Issabel adalah wanita yang tidak pernah merasakan cinta, tetapi dia tidak single. Malah dia sudah menikah dengan seorang pria konglomerat bernama Jonathan selama tiga tahun. Dan selama itu juga Jonathan tidak ingin disentuh karena memilih untuk berhubungan dengan kekasihnya. Makanya Issabel kerap memuaskan dirinya sendiri.
Hingga seorang pria menjadi tetangga sebelahnya. Pria yang baru saja pulang dari Australia itu bernama Dominic. Hal itu menarik perhatian Issabel. Dan kebetulan Dominic adalah sahabat Jonathan. Pertemuan demi pertemuan akhirnya membuat mereka berdua semakin dekat.
Apakah ini waktunya Issabel membalaskan dendam dengan Jonathan?
Walaupun konsekuensinya bahkan bisa lebih buruk.
Tapi mungkin ini juga saatnya Issabel tidak lagi memuaskan dirinya sendiri, tapi bersama tetangga sebelahnya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PRINCE_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28: NENEK LAMPIR
"SAYANG, kamu mau ke mana?" tanya Dominic saat sudah bersama Issabel di dalam mobil menunggu Laura.
"Aku mau ke jalanan Manhattan! Aku mau kita jalan-jalan di sana sambil makan jajanan pinggiran." seru Issabel sudah melupakan masalah tadi.
Dominic mengangguk lalu mengelus kepala Issabel sambil tersenyum.
"Baiklah, untuk istri kesayanganku ini apa sih yang tidak bisa," kata Dominic membuat Issabel menebarkan senyum yang memiliki makna terselubung.
Beberapa menit kemudian, Laura masuk ke mobil dengan mengenakan dress biru yang bagian atasnya sangat terbuka dan ditambah dengan heels super tinggi. Issabel menahan ketawa melihat penampilan kakak iparnya yang rempong itu. Sementara Dominic bersiap untuk menjalankan mobil.
"Kita mau jalan ke mana Nic? Mall atau makan di restoran? Oh wait, saya tau tempat mewah untuk—"
"Sorry Kak. Tapi kita akan ke jalanan Manhattan." potong Issabel sebelum kepalanya pusing mendengar ocehan tidak jelas dari tante rempong itu.
"WAIT, WHAT? JALANAN MANHATTAN?" Laura sangat terkejut. Ya! Meski dia tidak familiar dengan tempat tersebut, tetapi perasaannya tidak enak. Reaksi Laura tersebut langsung membuat Issabel semakin bersemangat dan sepanjang perjalanan menahan tawanya.
Jalanan Manhattan adalah salah satu jalanan di New York yang menjual jajanan pinggir jalan yang paling digemari orang-orang saat malam hari. Kawasan ini didominasi oleh warung-warung tenda dan gerobak yang mulai buka pukul lima sore hingga malam hari. Dan semakin malam larut, semakin ramai juga orang yang berkunjung di kawasan tersebut.
Setibanya di tempat tujuan, Issabel dan Dominic berjalan sambil bergandengan menikmati suasana malam sambil mencari-cari jajanan pinggir jalan yang diinginkan. Sementara Laura mengekor di belakang dengan susah payah akibat heelsnya yang terlalu tinggi.
Lama berjalan, akhirnya mereka duduk beristirahat terlebih dahulu di dekat gerobak hotdog.
"Duh sakit sekali. Kenapa sih kita harus jalan? Dingin pula," kata Laura sambil mengusap-usap kedua lengannya karena kedinginan setelah memeriksa kakinya yang membengkak.
"Kena kan." batin Issabel begitu bahagia.
Dominic baru saja kembali setelah menyelesaikan telponnya dengan sekretaris Sandra. Bersamaan dengan itu, penjual hotdog datang membawa tiga porsi makanan berdosis itu.
Issabel sumringah ketika Dominic duduk di sebelahnya dan meniupkannya sesendok hotdog itu. Kemudian menyuap Issabel dengan romantis.
"Makasih Sayang," kata Issabel lembut.
Dominic mengangguk sambil tersenyum manis lalu mengigit hotdog miliknya.
"Dominic, boleh pinjam jas kamu?" tanya Laura membuat Issabel membelalak terkejut, ditambah lagi Dominic bangkit dari kursi dan melepas jasnya.
Tangan Issabel mengepal. Menahan emosinya hingga tubuhnya gemetaran. Namun tiba-tiba Dominic malah menyelimuti Issabel karena mengira istrinya gemetar karena kedinginan.
"Kalau begitu, mari kita pulang. Di sini sangat dingin," kata Dominic berusaha mencari topik lain agar Laura tidak tersinggung dengan perlakuannya.
Issabel menggeleng sambil memperlihatkan hotdognya yang belum habis. Menurutnya ini kesempatan emas untuk mempermainkan perasaan nenek lampir itu agar tidak semena-mena.
"Baiklah, habiskan dulu terus kita pulang," lanjut Dominic sambil mengelus kepala Issabel.
Laura pun menatap tajam Issabel dengan kesal. Sementara Issabel hanya memasang raut wajah datar seakan-akan mengejek wanita itu.
...****************...
Esok paginya, Issabel semakin dongkol dengan kehadiran nenek lampir alias kakak Dominic. Ditambah lagi dengan sarapan bubur ayam dan makan sayur-sayuran yang setiap hari disiapkan oleh suaminya itu.
Jadi Issabel merasa hidupnya semakin tidak waras bila harus berhadapan dengan kedua orang tersebut.
"Nic, mau ke kantor kan? Kakak mau ikut. Sekalian pergi ke mall," tanya Laura membuat Issabel mengernyit.
Tanpa berpikir panjang, Dominic menggeleng. "Kak Laura duluan aja. Apa mau saya pesankan mobil untuk mengantar kakak?" Balas Dominic tidak menghiraukan kakaknya dan malah sibuk memerhatikan istrinya menghabiskan bubur ayam yang sudah dia buat.
"NO! Saya bisa sendiri," kata Laura dengan nada ketus. Berjalan ke luar pintu dengan wajah kesal.
Melihat Issabel sudah menghabiskan sarapannya, Dominic segera menariknya ke kamar.
"Nic, kamu mau apa? Nanti telat loh ke kantornya," kata Issabel saat sudah berada di kamar. Tepatnya di hadapan lemari baju.
"Tidak kok sayang." Dominic lalu membuka lemari dan mengeluarkan baju yang telah dibelinya beberapa hari yang lalu.
"Nic! Ini kenapa sih?" Issabel berteriak ketika Dominic mulai melucuti baju terusannya.
Dominic hanya tersenyum sumringah, tidak peduli, sambil berusaha menahan tubuh Issabel yang meronta-ronta saat ingin membuka pakaiannya. Kemudian setelah istrinya itu hanya menggunakan pakaian dalam, Dominic menyuruhnya duduk di pinggir ranjang.
Issabel menurutinya begitu saja. Dia ingin tahu apa lagi yang akan dilakukan oleh suaminya tersebut.
Setelah itu, Dominic membuka jas dan melonggarkan dasinya. Mengambil beberapa kotak yang berisi pakaian yang sudah di belinya dari beberapa hari yang lalu kemudian dilempar ke ranjang hingga pakaian di dalamnya berhamburan.
"Kapan kamu bisa menghargai pemberian saya? Ini spesial loh sayang." Dengan nada kecewa Dominic mengatakannya sambil memandang Issabel yang masih mengernyit. Tidak mengerti dengan sikap Dominic yang tiba-tiba mempertanyakan hal tersebut. "Sayang, kalau kamu tidak suka tinggal bilang. Saya bisa menggantikan pakaian ini sesuai dengan kesukaanmu."
"Ma-maaf Nic." Issabel mengatakannya sambil menunduk.
Dominic menggeleng. "Iya sayang," katanya lalu mengambil salah satu pakaian yang berhamburan di ranjang. "Sini, saya pakaikan."
"Ih apa sih? Aku kan bisa pakai sendiri!" Issabel menepis tangan Dominic yang ingin menarik lengannya untuk berdiri. Kemudian mengambil paksa gaun ungu dari tangan Dominic.
Bukannya emosi, Dominic malah tersenyum sambil menggeleng. "Baiklah sayang. Ingat yah pakai dengan benar. Saya tidak ingin gaun ungu itu lecet, karena saya bisa saja membelikanmu sepuluh gaun dengan model yang sama seperti itu," kata Dominic membuat Issabel memanyunkan bibirnya. Kesombongan suaminya itu kembali terlihat.
Issabel akhirnya bisa bernapas lega ketika Dominic sudah keluar dari kamar. Entah kenapa dia merasa akan terjadi sesuatu setelah ini. Setelah Dominic sangat posesif dengan barang pemberiannya.
Tiba-tiba Dominic membuka pintu kamar hingga membuat Issabel terkejut. "Ya ampun Nic! Bikin kaget saja."
Dominic masuk kembali dan menutup pintu. Melangkah ke hadapan Issabel lalu mengelus kepala istrinya itu. Sementara Issabel mendongak memandang Dominic dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Oh iya, saya ke sini mau mengingatkan saja, jangan lupa pilih pakaian yang cocok untuk ke rumah sakit yah sayang," kata Dominic menunduk melihat seperti apa reaksi wajah Issabel.
"Loh, emang lagi ada yang sakit?" Issabel mengernyit bingung.
Dominic menggeleng. "Bukan itu sayang. saya mau tahu bagaimana perkembangan rahimmu. Saya sudah tidak sabar ingin mempunyai seorang anak," jelas Dominic membuat Issabel tiba-tiba mengalihkan pandangannya. Dia sekarang sangat gugup.
"Eh ... begini Nic ... eeehh, Kamu tidak usah repot-repot yah. Biarin aku aja kalau masalah begitu. Soalnya kamu kan sibuk," Issabel mundur dan berusaha bersikap normal.
Dominic langsung bingung. "Sayang, tidak apa-apa kok. Saya bisa menangani soal pekerjaan di kantor. Bahkan, mengantar kamu ke dokter itu lebih penting," kata Dominic maju dan mencium punggung tangan Issabel. "Kalau begitu saya tunggu di luar. Jangan lama-lama yah sayang pilih pakaiannya."
Kemudian Dominic keluar dari kamar. Meninggalkan Issabel yang langsung menghambur pakaian di ranjang.
"Ya ampun, bagaimana mungkin aku akan ke dokter?" kata Issabel jengkel. Hal itu benar-benar tidak boleh sampai terjadi, karena wanita berambut pirang panjang itu sedang menyembunyikan sebuah rahasia. Bisa-bisa Dominic murka jika terungkap.
...BERSAMBUNG...
kenapa gk updet2 ni novel ????😧😑