Ternyata 8 tahun bersama tidak menjamin cintanya bisa berpaling padaku, Aku tetaplah kalah dengan cinta pertamanya.
Maafkan Aku yang memilih menyerah, bukan karena aku tidak mencintaimu tapi aku lelah, lelah berjuang sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airarahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikah Yuk?
Jemima dan keempat temannya serta Kian sudah berada di sebuah restoran yang letaknya di pinggir pantai.
Saat Kian pamit untuk ke toilet, Yura memulai sandiwaranya.
"Kamu tahu gak Mima? Tadi aku dan Maria lihat Agam patah hati gara-gara Inez dijemput pacar barunya. Iya kan Mar?" Ucap Yura menggebu-gebu. Dia bahkan meminta pendapat Maria.
“Iya sih kayak murung. Tapi gak tahu karena apa. Jangan berburuk sangka dulu” ucap Maria yang tidak ingin menyakiti hati Jemima. Apalagi wajah Jemima terlihat langsung murung ketika mendengar cerita Yura yang menggebu. Maria jadi tidak tega melihatnya.
“Bukannya itu bagus Mima, artinya kamu ada kesempatan untuk mendapatkan hati Agam. Inez kan sudah punya pacar baru” hibur Nicky.
Yura mendelik pada Nicky, padahal dia sengaja membuat agar Jemima menjauhi Agam. Ini malah didorong untuk semakin maju.
“Kamu kenapa sih Nic? Nanti kalau Jemima hanya sebagai pelarian saja bagaimana?” kesal Yura.
“Cinta bisa tumbuh karena terbiasa, Semangat Mima” kini Nancy yang ikut menyemangati.
Yura semakin kesal.
“Ini kenapa semuanya jadi dukung Mima sih?” gerutunya kesal.
….
Jemima sengaja datang ke kantor Agam saat makan siang. Dia membawakan Agam makan siang yang memang dia masak sendiri. Jemima seperti tidak peduli dengan apa yang Yura katakan beberapa waktu lalu. Dia tetap akan berjuang mendapatkan hati Agam.
“Aku di lobby kantormu” tulis Jemima pada pesan yang dia kirim pada Agam.
Agam tentu tidak menyangka kalau Jemima sampai mendatanginya di kantor. Melirik jam di pergelangan tangannya yang beberapa menit lagi jam istirahat, Agam pun berpamitan pada teman-teman seruangannya untuk menemui Jemima. Langkahnya sedikit memburu.
“Kok gak bilang dulu mau kesini?” tanya Agam.
“Kan surprise” jawab Jemima dengan cengiran.
Agam tertawa kecil.
“Aku juga bawain kamu makan siang” Jemima memperlihatkan paper bag yang dia bawa.
Agam tersenyum.
“Ayo kita makan disana” tunjuk Agam pada tempat yang memang dipergunakan karyawan untuk makan siang. Meja bundar yang di atasnya terdapat payung seperti di restoran-restoran, serta taman bunga yang bisa memanjakan mata. Selain mereka sudah ada beberapa karyawan yang juga beristirahat disana.
Jemima mengeluarkan isi dari paper bag miliknya. Terdapat 4 kotak makanan dengan isi yang bervariasi serta dua botol air mineral.
Kotak pertama dan kedua isinya sama. Masing-masing untuk Jemima dan Agam. Ada Nasi putih, Ayam teriyaki dan tumis buncis. Di kotak ketiga ada kimbab dan di kotak terakhir ada potongan buah semangka lengkap dengan tusukannya.
Agam menatap tidak percaya pada makanan yang berjejer di depannya.
“Aku masak sendiri lho” ucap Jemima.
“Kamu sudah cocok jadi istri” ucap Agam, “Terima kasih ya” lanjutnya.
Jemima terkejut karena Agam mengatakan kalau dirinya sudah cocok jadi istri. Tapi pertanyaanya istri siapa?.
“Kalau aku mau jadi istri kamu saja bagaimana?” tanya Jemima sengaja menggoda. Dia tersenyum sangat manis.
“Nikah yuk?” lanjutnya. Tentu saja itu keisengan semata. Jemima sangat yakin kalau Agam bukanlah pria yang memiliki prinsip untuk menikah muda.
“Yuk” jawab Agam tak terduga.
“Serius?” tanya Jemima meyakinkan.
Agam menganggukkan kepala.
“Kenapa tidak?” Agam balik bertanya. Dia sudah mulai memakan makanan yang Jemima bawakan.
Jemima semakin syok. Agam sendiri bersusah payah menahan tawanya. Jemima yang kebingungan seperti ini memang sangat menggemaskan dimatanya.
“Bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka mengizinkan kamu menikah muda?” tanya Jemima pula.
Agam menganggukkan kepala.
“Jangan pikirkan keluargaku. Lebih baik kamu pikirkan kedua orang tuamu” jawab Agam.
Jemima mengangguk sambil tersenyum. Entahlah Jemima tidak bisa berpikir jernih saat ini. Mungkin orang-orang beranggapan kalau dia adalah perempuan bodoh yang dibutakan cinta serta mengatakan kalau menikah tidak segampang itu. Menikah bukan hanya tentang cinta saja.
…..
Jemima saat ini sudah berada di ruang tamu bersama Ayah dan Ibunya. Dia sudah bertekad untuk meminta izin menikah dengan Agam.
“Pa, dari dulu aku kan tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan sama Papa. Boleh tidak sekarang aku meminta sesuatu yang wah” pinta Jemima.
Alex tampak menebak-nebak apa yang putrinya inginkan. Liburan ke luar negeri? Mobil? Atau melanjutkan S2 di luar negeri? Tas Mewah? Perhiasan?. Itulah yang kira-kira ada dalam pikiran Alex.
“Iya, kamu mau minta apa?” tanya sang Papa.
“Papa harus berjanji dulu untuk mengabulkannya” mohon Jemima. Matanya sudah menyiratkan pengharapan. Alex menganggukkan kepalanya.
Jemima langsung bersorak.
“Terima kasih papa” ucap Jemima dan langsung memeluk Papanya.
“Memangnya kamu minta apa?” Felicia tentu penasaran apa yang putrinya inginkan.
Jemima melepas pelukannya pada sang Papa.
“Tunggu sebentar” ucapnya lalu berlari ke dalam kamar. Jemima hendak mengambil surat perjanjian yang sudah dia buat. Pihak pertama adalah papanya dan Pihak kedua adalah dirinya sendiri. Disana diterangkan bahwa Alex akan menuruti apapun keinginan Jemima tanpa terkecuali. Dia bahkan sudah membubuhi materai 10.000 disana. Setelah semuanya siap, Jemima membawa surat perjanjian itu dan meminta Alex untuk menandatanganinya.
Alex membaca semua pasal-pasalnya dengan baik.
“Memangnya kamu mau apa dari papa? Mau perusahaan? Tidak perlu nak, itu sudah jadi milikmu” ucap sang Ayah setelah membaca semuanya.
“Pokoknya tanda tangan dulu” mohon Jemima.
Alex menyetujuinya, dia pun menandatanganinya. Jemima kembali bersorak. Dia langsung membawa surat perjanjian itu ke dalam kamar. Wajahnya sangat berseri-seri. Terlihat sekali kalau dia sangat bahagia.
“Kira-kira dia minta apa ya pa?” tanya Felicia penasaran.
Alex pun menggelengkan kepalanya.
Tak berapa lama Jemima pun kembali ke ruang keluarga.
Dia duduk berseberangan dengan kedua orang tuanya. Alex mengambil teh yang ada di atas meja dan mulai meminumnya sedikit demi sedikit.
“Kamu mau apa memangnya sayang?” tanya Felicia sekali lagi.
“Aku mau menikah dengan Agam Ma, Pa” jawab Jemima.
Brushhh….
Seketika saja Alex menyemburkan teh yang dia minum. Felicia sendiri sudah memekik.
“Apa??????” pekik Felicia saking syoknya.
“Kamu tahu apa yang kamu katakan tadi? Menikah itu tidak mudah Mima” kesal sang Ibu.
Alex mengelap mulutnya dengan tisu. Dia menatap lekat sang putri yang saat ini sedang menunduk.
“Kamu serius ingin menikah?” tanya Alex.
“Pa…jangan pernah kamu kasih izin” ancam Felicia.
Jemima menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Ayahnya. Matanya sudah berkaca-kaca karena takut tidak diberikan restu. Dapat Alex lihat kalau putrinya tadi begitu bahagia saat dirinya mau menandatangani surat perjanjian.
“Papa tidak akan melarang bila kamu memang ingin menikah dengan Agam” ucap Alex tak terduga.
“Pa…” Felicia semakin kesal. Nada suaranya sudah meninggi.
“Pokoknya Mama tidak setuju” pekiknya kesal.
“Kalau anak kita suka kamu mau apa? Jangan seperti di sinetron nanti kamu mendatangi keluarga Agam dan menawari uang agar menjauhi putri kita” tegas Alex.
Felicia menggerutu tapi tidak bisa membantah. Dia bangkit dari duduknya dan pergi dari sana. Jemima langsung berlari ke pelukan sang Papa.
“Makasih Papa” Jemima sudah menangis sekarang.
Alex membalas pelukan putrinya.
“Tapi kamu tidak hamil kan?” tanya sang Papa.
“Enggak pa, anakmu ini gadis baik-baik”.
Bersambung...
ini pendapat ku 🙂