Bagaiaman jika kamu harus menikah dengan orang yang mempunyai rasa trauma akan sebuah hubungan masa lalu yang masih menghantuinya? Begitu juga dengan Darin dan Arga yang terpaksa harus menikah karena keegoisan kedua orang tuanya. Arga yang meliliki trauma karena perceraian kedua orang tuanya, harus dipaksa hidup bahagia dengan Darin yang juga masih menyimpan rasa sakit hati karena ditinggal pergi Akaz.
Awal rumah tangga mereka diselimuti perdebatan, sampai akhirnya Arga mengetahui siapa sosok Darin sebenarnya yang membuat semua pandangannya selama ini berubah. Arga kembali merasakan getaran dalam hatinya, ia kembali merasakan bagaimana rasanya cemburu dan gundah. Namun Arga hanyalah lelaki yang mempunyai sifat cuek dan dingin, ia tidak tahu bagaimana caranya mengutarakan perasaannya. Hanya diam-diam Arga bisa mengutarakan perasaannya lewat tindakan kecil. Sampai akhirnya Arga berani mengungkapkan perasannya secara lantang karena ia tahu jika Darin adalah perempuan yang dicarinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback 11 Tahun Lalu
Arga begitu setia menunggu Darin selesai makan, sampai akhirnya mereka menuju ruang kerja Arga. Saat ini Arga tidak mengizinkan istrinya untuk pulang sendirian karena tahu akan kedua adiknya yang akan selalu mengganggunya.
"Diam di sini sampai aku selesai meeting," perintah Arga saat Darin dibawa ke ruangan kerja Arga setelah dari kantin.
"Aku harus menunggumu di sini?" tanya Darin keheranan saat Arga melarangnya untuk pulang.
"Iya. Jangan kemana-mana sebelum aku kembali, dan nanti aku antarkan kamu pulang. Aku nggak ngizinin kamu pulang sendirian, paham!" tegas Arga dengan tatapan tajam mengintimidasi istrinya.
Mengapa Arga tiba-tiba berubah menjadi sosok yang posesif setelah mereka menikah, Alex bilang jika Arga adalah lelaki yang sangat dingin dan cuek. Namun nyatanya tidak sesuai dengan apa yang diucapkan adik iparnya, apalagi jika Darin dekat dengan lelaki lain selain dirinya seketika Arga akan meradang.
"Iya," jawab Darin singkat terlihat pasrah dengan perintah Arga.
Tidak lama kemudian datang sekretaris Arga sambil membawa beberapa berkas yang akan dibawa untuk rapat.
"Permisi, Pak. Pak Zein sudah menunggu Anda di ruangan rapat," kata sekretaris Arga mengingatkan jadwal rapatnya beberapa menit lagi.
"Tolong jaga istriku di sini dan panggil beberapa security untuk berjaga di depan pintu, jangan sampai ada yang masuk siapapun itu. Termasuk adik-adikku dan Pak Zein," titah Arga kepada sekretarisnya sebelum ia pergi menyusul Zein.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Arga membuat Darin kaget bukan main. Mengapa Arga harus menyuruh sekretaris dan beberapa security untuk menjaganya dari adik-adiknya?
"Aku bukan anak kecil yang harus dijaga. Lagian kenapa juga kamu harus menyuruh sekretaris dan security buat jagain aku?" protes Darin yang merasa sikap Arga begitu keterlaluan.
Arga tidak menggubris Darin yang merasa keberatan, ia hanya tidak mau ada seseorang yang menggangu istrinya. Apalagi sampai dekat-dekat Darin.
"Aku nggak suka banyak buaya yang deket sama kamu, ngerti!" jawab Arga dengan nada tegas menatap Darin.
Deg, ucapan Arga membuat Darin kaget bukan main. Mengapa Darin kembali dibuat bingung dengan sikap Arga hari ini. Kenapa Arga begitu posesif membuat Darin tidak percaya.
"What?" teriak Darin tidak percaya menatap Arga.
"Tolong berikan apa yang dia mau, kalau dia lelah suruh dia beristirahat di kamar pribadiku. Apapun yang dia mau tolong turuti, asal satu. Jangan sampai dia minta ditemani adik-adikku atau Pak Zein. Paham!" ucap Arga kepada sekretarisnya dengan tegas.
Sepertinya Arga begitu serius dengan ucapannya untuk menjauhkan dirinya dengan saudaranya. Tapi kenapa? Kenapa Arga begitu melarang Darin untuk dekat mereka.
"Arga!" teriak Darin memanggil Arga tidak percaya.
"Pokoknya kamu harus ikuti apa yang aku ucapkan!" tegas Arga kepada Darin sebelum dirinya meninggalkan Darin sendirian di ruangannya.
Melihat Arga yang sudah tidak mau mendengarkan ucapan istrinya membuat Darin pasrah dan menuruti perintah Arga. Sesaat Darin menghela napas panjangnya melihat kepergian Arga yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya.
Pertama yang ada di dalam pikiran Darin adalah, apa yang harus dilakukan olehnya sekarang di dalam ruangan Arga sendirian. Menunggu Arga selama dirinya meeting membuat Darin akan merasa sedikit bosan. Kedua bola mata Darin akhirnya menyisir ruangan kantor milik Arga.
Awalnya Darin merasa tidak begitu tertarik untuk melihat-lihat ruangan kantor suaminya, tapi rasa penasaran melebihi semuanya. Pertama kali yang ingin Darin eksplor adalah meja kerja Arga. Di sana tertulis dengan jelas Direktur Keuangan "Arga Rakyan Atmaja Wiguna".
Senyum simpul terlukis di bibir tipis Darin saat membaca nama lengkap suaminya, serta dirabanya papan nama yang berada di atas meja. Setelah selesai Darin menyapu semua yang ada di atas meja. Ia hanya menemukan beberapa foto Arga bersama keenam saudaranya dan kakeknya. Lalu foto Arga bersama dengan mamanya, tidak ada foto Arga bersama dengan papanya.
Memang sepertinya hubungan Arga dengan papanya tidak pernah akur sejak lama. Tidak begitu banyak foto di sana hanya ada tiga foto saya yang terpampang menandakan mereka adalah orang-orang yang sangat berharga bagi dirinya. Lalu beberapa laptop yang dipakai olehnya untuk bekerja.
Saat Darin hendak berjalan menuju lemari buku ada sesuatu yang menarik perhatiannya di atas meja, tatapan Darin yang tadinya terlihat biasa saja kini menjadi terpaku menatapnya.
Sesuatu yang dikenal olehnya dan tidak asing bagi Darin melihatnya. Itu seperti gelang yang hampir mirip dengannya, bentuk dan warnanya begitu sangat mirip dengan gelang yang pernah dimiliki Darin beberapa tahun lalu. Tapi apa benar gelang yang Darin lihat di atas meja kerja Arga adalah miliknya?
Dipegangnya gelang yang berada di dalam kotak kecil berwarna bening seperti digembok oleh pemiliknya. Secara seksama Darin terus memperhatikan gelang itu sambil mengingatnya, dan benar gelang yang dipegangnya saat ini begitu mirip dengan gelang yang pernah ia miliki, dulu. Tapi mengapa Arga memiliki gelang ini, dari mana Arga membeli gelang yang begitu mirip dengan milik Darin?
Gelang yang terbuat dari platinum berwarna silver dengan dipadukan ornamen berbentuk bintang dan liontin bulat adalah gelang yang Darin beli saat ia dan Rian sedang berlibur ke Yogyakarta. Di sana ada pengrajin gelang dan Darin meminta pembuatnya untuk membuat 2 buah gelang sesuai desainnya. Gelang yang hanya dimiliki oleh Darin dengan kakaknya karena Darin meminta ukiran untuk gelangnya dibuat khusus dan juga ada inisial hurufnya tertulis di salah satu ornamen bintang.
Sebisa mungkin Darin terus berusaha mencari inisial yang tertulis pada salah satu ornamen bintang untuk memastikan miliknya atau bukan. Bisa saja Arga membeli gelang yang mirip dengannya, tapi kenapa Arga harus disimpan di dalam kotak dan digembok seperti sesuatu yang sangat berharga.
Sampai beberapa menit akhirnya Drain menemukan yang dicari. Betapa terkejutnya Darin saat ia melihat ada inisial huruf D pada salah satu ornamen bintang, mirip seperti miliknya yang ia berikan kepada seseorang beberapa tahun lalu. Seseorang yang ditemui olehnya saat dirinya masih duduk di bangku SMP. Tapi mengapa gelang miliknya ada pada Arga? Apa mungkin jika Arga adalah lelaki yang pernah ditemui oleh Darin yang hampir 11 tahun lalu?
Tubuh Darin terdiam tak bergeming apa benar jika Arga adalah orang yang perah ditemuinya 11 tahun lalu? Orang yang pernah Darin selamatkan dari kecelakan mobil saat dirinya masih SMP? Orang yang didonorkan darahnya oleh Darin saat kritis? Apa benar jika Arga adalah lelaki yang pernah Darin temui untuk pertama kalinya di halte bus?
FLASHBACK 11 TAHUN LALU.
Sore hari langit kota Jakarta terlihat sedikit sendu karena sepertinya hujan akan turun tidak lama lagi. Biasanya menjelang senja langit kota Jakarta begitu cantik seperti seorang gadis berambut panjang yang sedang menunggu jemputan di halte bus. Gadis berseragam SMP yang baru saja duduk di kelas VII.
Wajahnya yang terlihat sangat ceria dan tenang selalu terpancar darinya. Sudah hampir setengah jam gadis bernama Darin menunggu jemputannya yang seharusnya sudah datang sejak tadi. Jarak halte bus dengan sekolah Darin memang sangat dekat hanya berjalan beberapa langkah saja. Darin memang tidak terlalu suka jika supir pribadinya mengantar jemput dirinya sampai depan sekolahan, justru Darin lebih senang ia diantar jemput beberapa langkah jauh dari gerbang sekolah karena Darin merasa sangat risih dengan teman-teman yang pura-pura baik kepadanya. Meskipun Darin anak dari keluarga berada tapi ia selalu tampil sederhana dan apa adanya.
Dengan menggunakan handset kedua telinga Darin menikmati musik kesukaannya sambil sesekali menatap langit yang sudah mulai menurunkan pasukannya, yaitu tetesan air hujan yang sedikit demi sedikit mulai turun. Memang beberapa hari ini kota Jakarta sudah diguyur hujan jika sore hari tiba membuat jalanan sedikit licin dan becek dengan genangan air.
Beberapa saat kemudian tetesan air hujan yang tadinya kecil kini mulai jatuh sedikit demi sedikit membesar, membuat beberapa pengguna kendaran bermotor memilih untuk berhenti untuk berteduh dari guyuran hujan. Begitu juga dengan sebuah sepeda motor yang berhenti di halte yang sama ditempati oleh Darin.
Seorang siswa lelaki memakai seragam SMA putih abu dengan helm yang masih melekat di kepalanya serta jaket berwarna hitam terlihat tergesa-gesa berhenti di halte. Darin yang tadinya terlihat cuek sambil mendengarkan lagu kini sedikit terganggu dengan kedatangan siswa SMA tersebut.
Dibukanya helm yang sedari tadi dipakai, lalu dirapihkan rambutnya menggunakan jari tangannya secara asal dengan kedua bola matanya menatap jalanan yang sudah basah dengan air hujan yang turun begitu deras. Keduanya masih terlihat saling acuh dan cuek tidak memperdulikan keberadaannya masing-masing meskipun mereka berdiri bersisian. Sebenarnya Darin tahu jika ada seorang siswa SMA yang berdiri disebelahnya namun tidak begitu tertarik.
Sampai akhirnya mereka saling menatap satu sama lain untuk pertama kalinya, ketika sebuah nada dering telepon berbunyi di antara merek berdua. Secara bersamaan mereka berdua melihat ponselnya masing-masing dan keduanya terlihat kaget saat tahu nada dering yang mereka berdua pakai sama bunyinya.
Deg, kedua bola mata mereka saling menatap satu sama lain di tengah dering ponsel yang saling berbunyi sedari tadi. Sepertinya mereka berdua sengaja tidak mengangkat teleponnya agar memastikan apakan dering ponsel mereka sama. Ternyata memang benar dering ponsel yang mereka pakai sama, ini adalah kebetulan antara mereka berdua. Sebuah lagu dari band luar negri Coldplay berjudul "Fix You".
Merasa lucu akan kejadian yang tidak sengaja membuat keduanya saling tertawa kecil satu sama lain, dan juga terlihat wajah keduanya begitu malu.
"Suka juga?" tanya lelaki yang berdiri di samping Darin yaitu dia adalah Arga dengan tatapan dingin terkesan datar.
"Banget," balas Darin tersenyum tipis sambil mematikan panggilan masuknya dari supir pribadi yang akan menjemputnya karena sedikit terlambat.
"Lagunya keren," timpal Arga terus memuji band kesukaannya tanpa mematikan panggilan masuknya lebih dulu seolah sengaja ingin didengarnya lebih lama lagi.
..."Lights will guide you home...
...And ignite your bones...
...And I will try to fix you"...
Darin Dan Arga bersenandung bernyanyi sedikit penggalan bait lagu secara bersamaan di tengah hujan yang deras sambil tersenyum malu. Wajah keduanya terlihat malu saat selesai menyanyikan sedikit lagu kesukaannya. Mereka berdua tidak menyangka jika mempunyai selera lagu yang sama.
"Udah pernah nonton konsernya?" tanya Darin memulai pembicaraan setelah suasana di antara mereka terlihat mencair.
"Belum. Lo?" Arga balik bertanya.
"Kita senasib," jawab Darin singkat membuat Arga tertawa ringan.
Sadar jika dirinya sedang dikejar waktu membuat Arga memutuskan untuk pamit kepada Darin. Karena Arga sedang ditunggu secepatnya oleh teman sekelasnya.
"Gue duluan. Semoga kita bisa nonton konsernya nanti," kata terakhir Arga berharap sebelum pergi sambil memakai helmnya dan Darin hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan kecil.
Meski hujan turun dengan deras tidak membuat Arga untuk tetap menunggu, ia memutuskan untuk menerobos hujan yang lumayan besar saat itu. Arga menyalakan mesin motornya dan pergi menantang hujan deras, belum sampai Arga pergi jauh dengan motornya terdengar suara benturan yang begitu sangat keras dan kencang membuat Darin begitu kaget.
Suara seperti rem mobil serta benturan kencang yang berbarengan. Darin mencari sumber suara itu dan melihat tidak jauh dari tempatnya ada sebuah kecelakaan antara sebuah mobil dan motor. Betapa terkejutnya Darin saat melihat sebuah motor yang terjatuh di aspal dengan bentuk berbeda dari yang dilihatnya tadi, serta ada darah didekatnya.
Darin baru ingat jika motor yang dilihatnya adalah motor siswa SMA yang baru saja mengobrol dan bernyanyi bersamanya tadi. Tanpa pikir panjang Darin berlari di tengah hujan menghampiri Arga yang mengalami luka parah karena sebagian tubuhnya masuk ke kolong mobil.
Belum ada orang yang datang untuk membantu karena hujan yang deras membuat semua orang yang melintas memilih untuk menghentikan perjalanannya. Tubuh Darin terasa lemas ketika melihat Darah yang keluar dari tubuh Arga. Dengan wajah kebingungan Darin berteriak meminta pertolongan.
Dibantu dengan seorang pengendara mobil yang lewat, Darin membawa Arga ke rumah sakit terdekat. Yang ada di pikiran Darin saat ini adalah menyelamatkan nyawa Arga meskipun ia tahu jika Arga adalah bukan orang yang dikenal olehnya. Mengapa Darin harus sejauh ini menolong Arga? Apapun alasannya dan jawabannya Darin tidak tahu. Yang ia tahu hanyalah menyelamatkan nyawa Arga.
Dengan baju yang basah kuyup Darin menunggu Arga yang sedang ditangani di ruang IGD. Wajah cantiknya terlihat sangat ketakutan dan khawatir karena darah Arga menempel di tangan dan baju seragam putih birunya. Apa yang harus Darin lakukan sekarang, bagaimana ia bisa menelepon keluarga lelaki yang sedang berada di IGD itu.
Ponsel, Darin mencari ponsel milik Arga namun sayang ia tidak menemukannya, sepertinya ada di saku celana Arga. Saat Darin sedang menunggu Arga, datanglah seorang suster yang menghampirinya dan bertanya tentang keberadaan keluarga pasien. Dari menceritakan semuanya dan juga tidak tahu bagaimana harus menghubungi keluarga korban. Akhirnya Darin menjadi penjamin bagi Arga saat ini, dengan menggunakan black card miliknya untuk membayar biaya perawatan Arga. Saat itu juga Darin menelepon Rian untuk meminta bantuannya. Hanya Rian yang tahu rahasia ini.
"Apa kamu keluarganya?" tanya dokter saat baru keluar dari ruang IGD mencari keberadaan keluarga Arga.
"Bukan, Dok. Aku temannya," jawab Darin berbohong.
"Kami membutuhkan golongan darah O+ atau O- untuk pasien. Karena pasien mengalami banyak pendarahan dan stock darah di sini sedang kosong," jelas dokter yang menangani Arga saat ini.
Kepanikan muncul kembali di hati Darin, bagaimana caranya ia mendapatkan golongan darah yang diminta oleh dokter saat ini. Ups, ia lupa jika golongan darah Darin adalah O-.
"Aku O-, Dok," ucap Darin yang baru sadar akan golongan darahnya dengan wajah penuh putus asa.
"Baiklah kita lihat."
Sebelum melakukan transfusi darah, Darin dicek lebih dulu golongan darahnya. Tidak menunggu waktu lama bagi Darin untuk melakukan tes, saat sudah mengetahui golongan darah Darin adalah yang dicari segera mungkin mereka melakukan transfusi darah kepada Arga.
Selama menjalani transfusi darah Darin berharap jika lelaki yang ditolongnya saat ini akan tetap hidup dan bisa bertahan sampai waktunya menonton konser Coldplay sesuai keinginannya.
"Please, bertahanlah. Inget janji lo yang mau nonton konser Coldplay," kata Darin bicara sendiri sambil menatap ke arah Arga yang terbaring tidak berdaya tidak jauh di samping Darin dengan luka yang cukup parah.
Sesudah melakukan donor darah, Darin meminta izin kepada dokter untuk melihat keadaan Arga sebentar saja sebelum pulang bersama Rian dan untungnya dokter mengizinkan Darin untuk melihatnya.
Tubuh Arga masih terbaring kaku dengan luka yang cukup banyak di bagian kepa, tangan dan kaki. Nanar mata Darin berkaca-kaca seolah sedih melihat lelaki yang baru saja berbincang dengannya. Air mata turun ke pipi Darin melihat keadaan Arga. Saat ini Darin berharap jika Arga akan cepat sadar dan kembali seperti semula.
"Cepatlah sadar," kata Darin di dalam hati sambil menatap Arga yang masih tak sadarkan diri.
Dibukanya gelang yang melingkar di tangan kanan Darin, itu adalah gelang keberuntungan bagi Darin. Dipakaikan gelang manik dengan ornamen bintang serta bulat ke tangan kanan Arga. Darin berharap jika Arga akan segera sadar dan baik-baik saja.
Sejak saat itu mereka berdua tidak pernah bertemu lagi sekalipun. Arga yang sudah sadar ketika tahu ada sebuah gelang di tanga kanannya dibuat penasaran akan siapa pemilik gelang itu. Suster bilang jika pemilik gelang yang dipakai oleh Arga adalah seorang gadis yang sudah menyelamatkan nyawanya. Dia membawa Arga ke rumah sakit serta mendonorkan darahnya. Dan sampai Arga pulang dari rumah sakit belum pernah satu kali pun Arga tahu siapa yang telah menolongnya. Hanya sebuah gelang yang menjadi saksi bisu keberadaan pemiliknya.