Deswita Anggraeni, seorang wanita berkepribadian baik dan ramah yang berasal dari keluarga sederhana. Di tengah kemelut hidup setelah kepergian kedua orang tuanya, dia dinikahi seorang pria yang berasal dari keluarga kaya, yakni Zidan Fakhrul Ghani.
Namun, di tengah kehidupan rumah tangga yang dijalaninya, dia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ibu mertuanya sangat tak menyukai kehadirannya sebagai menantu di keluarga itu. Berbagai cara telah dilakukan Deswita untuk mengambil hati sang mertua, tetapi kenyataan lain justru harus dia hadapi.
Hasutan demi hasutan dilakukan oleh ibu mertuanya, agar Zidan segera menceraikannya dan menikah dengan wanita pilihan ibunya.
Mampukah, Deswita meyakinkan sang suami dari segala hasutan tersebut? Dan apakah Zidan akan bertahan dengan pernikahannya atau justru terhasut oleh sang ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Efek Jera
Usai diobati, Mama Riana kembali diantar ke sel lagi. Kali ini beliau hanya bisa terdiam dan tertunduk tanpa berani menatap tahanan yang menghajar tadi.
Kini beliau bagaikan kucing yang berada di antara kerumunan anjing liar. Tak ada yang bisa Mama Riana lakukan, selain pasrah dengan keadaannya saat ini. Walaupun dalam hatinya, beliau berharap Zidan akan datang mencabut laporannya.
"Ternyata di antara banyaknya tahanan di sini, cuma elu yang lebih parah kasusnya. Merencanakan pembunuhan terhadap menantunya sendiri yang nggak ada salah apa pun. Nggak kebayang kalau menantu elu itu sampai kehilangan nyawa, makin lama elu mendekam di sini," sindir seorang napi yang menghajar Mama Riana tadi.
Mama Riana hanya bisa diam tanpa berani menjawab sebab apa yang terlontar dari mulut napi itu tak sepenuhnya salah.
"Daripada elu gak ada kerjaan, mending pijitin badan gue. Cepetan!"
Mama Riana tak berani menjawab ataupun menyanggah karena rasa sakit di tubuh masih sangat terasa.
"Yang bener kalo mijit!" sentak napi yang menghajar tadi.
"I-iya."
Hidup dalam sel penjara sama sekali tak pernah ada di pikiran Mama Riana. Kini beliau harus merasakan dinginnya tembok penjara.
Malam pun tiba, Mama Riana tak kunjung memejamkan matanya. Seolah rasa kantuk tak beliau rasakan.
Sementara di tempat lain, Zidan masih setia menunggu sang istri yang belum ada tanda-tanda siuman.
"Kapan kamu bangun, Ta? Aku benar-benar rindu suaramu," gumam Zidan lalu menenggelamkan wajahnya di sisi ranjang.
Zidan mengangkat kepalanya ketika ada sesuatu yang bergerak di dekat wajahnya, lalu matanya tertuju pada jari tangan Deswita. Dan benar saja, ada pergerakan dari jari tangan Deswita.
"Alhamdulillah, kamu sadar, Ta."
Zidan segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Deswita.
"Sungguh perkembangan yang sangat luar biasa. Kondisi Nyonya Deswita sudah stabil, sebentar lagi beliau akan sadar," ucap dokter.
"Alhamdulillah." Zidan tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat mendengar kabar baik ini.
Setelah dokter meninggalkan ruang perawatan, Zidan kembali duduk di samping ranjang sambil terus menggenggam tangan sang istri.
Tak berselang lama, Deswita perlahan mulai membuka matanya. Pandangannya menatap sekeliling ruangan lalu tertuju pada wajah yang sangat amat dia rindukan dan selalu dia sebut dalam doanya.
"M-Mas, kamu pulang?" tanya Deswita dengan suara yang masih terdengar lirih dan terbata.
"Iya, Ta. Aku pulang buat kumpul lagi bareng kamu dan anak kita," jawab Zidan.
"Dhara?"
"Dia di rumah sama emak, abah, dan Aisyah." Zidan mengelus kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.
......................
"Saudari Riana, ada yang ingin bertemu." Salah seorang penjaga membuka pintu sel setelah memberi tahu Mama Riana.
Dengan semangat Mama Riana segera keluar mengikuti penjaga tadi. Beliau berpikir yang datang adalah Zidan dan akan mencabut laporan.
"Pagi, Ma," sapa Zhia.
"Zhia, kamu sama siapa? Revan mana?" cecar Mama Riana.
"Aku sendiri, Ma. Soalnya Revan ada meeting dadakan pagi ini."
Mama Riana terduduk lesu karena apa yang dipikirkan ternyata salah.
"Zhia, tolong kamu bujuk Revan supaya mau mencabut laporan dan mengeluarkan mama dari sini," pinta Mama Riana.
"Maaf, Ma. Soal ini aku gak bisa bantu karena memang Mama telah bersalah dalam masalah ini."
"Kamu udah nggak peduli lagi, ya, sama mama?"
"Ma, justru aku sangat peduli dengan Mama. Aku juga anggap Mama seperti orang tua kandungku sendiri, tapi masalahnya perbuatan Mama nggak bisa dianggap sepele. Mama sudah merencanakan pembunuhan pada orang yang nggak bersalah. Beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan, coba kalau benar-benar sampai merenggut nyawa."
"Memang itu yang mama harapkan. Lebih baik wanita kampung itu mati," ucap Mama Riana dengan ketus.
"Lalu Mama mendekam selamanya di sini?" sela Zhia.
"Ma, kali ini aku benar-benar memohon ke Mama. Sudahi rasa benci Mama pada Deswita. Dia juga menantu Mama, bagian dari keluarga kita, sama seperti aku. Terima dia sebagai menantu, Ma. Perlakukan dia seperti Mama memperlakukan aku selama ini. Kasihan Zidan, Ma. Dia juga nggak ingin hidup dengan sebuah pilihan. Apalagi sekarang ada anak yang melengkapi keluarga kecil mereka. Sementara aku dan Revan, belum bisa memberikan gelar opa dan oma untuk kalian. Jadi aku mohon dengan sangat, buang kebencian Mama dan terima Deswita sebagai anggota keluarga kita," tutur Zhia panjang lebar.
Tanpa mendengarkan jawaban sang mertua, Zhia pun berpamitan pulang karena waktu besuk juga sudah habis. Sementara Mama Riana hanya terdiam dan mencerna setiap penuturan Zhia.
menggantung ???