"Lo jahat!"
Elvan menatap Aleta bingung. Gadis yang tiga tahun ini dia rindukan itu sangat berbeda. Kini rambut Aleta menjadi sebahu dengan wajah lebih dewasa dan semakin cantik. Dia menangis.
"Why? Gue balik karena pengen jadi yang terbaik buat lo."
"Lo tinggalin gue saat gue butuh!" teriak Aleta kemudian meninggalkan Elvan begitu saja.
"Dan sekarang gue kembali buat perjuangin lo," teriak Elvan menatap punggung Aleta yang semakin menjauh.
"Semoga saja belum terlambat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elvan 2- 028
028
Elvan Sadar
Jadi apa alasan kamu? Setiap orang punya alasan saat ingin melakukan sesuatu 'kan?
.....
Ruang serba putih berbau khas rumah sakit menjadi saksi percakapan sepasang ayah dan anak. Keduanya saling pandang membicarakan hal yang cukup serius.
Meski si anak baru saja sadar, sang ayah tak ingin menunda apapun lagi. Sang ayah benar-benar ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat.
"Kenapa bisa terjadi?" tanya Antonio kepada putranya.
Elvan yang ditanya justru tersenyum lebar menatap Antonio. "Anak muda ya biasa, Pa."
Antonio menatap putranya tajam. Wajahnya yang mulai menua terlihat tegas dan juga penuh wibawa. "Pulang. Ikut Papa lagi."
"Aku udah pulang, Pa," jawab Elvan.
"Pulang ke London, Elvan!"
Elvan membuang wajahnya ke kanan. Matanya mulai memanas saat dirinya bimbang seperti sekarang.
"Rumah Elvan di sini. Elvan punya hati yang harus dijaga dan dikejar. Papa-"
"Apa Clarisa gak bisa?" potong Antonio.
Elvan jelas langsung menggelengkan kepalanya cepat. " Jelas gak mungkin."
"Elvan," lirih Papanya.
"Seribu kali Papa meminta. Atau bahkan sampai menangis. Elvan gak akan bisa."
Elvan jelas menolaknya. Menolak perjodohan gila dari Antonio. Dia merasa seperti pelampiasan Papanya dan sayangnya Dara mendukung sang suami. Elvan kecewa sebenarnya, tapi dia juga tahu kenapa Dara memilih mendukung Antonio. Hanya saja, Elvan tidak sebaik Dara. Dia tidak akan merelakan kebahagiaannya hanya untuk papanya.
Antonio langsung menatap putranya sendu. "Papa gak minta banyak, Papa cuma mau kamu sama Clarisa."
Elvan meringis ngilu saat dirinya membenarkan posisi tubuhnya. Antonio pun menolongnya.
"Papa tahu Elvan gimana."
"Papa tahu kalau Elvan gak mungkin sama dia. Papa harusnya bersyukur Elvan masih mau temenin kalian dan gak memilih pergi."
Elvan tahu bahwa apa yang ia katakan telah menyakiti hati papanya. Bahkan dia memang sengaja, sengaja mengucapkan itu agar Antonio kembali berpikir tentang Clarisa.
Sebenarnya bukan maksud Elvan durhaka karena menolak dan membantah Antonio. Namun, sungguh hal yang Antonio minta adalah mustahil. Elvan tidak akan mau. Seribu kali sudah Elvan mengatakan itu.
Hening terjadi dan berhasil membuat Elvan semakin tak enak hati.
"Papa bisa keluar dulu, Elvan mau istirahat."
"Bagaimana?"
Semua orang berdiri menatap Antonio yang baru saja keluar ruangan. Dan yang baru saja bertanya adalah Dara. Perempuan yang sedari tadi cemas memikirkan dua laki-laki kesayangannya.
Antonio menatap semuanya kemudian menggeleng. "Gak berhasil."
Hanya Dara yang mengerti, sedangkan yang lain justru bingung. Ya, karena Elvan tak menceritakan apapun tentang London.
"Boleh masuk, tapi jangan banyak-banyak." Antonio kemudian duduk setelah mengatakannya dengan lemah.
Gavin, Megan, Aksa, dan Aleta terdiam tak ada yang berani masuk. Keempatnya sama-sama bimbang dan sedikit sungkan.
Dara tersenyum saat menatap Gavin dan Megan yang saling bergandengan. Kemudian dirinya menatap Aleta dan Aksa.
"Kamu bisa masuk duluan," kata Dara lembut dengan tangan menyentuh pundak Aleta.
Aleta menoleh menatap wajah Dara yang tersenyum kepadanya. Sebenarnya Aleta masih ingat tentang hukuman pertama yang dia dapat bersama Elvan. Katanya, Elvan membenci wanita di depannya. Namun, sekarang justru terlihat terbalik. Aleta jadi penasaran karena itu.
"Boleh?" tanya Aleta.
Dara mengangguk.
Aleta pun tersenyum dan mulai mendorong pintu ruangan. Pemandangan pertama yang dia dapat adalah Elvan yang bersandar dengan kepala menatap jendela. Terlihat begitu rapuh.
Tap. Tap. Tap. Langkah Aleta terdengar merdu saat itu. Dia semakin mendekati ranjang Elvan yang berada di ruang VIP.
"Kenapa selain jadi receh lo juga semakin bodoh?"
Elvan langsung menoleh menatap Aleta yang bertanya dengan nada mengejek. Tetapi, laki-laki itu sama sekali tidak merasa diejek, justru dirinya tersenyum lebar menyambut Aleta.
"Lo dateng?"
Aleta jelas berdecak sebal karenanya. Siapa sih yang tidak akan kesal jika diberi respon yang tidak sesuai dugaan?
"Gue sengaja dateng, demi lihat luka atas kebodohan lo."
Elvam tersenyum lebar. "Gue seneng lo dateng," kata Elvan.
Aleta berdecak. Gadis itu melangkah mendekati Elvan. "Kenapa lo bisa sebodoh ini?"
Elvan hanya tersenyum tipis kemudian menepuk ranjang sebelah kanannya, mengisyaratkan agar Aleta duduk di sana.
Meski Aleta berdecak, dia tetap mendekat dan menuruti permintaan Elvan.
"Bodoh," ejek Aleta serak.
"Gue rela bodoh dan sakit demi dapet perhatian lo," kata Elvan sungguh-sungguh.
Aleta menatap dada Elvan dalam diam. Baju pasien yang terbuka agar bekas operasi tak tertutup itu menarik perhatiannya. Tangan Aleta terulur dengan perlahan menyentuh pinggiran perban.
"Kenapa bisa?" bisiknya.
Elvan menggenggam tangan Aleta. "Bisa, karena gue ada misi."
"Misi apa sampai lo korbanin nyawa? Bodoh."
Elvan tertawa pelan. "Lindungin lo."
Aleta mendongak menatap Elvan yang berkata begitu santai. Matanya mulai berlinang. "Lo selalu lindungin gue padahal gue gak pernah hargain lo. Maaf karena gue keras kepala kemarin," katanya kemudian terisak.
Elvan melepas genggaman tangannya. Pemuda itu menarik lembut Aleta agar jatuh di pelukannya. Tangannya yang tak diinfus mengusap lembut surai Aleta. "Gue ngerti, gue juga salah karena pergi tanpa lihat lo dulu. Andai gue berani, gue pasti bakalan ada saat lo sadar."
Aleta benar-benar menangis. Gadis itu mempererat pelukan mereka meski dengan sedikit rasa was-was karena luka Elvan.
"Makasih karena bikin Ayah baik lagi sama gue."
"Udah kewajiban gue. Kalau sampai Ayah lo gak baik ke elo, gue pasti gak akan bisa pergi gitu aja."
"Elvan," panggilnya dengan suara serak.
Elvan tersenyum tipis. "Iya, itu nama gue."
"Jangan bikin diri lo dalam bahaya lagi."
"Gue cuma berusaha lindungi lo Aleta."
Aleta melepas pelukan mereka. Dia mengusap kedua pipinya, menghilangkan jejak air mata.
"Jangan. Lebih baik kita sama-sama hadapin bahayanya."
Elvan tersenyum. "Gak gampang. Emang lo mau jadian lagi sama gue?"
Aleta berdecak sebal. "Modus."
"Kalau ada kesempatan ya dipakai dong," balas Elvan dengan tawa renyah.
"Iya." Akhirnya Aleta menjawab.
Elvan menyeringai. Pemuda itu merasa begitu bahagia. Seperti ada bunga-bunga yang bermekaran di hatinya saat mendengar Aleta berkata iya.
"Iya apa?" tanyanya menggoda.
Terlihat jelas semburat merah di pipi Aleta. Gadis itu menunduk malu dengan menggigit bibir bawahnya. "Kita jadian."
Tawa Elvan pecah, dengan cepat dia meraih Aleta dan kembali membenamkan gadis itu dalam pelukannya.
"Aw!" jeritnya saat Aleta berhasil ia dekap.
Aleta mendongak cemas menatap Elvan yang baru saja menjerit. "Kenapa?"
Elvan menyengir lebar. "Kena kepala kamu dikit."
"Najis, aku-kamu."
"Kok malah fokus ke situ? Harusnya khawatirin aku yang baru aja kesakitan dong!"
"Emang beneran sakit?" Aleta menaikan alis kirinya.
Seketika Elvan memasang wajah kesakitan dengan tangan semakin menekan kepala Aleta. "Aduh sakit banget! Aku butuh peluk kamu."
Aleta mencubit pinggang Elvan pelan kemudian mereka tertawa bersama. Huh, akhirnya mereka kembali menjadi sepasang kekasih.
***Thanks guys karena sudah membaca Elvan 2 sampai bagian ini. Dan mohon maaf atas keterlambatan up bahkan lebih dari seminggu.
Jujur aja aku sibuk banget dan baru sempat menulis. Sekali lagi mohon maaf ya bagi kalian.
See you next part okey?
salam,
autor Elvan 2***
aajahajaha
masih ada nggak kelanjutannya Thor
pembacamu masih menunggu nih 😊🤗
up lg thor..up lg