Rasa dendam yang ada dalam diri Sagara membuat pria itu hanya fokus pada hari dimana ia bisa membalaskan rasa dendamnya. Kematian sang Kakak karena salah satu geng motor membuat ia melakukan segala cara agar ia bisa membalas kematian tersebut. Ia tidak pernah ikhlas. Ia membuat sebuah geng motor untuk tujuan balas dendam tersebut. Namun siapa sangka, ia malah bertemu dengan Danica, perempuan cantik asal Jakarta yang tiba-tiba memohon padanya agar mau mengalah dan membiarkan Danica yang mendapatkan nilai terbaik di kampus. Karena pada dasarnya, Sagara menjadi salah satu mahasiswa jenius di kampusnya. Bagaimana dengan kisah mereka? Apakah Sagara akan membantu Danica? Atau Sagara akan membiarkan Danica dan hanya fokus pada hari dimana ia membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon awnxbru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugur
Tubuh Danica sebenarnya sudah benar-benar lemas, ia ingin segera beristirahat, namun ia yakin hanya tidur tidak akan cukup untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Tepat pukul 2 siang, Geng Aodra sudah dimasukkan kedalam tempat peristirahatan mereka yang terakhir. Danica tidak bisa menangis lagi. Ia sudah benar-benar lelah. Geng Aodra dimakamkan dalam posisi sejajar. Dipaling ujung sebelah kiri adalah makan milik Kaivan, disampingnya adalah makam Sagara. Dan dijajaran berikutnya adalah makam milik Janu dan Rafa.
Pada makam Kaivan, Danica bisa melihat seorang pria paruhbaya yang sedari tadi terus menangis namun dalam diam. Pria itu tidak terisak, namun air mata terus mengalir dikedua matanya. Tangannya tidak berhenti mengelus batu nisa milik Kaivan.
Pada makam Sagara, Danica melihat sosok seorang ibu yang menangisi anaknya. Wanita itu terlihat sangat pilu. Ia tak henti-hentinya menangis sembari memeluk batu nisan milik Sagara. Hati Danica terenyuh melihat hal tersebut.
Sedangkan untuk makam Janu, Danica melihat sikembar. Dua pria yang masih kecil itu menangis dengan sangat keras. Bahkan untuk sosok pendiam seperti Iyan, pria kecil itu menangis dengan sangat keras pada makam Janu. Dua pria kecil itu masih terlalu muda untuk ditinggalkan oleh sang Kakak. Danica bisa melihat tangan kecil milik Iran yang meremas tanah makam milik Janu dengan kuat. Pria kecil itu benar-benar tidak bisa menerima kematian sang Kakak.
Lalu terakhir, untuk makam Rafa. Ada seekor anjing yang sedari tadi terus menggonggong tepat dimakan Rafa. Anjing itu adalah Roi, anjing kesayangan Rafa. Bukan hanya manusia yang tidak menerima kematian Geng Aodra, namun makhluk hidup yang lainnya juga. Bahkan alam pun ikut merasakannya. Cuaca siang ini sangat mendung, awan berwarna abu-abu menghiasi langit diatas pemakaman Geng Aodra.
Sedari tadi, Danica menyenderkan tubuhnya pada sang Ibu. Wanita itu sudah tidak bisa menopang tubuhnya sendiri. Untungnya ada sang Ibu yang mau memeluknya dengan erat dan mengelus bahunya agar Danica bisa merasa tenang walaupun sedikit.
“Danica, mau sampai kapan disini?”
Julian, Ayah Danica tiba-tiba berdiri disamping Danica. Mendengarkan hal tersebut, Danica hanya diam karena ia tidak tahu harus menjawab apa. Danica tidak ingin pulang, karena rumah ternyaman yang pernah ia temukan sudah hilang.
Kedua mata Danica menatap nanar keempat makam tersebut. Bukan hanya itu, ia juga merasa sangat sedih dengan orang-orang yang hadir pada makam Geng Aodra. Danica melihat ada banyak sekali orang yang datang dan ikut menangis di sekeliling makan itu. Danica yakin, orang-orang tersebut adalah anak didik Geng Aodra, mereka yang tinggal di panti asuhan milik Geng Aodra.
Pikiran Danica melayang. Ia memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya. Bagaimana kehidupannya tanpa Geng Aodra. Bagaimana kehidupan keluarga mereka, terutama sikembar. Lalu bagaimana dengan panti asuhan yang sudah mereka bangun dengan susah payah sampai sekarang? Danica meremas tangannya. Banyak sekali hal yang ditinggalkan oleh Geng Aodra.
“Danica.” Panggil Julian lagi.
“Ayah.” Danica menoleh pada Julian, “Banyak banget hal yang mereka tinggalin, Ayah.” Danica menggigit bibir bawahnya dan sekuat tenaga agar tidak terisak lagi. “Danica yang bakal urusin semuanya, termasuk sikembar. Bolehkan, Ayah?”
“Danica-”
“Danica gak minta yang macem-macem, Ayah. Danica yakin bisa urus semuanya dan nilai Danica gak akan pernah turun lagi, Danica janji.”
Julian terlihat menghembuskan nafasnya dengan kesal. Matanya melihat pada keberadaan sikembar yang dimaksud oleh Danica. Tangisan kedua pria itu masih menghiasi makam tersebut. Julian menelan ludahnya pelan dan kembali menatap Danica.
“Danica mohon, Ayah. Cuma ini yang bisa Danica lakuin buat Sagara.”
Lagi-lagi Julian menghembuskan nafasnya dengan kesal. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa harus putrinya yang bertanggung jawab setelah kematian geng tersebut. Namun Julian kali ini merasa iba melihat putrinya yang menangis kencang bukan karena pukulan yang ia berikan. Wanita itu menangis karena sosok yang ia cintai pergi meninggalkannya dan hal ini hampir membuat Danica kehilangan akal. Hal ini baru pertama kali ia lihat dari anaknya.
“Mereka bakal tinggal sama kita?” Tanya Julian pada akhirnya.
Sedikit senyuman muncul di bibir Danica,
“Boleh?”
“Terserah kamu aja. Yang penting nilai kamu aman, itu aja yang Ayah mau.” Ucap Julian pada akhirnya.
“Makasih Ayah!”
Julian tersentak ketika Danica yang secara tiba-tiba memeluk dirinya dengan erat. Entah sudah berapa lama ia tidak merasakan pelukan erat seperti ini dari putrinya, mungkin terakhir kali adalah ketika wanita itu masih duduk di sekolah menengah pertama?
Sembari memeluk Ayahnya, Danica memperhatikan keadaan sekitar. Ia berpikir, apakah ia bisa melanjutkan apa yang sudah Geng Aodra bangun selama ini? Apakah ia bisa menjadi kakak yang baik untuk sikembar? Apakah ia bisa mengurus panti asuhan yang sudah mereka buat? Apakah Danica bisa melanjutkan balas dendam Sagara? Apakah Danica bisa mewujudkan mimpi anak SMA yang berteman hingga akhir hidup mereka?