Season 1: Bara x Retha
Jalinan cinta antara dua orang yang saling menguntungkan antara seorang duda dengan seorang guru yayasan yang memiliki pekerjaan sampingan. Bara membutuhkan wanita untuk mengobati kesepiannya dan Retha membutuhkan uang untuk melunasi hutang ayahnya.
Bagaimana perjalanan kisah cinta mereka dan lika-likunya menghadapi dunia? Akankah keduanya akan bersatu?
Season 2: Hendry x Citra
Cinta masa SMA yang dipertemukan kembali saat keduanya baru saja mengalami kegagalan berumah tangga. Hendry ditinggalkan istrinya karena permasalahan kesuburan. Sedangkan Citra memutuskan bercerai dari suaminya yang telah berselingkuh dan menghamili wanita lain.
Akankah mereka bisa menghadapi trauma hubungan sebelumnya? Bagaimana cara mereka bisa kembali membuka hati dan akhirnya hidup bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Bertiga
Bara tak henti-hentinya memandangi Retha dan Kenzo yang sedang asyik bergurau sambil menikmati makan siang. Kenzo yang kata ibunya sudah makan siang, ternyata masih meminta makan agar disuapi oleh Retha. Posisi yang seharusnya jadi miliknya tergantikan oleh Kenzo. Ia hanya bisa tertawa sendiri dalam hatinya.
"Miss Retha kapan kembali ke sekolah lagi." tanya Kenzo.
Retha melirik ke arah Bara yang tepat sedang mrmperhatikannya. "Mm ... kapan, ya? Mungkin menunggu urusan Miss Retha selesai di sini."
"Boleh nggak Kenzo ikut Miss Retha di sini?" celetuk anak itu dengan polosnya.
Retha dan Bara saling pandang dengan tatapan terkejut.
"Kenzo, kamu tidak boleh seperti itu. Miss Retha punya kesibukan sendiri. Besok kamu ikut pulang dengan Oma dan Aunty Mikha."
"Daddy kenapa ikut bicara, Kenzo kan tanya Miss Retha." Ia menjulurkan lidah mengejek ayahnya. Retha sampai tak bisa menahan tawa karena melihat kelucuannya.
"Miss, Kenzo ikut, ya ...," rengeknya.
"Miss Retha tidak lama kok di sini. Akhir pekan sudah pulang lagi dan siap ke sekolah membagikan rapormu." Retha mencubit gemas hidung Kenzo.
"Dad,kita jadi jalan-jalan kan? Katanya mau ke Sea World ...."
"Jadi ... Miss Retha mau ikut?" tanya Bara.
"Miss Retha harus ikut dong, Daddy ...."
"Oke, kalau begitu kita berangkat sekarang saja."
Bara mengambil Kenzo dari pangkuan Retha. Ia akan menggendong anak kesayangannya. Tangan satunya diulurkan kepada Retha. Dengan perasaan sedikit sungkan, Retha menerima uluran tangannya, mereka berjalan dengan bergandengan tangan seperti pasangan suami istri.
Seharusnya hari ini Bara menepati janjinya mengajak Retha jalan-jalan berdua. Akan tetapi, mereka berakhir jalan bertiga. Diam-diam Bara menggenggam erat tangan wanita di sampingnya seolah tidak rela untuk terpisah dengannya.
Kenzo terlihat bahagia didampingi dua orang kesayangannya melihat berbagai macam jenis ikan yang ada di sea world. Mereka melewati lorong akuarium raksasa yang lantainya bisa bergerak sendiri seperti eskalator. Sepanjang lorong, mereka bisa melihat ikan yang berenang di atas mereka. Kenzo sampai berjingkrak kegirangan setiap kali ada ikan yang melintas di atasnya.
"Daddy ... daddy ... itu ikan apa kok seperti layangan?" tanya Kenzo antusias sambil menunjuk ke arah atas.
"Itu namanya ikan pari."
"Besar ya, Daddy ... bagus, seperti layangan."
"Kalau yang ikan besar itu namanya apa, Kenzo? Gigi-giginya tajam, ya ...."
"Ikan paus!" Kenzo menjawab dengan semangat.
Bara dan Retha tertawa.
"Bukan, Sayang. Itu namanya ikan hiu yang giginya runcing-runcing.
Ketiganya begitu menikmati waktu kebersamaan mereka dengan bergembira, terutama Kenzo. Saat mereka sedang melihat atraksi penyelam yang memberi makan ikan di dalam akuarium raksasa, Bara memperhatikan Retha. Wanita itu begitu tampak sangat peduli dan sayang pada anaknya. Senyumannya tulus, apa yang dilakukannya seakan tahu bagaimana cara menyenangkan hati Kenzo.
Kenzo juga terlihat sangat mudah dekat dengan Retha padahal anak itu sangat pemilih. Selama tiga tahun terakhir Kenzo hanya bisa dekat dengan kakek neneknya dan tantenya. Bahkan mungkin Thea, wanita yang dijodohkan dengannya tidak akan mampu mencuri perhatian anak itu.
Setelah selesai berkeliling di Sea World, mereka beralih ke taman hiburan malam. Kenzo mencoba banyak permainan mulai dari kuda-kudaan, kereta gandeng, ayunan, hingga akhirnya meminta naik biang lala bersama Bara dan Retha.
Di atas sana, Kenzo terlelap tidur di pangkuan Retha.
"Kamu pasti kelelahan menemani Kenzo seharian ini. Biar dia aku gendong saja," ucap Bara.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya tidak lelah. Sepertinya Kenzo yang kelelahan." Retha memandangi wajah tenang yang sedang tertidur di pangkuannya.
"Dia terlalu bersemangat dan senang bisa jalan-jalan dengan guru kesayangannya. Kenzo sepertinya sangat menyukaimu."
Retha tersenyum dengan pujian yang Bara berikan. Memang, pada umumnya guru akan menjadi idola bagi murid-muridnya.
"Saya juga menyukaimu."
Ucapan Bara membuat Retha terkejut. Ia memandangi wajah lelaki itu dengan penuh penasaran. Rasanya tidak mungkin seorang CEO sukses menyukai wanita seperti dirinya. Wanita yang melakukan pekerjaan terlarang hanya demi uang.
Ia menepis ekspektasinya yang terlalu tinggi. Tidak mungkin lelaki itu benar-benar menyukainya. Mungkin kata suka yang dimaksud hanya sebatas pelanggan yang menyukai wanita semacam dia.
"Bapak kalau bercanda jangan kejauhan. Ada-ada saja." Retha berusaha menepis kegugupannya dengan tawa.
"Saya serius." Tatapan mata Bara sudah menjelaskan semuanya.
Retha semakin canggung menerima pengakuan cinta dalam kondisi semacam itu. Untung saja Kenzo sedang tidur. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi.
"Bagaimana dengan istri Bapak, ibunya Kenzo?" tanya Retha memastikan.
"Saya yakin kamu juga sudah mendengar ceritanya. Kenzo juga bilang guru-gurunya sering membahas tentang saya dan mantan istri saya."
Retha jadi malu. Meskipun dia tidak pernah ikut-ikutan bergosip dengan guru yang lain, tapi ada orang tua yang sampai mendengar sering jadi bahan perbincangan di sekolah membuatnya ikut malu.
"Istri saya yang memilih pergi meninggalkan kami. Tanpa diskusi apapun, dia pergi begitu saja dari rumah, tidak pernah memberi kabar hingga kini. Lagi pula sudah tiga tahun berlalu dia pasti juga sudah lupa untuk pulang apalagi cita-cita yang diharapkannya telah tercapai. Dia lebih memilih karir dari pada keluarga."
Retha mengusap kepala Kenzo. Ia kasihan dengan anak yang pernah menjadi pemurung di sekolah karena ibunya. Anak itu begitu merindukan wanita yang telah melahirkannya namun tega meninggalkannya.
"Apa kamu bisa menerima perasaan saya?"
Retha ragu untuk menjawab. Bara memang sangat tampan. Dia juga kaya, idaman setiap wanita. Hanya saja, ia takut perasaan itu hanya bertahan sementara untuk mengisi rasa kesepiannya selama bekerja di luar kota.
"Sepertinya saya belum bisa menjawab, Pak. Ini terlalu cepat. Kita baru dekat beberapa waktu belakangan."
"Saya akan memberimu waktu untuk memberi jawaban. Saya bisa menunggu. Kita bisa mencoba dekat dulu supaya kamu lebih mengenal saya."
Retha tertunduk. "Pasti ada banyak wanita yang menyukai Bapak, wanita dari kalangan pengusaha dan kaya. Sedangkan saya hanya wanita miskin yang bahkan rela jadi teman tidur Bapak hanya untuk makan. Saya bukan wanita baik-baik. Bapak sudah tahu itu."
"Saya juga bukan lelaki baik-baik," timpal Bara. "Kalau saya lelaki baik-baik, tidak mungkin saya akan membayarmu."
"Apa pertimbangan Bapak menyukai saya?"
"Dari sekian banyak wanita yang mencoba dekat dengan Kenzo, hanya kamu yang bisa membuat dia luluh. Kenzo tipe anak yang sulit dekat dengan orang lain. Tapi, begitu bertemu denganmu, Kenzo langsung menempel padamu."
Retha juga tidak tahu kenapa Kenzo bisa merasa nyaman dengannya. Bahkan ia pilih-pilih guru di sekolah harus dirinya yang mengajar.
"Hah! Sepertinya saya juga sama seperti Kenzo," gumam Bara.
Retha menatap penuh tanya ke arah Bara.
"Saya juga tidak bisa jauh-jauh darimu," ucapnya.
Wajah Retha langsung memerah mendengar bualan dari Bara.
ceritanya bagus
paling paling kau..
haaa
keluar juga sifat aslinya
guut Bara..
puas dah tawain thea