Setelah lima tahun menikah, Adipati Elang Ganendra dan Dewi Astjarjana dikaruniai seorang putri.
Elang Ganendra memberinya nama Dewi Anandhita.
Sejak dilahirkan, Anandhita sudah menunjukkan kekuatannya.
Namun sayang, kelebihan fisiknya membuat Elang Ganendra salah paham dan mencurigai istrinya.
Anandhita kecil harus hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ayah.
Untungnya, Dewandaru, Ayah dari Elang Ganendra yang keturunan langsung dari Bathara Guru, sangat menyayanginya.
Dewandaru juga yang mengajari Anandhita dasar-dasar ilmu beladiri.
Anandhita pun bertekat memanfaatkan ilmunya untuk menegakkan keadilan dan menolong sesama.
Cerita dalam novel ini adalah fiksi yang bersifat untuk menghibur, sama sekali tidak ada maksud untuk mengubah sejarah.
Dibingkis dengan cara sederhana, dilengkapi dengan aneka budaya nusantara, dibumbui dengan romansa dan sedikit action, sangat sesuai dijadikan dongeng sebelum tidur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Ekawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laku
Hari yang yang dinanti pun tiba. Sore itu, semua penghuni Perguruan Kidang Kentjana berkumpulkun di pelataran. Dewi Astjarjana tak bisa menghilangkan resahnya.
Dewi Astjarjana yang berasal dari keluarga konglomerat, sama sekali tidak faham dengan dunia persilatan maupun dunia spiritual.
Setaunya, Elang Ganendra, suaminya, hanya bersemedi di Griya Asoka, tanpa pernah menjalani laku yang akan ditempuh oleh Anandhita.
Memang Ki Ageng Radjito mempunyai penasehat spiritual untuk melancarkan bisnisnya. Tapi Dewi Astjarjana pun tidak pernah mengetahui secara detail apa saja ritualnya.
Menyaksikan putri kecilnya, harus mendaki Gunung Lawu pada malam hari, membuat Hati dan pikiran Dewi Astjarjana gundah gulana.
Ingin rasanya Dewi Astjarjana menyertai perjalanan putrinya, Anandhita, tapi apalah daya, jangankan untuk mendaki, mengambil air bersih dari sumber di belakang padepokan saja Dewi Astjarjana tidak mampu, bahkan pernah memecahkan gentong kecil yang dibawanya.
“Ibu… Ibunda jangan bersedih, Kak Arya akan menjaga Anan.” Anandhita berusaha menenangkan hati Dewi Astjarjana yang sudah berurai air mata.
‘Ilmu dan kekuatanmu lebih tinggi daripada aku, Anandhita. Justru Romo Guru Dewandaru yang menyuruhmu menjagaku.’ Batin Dimas Arya.
Tapi hanya membatin saja sambil tersenyum dan mengangguk. Tidak berani mengucapkan apapun agar Dewi Astjarjana tidak merasa lebih kuatir lagi atas keselamatan mereka.
Anandhita yang sudah membuka lima gerbang cakra, berhasil sedikit menenangkan Dewi Astjarjana dengan perkataannya. Tapi hanya sedikit, karena naluri seorang Ibu bisa merasakan bahaya apa yang akan dihadapi putrinya.
Melihat masih ada ragu di benak Ibundanya, Anandhita memegang kedua telapak tangan Dewi Astjarjana, meraihnya, mengarahkan ke depan dada Anandhita, memejamkan mata dan mengalirkan sedikit tenaga dalamnya.
Dewi Astjarjana yang merasakan ada hawa hangat mengalir dari telapak tangannya yang digenggam Anandhita mulai menjalar ke dada dan kepalanya, iapun menutup mata.
Pikirannya menjadi tenang, dadanya terasa longgar. Dan ketika Dewi Astjarjana membuka mata, didapatinya Anandhita sedang tersenyum menatap matanya.
Kecuali Dewandaru, semua orang tercengang menyaksikan kejadian saat Anandhita kecil menenangkan Ibundanya. Ada sinar aura tipis berwarna keemasan dari telapak tangan Anandhita.
Kang Cipto terkejut karena aura itu bukan aura Dewa atau pun aura Cakra Mahkota (Sahasrara) yang berwarna hampir sama, tapi aura itu sangat menenangkan, tidak hanya untuk Dewi Astjarjana, akan tetapi juga untuk orang-orang di sekitarnya.
Dimas Arya tiba-tiba teringat, aura itu adalah aura hangat yang pernah diberikan Anandhita kepadanya di Telaga Sarangan.
Sedangkan Dewandaru yang sudah mengetahui saat mengalirkan tenaga dalamnya di kaki air terjun Tawangmangu sudah tidak terkejut lagi mendapati ada aura lain di dalam tubuh Anandhita selain aura Dewa.
‘Sepertinya, dugaanku benar adanya.’ Batin Dewandaru sambil tersenyum.
Anandhita kemudian memeluk Ibundanya, Kakek Dewandaru, Nenek Danastri dan Mbok Ratmi secara bergantian. Anandhita membungkukkan badan dalam-dalam sebelum melangkah pergi.
Dimas Arya juga membungkukkan badan, kemudian menyusul langkah Anandhita. Semua orang melepas kepergian Anandhita dan Dimas Arya sampai mereka menghilang di balik pagar.
"Namamu Nyai Ningrum kan? Dan kamu Ki Sapto. Aku masih ingat nama kalian" sapa Anandhita ketika sudah melewati pintu gerbang keluar perguruan dan mendapati sepasang rusa menyambutnya diluar pagar pekarangan perguruan Kidang Kentjana.
"Ngoook...bleeeh... jeeeh...(ternyata kamu masih mengingat kami, Anandhita)" Jawab si rusa betina sambil menyejajari langkah Anandhita dan Dimas Arya. Rusa jantanpun mengikuti langkah mereka dari sisi yang lain.
"Tentu saja aku masih ingat kalian. Kalian adalah temanku seperti Kak Arya."
Dimas Arya terkesima.
'Aku kira tadi Anandhita sedang berimajinasi ngomong sendiri dengan rusa. Ternyata rusa itu membalas perkataan Anandhita. Ternyata Anandhita memang dia bisa mengerti bahasa mereka.'
'Wah... wah... wah... Ternyata aku belum benar-benar mengenalnya, walaupun tiap hari berlatih bersama.' Batin Dimas Arya menyadari bahwa banyak kenyataan yang baru diketahuinya.
"Ngooook...ngoook...mbleh... ngooook...(Terima kasih Anandhita. Kami tahu kamu sedang laku. Bolehkan kami mengantarmu sampai ke gerbang Cemoro Sewu)
"Tentu saja boleh, iyakan Kak Arya?"
"Iy iy.. iya, boleh" Tentu saja Dimas Arya tergagap, karena tidak mengerti apa yang Anandhita bicarakan dengan kedua rusa itu.
Anandhita dan Dimas Arta melalui jalan setapak ditemani oleh sepasang rusa.
Sepanjang jalan hanya dipenuhi celoteh Anandhita dan jawaban ngoook... mbleh.... jeeeeh... nya kedua rusa yang terkadang nyengir memperlihatkan gigi-giginya melihat tingkah lucu dan celoteh gadis kecil yang sedang dikawalnya.
(Hmm…. Kalau melihat rusa-rusa itu nyengir, jadi ingat ekspresi Mbok Ratmi di atas gerobak saat Dimas Arya melajukan pacuan kudanya.)
Sedangkan Dimas Arya hanya memperhatikan mereka tanpa mengerti sedikit pun artinya. Hanya saja, setiap kali Anandhita tertawa, Dimas Arya juga ikut tertawa.
Dan ketika Anandhita meminta pembenaran darinya, Dimas Arya menganggukkan kepala mengatakan iya.
Ketika matahari tlah tenggelam dengan sempurna dan benar-benar kehilangan diennya, mereka sudah sampai di gerbang Cemoro Sewu.
"Anandhita, kita sudah sampai di gerbang Cemoro Sewu, hari pun sudah semakin gelap. Sudah saatnya kita berpisaaaah.... “ Ujar Nyai Ningrum seraya menghentikan langkahnya beberapa langkah sebelum gerbang Cemoro Sewu.
“Berpelukaaaaan...."
Dua anak manusia dan sepasang rusa berpelukan (seperti tontonan anak-anak di tv jaman saya kecil).
"Teletubbies, teletubbies, berpelukaaaan...O'ooooo...." (Nah, koq?? Jadinya othor yang nyanyi sambil melompat-lompat mengenang masa kecil ya?)
Kembali ke leeep…top….
Merekapun berpisah. Anandhita dan Dimas Arya harus melintasi gerbang Cemoro Sewu untuk meneruskan ritual laku-nya.
Setelah beberapa saat berjalan di kegelapan, sampailah mereka di bebatuan cadas yang menjulang tinggi menyerupai sisi sebuah bukit.
Sedangkan di kanan kiri mereka adalah jurang yang cukup terjal memisahkan bumi yang mereka pijak dengan hutan cemara di kedua sisi.
"Apakah kita tersesat?" Dimas Arya mulai ragu.
"Tidak Kak. Ini adalah bebatuan cadas yang Kakek Dewandaru ceritakan kemarin. Kita harus mendakinya." Ucap Anandhita mencoba meyakinkan Dimas Arya.
"Ehmmmm... Anandhita, sebenarnya aku ingin bertanya, tapiii... aku takut Anandhita jadi sedih."
"Tenang saja Kak. Kak Arya adalah kakakku. Kakak boleh bertanya aaaapa saja sama Anan. Kakak juga boleh bertanya tentang sayapku." Jawab Anandhita seolah tahu ke arah mana pertanyaan Dimas Arya.
"Benarkah??"
Anandhita hanya mengangguk cepat untuk meyakinkan Dimas Arya.
"Apakah Anandhita bisa terbang menggunakan kedua sayap itu?"
"Tentu saja. Kak Arya mau lihat?"
"He-em" Dimas Arya mengiyakan sambil cepat menganggukkan kepala dua kali.
Anandhita membentangkan kedua sayap di punggungnya. Kekuatan tubuhnya dipusatkan pada kedua sayap tersebut. Meridian di sekitar sayap membuka perlahan.
Dengan perlahan pula Anandhita mengepakkan sayapnya dan tubuh kecil Anandhita pun melayang satu tombak di atas tanah. (1 tombak \= +- 3,5 meter)
Dimas Arya kembali terpesona dengan kemampuan Anandhita.
Alih-alih kembali, Anandhita terbang lebih tinggi dan sedikit jauh sebelum akhirnya berhenti di salah satu pucuk pohon cemara di seberang jurang sebelah kiri jalan.
"Anandhita, apa yang kau lakukan disitu??!! Kembalilah!!" Dimas Arya berteriak memanggil Anandhita. Dimas Arya sedikit merasa ketakutan ditinggalkan Amandhita sendirian ditempat yang sepi nan gelap.
Haha, salam dari Clarissa ❣️