Desri Winandra, gadis yang dibayar menikahi lelaki lumpuh untuk melunasi hutang-hutang biaya pengobatan almarhum ayahnya.
Ternyata lelaki lumpuh itu Arkhan Ghani, dia tak lain CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Lelaki yang selama dua tahunan ini dia kagumi. Lelaki yang begitu dingin dan seolah bersikap tidak menyukainya.
Dibalik kisah hidupnya yang penuh lika-liku dan penderitaan yang selalu datang bertubi-tubi, Desri memiliki sikap tegas, baik, tulus dan penyayang.
Di dalam kisah mereka, kalian juga akan tertarik dengan beberapa karakter pendukung lainnya yang menjadi lakon utama pada diri mereka masing-masing. Terutama sang pengawal tampannya keluarga Arkhan.
Mampukah Desri melalui penderitaan yang bertubi-tubi menghampirinya?
Dapatkah dia memikat hati Arkhan yang dikaguminya selama dua tahun itu?
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CURHAT
Setelah Desri mengambil tas jinjing dan ponselnya dari kamar Yuni, Desri teringat dengan pesan pak Johan semalam, yang membuat dia akan berangkat ke kantor lebih awal pagi itu.
Tetapi semua malah di luar dugaannya, karena tiba-tiba mama mertuanya yang jatuh pingsan.
Dia merogoh kembali tasnya untuk memastikan flashdisk di dalamnya ada atau tidak.
Endro yang sedari tadi sudah stand by menunggui dirinya, menghampiri Desri di pintu rumah utama.
"Nona jadi ke kantor hari ini?" Tanya Endro.
"Jadi..." Jawabnya singkat tanpa menoleh.
"Kalau begitu saya antar ya, Nona..." Tawar Endro.
"Tidak usah, Endro... Saya sudah memesan ojek online." Elak Desri.
"Tapi, Nona..." Sanggah Endro khawatir.
Desri meraih tangan Endro. Dan menatap lekat wajah pengawal tampan itu.
"Saya tau kamu begitu sangat menyayangi keluarga ini... Terlihat sekali kamu dengan memerhatikan Yuni tadi... Kamu seperti kakak laki-laki kedua baginya, Endro..." Tutur Desri.
"Selepas saya ke kantor, saya ingin mengunjungi ibu saya. Saya merindukan beliau... Permasalahan di kantor pun saat ini juga sudah mulai habis kecuali dengan satu perusahaan lagi. Setelah semua selesai, saya akan kembalikan kepada kamu. Tolong jaga mereka, Endro. Terima kasih telah mengenalkan saya kepada mereka." Pinta Desri memelas. Matanya yang sayu dan sedikit membengkak menggambarkan kalau dia habis menangis.
Endro tidak menjawab. Sesaat, dia memutar pandangannya. Desri pun berlalu meninggalkan Endro yang berdiri menatap kosong ke sembarang arah.
Kenapa kau sok tegar, Nona???~ Gumam Endro sambil mengambil pandangannya kepada Desri lagi.
Dia memutar tubuhnya hendak masuk ke dalam rumah. Tetapi sekilas matanya menangkap bayangan Arkhan.
Saya tau sebenarnya anda memerhatikan saya dan nona Desri tuan. Tetapi kenapa kau begitu acuh? Memangnya seperti apa perempuan yang dulu kau incar itu? Saya panasaran... Apa dia jauh lebih baik dari nona Desri?~ Gumam Endro bertanya-tanya.
Endro pun masuk dan berdiri di depan pintu kamar Nur.
***
"Selamat datang, Nona..." Begitulah sapaan yang Desri terima setiap kali melalui karyawan dan staff Ghani Group ketika dia hendak masuk ke ruang kerjanya. Desri pun membalas sapaan mereka sambil tersenyum sedikit dipaksakan. Bagaimana tidak? Kejadian tadi pagi belum sepenuhnya lenyap dari pikirannya.
Sesampainya di ruangan kerja. Dia mengunci rapat pintu ruangan itu. Desri tak langsung duduk dan memulai pekerjaannya.
Desri berjalan menuju foto papa mertuanya yang terpampang indah di ruangan itu.
"Maafkan Desri, Papa... Tadi pagi Desri marah-marahin anak Papa. Desri kesal saja, Pa... Jadi selama ini Arkhan memencet tombol remot alarm untuk itu. Desri tidak pernah tau, Pa... Harusnya Desri yang melakukannya sebagai istrinya... Desri sadar Arkhan tidak menginginkan Desri sebagai istrinya... Tapi setidaknya jangan merepotkan mama seperti itu." Tutur Desri mengadukan isi hatinya kepada foto mertuanya itu.
Sebelum kemudian dia melanjutkan ucapannya, Desri mengusap kasar pipinya yang basah.
"Semua permasalahan kantor sudah Desri atasi, Pa... Tinggal satu lagi... Si licik Ferdian... Desri janji akan menuntaskannya terlebih dahulu, kemudian Desri serahkan semuanya kepada Endro yang kata Yuni orang kepercayaan Papa... Papa hebat... Papa bisa menemukan orang seperti Endro..." Desri tersenyum simpul setelah bisa mengeluarkan isi hatinya meski hanya pada foto papa mertuanya yang tersenyum itu.
Sebenarnya sedari tadi sudah ada beberapa kali ketukan dari luar. Tapi Desri tak berkutik dari tuturnya yang panjang lebar di depan foto papa mertuanya itu.
Desri menarik napas tenang dan mengeluarkannya kembali. Kemudian dia beranjak membuka kunci pintu ruangan itu dan segera mendapati pekerjaannya.
Desri memencet table phone yang ada di depannya.
"Mbak Lina, tadi siapa yang hendak bertemu saya???" Tanya Desri ketika telponnya tersambung.
.....
"Oh iya baiklah, mbak Lina... Katakan saya sekarang menunggu."
.....
"Ya... Terima kasih, mbak Lina" Sahut Desri dan kemudian meletakkan gagang telepon kembali.
Tok...Tok...Tok...
Orang yang ditunggu Desri pun sepertinya telah datang.
"Masuk..." Sahut Desri.
Seseorang masuk dari luar dengan percaya dirinya.
Desri masih menunduk melihat beberapa dokumen, dan ketika dia mengangkat wajahnya, Desri terkejut. Matanya membulat dan tak ada bedanya dengan orang yang datang. Mereka sama-sama terkejut.
.
.
.
.
.
dulu iparku anemia , bukan amnesia biasa ada jenisnya jg , selalu operasi melahirkan anaknya ... Alhamdulillah selamat .
semoga ada keajaiban untuk Desri .
kasihan klo Desrinya metong .
perempuan utama baik begitu.
sementara ayah arkhan bisa aja sengaja di celakai jg , sama halnya seperti arkhan.
jodoh Yuni siapa ya .
rival atau Endro
kasihan jg si Endro .
apa maksudnya dengan mentari yang sama?🤔
enakan melawak aja ndro jangan ganti profesi🤭😁
kakak ipar idaman
menantu idaman.