Jenita Claudia Andini, gadis berusia 24 tahun. Diharuskan untuk kembali ke kota C, demi memenuhi wasiat sang eyang.
Jenita yang sejak kecil besar dan tumbuh bersama mamanya. Terpaksa menutupi identitas dirinya di kota S. Disana dirinya dikenal sebagai Ceo Claudia. Seorang Ceo yang terkenal tegas dan dingin. Berbeda jauh dengan sifat nya sebagai Jenita yang lemah lembut.
Misteri kematian sang papa yang menjadi semangat nya untuk tetap bertahan di kota C. Bahkan dirinya masih harus dihadapkan dengan perjodohan yang baru diketahuinya setelah dirinya kembali ke kota C.
Bagaimana kisah Jenita Claudia yang mempunyai peran berbeda?
Bagaimana juga dengan perjalanan cintanya dengan sang tunangan yang lebih memilih dirinya sebagai Claudia bukan sebagai Jenita?
Mampukah dirinya bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serra R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suasana toko sedikit lengang ketika mobil yang dikendarai Rendi memasuki halaman toko. Hanya nampak beberapa pengunjung yang sedang bersantai dan juga berkeliling memilih apa yang mereka inginkan.
Jenita keluar dari mobil dengan senyum yang sama. Senyum yang selalu tersaji bagi siapa saja. Senyum yang membuatnya semakin terlihat cantik. Dibelakang nampak mobil Andrian baru saja memasuki halaman. Chef tampan tersebut benar-benar melakukan apa yang diucapkannya tadi. Dia bahkan terlihat sangat antusias menyaksikan bagaimana orang-orang akan terkaget sekaligus kagum kepada Jenita.
Walau tak lagi memakai kacamata ataupun wig. Jenita tetap tampil sederhana dengan hanya menggunakan bedak dan lipstik yang natural. Begitu juga dengan pakaian yang dipakainya. Masih bisa dibilang berbeda dengan penampilan Claudia yang lebih mewah.
"Selamat siang." Ucapnya kala menginjakkan kakinya masuk ke dalam toko.
Dira yang sedang berada di dekat meja kasir pun menoleh. Terkejut sudah pasti, gadis manis tersebut segera ke luar dan menghambur memeluk Jenita hangat.
"Aku kira tak akan bertemu lagi?" Ucapnya serak diantara isakan tangisnya yang tertahan.
"Ssttt, jangan dibahas dulu ya. Aku kangen." Bisik Jenita disambut anggukan kepala Dira.
Dira beberapa kali melihat Jenita melepas kacamata yang dipakainya sewaktu berada di ruko tempat produksinya. Dia juga pernah melihat Jenita dengan rambut aslinya walau hanya sebentar karena tak sengaja Jenita sedang berdandan di dalam kamarnya dirumah eyang. Dia yang waktu itu ingin memberikan buku laporan segera mengurung kan langkahnya karena takut mengganggu Jenita. Namun ternyata gadis itu menyadari kehadirannya dan memintanya untuk masuk. Dengan alasan jika dirinya tak mau rambut nya rusak karena terkena panasnya oven maka Jenita memakai wig untuk menutupi rambut aslinya.
Dari sanalah pula muncul kecurigaan Alex pada Dira. Karena dialah orang yang mengetahui bagaimana rupa Jenita yang sebenarnya selain Andrian dan Marni pada waktu itu. Berdasarkan cerita Jenita pula, Alex meminta Andrian untuk melakukan beberapa pengetesan kepada Dira. Dan hasilnya tak ada yang mencurigakan. Namun meski begitu kewaspadaan masih tetap mereka jaga.
Setelah mengobrol sebentar dengan Dira. Jenita melangkah menuju ruangannya dilantai atas. Dia juga memanggil Lisda dan Angia yang merupakan karyawan baru di tokonya.
*
*
*
"Mbak Jenita aslinya cantik ya." Bisik bisik para karyawan yang berada ditoko.
"Iya, mana tanpa cela pula. Kayak bintang film lo, cantik banget. Bening kayak kaca." Timpal yang lain.
Ayunita yang baru saja masuk ke dalam toko mengernyitkan dahi. Dia yang memang tak suka pada Jenita sejak awal tentu tak senang dengan kedatangan gadis tersebut.
"Setan kecil itu kenapa kembali lagi sih, bukannya sudah bagus dia pergi dari sini. Nyebelin banget, bisa rusak rencanaku!!" Gumamnya
"Siapa yang nyebelin, ma?" Dira yang tak sengaja melintas didekat mamanya berhenti dan menatap sang mama heran.
"Setan!!" Ucap Ayu seraya melenggang.
"Setan? mana ada setan di tengah bolong begini. Mama terkadang rada rada memang." Gadis itu menggeleng dan meneruskan langkah ke tempat produksi untuk mengecek pesanan yang harus di kirim sore nanti dan juga besok pagi.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Angia masuk ke dalam ruangan Jenita di lantai dua setelah Andrian memilih berlalu masuk ke dalam ruang produksi di lantai bawah.
"Siang mbak, Jen." Ucapnya sedikit pelan.
"Iya, siang. Lo, ada yang bisa aku bantu mbak Angi?"
Angia mendekat namun dia bergeser ke posisi lain hingga menutupi pandangan Jenita dari jendela maupun lemari yang ditata disebelah kanan meja kerjanya. Tangan gadis tersebut yang semua seperti gerakan meremas perlahan menjatuhkan sebuah kertas dalam lipatan kecil.
Awalnya Jenita tak mengerti akan kode yang diberikan gadis tersebut sampai akhirnya Angia membuka suaranya.
"Saya mau minta ijin mbak, kebetulan nanti sore kakak saya datang dari luar kota. Saya ingin menjemputnya diterminal karena ini kunjungannya yang pertama kali ke kota ini."
Jenita tersenyum, gadis cantik tersebut berdiri dan menepuk pelan lengan Angia yang masih berdiri ditempat nya dengan sedikit menunduk.
"Kamu kasih tahu, Dira ya. Biar dia nanti nggak nyari nyari pas kamu udah pulang. Hati hati di jalan dan salam untuk kakaknya." Angia mengangguk kemudian melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Jenita yang masih berdiri di tempat nya, beralih menata nota dan barang barang yang berada diatas mejanya sebelum melangkah pergi dari ruangannya.
*
*
*
Ayunita terkesiap menatap Jenita yang sedang melangkah turun dari anak tangga. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin gadis jelek itu berubah menjadi cantik hanya dalam waktu dua bulan. Ayu mendengus sebal, mengumpat kasar Jenita sebelum berlalu pergi dengan hentakan kakinya yang sedikit keras.
"Pasti dia menggunakan uang eyang untuk bersenang-senang, dan mempercantik diri. Sedang disini Dira yang harus banting tulang. Dasar tak tahu diuntung." Gerutunya makin kesal.
Sementara itu Jenita meneruskan langkahnya menuju ruang produksi. Disana masih ada Andrian lengkap dengan apron nya yang masih menempel dibalik kemeja dengan lengan yang sudah disingsingkan hingga ke siku.
"Ada yang bisa ku bantu?" Jenita melangkah dengan tangan yang sibuk mengikat tali apron di tubuhnya. Tak lupa Jenita juga mengikat rapi rambutnya serta menutupnya dengan penutup kepala agar tak ada rambut yang kemungkinan jatuh ke dalam adonan. Terakhir dia memakai sarung tangan plastik yang memang wajib tersedia di tempat itu.
"Kamu tak berniat untuk beristirahat?" Andrian bertanya namun tak urung tangannya memeberikan bater cream ke pada Jenita.
Dengan telaten Garis cantik tersebut menghias bolu sesuai dengan pesanan. Sedikit gemetar namun Jenita berhasil menyelesaikan semuanya dengan sempurna.
"Ku kira tanganmu akan kembali kaku setelah beberapa bulan ini tak lagi memegang mereka." Tinjuknya pada peralatan yang selalu dipakai untuk menghias bolu.
"Apa kamu tak melihat, bahkan tanganku tadi sempat bergetar. Rasanya gugup kembali seperti di awal."
"Harus kembali terjun sendiri agar rasa gugup itu cepat hilang. Oh ya, besok sepertinya aku harus pulang ke kota S. Papa tadi sempat menghubungi ku."
Keduanya keluar dari tempat produksi dan memilih duduk di luar toko. Di halaman yang sudah luas dengan berbagai tanaman hias tersebut ada beberapa meja yang terisi. Sepertinya ketika mereka asyik menghias bolu tadi toko sedikit ramai.
"Bukannya masih dua minggu lagi, kalau nggak salah?"
"Hem, awalnya memang begitu. Tapi papa harus kontrol kesehatan terlebih dahulu baru lanjut ke luar kota."
Terlihat Rendi yang duduk dibawah pohon sambil memainkan ponselnya. Namun demikian, pemuda itu sesekali melihat sekilas ke berbagai arah.
"Aku berpikir untuk menempatkan didalam, tapi aku bingung sebagai apa?" Jenita menatap ke arah Rendi. Tak tega rasanya membiarkan pemuda itu diam menunggunya.
Walau sebenarnya memang itulah tugas yang Alex berikan. Namun Jenita paham bahwa akan ada rasa bosan nantinya selama menunggunya yang belum tahu akan menghabiskan berapa lama bekerja.
Alex juga meminta Jenita untuk tidak tinggal di rumah eyang sementara waktu. Lelaki itu belum mampu menyusupkan orang-orang nya ke dalam rumah besar tersebut. Alex hanya ingin semuanya nampak alami dan tak mencurigakan. Hanya saja, untuk membiarkan Jenita tinggal di dalamnya akan mempunyai resiko yang sangat besar.
"Suruh bantuin kamu menyusun laporan mingguan. Dengan begitu, tugas Dira juga akan lebih ringan. Yang lebih penting, kamu bisa memantau perkembangan toko setiap minggunya tanpa membuat Dira tersinggung. Selama ini kan dia yang memegang pembukuan laporan bulanan, nah gampang kasih pengertian dia nanti. Juga Rendi bisa lebih memperhatikan Dira ke depannya."
"Coba nanti aku bicarakan lagi dengan Rendi saat tiba di rumah. Terlebih lagi aku juga harus meminta ijinnya." Jenita mencebikkan bibirnya.
Mengingat Alex membuatnya sedikit rindu.
Andrian tergelak dan menganggukan kepalanya cepat, karena apa yang Jenita katakan adalah benar adanya. Jika tak ingin melihat bagaimana si tuan pemarah itu mengamuk nanti.
kulupakan bukan ku lupakan.
Semangat Thor 😁😁😁
dn ayu hg dira ga tau ttg rahasia hermawan,, psti ayah jenita msih hidup dn di sekap slm brtahun thun
Semangat Rya 👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼