berjalan ke arahnya. Sangking fokusnya mereka menatap lurus ke depan Indah yang menyapa Hanis tak di dengar oleh wanita itu.

"Mau kemana mereka itu kok tegang amat mukanya?!" guman Indah yang ternyata didengar oleh Joko di belakang.

Langkah kaki Joko otomatis dipercepat hanya demi mencapai Indah yang berjarak sekitar dua meter di depan. Secara tiba-tiba laki-laki itu nongol di samping Indah dan berucap. Sontak Indah menoleh, tersenyum ramah padanya dan dibalas dengan senyuman ramah pula.

"Siapa yang tadi Ibu omongin?!" tanya Joko ingin tahu.

"Oh itu Pak, Hanis sama temannya jalan kayak buru-buru sampek saya sapa kok nggak dengar!" kata Indah menjawabnya.

"Mungkin janjian sama cowok mereka Bu! Maklum anak muda!" seru Joko membuat Indah teringat sesuatu. Yakni perihal niat Joko yang ingin bertandang ke rumahnya namun hingga kini belum juga kesampaian.

"Oh iya, katanya pak Joko mau main-main ke rumah saya?! Nggak jadi nih Pak?!" ujar Indah.

Joko melempar senyum, ia ragu-ragu untuk bersuara hingga Indah kembali bersuara. Laki-laki itu akhirnya berbicara, terdengar tidak percaya diri pada nada suaranya.

"Belum berani Bu, khawatir Ibu nggak berkenan," ucapnya. Hati Indah tersentak, namun ia menanggapinya dengan sederhana.

"Bapak ini mana mungkin saya nggak berkenan?! Saya tunggu lho Pak!" balas Indah.

Terus mereka berjalan sambil mengobrol bahkan hingga mencapai depan ruang dosen fakultas ilmu gizi. Mereka yang berbeda fakultas akhirnya harus terpisah namun naas bagi Indah, ia yang tak menyadari ada bungkus plastik di lantai hampir saja terpeleset untung ada Joko yang sigap meraih lengannya.

"Siapa ini buang bungkus makanan nggak di tempat sampah?!" guman Joko sambil menarik pelan Indah agar berdiri tegak lagi.

Buku yang terlepas dari tangan Indah segera Joko pungut dan menyerahkannya pada wanita itu. Indah sungguh berterima kasih dan Joko hanya membalasnya dengan senyuman.

"Ibu duluan aja!" perintah Joko.

Indah menurutinya, ia berlalu dari hadapan Joko sewaktu laki-laki itu memungut bungkus makanan yang berserak di lantai untuk dibuang ke tempat sampah. Sebelum berbelok Indah menoleh, memperhatikan

Joko yang membuang bungkus itu di keranjang sampah.

Kembali pada Hanis dan Ika, mereka berdua tiba tempat makan yang dimaksud oleh Boy. Melihat Hanis tidak datang sendirian melainkan membawa seorang teman cepat-cepat ia mengirim chat dan menyuruh Hanis datang menemuinya seorang diri. Ia juga memarahi Hanis dan juga bertambah berani mengancam Hanis.Begitu suara notifikasi terdengar Hanis lekas

membukanya, ia berkedip beberapa kali saat membaca notifikasi tersebut.

Berikutnya ia minta maaf pada Ika, syukurlah Ika pengertian. Ia langsung

membelah diri dan mencari meja lain yang kosong. Melihat dua teman sekelasnya juga berada di sana cepat-cepat ia bergabung.

"Kenapa Kamu ngajak teman?!" tanya Boy marah.

"Aku nggak ngajak, kebetulan dia juga mau kesini jadinya kita jalan bareng!"

sahut Hanis berbohong.

"Awas kalo itu hanya akal-akalanmu!" ancam Boy.

Hanis tidak menanggapi sebalikya ia

mengeluarkan amplop coklat yang berisi uang dari dalam tas. Menyodorkan amplop itu, tanpa disuruh Boy langsung menghitungnya dengan menaruh amplop di atas paha, menundukkan kepala.

"Banyak juga ya uangnya Kamu!" seru Boy setelah memastikan tidak ada kekurangan pada jumlah uang tersebut.

Hanis tidak bersuara, ia memilih bangkit dari kursinya namun dicegah oleh Boy saat itu juga. Laki-laki itu menyuruh Hanis duduk kembali dengan menekan nada suaranya.Hanis yang tidak ingin mendapat keburukan lagi dari laki-laki itu dengan patuh menarik kursi, mengambil posisi berhadapan dengan

Boy.

"Mau kemana? Aku belum pesan apa-apa udah mau cabut gitu aja?!" seru Boy yang rupanya ingin memperalat Hanis lagi.

“Bukannya kamu disini cuma buat nunggu uang itu? Kalo masalah makan itu urusanmu!” kata Hanis masih mendebat.

“Diingat, nasibmu ada di tanganku! Jangan bertingkah, cepat duduk!” sentak Boy mengancam pula. Duduklah Hanis terpaksa.

Lekas ia memesan makanan sementara Hanis hanya memesan minuman saja. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, tidak seperti Boy yang

sok akrab. Bahkan ia masih sempat menanyakan Andik yang pernah mencekiknya, siapa dia sebenarnya, apa kegiatannya. Namun tidak ada satupun yang Hanis jawab, ia khawatir laki-laki itu akan berbuat jahat pada Andik di luar sana.

"Betah juga ya Kamu bungkam?!" hardik Boy nanun tetap tak digubris.

Hanis melirik pada piring makanan yang sudah hampir kosong. Tanpa bersuara ia bangun, berjalan ke kasir lalu enyah dari sana secepatnya. Ika tidak langsung bangkit mengikuti Hanis, ia sadar jika Boy waspada penglihatannya. Ia tetap bersama ke dua temannya setidaknya hingga makanan itu habis.Namun tadi ia diam-diam mengambil gambar saat Hanis menyerahkan amplop coklat. Ia bertindak sendiri untuk membantu Hanis keluar dari jeratan laki-laki itu.

"Cabut yuk!" ajak Ika yang ternyata disetujui oleh kedua temannya tersebut.

Sesampainya di kampus Ika langsung mencari keberadaan Hanis, ia juga bertanya pada teman-teman Hanis yang sekelas dimana wanita itu berada. Hingga jam istirahat hampir usai keberadaan Hanis belum juga

ketemu. Ika mencarinya mulai dari halaman kampus, musholla hingga ruang perpustakaan namun tetap tak ditemukan juga.

"Kemana itu anak?!" gumannya saat keluar dari ruang perpustakaan.

Beberapa langkah dari sana tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang dari belakang. Seketika itu Ika menoleh ke belakang, rupanya itu Hanis yang menepuk pundaknya tadi.

"Aku cari Kamu kemana-mana nggak ketemu, ngumpet dimana Kamu?!" seru Ika mencerca Hanis yang membuatnya khawatir.

"Aku barusan dari toilet, emang tadi aku di perpustakaan!" kata Hanis menanggapi.

Ika lekas menyambar pergelangan tangan Hanis, menyeret wanita itu ke halaman kampus. Tepatnya ditarik ke bawah pohon, sebelum mereka duduk Ika mengitari sekeliling sekedar memastikan keberadaan orang-orang

di dekat mereka.

"Gimana Nis? Apa dia ngancam lagi?" cercanya yang ingin tahu.

"Sejauh ini nggak tapi nggak tahu kedepannya?! Apakah tidak berlanjut atau justru bertambah parah!" seru Hanis, jelas kekecamasan tersirat di wajah ayunya.Ia sadar jika itu hanyalah permulaan dari perangkap yang

dipasang dan ia sudah terperangkap.

"Maaf ya Nis, kayaknya kamu bakal dijadikan lumbung uang olehnya ... Dikit-dikit bakal minta uang pakai foto itu buat ancaman! Sebaiknya kita laporkan polisi aja!" kata Ika memberi saran yang sama.

Hanis malah terdiam, ia tidak menanggapi apalagi memutuskan. Terlalu banyak yang ia cemaskan dalam pikirannya dan itu tak terlepas dari bayangan orang-orang terdekatnya terutama Andik. Cukup beralasan jika ia mencemaskan laki-laki itu, kecemasan akan penolakan dan kekecewaan.Juga takut hati laki-laki itu akan berubah dalam sekejab mata.

"Hanis, jangan bersedih ... Coba Kamu ceritakan sama kakakmu itu! Mungkin dia punya solusi dan bisa menjatuhkan cowok brengsek itu!" ujar Ika ikutan dibuat marah.

“Ika ... kalo aku cerita pasti dia kecewa sama aku,” ungkap Hanis.

“Daripada Kamu terlilit terus, kecewa pasti ada tapi aku yakin ia akan membantumu!” kata Ika berpendapat.

“Aku nggak bisa cerita sama dia, aku takut hatinya....” kata Hanis tidak diteruskan. Nyaris saja ia membocorkan hubungannya dan Andik yang tidak diketahui oleh siapa-siapa.

“Maksudmu Nis?!” kata Ika menuntut penjelasan.

“Aku ... A-aku takut semua orang akan meninggalkanku....” ucap Hanis tidak berterus terang.

"Mungkin mereka yang tidak dekat tapi orang-orang terdekatmu tidak akan melepas dirimu ... Ayo ke kelas sudah masuk lagi kayaknya," imbuh Ika dan menuntunnya bangun dari sana.

Tidak ada sepatah kata yang terucap dari mulut Hanis, dalam kebisuan ia mengikuti langkah Ika yang membimbingnya hingga depan

kelas sebelum berpisah.

"Jangan terlalu dipikirkan biar Kamu nggak stres!" ucap Ika sebelum melangkah pergi.

 

Sore itu Ilyas sudah meluncur ke kampus untuk menjemput Indah saat tak disangka begitu di lampu merah ia menerima chat masuk. Insting mengatakan itu dari Indah. Dan ya, memang betul itu dari Indah namun isi chat yang dikirim bikin redup hati Ilyas.

Apa mau dikata Ilyas hanya bisa menjawab satu kata saja.

Berhubung tujuan utama tidak goal Ilyas pun balik arah setelah lampu hijau menyala lagi. Sepanjang jalan pikirannya

terganggu pada Indah yangbmembatalkan janjiannya itu. Hingga sampai di depan rumah nampak dari kejauhan seseorang yang tadi pagi datang menjemput Hanis kini tengah berada di depan pintu pagar, mengantar Hanis pulang.

"Makasih ya, Ika! Hati-hati di jalan!"

ucap Hanis dan melambaikan tangannya.

Ia tidak langsung masuk melainkan berdiri menunggu hingga motor itu kian menjauh. Dari arah berlawanan Ilyas datang, ia menghentikan laju motor tepat di depan Hanis berdiri.

"Tumben Kamu diantar jemput?!" kata Ilyas bertanya.

"Oh itu Kak, kita ada tugas bersama!" sahut Hanis mencari jawaban.

"Emm ... Ayo naik! Setidaknya aku bonceng Kamu sampai depan garasi!" ujar Ilyas mengundang senyum Hanis yang tersembunyi di balik kegundahan hati.

Wanita itu lekas naik ke boncengan namun belum juga motor berjalan terdengar klakson dari belakang. Ya, siapa lagi jika itu bukan Andik yang muncul dan menghalangi. Ilyas menoleh termasuk juga Hanis, kecemasan seketika hinggap. Wanita itu langsung tertunduk wajahnya, seketika itu teringat ia akan foto yang dikirim oleh Boy untuk meneror dirinya.

Andik mencuri pandang sambil menjawab seruan Ilyas tadi. "Wah kalian lagi kencan kah?!" ucapnya malah melempar tuduhan, menggoda sebenarnya.

Hanis tidak terpengaruh karena jujur

telinganya seolah mati suri saat itu, kalah pada kecemasan dan kekalutan. Yang ada pikiranlah yang mendominasi,

mengacaukan jiwanya yang sudah menemukan ketenangan dan kenyamanan tak lama ini.

"Iya kenapa? Masalah buatmu?" balas Ilyas menantang sekalian.

"Setidaknya minta ijin sama kakaknya dulu, Yas?!" sambung Andik.

"Sorry ngapain?! Baru kalo bapaknya aku pasti minta ijin sekeligus restu!" lanjut

Ilyas tidak mau kalah.

“Tapi aku ini jelas bakal jadi kakak iparmu, jadi Kamu harus jaga sikap ke aku tahu!” balas Andik tidak mau kalah.

Terus mereka berdebat bahkan hingga mobil kuning datang perdebatan itu belum juga kelar. Angga mengklakson kedua pengendara motor itu, merusak perdebatan mereka berdua.

"Mereka benar-benar!" gerutu Naura kemudian turun dari mobil.

Melangkah ia menuju Andik yang hanya seorang diri. Tanpa aba-aba Naura naik begitu saja ke boncengan dan menepuk pundak Andik.

"Ayo mas Manis, jalan!" perintah Naura tak ayal membuat Andik tersenyum lebar.

"Andai Mba masih single pasti aku tembak!" seru Andik menggoda Naura.

“Cukup percaya diri Kamu ya?!” sahut Naura menimpali.

“Ya beranilah asal masih kosongan!” balas Andik.

Bukannya marah Naura malah tertawa, sekali lagi ia menepuk pundak Andik dan memerintahkan laki-laki itu untuk segera

menjalankan motor melewati pintu pagar yang sudah terbuka sedari tadi.

Cepat Andik menjalankan motor mendahului Ilyas padahal berada di depannya. Sesaat setelah melewati laki-laki itu Andik menoleh, sekedar nyengir pada Ilyas. Tangan Naura sontak menyambar kepala Andik

dan memutarnya lagi hingga lurus menatap ke depan.

"Kamu ini! Ayo mas Manis lekas jalan!"

perintahnya.

Kebisuan Hanis masih bertahan meski Ilyas belum menyadarinya. Ia langsung turun dari boncengan motor dan berjalan memasuki rumah. Menyusul dua orang yang lebih dulu masuk, yakni Naura dan Andik.

Sesampainya di kamar ia menjatuhkan diri bersamaan dengan tas yang ia lempar ke kasur juga. Cukup lama Hanis dalam posisi tengkurap sebelum suara notifikasi menyentak dirinya. Tangan kirinya menyambar tas untuk mengeluarkan ponsel dari dalam. Kemudian berbalik badan, terlentang

dengan kepala merangkak ke atas bantal.

"Apalagi sih maunya itu orang?!" seru Hanis saat mendapati notifikasi itu datangnya tak lain dari Boy.

Rupanya setelah dibuka Boy berniat mengajak Hanis ketemuan, ia bahkan membuat penawaran dengan wanita itu untuk kembali dalam sebuah hubungan. Namun Hanis jelas menolak, ia meminta Boy tidak lagi mengganggu dirinya karena ia sudah menyerahkan uang yang diminta tepat waktu. Boy tidak mempermasalahkan, ia hanya menjawabnya dengan kata 'ok' saja. Tapi itu hanya di dalam chat, hatinya tentu berbeda.

"Harap diingat kita tidak terkait satu sama lain lagi dan aku sudah memenuhi

permintaanmu," isi chat yang dikirim Hanis sebagai balasan.

1
Susy Hermaningshih
Hiii ... mba Rachma belum lanjut menulis lagi yaaa ... Swlemiga di thn baru ini mulai semangat lg utk menulis, ibu tunggu lanjutan ttg Naura n Hasan nya ... Semangat mba Rachma😍
Susy Hermaningshih
Hiii ...thor ...msh berlanjutkah cerita bagus ini???, Semoga masih ya nanggung soalnya ...
Ditunggu up nya .... Sehat selalu, semangat thor /Drool/
Yosephine Nidya Ayu Puspajati
Thor itu trs Hasan pisah sama Salma gimana ceritanya? tau² Hasan sudah sendiri saja
Neni Lontong Naura Niken
kok lama banget jeda nya kak. di tunggu nih lanjutan Hasan dan Naura nya
Sukar Miyati
Beneran nangis dibuatnya.
Sukar Miyati
Ayo semangat...
Lanjutkan dan tuangkan ide kreatifmu Tor ! 😍
Rahmania: terimakasih,, sya sudah vakum menulis...
total 1 replies
Jusmiati
Thor sy jadi bingung, wanita kan memiliki masah Iddah selama 4 bulan, kok langsung dinikahkan begitu aja sih...
Jusmiati
ini Salma kok mau-maunya menikah, apa gunanya nikah sama lelaki yg enggak cinta sama kita, yg ada makan hati dong nantinya...
Jusmiati
jadi ikut ngiler deh dgn rujak nya 🤤🤤🤤
Jusmiati
pak Malik menikah beda akidah ya Thor...🤔🤔🤔🤔
Endang Werdiningsih
maaf ga lanjut baca ya.....
Endang Werdiningsih
hati bisa berbagi buat orang tua ke anak"a,,,antar anak aja bisa ada rasa saling cemburu,,, jgn buat naura jd menyek" demi berbakti kpd suami merelakan hasan berbagi tubuh.... jgn pernahenyakiti hati satu wanita demi kebahagiiaan wanita lain... karena tdk akan ada satu manusiapun yg bisa adil dimuka bumi ini.. jika hasan mau menikahi salma lepaskan naura,,, jika terjadi poligami,,, maaf lsg stop baca novel ini...
sy anti yg nama'a poligami....apalagi yg dipoligami janda muda yg msh bisa melindungi diri sendiri,,,jgn sedikit" mengatas namakan sunnah mengikuti baginda nabi junjungan kita Muhammad SAW...
Endang Werdiningsih
jika semua bisa jujur dr hati terdalam,,,tdk ada yg nama'a rela berbagi suami....
pak yai pinter yaaaa,,, anak'a sdh janda trus disodorin sama orang yg akhlak'a baik spt hadan,,,, knapa ga dari hasansh bujang aja djodohiin...
jgn karena ingin anak'a bahagia pak yai relaengorbankan perasaan orang lain....
Endang Werdiningsih
naura rubahlah cara berbelanjamu,,, walau dimanfaatkan buat berbagi tp setidak'a hargai perjuangan hasan buat mengumpulkan uang....
secara tdk lsg hasan sering mengeluhkan kebiasaan naura
Muda MACMUDAH
thor biar angga balik ama lusi aja thor kasian lusi😞😞
Endang Werdiningsih
tinggal pilih ilyas,,, maria apa ira...... kalo matia terkendala keyakinan ga ya,,,, kalau terkendala ya jgn atuh ya ilyas
Endang Werdiningsih
ilyas sama ira saja,,,, lucu mereka berdua.... ga jadi dukung ilyas sama indah. 😀
Endang Werdiningsih
ga pernah respect sama lisa.... biar angga sama lusi,,, ilyas sama indah...
Muda MACMUDAH
ceritanya gimana ni thor katanya saudara kok bs berciuman thor🙏🙏🙏
Sugiono Sugiono
kok g lanjut2 ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!