NovelToon NovelToon
Dokter Obgyn Ini Suamiku

Dokter Obgyn Ini Suamiku

Status: tamat
Genre:Menyembunyikan Identitas / Pernikahan Kilat / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Cinta setelah menikah / Konflik etika / Tamat
Popularitas:59.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gledekzz

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau itu masih muda! Seharusnya kau nggak boleh kayak begini,” ucapnya dengan nada tegas, meski ia tahu saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memberikan nasihat.

Wanita itu tak merespons, hanya mendesah kuat, membuat Ali semakin khawatir. Ia menyadari bahwa pertanyaannya tidak akan menghasilkan jawaban dalam kondisi wanita itu saat ini.

Ali melihat jam tangannya sambil memeriksa denyut nadi wanita itu, yang berdetak sangat cepat. “Tahanlah sebentar! Obat itu akan hilang dengan sendirinya,” ucapnya sambil tetap memantau kondisinya.

Di dalam kamar mandi, Ali terus memeriksa tanda-tanda vital wanita tersebut, memastikan ia bisa melewati dampak buruk dari obat yang dikonsumsinya. Ia tahu situasi ini adalah ujian besar, bukan hanya sebagai dokter, tetapi juga sebagai seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch ~ {Kehangatan keluarga}

Hari-hari berlalu dengan lambat bagi Bunga. Tubuhnya mulai pulih tetapi hatinya tidak. Pagi itu ia duduk di tempat tidur rumah sakit, menatap jendela dengan wajah penuh kesedihan. 

Matanya sembab dengan tangannya mengepal erat, seolah menahan badai emosi yang terus berkecamuk di dalam dirinya.

Ali yang berdiri di dekat meja kecil memperhatikan gadis itu dengan tatapan prihatin. Ia baru saja membuka penutup makanan untuk Bunga, sarapan pagi dengan semangkuk bubur, tapi ragu untuk memberikannya. Wajah Bunga yang penuh amarah dan kebencian membuatnya merasa berat.

Ali mendekat perlahan dan duduk di tepi tempat tidur sambil meletakkan bubur di meja samping. “Bun, makan dulu ya,” ucapnya lembut. “Kau butuh tenaga untuk sembuh.”

Bunga hanya melirik sekilas, lalu kembali memandang jendela. “Untuk apa sembuh Om? Semua sudah hancur.”

Ali menarik napas panjang mencoba menenangkan dirinya sebelum menjawab. “Bun, Kau nggak boleh terus-terusan kayak begini. Hidupmu belum selesai. Masih ada banyak hal yang bisa Kau perjuangkan.”

Bunga berbalik menatap Ali dengan matanya penuh amarah yang mendidih. “Apa yang harus aku perjuangkan Om? Hidupku sudah nggak ada artinya. Ibu meninggal. Kirana meninggal. Dan semuanya karena dia!”

Ali terdiam sejenak membiarkan Bunga meluapkan emosinya. “Siapa yang Kau maksud?” tanyanya perlahan walaupun Ali tahu kemana Bunga akan berbicara.

Bunga mengepalkan tangannya lebih erat, tubuhnya bergetar. “Bapak. Dia yang menghancurkan semuanya. Dia yang menyakiti kami. Dia, dia...” suaranya pecah, dan air matanya mulai mengalir.

Ali merasa dadanya sesak mendengar kata-kata itu. Ia sudah menduga ada sesuatu yang berat dibalik sikap Bunga, tapi ia tidak menyangka sebesar ini. 

“Bun, aku tau semua detailnya. Tapi aku tau, luka yang dia tinggalkan pasti dalam. Aku nggak akan bilang ini mudah. Tapi membiarkan kebencian itu terus ada hanya akan membuat Kau lebih terluka.”

Bunga menatap Ali dengan tatapan tajam. “Om nggak ngerti! Bapak menyakiti kami, dan bapak yang bikin semua ini terjadi! Kalau bukan karena bapak, kami masih punya keluarga utuh, kami nggak mesti punya bapak. Ibu masih hidup. Kirana nggak akan pergi. Aku nggak akan kayak begini!”

Ali menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu kata-katanya harus hati-hati. “Bun, aku ngerti rasa dendam itu. Tapi dengar ini baik-baik. Dendam nggak akan pernah ngasih Kau kedamaian. Luka itu nggak akan sembuh kalau Kau terus terjebak di masa lalu.”

Bunga menggigit bibirnya, menahan tangis yang semakin deras. “Jadi aku harus diam? Membiarkan bapak hidup tenang di penjara? Itu nggak adil Om!”

Ali menatap Bunga serius dengan suaranya tegas tapi tetap lembut. “Bun, aku nggak bilang Kau harus diam. Tapi ada hal-hal yang di luar kendali kita. Biarkan waktu dan Tuhan yang membalas. Keadilan Tuhan itu jauh lebih sempurna dari pada apa yang bisa kita lakukan.”

Bunga terdiam tapi tatapannya penuh keraguan. “Tuhan? Kalau Tuhan adil, kenapa semua ini terjadi Om? Kenapa ibu dan Kirana harus pergi? Kenapa aku harus menderita kayak begini?”

Ali tertegun. Pertanyaan itu menghantamnya, dan ia tahu jawaban yang ia berikan mungkin tidak cukup untuk meredakan luka di hati Bunga. Tapi ia tetap mencoba. 

“Aku nggak punya jawaban pasti Bun. Tapi yang aku tau setiap cobaan itu ada maksudnya. Mungkin sekarang Kau nggak bisa lihat. Tapi percayalah, Tuhan nggak akan membiarkan Kau sendirian. Kau kuat, dan Kau punya kesempatan untuk bangkit.”

Bunga menunduk membiarkan air matanya jatuh ke tangannya. Ia tidak menjawab hanya menangis dalam diam.

Ali meletakkan tangannya di bahu gadis itu menepuknya pelan. “Bun, aku ada disini. Aku nggak akan ninggalin Kau. Aku cuma minta Kau coba lihat ke depan. Jangan biarkan masa lalu terus mengendalikanmu.”

Bunga mengangguk kecil, tapi di dalam hatinya, kebencian itu tetap ada. Kata-kata Ali benar, tapi tidak cukup untuk menghapus luka yang begitu dalam. Ia tidak tahu bagaimana caranya memaafkan, atau bahkan melepaskan.

Saat Ali pergi untuk mengambil air minum, Bunga menatap ke arah jendela, matanya penuh amarah yang tidak bisa dipadamkan.

“Om Ali mungkin benar, tapi aku nggak bisa. Luka ini terlalu besar. Aku nggak akan pernah memaafkan bapak. Bapak harus membayar semuanya. Entah bagaimana caranya, aku akan buat bapak menyesal.”

Dalam hati kecilnya Bunga tahu ia seharusnya melepaskan. Tapi luka yang terlalu dalam membuatnya sulit menerima. Dan kini, dendam itu tetap memuncak, meskipun ia mencoba menyembunyikannya.

Suara pintu yang tiba-tiba terbuka membuat Bunga baik Ali menoleh. Nining muncul dengan wajah penuh semangat, langkahnya tergesa-gesa masuk ke ruangan.

“Teh Bunga!” panggil Nining ceria langsung menghampiri tempat tidur.

Bunga yang sedang duduk bersandar di tempat tidur tampak sedikit terkejut. Panggilan teteh itu masih terasa asing di telinganya. Namun, melihat senyum lebar Nining, ia hanya mengangguk kecil mencoba membiasakan diri.

“Lo ngapain kesini mendadak? Bikin rusuh aja.” tanya Ali sambil meletakkan gelas di meja.

“Rusuh apa sih Kang? Aku ini datang mau nemenin teteh!” sahut Nining santai lalu duduk di kursi di samping tempat tidur Bunga.

Ali mendengus. “Bisa nggak Lo pelan-pelan kalau masuk? Ini rumah sakit bukan tempat hajatan.”

Nining mengerucutkan bibir, berpura-pura tersinggung. “Akang ini ya sukanya ngomel terus. Teteh Bunga dengerin aku ya, Akang tuh suka ngomel-ngomel nggak jelas.”

Bunga tersenyum kecil meski terlihat sedikit canggung.

“Nining,” suara lembut tapi tegas dari Rinjani terdengar. Sang ibu masuk ke ruangan dengan tenang sambil membawa sebuah kantong plastik berisi makanan ringan. “Kenapa kalian nggak pernah berubah sih? Kalian ini udah besar, tapi kelakuannya masih kayak anak kecil.”

“Ini tuh Akang yang mulai duluan Ma.” seru Nining ceria sambil berdiri dan menghampiri Rinjani.

Ali mendengus sambil bersandar ke dinding. “Lo selalu nyalahin gue. Nggak pernah berubah.”

“Cukup!” potong Rinjani dengan nada tegas. “Mama capek dengar kalian ribut terus. Fokus ke tujuan kita di sini. Kita datang buat hibur Bunga, bukan buat bikin suasana makin berat.”

Nining langsung diam, tapi tak lama kemudian ia kembali menoleh ke Bunga dengan senyum lebar. “Teteh, Akang itu memang kayak gitu dari dulu. Galak! Tapi hatinya baik kok, cuma suka ditutup-tutupin.”

Ali memutar matanya. “Lo ngomong apa sih? Lo tuh emang paling nggak jelas.”

Rinjani menghela napas panjang, lalu duduk di kursi dekat tempat tidur Bunga. Ia menggenggam tangan Bunga dengan lembut. “Nak, nggak usah ragu-ragu kalau ada yang ingin disampaikan. Mama disini buat Kamu.”

Bunga menunduk sejenak lalu mengangguk pelan. “Iya Ma.”

“Mama, aku juga mau jadi tempat curhat teteh dong!” sela Nining sambil melipat tangan di dada. “Kalau Mama kebanyakan serius, nanti teteh malah jadi tegang. Aku kan lebih asik buat ngobrol.”

“Lo tuh bukan asik. Lo bikin orang makin pusing,” balas Ali cepat.

“Akang ini ya, selalu ngeremehin aku,” ucap Nining dengan nada sok sedih. “Ma, liat tuh Akang! Selalu bikin aku jadi bahan olok-olokan.”

“Nining, Ali, cukup!” tegas Rinjani lagi. “Kalau kalian terus ribut, mama suruh kalian keluar.”

Ali dan Nining langsung diam, tapi saling melirik dengan tatapan seolah masih ingin menang.

Bunga tak bisa menahan senyuman tipis melihat tingkah mereka. Kehangatan keluarga ini terasa begitu nyata. 

Meskipun ia masih menyimpan dendam di hatinya, untuk pertama kalinya, ia merasakan sedikit ketenangan. Kehadiran keluarga Ali seperti perlahan membuka celah bagi perasaan damai yang selama ini hilang dari hidupnya.

Di tengah kehangatan itu, ia menyadari sesuatu. Mungkin untuk melupakan semuanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi dengan orang-orang seperti mereka di sisinya, perjalanan itu mungkin tidak akan sesulit yang ia bayangkan.

1
Ny Rudi Harianto
sweet nya mas Ali......lelah dan emosi nya d bayar lunas setelah resepsi 👍👍
Ny Rudi Harianto
ida gak sadar diri....dalih kasian dengan Ali tapi dia lupa klu bunga istri Ali.... mau d pungkiri bagaimana pun si bunga ya ttp istri nya Ali....
Ny Rudi Harianto
kok ada ya orang seperti dokter Ali.....aku mau Mak buat d bawa pulang k rumah 😁😁😁
Ny Rudi Harianto
bukan manusia ini bapak nya ah.....😡😡
Ny Rudi Harianto
ya Allah.....sedih nya Mak.....cerita mu ini bener² ya Mak 😭😭😭
IG : Gledekzz97: makasih kak🙏🥰
total 3 replies
kaylla salsabella
selamat ya bunga dan bang Ali
Eva Karmita
lanjut thoooorr 🔥💪🥰
Eva Karmita
dan akhirnya kang Ali dan bunga menyempurnakan pernikahan mereka selamat kang Ali neng bunga 😍💓
Yus Warkop
yaaah sedikit gak enak hati🥰🥰🥰🥰

kutunggu judul baru
IG : Gledekzz97: Ada Mak 2 novel on going, udah ada beberapa bab, masih anget².

-Dijual Ke Gus Kahfi
-Dikuasi Pria Dingin

Mampir ya emakku.💋💋
total 1 replies
Nar Sih
yah...tiba,,kok udah lahiran aja bunga nya ,pdhl bru kemarin mp nya ,ini pasti mau di bikn end nih sama kak thor nya😂😂
IG : Gledekzz97: Biar lebih singkat padat dan jelas mak🤣🤣🤣
total 1 replies
Yus Warkop
alhamdulillah
Yus Warkop
greget pingin cepat" aja thor gimba rasanya malper 🤭 ali pasti kaget ternyata oh ternyata
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
kaylla salsabella
Alhamdulillah akhirnya unboxing om Ali 😁😁
IG : Gledekzz97: Seneng ya Mak🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
alhamdulilah bulan madu yg indah buat ali dan bunga,yg ahir nya bunga jdi milik ali seutuh nya ,moga kebahagiaan terus buat kalian ,yah. kak kok udah end sih ,tpi makasih aja buat kak thor,ending yg bagus👍🥰☺️
IG : Gledekzz97: Terimakasih😘😘
total 1 replies
Eva Karmita
Ali yg dikatakan bunga itu benar.. kalau masih menunda kehamilan untuk apa menikah lebih baik sendiri" saja
Eva Karmita
sadar kan sekarang wanita yg kamu tolong ternyata ulat bulu Ali
Eva Karmita
Ali mau kamu apa sihh...nolong sih nolong tapi ngk gitu juga masak istri sendiri di abaikan malah asyik sama istri orang , memangnya di Belanda ngk ada dokter apa sampai Ali harus tanggung jawab heran dah 😠🤦🏻‍♀️
Alexa Juliana
Ayo gaskeun lah Al..mau bunga cepat hamil atau nggak itu urusan nanti, klo Bunga hamil ya Alhamdulillah berarti Tuhan sdh mempercayai kalian utk menjaga amanah-Nya..
Alexa Juliana
Ternyata wanita yg di tolong itu g baik, memanfaatkan pertolongan Ali, untung suaminya datang dalam keadaan baik2 saja..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!