Siapkan tissue karena cerita mengandung bawang.
Apa jadinya jika sebuah pernikahan tanpa cinta harus terjadi atas unsur perjodohan?
Kiandra Anastasia seorang gadis yatim piatu berusia 17 tahun yang hidup bersama dua pembantu setianya yang menganggapnya seperti anak sendiri semenjak kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya karena sebuah kecelakaan, ternyata sejak kecil sudah dijodohkan oleh Almarhum kedua orangtuanya itu dengan seorang CEO perusahaan besar yang merupakan putra dari sahabat Almarhum Papanya, Aldo Wiryawan Prayoga nama sang CEO yang terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tempramen.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara Kiandra bersama Aldo? Akankah ada benih-benih cinta diantara mereka nantinya? Yuk ikutin cerita ini dari awal sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Sesaat ruangan Kepala Sekolah terasa hening, tak ada satupun yang bersuara. Meraka hanya saling bertukar pandangan satu sama lain. Dan diakhir keheningan terdengar hembusan nafas panjang dari Tante Widya, yang kemudian mulai bersuara dengan tegas dan tanpa keraguan.
"Aku putuskan untuk tidak menskorsing Kiandra,Wir. Didalam masalah ini Kiandra hanya seorang korban. Korban dari keegoisan mu tentunya. Sekarang Kamu bisa meninggalkan sekolahku ini untuk kembali bekerja dan biarkan Kiandra kembali mengikuti pelajaran di kelasnya setelah kau pergi dari sini," terang Tante Widya, arah bicaranya seakan mengusir keberadaan Tuan Wiryawan secara halus dari ruangan yang kini ia berada.
"Ok baiklah kalau begitu, aku permisi Wid. Maaf jika apa yang telah aku lakukan pada Kiandra menjadi kehebohan di sekolah mu ini Wid," balas Tuan Wiryawan menyetujui apa yang dikatakan Tanye Widya, sambil menjulurkan tangannya, mengajak Tante Widya untuk berjabat tangan seraya tersenyum tipis saat ia memohon maaf atas kejadian ini pada Tante Widya.
Tante widya yang belum memutuskan pandangannya dari Tuan Wiryawan pun merasa, jika permohonan maaf yang diutarakan Tuan Wiryawan padanya hanya sebuah basa-basi semata.
"Ya, semoga kau tak mengulanginya lagi Wir," sahut Tante Widya yang menggapai uluran tangan Tuan Wiryawan dengan rasa enggan.
Secepat kilat jabatan tangan mereka pun terputus. Kemudian setelah Tuan Wiryawan berjabat tangan dengan Tante Widya, ia pun beralih berjabat tangan dengan Pak Narya yang tengah berdiri tak jauh dari posisi Tante Widya.
"Maafkan atas kesalahan yang saya perbuat, sehingga Bapak terkena imbasnya. Untuk kesalahan saya itu, saya berencana akan segera memberikan dispensasi uang untuk putra Pak Narya. Ya, mungkin jumlahnya tak seberapa, tapi saya rasa cukup untuk sedikit membantu putra Bapak melanjutkan pendidikannya di universitas lain yang akan ia pilih nanti," ucap Tuan Wiryawan ramah saat berjabat tangan dengan Pak Narya seraya tersenyum penuh arti pada lawan bicaranya.
"Tidak perlu repot-repot seperti itu,Tuan. Saya sudah memaafkan Tuan dengan tulus ikhlas, sebelum Tuan meminta maaf kepada saya. Saya sangat bersyukur sekali dan berterima kasih atas kebaikan Tuan Wiryawan pada putra saya, pasti putra saya akan senang sekali mengetahui hal ini nantinya," balas Pak Narya basa-basi dengan wajah tersenyum senang mendengar etikat baik dari Tuan Wiryawan pada putranya.
"Saya tidak merasa direpotkan sama sekali dengan Pak Narya, terimakasih sudah memafkan saya, saya sungguh tersanjung dengan kebaikan hati Bapak," timpal Tuan Wiryawan dengan senyum yang belum terlihat luntur di wajahnya.
Keduanya pun tersenyum penuh arti, senyum mereka berdua membuat Tante Widya yang melihat mereka berdua, mencebikkan bibirnya, ia merasa jijik melihat sikap kedua pria di hadapannya yang penuh dengan kepura-puraan. Senyum keduanya pun terhenti ketika Tante Widya bersuara dengan nada tinggi.
"Tidak perlu,Wir! Kau tak perlu memberikan dia uang dispensasi karena putra Pak Narya akan melanjutkan pendidikan di Universitas milik ku dengan baesiswa yang akan aku berikan sampai ia lulus,bahkan kalau perlu dengan uang saku, jika memang dia bisa menjadi salah satu mahasiswa berprestasi di Universitas milikku itu," tiba-tiba Tante Widya berbicara dengan memekikkan suaranya, sontak keduanya menoleh kearahnya dan menatap Tante Widya dengan tatapan penuh arti. Terlihat kilat amarah di wajah cantik wanita yang terlihat awat muda itu.
Sedang Tante Widya yang di tatap oleh keduanya, malah membalas tatapan mereka dengan tatapan singit seakan ingin menguliti mereka berdua terutama Pak Narya. Pak Narya sadar betul arti tatapan singit yang diberikan Tante Widya padanya, dengan segera ia memutuskan tatapannya pada Tante Widya.
Jujur saja kini Pak Narya sedang merasa sangat takut dengan Tante Widya,hingga ia memutuskan untuk menundukkan pandangannya kebawah saat ia memutuskan kontak mata dengan ketua Yayasannya itu. Sudah dapat di pastikan saat ini Pak Narya sudah bisa menerka-nerka bagaimana Tante Widya akan mengamuk dan menceramahinya tentang harga dirinya nanti, tentunya setelah Tuan Wiryawan pergi dari ruang kerjanya.
Sedangkan Tuan Wiryawan, kini ia terus menatap lekang wajah cantik Tante Widya. Ia sama sekali tidak menduga respon Tante Widya yang seperti itu, disaat ia berniat baik pada Pak Narya yang merupakan salah satu karyawannya. Seharusnya dia menyambut baik tindakan yang memang semestinya ia lakukan pada Pak Narya, namun ini malah sebaliknya.
"Kenapa aku merasa kau sangat membenci ku sekarang, Wid? Apa karena permasalahan ini Kau membenci ku? Seharusnya kau tak perlu bersikap seperti ini padaku, kita ini berteman baik dalam dunia bisnis Wid, aku tahu aku salah, tapi semua ini bisa terdengar ke ranah publik dan mencoreng nama sekolah mu itu karena ulah anak emas Bramantyo bukan diriku," Batin Tuan Wiryawan yang menyesalkan sikap yang di tunjukkan Tante Widya padanya.
Disaat Tuan Wiryawan menatap Tante Widya dalam diamnya, ia kembali dikejutkan dengan ucapan yang di lontarkan Tante Widya yang secara blak-blakan mengusir dirinya.
"Cepat pergilah Wir! Aku dan Pak Narya masih ada pekerjaan lain yang harus kami kerjakan. Jangan terlalu betah disini! Ini sangat menggangu waktu kerjaku," usir Tante Widya dengan memberikan tatapan wajah yang tak mengenakan hati Tuan Wiryawan.
Tanpa membalas kata-kata Tante Widya yang tak mengenakan hatinya, Tuan Wiryawan pun meninggal ruang kepalas sekolah itu, namun sebelum ia keluar ia menghampiri Kia yang masih duduk di sofa dengan wajah tertunduk.
"Kia, Om pulang dulu ya. Belajarlah dengan baik disini. Kamu tidak perlu takut dan merasa bersalah, Om tahu kamu tidak bersalah sayang," ucap Tuan Wiryawan yang menjongkokkan tubuhnya di hadapan Kia.
"Tapi Om ini semua terjadi karena Kia yang ____," balas Kia yang terpotong karena Tuan Wiryawan menyela ucapannya.
"Kia sudah cukup, jangan dibahas lagi ok! Om harus kembali ke kantor, karena masih banyak pekerjaan yang harus Om kerjakan, baik-baik ya Kia," potong Tuan Wiryawan yang kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari ruang kepala sekolah.