Kematian mendadak Gandawasa Natadharma, miliuner pemilik perusahaan game terbesar asal Indonesia yang bermukim di San Fransisco, Amerika Serikat, menimbulkan kecurigaan bahwa kematiannya tidak wajar.
Istrinya yang berbeda lima belas tahun lebih muda, Lily Kanissa Natadharma, tentu saja menjadi orang pertama yang paling dicurigai. Wanita yang pernah dikenal sebagai “Gadis Teh Botol”, sejak fotonya yang sedang minum teh botol di kelas ketika remaja, pernah viral. Gadis manis bermata indah dengan wajah polos bagai malaikat pada waktu itu, kini telah menjelma menjadi wanita yang luar biasa cantik menawan dan sangat berkelas.
Ketika digiring ke luar mansionnya yang mewah dengan tangan diborgol, para wartawan menghujani Lily dengan pertanyaan. Ia hanya melontarkan satu kata dengan wajah dingin, “Bodoh.” Lalu ia menundukkan kepala dan masuk ke mobil polisi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Detektif Maxmillian Anderson diuji kemampuannya untuk menguak fakta, mencari bukti-bukti serta menyelidiki motif yang membuat janda miliuner itu melakukan tindakan kriminal. Demi harta? Atau karena orang ketiga?
Benarkah dia pembunuhnya, atau ada orang lain yang melakukannya?
Namun, yang lebih penting adalah, mampukah Max menepis daya tarik Lily, yang dengan keanggunannya yang dingin, justru telah membuat hati Max terbakar sejak matanya singgah di wajah wanita itu, bahkan dari jauh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dela Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Tangkap Aku Jika Kau Bisa
Kenneth bukan tidak menyadari kedatangannya ke kantor SFPD hanya karena mengikuti dorongan hati, adalah sebuah tindakan ceroboh
Tidak salah apa yang dikatakan temannya, bahwa ia sudah gila. Bagaimana pun sesuatu yang dilakukan secara impulsif sangat berbahaya.
Kenneth bukan tidak tahu di kantor polisi ada CCTV, termasuk juga di jalan ketika ia naik taksi datang dan pergi dari sana. Ia yakin, polisi akan segera menemukan rumah ini.
Karena itu, selain memutuskan bahwa ia tidak bisa lagi menggunakan penyamaran yang sama, ia juga harus segera melenyapkan segala jejak dan cepat-cepat pindah dari sini, tidak bisa lagi menunda-nunda.
Sebenarnya tempat ini sempurna. Sebuah rumah kecil yang tidak mencolok, dan Kenneth telah memeriksa sebelumnya, tidak ada kamera yang mengarah ke sini.
Pintu masuknya terhalang pohon besar. Juga tidak banyak tetangga, sehingga ia bisa keluar masuk dengan bebas. Jika sosoknya tertangkap kamera lalu lintas, ia hanya tampak akan tiba-tiba muncul di suatu titik yang agak jauh dan tiba-tiba lenyap.
Namun, ia tidak bisa melawan teknologi. Apalagi mesin pelacak yang dimiliki polisi. Polisi juga tentu saja bisa menelusuri jalan dimana ia tiba-tiba ‘lenyap’ dari kamera. Cepat atau lambat, mereka akan tiba di rumah ini.
Kenneth segera membereskan apa yang perlu dibawa. Tidak banyak, hanya peralatan make up dan laptop-nya, serta beberapa pakaian dan satu tas penuh uang tunai.
Rekeningnya di bank telah ditutup sejak ia memiliki rencana menghabisi Gandawasa.
Ia belum lama menempati rumah ini, baru sejak kembali dari Washington DC. Ia membelinya dengan uang tunai. Penjualnya tidak banyak bertanya, uang tunai selalu bisa membuat orang bungkam.
‘Ini sudah risiko,’ pikir Kenneth. ‘Aku harus berpindah-pindah sampai polisi lelah mengejarku.’
Namun, mengingat orang yang ia bunuh bukan orang sembarangan, Kenneth juga tahu bahwa ia tidak akan dibiarkan lolos begitu saja.
Tidak apa-apa, yang penting dendamnya telah terbalaskan.
Jika sampai tertangkap nanti, ia sudah punya trik hebat untuk berkelit.
Kenneth mengenakan topi baseball, menenteng bawaannya dan keluar, berjalan cepat menuju ke suatu tempat.
***
Di kantor SFPD, Andrea menghambur ke ruangan Max dengan wajah berseri-seri.
“ANDERSON.” Ia berseru, “Sudah ditemukan. Dua hari ini aku ikut memelototi rekaman kamera di Departemen Transportasi. Kita akan menangkap keparat itu! Buka emailmu, mari kita susun rencana.”
Max yang baru saja tiba di kantor dan hendak duduk, langsung menoleh. Mendengar apa yang dikatakan Andrea, ia segera menyalakan komputernya dan membuka email yang dimaksud.
Ada beberapa dokumen yang ukurannya besar-besar karena berisi video, Max mengamati semuanya dan mengangguk.
"Kumpulkan seluruh tim Investigasi Strategis, dan panggil dua dari tim Forensik,” Max memberi perintah.
Andrea segera ke luar dan memanggil semua rekannya.
Enam orang, delapan dengan Andrea dan Max, berkumpul di dalam kantor Max.
“Kita akan pergi ke sana dan menyergap Tuan Wanjiru diam-diam. Semoga dia belum menyadari bahwa kita telah menemukannya. Tetapi walaupun dia sudah pergi, aku berharap setidaknya ada sesuatu yang bisa kita dapatkan di sana.”
“Kita tidak akan memakai mobil polisi dan tidak akan memasang sirene. Jika buronan melarikan diri, baru kita akan mengejarnya dengan menyalakan sirene. Paham semuanya?”
“Yes, Sir!”
Semuanya segera menuju mobil dan mengarah ke alamat yang ditemukan oleh kamera lalu lintas. Setibanya di area yang dimaksud, mereka memarkir mobil dan menyusuri sepanjang jalan itu, hingga tiba di sebuah rumah sederhana.
Mereka berjalan perlahan.
Andrea memimpin dua anak buahnya, mengitari rumah dan siaga di bagian belakang dengan pistol dikokang.
Sementara Max dan dua anak buahnya yang lain, mendekati pintu depan tanpa suara. Dan dua polisi yang lain, menunggu di tepi jalan untuk mencegat jika buronan melesat kabur.
Max menempelkan telinganya ke pintu, tetapi tidak mendengar suara apa pun dari dalam. Setelah yakin tidak ada gerakan apa pun, ia berteriak.
“SFPD, Kenneth Wanjiru, serahkan dirimu!”
Tidak ada jawaban.
Setelah menunggu sejenak dan masih tidak ada tanggapan, Max menendang pintu hingga terbuka. Ia lalu masuk diikuti dua anak buahnya, mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan.
Max mengelilingi ruang utama, dimana terletak meja dengan TV di atasnya, sofa panjang dan meja kerja di sudut.
Dua anak buahnya memeriksa kamar mandi dan kamar tidur.
“Bersih!”
“Bersih!”
Masing-masing berseru.
Andrea menyusul masuk setelah memeriksa bagian belakang dan tidak menemukan apa-apa.
Max menghela napas, menghampiri meja kerja di sudut yang di atasnya tidak ada apa-apa dan mengamatinya. Tidak ada yang menyentuh apa pun. Setelah mengejar Kenneth ke sana kemari tanpa hasil. Ini adalah tempat pertama yang bisa saja terdapat banyak alat bukti.
Masing-masing mereka segera mengenakan sarung tangan karet. Tim forensik mengeluarkan kotak peralatan dan memeriksa sidik jari yang tertinggal.
Sementara Max melihat kabel sambungan internet yang mencuat di meja kerja dan menunjuknya.
“Davis, cari tahu penyedia layanan internet yang digunakan dari alamat ini. Kita akan memeriksa riwayat pencarian yang dilakukan Wanjiru.”
Tanpa perlu diminta dua kali, Andrea segera menelepon tim IT di kantor untuk menyelidiki dengan menyebutkan alamat rumah ini, sekaligus meminta mereka melakukan apa yang diminta Max.
Selesai memeriksa rumah itu, mereka kembali ke kantor SFPD. Kenneth memang belum berhasil mereka tangkap, tetapi sudah ada kemajuan, meskipun hanya sedikit.
Setiba di kantor, mereka langsung mendatangi tim IT yang telah bekerja dengan efisien. Riwayat pencarian Kenneth telah didapatkan dari penelusuran alamat IP.
‘Bagaimana membunuh tanpa meninggalkan jejak.’
'‘Bagaimana cara membunuh dengan cepat tanpa diketahui.’
‘Racun apa yang tidak dapat dilacak.’
Dan kata kunci pencarian lain yang sejenis.
“Aku akan mendapatkanmu.” Max berkata dengan tegas. “Aku tidak akan berhenti. Ke manapun kau pergi, aku akan mengejarmu!”
mgkin ada yg dendam lbh parah dr ken, tp knp ken dibunuh
misal ada yg dendam, kan enak dia gk susah" turun tangan
apa lily jg patut dicurigai yaa🤔
klu kau yg membunuh ganda, pasti kau akan ketangkep✌