Caitlin Magnolia, seorang gadis cantik yang jatuh cinta pada Aaron Smith, vampire cerdas dan tampan pemilik perusahaan mebel tempat Caitlin bekerja. Aaron berusaha menyembunyikan jati dirinya sebagai seorang vampire, namun seiring berjalannya waktu akhirnya Caitlin mengetahui bahwa Aaron merupakan sesosok vampire.
Perbedaan ras tak menyurutkan cinta di antara mereka, bahkan Aaron memberanikan diri untuk memperkenalkan Caitlin ke keluarga vampir-nya. Hal ini tentu saja menimbulkan goncangan pada hubungan mereka.
Keluarga besar vampir dari orangtua Aaron, dengan keras menentang hubungan mereka, bahkan Frank Smith, paman dari Aaron mengancam nyawa Caitlin jika Aaron tak memutuskan hubungan kisah asmaranya.
Lantas bagaimana mereka menyelesaikan masalah ini?
Kelanjutan kisahnya dapat kalian baca di novel The Hunter Bloods.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER - 28
Bersamaan dengan sopir taxi menanyakan alamat lengkapnya, bersama dengan itu pula Frank kembali menghubunginya. Caitlin mendekatkan gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar.
Hanya berdering satu kali.
“Halo, Caitlin,” suara tenang itu menyambut di ujung telepon. “Kau mengangkat telepon dengan sangat cepat. Aku sungguh sangat terkesan.”
“Apakah ayahku baik-baik saja?” tanya Caitlin cemas.
“Dia sangat. Jangan khawatir, Caitlin. Aku sama sekali tak berselera dengan darah paruh bayanya ayahmu, kecuali jika kau tidak datang sendirian,” ucpnya ringan,
“Kau tidak perlu khawatir, aku benar-benar sendirian," ucap Caitlin dengan tegas, ia bahkan tak pernah sesendiri ini seumur hidupnya.
“Bagus sekali. Sekarang, apa kau tahu rumah produksi mebel perusahaan Aaron yang terbaru yang berada di ujung jalan arah kantormu?”
Caitlin terdiam sejenak, mengingat-ingat rumah produksi itu. Seingatnya itu belum buka karena masih tahap pembangunan. “YA, aku tahu."
"Well, kalau begitu, kita akan bertemu sebentar lagi.” Frank menutup telepon.
Caitlin langsung memberi tahu sang sopir taxi, untuk mengantarnya ke rumah produksi. Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit dari alun-alun menuju rumah produksi.
Sesampainya di rumah produksi, Caitlin memberikan seluruh uang yang berada di sakunya kepada sang supir taxi. "Terima kasih sudah mengantarku, ambil saja kembaliannya."
Caitlin keluar dari mobil ketika sang sopir masih menghitung uang yang ia berikan, saat Caitlin hendak berlari masuk, sang sopir taxi melongok dari balik kaca jendela mobilnya. "Ini sih bukannya lebih mba, tapi kurang," protes sang sopir.
"Ya aku hutang dulu, jika kita bertemu lagi maka hutangku lunas," tukasnya, tak ada waktu untuk ke ATM mengambil uang, jadi ia menyerahkan semua uang cash yang ia miliki.
"Cantik doang, tapi tukang ngutang," sang sopir bersorak kesal, kemudian ia memutar arah mobilnya, dan pergi meninggalkan Caitlin.
Tak ada waktu untuk meladeni sang sopir taxi, Caitlin kembali fokus pada ayahnya yang di sekap Frank di dalam. Caitlin berlari masuk, namun la merasa sangat lamban, menyusuri halaman depan. Ia seperti berlari di pasir basah yang seolah-olah aku tak memiliki kekuatan untul menyusuri jalanan ini.
Beberapa kali Caitlin terpeleset, sekali jatuh, Caitlin menhan tubuhnya dengan tangan, lalu tertatih-tatih bergerak maju. Hingga akhirnya Caitlin sampai di depan pintu, Caitlin melihat papan tanda di balik pintu. Ditulis tangan di atas kertas putih menyala, tulisan itu berbunyi ‘Belum di buka, masih tahap pembanguanan. Hanya pekerja yang boleh masuk!!’
Caitlin tak peduli dengan tulisan itu, ia tetap menyentuh gagang pintunya, kemudian menariknya dan membuka perlahan. Tidak terkunci.
Ruangan itu sangat gelap, kosong, namun terasa sejuk, terdengar deru suara pendingin ruangan. Kayu-kayu sebagai bahan baku pembuatan furniture bertumpukan, ada pula mesin pemotong kayu. Caitlin bisa melihatnya lewat jendela yang terbuka.
Ketakutan mencengkram benak Caitlin begitu kuat hingga seperti menjeratnya. Caitlin terdiam terpaku, ia tak bisa memaksakan kakinya melangkah. Tapi kemudian suara ayahnya memanggil.
“Caitlin? Caitlin?” Nada histeris yang sama seperti saat di telepon pagi tadi.
Caitlin berlari menuju sumber suara.
“Caitlin? Caitlin?"
Suaranya terus berulang ketika Caitlin berlari memasuki ruangan panjang tempat penyimpanan barang yang selesai di produksi untuk memasuki tahap akhir pengecekan sebelum akhirnya furniture tersebut di kirim ke gudang penyimpanan stok barang atau ke toko, ruangan itu berlangit-langit tinggi. Caitlin memandang sekeliling, berusaha menemukan dari mana datang suaranya ayahnya.
"Ayah.." panggil Caitlin. "Ayah di mana? Aku sudah datang."
Caitlin mendengarnya tertawa, dan ia pun berputar menghadap ke arah suara itu. Dan di sanalah ayahnya berada, Dion berada di layar televisi tengah mengacak-acak rambutnya, untuk sesaat Caitlin merasa lega.
Rekaman video itu diambil saat natal, waktu usia Caitlin masuh dua belas tahun. ia dan keluarganya pergi mengunjungi omanya di Bali (Orang tua dari Dion) itu adalah tahun terakhir sebelum omanya meningal.
Saat itu ia dan keluarganya bermain ke pantai kuta, dan Caitlin menjulurkan tubuhnya terlalu jauh ke bibir dermaga. Ayahnya melihat Caitlin nyaris jatuh, kemudian Dion berusaha menggapai keseimbangan.
“Caitlin? Caitlin?” ayahnya memanggil Caitlin ketakutan, kemudian layar televisi berubah menjadi padam.
Perlahan-lahan Caitlin berbalik. Frank berdiri mematung diambang pintu belakang, begitu kaku, ia memegang remote.
Lama mereka berdua bertatapan, lalu kemudian Frank tersenyum. Ia berjalan menghampiri Caitlin, lumayan dekat, lalu melewati Caitlin untuk meletakkan remote.
"Maafkan hal tadi, Caitlin. Tapi tidakkah lebih baik kalau ayahmu tak perlu terlibat dalam urusan kita?” Sura Frank terdengar sopan, namun mengerikan.
Dan tiba-tiba Caitlin tersadar. Ayahnya aman, dan kemungkinan sekarang sedang berada di rumah eyangnya atau menyusulnya ke Semarang. 'Ayah dan eyangku aman,' batin Caitlin, ia berusaha untuk terlihat tenang dan tak ketakutan oleh tatapan mata merah gelap pemilik wajah amat pucat di depannya saat ini. Ayah dan eyangku aman, jadi tak ada yang harus aku khawatirkan.
“Ya,” jawab Caitlin, dengan suaranya yang terdengar lega.
“Kau tidak terdengar marah meskipun aku telah mengelabuhimu?”
“Memang tidak.” Suara Caitlin meninggi memicu keberaniannya.
Apa artinya sekarang? Sebentar lagi segalanya bakal berakhir. Eyang, ayah dan keluarga Aaron takkan pernah terluka, dan masalah ini selesai.
"Sungguh aneh. Kau benar-benar tak marah denganku, kau tulus menyayangi ayahmu." ucap Frank sembari menatap Caitlin seolah sedang memberikan penilaian terhadapnya, dan tatapan matanya terlihat HAUS.
Frank berdiri beberapa meter dari Caitlin, tangan dilipat, tak ada kebengisan pada raut wajah atau sikap tubuhnya. Hanya kulitnya yang putih dan mata berkantong yang terlihat jelas.
“Apakah setelah ini Aaron pasti akan membalaskan dendam untukmu hingga keluarga besar kami berpecah belah karenamu?” tanya Frank.
“Tidak, kurasa tidak. Karena sebelum ke sini aku meninggalkan surat untuknya, memintanya agar setelah ini semuanya selesai tak akan ada lagi pertikaian dan keluarga kalian akan utuh seperti dulu lagi, saat sebelum aku berada di kehidupan Aaron."
"Betapa romantisnya dirimu, tapi apakah dia mau menuruti permintaanmu?" tanya Frank dengan nada sinis mewarnai nada bicaranya yang sopan dan mengerikan.
“Kuharap begitu.”
“Hmmmm, tapi aku tak yakin, mengingat keluar mereka sangat pendendam," ucapan Farank seperti menyimpan kebencian. "Keluarga mereka memang tolol membiarkan Aaron jatuh cinta pada manusia yang jelas-jelas itu adalah larangan."
Frank maju selangkah lagi, sampai akhirnya jarak mereka hanya tinggal beberapa senti. Ia mengangkat beberapa helai rambut Caitlin dan mengendusnya dengan lembut.
"Darahmu sangat memabukan," gumamnya, kemudian perlahan-lahan Frank melepaskan rambut Caitlin. Caitlin merasakan ujung jarinya yang dingin merayap di lehernya, Frank mengangkat tangannya dan mengelus pipi Caitlin sekilas dengan ibu jarinya.
,
YESS i Will😄😄😄
Catlin maksudnya 😄😄😄
akhirnya kebahagiaan itu menyertaimu cat pikir keri yak gimana nanti akhirnya pokoknya kawin dulu eh nikah🏃🏃🏃
hmmmm masuk perangkap Frank kan go Aaron selamatkan Catlin
harta, tahta dan rupa