Ijab qabul yang diucapkan calon suaminya, seketika terhenti saat dirinya pingsan. Pernikahan yang diimpikan, musnah saat dirinya dinyatakan hamil. Terusir, sedih, sepi, merana dan sendirian. Itulah yang dirasakan oleh Safira saat ini.
Dalam keputusasaan yang hampir merenggut nyawanya, Safira dipertemukan dengan sosok malaikat dalam wujud seorang pria paruh baya. Kelahiran anak yang tidak diharapkan, justru membuat kehidupan Safira berubah drastis. Setelah menghilang hampir 6 tahun, Safira beserta sepasang anak kembarnya kembali untuk membalas orang-orang yang telah membuatnya menderita.
Satu per satu, misteri di balik kehamilan dan penderitaan Safira mulai terkuak. Lalu, siapakah ayah dari si kembar jenius buah hati Safira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Adam dan Safina
Hari ini, entah kenapa Mommy Clara sangat merindukan mendiang suaminya. Padahal, sebulan yang lalu tepat di tanggal kematiannya, dia baru saja berziarah ke makam sang suami.
Karena tidak sanggup menahan rasa rindunya, Mommy Clara pun menghentikan pekerjaannya. Dia meraih mantel dan juga tas tangannya. Sejurus kemudian, Mommy Clara keluar dari ruang kerjanya.
"Sel, tolong cancel semua jadwalku. Atur ulang untuk hari besok," perintah Mommy Clara kepada sekretarisnya.
"Baik, Nyonya," jawab Sela.
"Satu lagi, jika Kenzo bertanya, katakan saja aku berziarah ke makam ayahnya," imbuh Mommy Clara.
"Siap, Nyonya!" sahut Sela.
Selesai memberikan pesan kepada sekretarisnya. Mommy Clara pun segera memasuki lift khusus untuk turun ke bawah. Namun, sebelumnya dia menghubungi sopirnya untuk menjemput di lobi utama.
Di tempat pemakaman umum.
Mommy Clara membersihkan dedaunan kering di sekitar makam suaminya. Untuk beberapa menit, dia termenung di hadapan nisan suaminya. Sekelumit masa lalu kembali terbayang dalam ingatan Mommy Clara.
"Tidak, Clara! Sudah cukup semua penghinaan ini. Aku tidak bisa terus berpangku tangan. Sekarang juga, kemasi barang-barang kamu dan kita kembali ke negaraku!"
"Tapi, Mas. Ini hanya salah paham saja. Daddy cuma bertanya tentang keadaan perusahaan kepadamu. Dia tidak menuduhmu melakukan penggelapan keuangan perusahaan," sahut Clara.
"Tidak menuduh katamu? Lalu untuk apa polisi datang ke kantor dan menyeretku seperti seorang koruptor saja!"
pria itu membantah ucapan istrinya.
"Tapi, Mas."
"Cukup, Clara! Selama ini, aku diam dengan semua penghinaan keluargamu, itu demi kamu! Semua itu demi keutuhan rumah tangga kita. Namun, kali ini ayah kamu sudah sangat keterlaluan. Aku tidak akan pernah terima jika dia menyinggung harga diriku!"
"Harga diri katamu, Adrian? Cih! Harga diri seperti apa yang kau punya? Kau tidak lebih dari seorang pecundang yang hanya bisa menumpang hidup pada istrimu!"
Prang!
Sebuah guci besar menjadi sasaran kemarahan pria itu. Hingga tanpa berkata apa-apa, tubuh tegapnya melangkah keluar dari rumah megah milik mertuanya.
"Mas, tunggu! Mas!" teriak Clara.
"Sudahlah, Clara! Biarkan pecundang itu pergi! Sekarang, kamu sudah tahu watak dia yang sebenarnya, 'kan? Dia menikah hanya demi perusahaan kamu!" teriak Tuan Arthur.
Clara tidak bisa membantah ayahnya. Dia hanya bisa menangis menangis sembari memeluk anaknya yang masih berusia 2,5 tahun. Dia tidak menyangka jika sikap suaminya bisa sekasar itu.
Clara sendiri tidak tahu apa yang menjadi penyebab kemarahan suaminya. Satu-satunya yang dia tahu, ada penyalahgunaan dana perusahaannya yang saat ini dipegang oleh suaminya. Dan pihak kepolisian menangkap Adrian sebagai saksi.
Malam semakin larut. Namun, bayangan Adrian sama sekali tidak nampak. Hingga menjelang pukul 10 malam, pihak kepolisian datang membawa kabar duka.
"Tidak!"
Tanpa sadar, Mommy Clara berteriak keras. Napasnya terlihat memburu cepat.
Kenzo yang tengah berjalan menghampiri makam ayahnya, sontak berlari agar segera sampai di tempat. Tiba di depan pusara sang ayah, Kenzo segera mendekap Mommy Clara yang sudah menangis sesenggukan.
Setiap berziarah ke makam ayahnya, kejadian seperti ini memang selalu saja terjadi. Setelah termenung beberapa saat, Mommy Clara selalu berteriak histeris dan menangis. Entah apa yang menjadi lamunannya. Setiap kali Kenzo bertanya, Mommy Clara tak pernah menjawabnya.
"Sudah cukup, Mom. Kita pulang!" ajak Kenzo setelah tangis ibunya reda.
"Tunggu sebentar, Nak. Mommy masih merindukan daddy kamu," tolak Mommy Clara.
Kenzo mengangguk. Dia pun kembali membiarkan ibunya menabur bunga di pusara sang ayah.
"Kamu benar, Mas. Aku menyesal karena aku tidak pernah mempercayai kamu. Akan tetapi, untuk saat ini penyesalan pun tidak pernah ada gunanya. Kamu pergi, Mas. Kamu telah pergi tanpa menoleh ke belakang. Bahkan, kamu pun tega meninggalkan aku dan Kenzo. Kamu pergi untuk selamanya dari kami. Aku merindukan kamu, Mas. Aku sangat merindukan kamu." Lirih Mommy Clara.
Kenzo hanya mampu merangkul ibunya untuk menguatkan. Sebenarnya, hati Kenzo pun rapuh. Dia sendiri bahkan tidak tahu penyebab kecelakaan ayahnya. Setiap kali bertanya, hanya isak tangis sang ibu yang menjadi jawabannya.
Beberapa menit berlalu. Setelah puas mencurahkan kerinduan dengan menatap pusara sang suami. Mommy Clara dan Kenzo pun meninggalkan TPU.
🌷🌷🌷
Di Indonesia, tepatnya di kota Bandung.
"Saudara Adam Djaelani. Saya nikahkan, dan saya kawinkan engkau kepada Ananda Safina Anandhini binti Jodi Muhamad Yusuf dengan maskawin seperangkat alat shalat beserta uang tunai sebesar 500 juta, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Safina Anandhini binti Jodi Muhamad Yusuf dengan maskawin seperangkat alat shalat dan uang tunai sebesar 500 juta dibayar tunai!"
Akhirnya, dengan lantang, ijab qabul itu terucap dari bibir Adam.
"Bagaimana para saksi, apakah sudah sah?" tanya pak penghulu.
"Alhamdulillah, saaah!" jawab serempak para saksi.
Safina tersenyum lebar ketika kata sah menggema di ruang tamu yang menjadi tempat akad pernikahannya. Begitu juga dengan keluarga kedua mempelai yang akhirnya bisa bernapas lega.
Tanpa terasa, air mata menggenang di kedua pelupuk mata Riska, ibu dari Safina. Setelah 6 tahun tanpa kepastian, akhirnya putri tunggalnya bisa tersenyum bahagia setelah resmi menyandang gelar Nyonya Djaelani.
Selesai akad. Pengantin lantas berjalan menuju pelaminan. Di sana, pasangan pengantin baru itu melakukan berbagai macam prosesi pernikahan dengan adat Sunda. Rasa haru menyentuh hati para tamu undangan ketika sepasang pengantin itu melakukan prosesi sungkeman.
Begitu juga dengan kedua orang tua mempelai. Menyadari jika putra putri mereka sama-sama anak tunggal, rasa haru menyeruak di hati masing-masing.
"Setelah ijab qabul terucap. Bukan hanya aku dan kamu lagi di antara kalian. Namun, sudah menjadi kita. Karena itu Oma berpesan kepada kalian, ingatlah komitmen kalian saat memutuskan untuk menikah, dan jagalah komunikasi di antara kalian. Sesibuk apa pun pekerjaan kalian, luangkan sedikit waktu untuk saling memberi kabar. Jika terjadi masalah ataupun pertengkaran, selesaikan sampai tuntas. Dan yang paling utama, hindari pemikiran negatif terhadap pasangan. Supaya bisa tercipta kerukunan dan keharmonisan dalam berumah tangga."
Oma Halimah memberikan pesan yang cukup panjang lebar untuk pasangan pengantin baru.
Selesai semua prosesi adat. Pasangan pengantin itu pun duduk di singgasananya untuk menerima do'a dan restu para tamu undangan. Hingga acara resepsi pun digelar begitu mewah.
Begitu banyak para tamu undangan yang hadir. Entah itu dari kalangan pengusaha, sebagai kolega dari orang tua Safina, ataupun dari kalangan pejabat, yang merupakan tamu undangan keluarga pihak mempelai laki-laki.
Tak lupa, pernikahan mewah ini pun menjadi liputan utama berbagai media di kota ini, hingga disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta.
"Baiklah, acara kami kembalikan kepada saudara Nuri yang berada di studio utama, silakan Nuri, liputannya!" ucap salah satu presenter televisi yang berada di luar aula milik keluarga Oma Halimah.
🌷🌷🌷
Di lain tempat.
Safira hanya duduk termangu menyaksikan siaran langsung tersebut. Entah perasaan apa yang sedang bergemuruh di hatinya. Senang, sakit, kecewa dan bahagia, semuanya bercampur aduk menjadi satu.
"Selamat atas pernikahan kalian, Mas, Fina," gumam Safira.
"Pernikahan siapa, Mom?"