NovelToon NovelToon
Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Status: tamat
Genre:Kultivasi / Xianxia / Pendekar / Fantasi Timur / Roh Supernatural / Petualangan / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 5
Nama Author: San_art

Menapaki Jalan Takdir Surgawi, adalah suatu proses dari perjalanan yang panjang, sulit, menantang, di mana sepanjang jalan hanya ada kesunyian yang menanti.
Lalu, lahirlah seorang anak yang bernama Asta Ken, satu dari jutaan orang yang terlahir dengan bakat bawaan. Namun semua itu baru terkuak, setelah dia kehilangan kedua orang tuanya dan dendam di hatinya menggelegak.
Dengan tekad yang kuat dan semangat yang tinggi, Asta Ken menantang langit dan bumi. Dengan pedang dan kepalan tangan, Asta Ken memburu kejahatan dan menegakkan keadilan.
Tentu tak semudah itu jalan yang akan dilaluinya, karena menyaksikan kematian kekasihnya adalah salah satunya. Di luar dari itu, sahabat yang paling dia percaya justru mengkhianatinya tanpa ragu. Namun apa pun nasib yang menimpanya, Asta Ken harus memendam keluhannya karena ada banyak musuh yang ingin membunuhnya.

"Dewa! Aku menantang kalian untuk turun dari singgasana! Dimanapun kalian berada, aku akan datang membawa pesan kematian!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon San_art, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 028 Pertanda (revisi)

Dibawah bimbingan Gurunya, pencapaian Asta terus meningkat pesat. Baik dalam hal kontrol dasar maupun pemahaman kultivasi. Semua latihan yang Flares berikan terbilang intensif, tetapi hasilnya sungguh memuaskan.

Memanfaatkan tekanan alami di Lembah Neraka, Flares sesekali melepaskan pelindungannya agar Asta bisa belajar bertahan hidup tanpa bantuannya. Namun, bukan hanya itu, sumber daya yang tersimpan melimpah di Lembah Neraka memudahkan Flares dalam meracik obat. Gabungan antara Kitab Dewa Api dengan ramuan yang dibuat oleh guru ini menciptakan percepatan perkembangan yang sangat signifikan.

Dalam setengah tahun berikutnya, Asta akhirnya berhasil menetapkan pondasi ranahnya sebagai kultivator Ahli. Proses yang cukup panjang akhirnya membawanya mampu menguasai metode penggabungan dua penciptaan.

"Terima kasih, Guru. Semua pencapaian ini tak akan mungkin terjadi tanpa bantuanmu," ucapnya dengan senyuman tulus.

"Bagus, kamu mengakui keberhasilan ini berkat bimbinganku. Kini saatnya untuk melatih teknik yang pernah kamu dapatkan," kata Flares dengan serius.

Asta mengangkat alisnya dengan rasa ingin tahu, "Apa maksud Guru?"

Flares melepaskan pukulan ringan ke arah kepala Asta, "Keluarkan pedang yang diberikan oleh Ace. Waktunya kamu mulai melatih Tebasan Penghancur Semesta yang diberikannya padamu."

Asta mengerutkan keningnya bingung, "Tapi, Guru, aku tak berniat menempuh jalur pedang. Aku lebih suka bertarung dengan tangan dan kaki."

Flares kembali melancarkan pukulan ke arah Asta, "Apa kau mencoba untuk menantang perkataan gurumu?!" ujarnya dengan tajam.

Asta meringis kesakitan dan memegangi kepalanya, "Tentu tidak, Guru."

"Diam! Keluarkan pedang itu," perintah Flares dengan tegas. Asta pun mengeluarkan gulungan dan pedang yang diberikan oleh Ace.

"Kamu mungkin belum tahu tentang Tebasan Penghancur Semesta ini. Jika kau tahu sejarahnya, mungkin kamu akan lebih tertarik untuk mempelajarinya," kata Flares sambil memulai ceritanya.

Flares menceritakan tentang Kaisar Surgawi yang berhasil mengatasi 12 kekuatan Ras Hewan Kuno di masa lalu dengan menciptakan 12 Segel Penghancur Semesta. Melalui tekhnik ini, Kaisar Surgawi berhasil mengatasi penghalang yang diciptakan oleh 12 Hewan Kuno dan memenangkan pertempuran.

Asta terkesima dengan keberanian Kaisar Surgawi yang berani menantang alam pada masa itu. Sejenak ia merenung, dan akhirnya ia tertarik untuk mempelajari teknik tersebut.

Flares melanjutkan, "Hukum surgawi tak pernah membatasi kultivator untuk mengeksplorasi berbagai jalur pemahaman. Kamu bisa menjelajahi lebih dari satu jalur pemahaman. Meskipun kamu tak ingin, kamu tetap harus mempelajarinya. Terlebih jika kamu ingin bertarung dengan tangan dan kaki, pemahaman tambahan ini bisa membantumu melawan ahli pedang. Kamu bisa menggabungkan ilmu pedangmu dengan gerakan tubuhmu, membuat tangan dan kakimu sekuat pedang atau sebagai strategi melawan ahli pedang. Keduanya bisa sangat bermanfaat. Tak ada salahnya mempelajari sesuatu yang berbeda."

Asta merenung dalam diam, meresapi kata-kata gurunya. Pada akhirnya, ia menyadari ada kebenaran dalam ucapan Flares. Tanpa ragu, Asta membuka gulungan dan memulai pembelajarannya dengan tekun. Setelah beberapa saat, Asta berhasil menguasai teknik tersebut dan ingin mencobanya.

Pedangnya meliuk dengan ayunan yang cepat, menciptakan energi pedang yang melesat ke depan. Jejak dalam tanah membuktikan kekuatannya.

Asta tercengang melihat efek dari tebasan pedang ini. Ia ingin mencoba lagi, tapi tiba-tiba terbersit ide brilian di pikirannya. Dengan tenang, Asta mengatur nafasnya, mengalirkan esensi roh ke dalam pedangnya.

"Teknik Roh, Tebasan Membara!" serunya.

"Hei, jangan asal mengubah..." Flares terhenti saat melihat energi yang dihasilkan jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Jika awalnya Tebasan Penghancur Semesta memiliki ciri energi biru dan sifat irisan angin yang tajam, mampu memotong apa pun di jalannya, maka perbedaannya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Asta sangatlah mencolok.

Apa yang baru saja dilakukan oleh Asta adalah melepaskan tebasan energi pedang berwarna hitam pekat, serupa dengan esensi rohnya. Teknik tersebut telah kehilangan karakteristiknya, dan menjadi semacam serangan penghancur yang amat kuat. Pepohonan yang terkena serangan tersebut, langsung terbakar dan hangus menjadi arang.

"Demi Surgawi, akhirnya aku berhasil!" Teriak Asta dengan penuh bangga. Ia melompat-lompat dalam kegembiraan, serentak berteriak "Aku berhasil!" berulang kali.

Flares terdiam, mengamati serius energi pedang berwarna hitam yang baru saja dilepaskan oleh Asta. Semak-semak dan pepohonan yang berada di jalur serangannya, hancur luluh menjadi abu.

Flares menyentuh dagunya dalam keragu-raguan. Matanya terus terpaku pada tempat di mana serangan energi pedang menghancurkan segala sesuatu. Perlahan, ia merasa yakin bahwa ini bukan lagi Tebasan Penghancur Semesta yang ia ajarkan. Meskipun gerakannya mirip, tetapi esensi kekuatannya berbeda jauh. Flares bangkit dan mengambil salah satu potongan arang dari pohon yang terbakar, mencoba memastikannya.

Tehnik Roh adalah seni bertarung yang mengandalkan kekuatan pelepasan atau penciptaan roh. Tehnik ini hanya bisa dipahami oleh mereka yang memiliki esensi dan kekuatan roh yang sepadan atau bisa diciptakan sendiri.

"Ini sudah bukan lagi Tehnik 12 Segel Penghancur Semesta. Walaupun gerakannya mirip, efek serangannya jauh berbeda. Aku yakin ini adalah Tekhnik Roh, tapi sulit dipercaya bahwa anak ini bisa menghasilkan sesuatu seperti ini pada usianya dan pada tingkatan kultivasinya sekarang," gumam Flares dengan penuh kekaguman.

Asta mendekat, menghampiri Flares. Walaupun ia tahu bahwa Gurunya pasti telah menyadari perubahan ini.

"Guru, apa yang sedang kau pikirkan? Apakah perlu memandangi dengan detail?" Tanya Asta.

Flares tersenyum tipis. "Nak, kau telah mengagetkan dan hampir membuat gurumu kaget hingga jantungnya berhenti. Aku sangat penasaran, darimana kau mendapatkan inspirasi untuk menciptakan sesuatu seperti ini. Aku takut, kamu akan terlalu fokus pada menciptakan teknik semacam itu dan melupakan perkembangan lainnya," ucap Flares seraya meletakkan tangan di atas kedua bahu Asta.

Asta merasa haru melihat penghargaan yang diberikan oleh gurunya.

"Guru, aku hanya mengikuti apa yang telah Guru ajarkan. Memahami seni surgawi yang begitu kompleks dan dalam, sebagaimana Guru katakan, adalah seperti memahami potongan besar dari kaca yang digunakan untuk memantulkan wujud kita."

Flares mengangguk setuju. "Tapi bagaimana mungkin kau bisa menciptakan Tehnik Roh hanya dengan mengikuti itu?"

"Sebetulnya, aku melakukan beberapa perubahan. Jika potongan besar itu adalah representasi dari jalur pemahaman, maka yang tercermin di dalamnya adalah kultivator yang tengah berkultivasi menuju keabadian. Aku tak melihat jalur pemahaman sebagai patokan tetap, tetapi sebagai bagian dari pemahaman yang lebih besar. Begitu kaca itu pecah, begitu ada konflik dalam pemahaman, itu adalah momen ketika kultivasi terjadi. Bukan lagi tentang terpaku pada satu jalur pemahaman, tetapi memahami keadaan jiwa dan raga agar kita bisa terus berkembang, tidak terhalang oleh batasan pemahaman tertentu," jelaskan Asta.

Flares menganggukkan kepala dengan pengertian. Jika kaca pecah, tidak ada kesempatan untuk kultivator untuk memantulkan dan memperbaiki diri. Mungkin pecahan tersebut bisa digunakan, tetapi hasilnya tidak akan maksimal.

"Jika menurut Guru, melihat diri kita sendiri dalam jiwa, membuka hati, dan mengalirkan esensi surgawi, aku memodifikasinya menjadi membuka jiwa, mengintegrasikan perasaan dan kendali atas esensi surgawi. Dengan cara ini, kita tidak hanya terpaku pada satu atau beberapa jalur pemahaman, tetapi memahami kondisi jiwa dan raga untuk terus maju tanpa terikat pada batasan jalur pemahaman," tambah Asta.

Flares membuka matanya lebar-lebar, tak percaya akan apa yang telah didengarnya. Ia duduk terdiam dalam keheranan. Kata-kata Asta menggema di kepalanya, meresap dalam pikirannya.

"Menapaki Jalan Takdir Surgawi..." gumam Flares, tanpa menyadari bahwa suaranya terdengar.

"Boom!" Suara dentuman keras membuat Asta terhempas ke belakang. Sebuah gelombang energi tiba-tiba meletus dari Flares. Rasa sakit melanda tubuh Asta, dan meskipun kesakitan, ia bangkit berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Ia merasa cemas karena tidak tahu apa yang sedang terjadi pada gurunya.

Namun, gelombang hitam pekat yang datang dari arah langit tiba-tiba mengumpul di atas Lembah Neraka. Kilatan petir menerangi langit, dan hewan-hewan gaib di sekitar mereka bersembunyi dalam ketakutan. Kehebohan ini menarik perhatian penduduk sekitar, bahkan hampir seluruh Benua Alam Surgawi.

Tak berlangsung lama, Flares mengepalkan tangannya, dan di langit tampak awan hitam mengepul dengan hebat. Petir-petir menyambar dan memancarkan cahaya yang menakutkan. Semua makhluk hidup di Lembah Neraka berhamburan melarikan diri, ketakutan oleh kekuatan dahsyat yang tengah dilepaskan.

Bising kilatan petir dan suara guruh menggema, membangunkan sosok yang tersembunyi di dalam Gua Ketiga di Lembah Neraka. Sosok ini tersenyum tipis, merasakan energi luar biasa yang dilepaskan Flares.

Asta yang terkejut dan kagum, tidak tahu apa yang terjadi. Ia menatap dengan cemas saat Flares mengeluarkan serangan dahsyat ini.

"Dari mana datangnya energi ini?" bisik Asta dalam hati, namun ia merasa ada yang lain di balik semua ini.

Langit menjadi semakin gelap oleh awan hitam yang terbentuk. Petir menyambar dengan ganas, menghantam Lembah Neraka. Semua yang ada di sana, termasuk Asta dan Flares, merasakan kekuatan yang luar biasa ini.

Namun, tepat sebelum petir itu menyentuh tanah, sesuatu terlempar dari dalam cincin penyimpanan yang ditinggalkan oleh ayah Asta. Sebuah benda kecil melayang-layang di udara, kemudian berubah menjadi pelindung besar yang melingkupi seluruh Lembah Neraka, memblokir serangan petir itu.

Beberapa saat kemudian, awan hitam perlahan-lahan menghilang, langit kembali cerah seperti tak terjadi apa-apa. Asta tetap berdiri, mengamati pemandangan di sekitarnya dengan kagum dan rasa syukur. Ia merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia duga terjadi, dan ini membuatnya semakin penasaran tentang asal-usul kekuatannya.

---

Jauh di Sekte Kobaran Api Sejati, Arai Ken merasa terkejut saat merasakan getaran energi dari kelereng yang telah ia berikan kepada Asta. Sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya, karena ia menyadari bahwa kini putranya berada di bawah perlindungan seseorang yang tidak sembarangan.

"Asta, anakku, tampaknya kau telah menemukan seseorang yang layak untuk menjaga dan membimbingmu," gumam Arai Ken dalam hati.

---

Sementara itu, di Lembah Neraka, Asta masih memandangi langit yang kembali tenang setelah fenomena dahsyat tadi. Ia merasa ada kekuatan yang melindunginya, sebuah keberadaan yang tak terlihat namun sangat kuat. Namun, Asta belum menyadari sepenuhnya apa yang telah terjadi dan bagaimana semua ini berkaitan dengan kelereng yang ditinggalkan oleh ayahnya.

"Guru...!!! Apa kau baik-baik saja?! Apa yang terjadi?!" teriak Asta sambil berlari melalui debu.

Meskipun petir tidak menyambar mereka, guncangan gempa yang dahsyat tetap terjadi, membuat Lembah Neraka sedikit berantakan.

Dari balik debu, Flares terbatuk-batuk karena tersedak. Ia memandangi awan-awan hitam di atas langit yang mulai kembali menyingkir. Ia tersenyum tipis. Ternyata, muridnya sendiri telah memecahkan permasalahan yang ia hadapi. Namun, yang lebih mengejutkan adalah bahwa Asta memiliki sesuatu yang dapat menghalangi petir surgawi, yang bukanlah hal sederhana.

Meskipun diberikan kesempatan besar, Flares merasa menyesal dengan keadaannya saat ini. Keadaan sebagai gumpalan roh membuatnya tidak dapat menggunakan kekuatan penuh.

"Guru, apa yang terjadi?" tanya Asta penuh kekhawatiran.

"Tidak ada. Itu hanya fenomena alam biasa," jawabnya sambil tersenyum.

Asta menatapnya tajam. "Tidak ada fenomena alam yang sebegitu menakutkan,"

"Itu hanya fenomena alam yang terjadi ketika seseorang menerobos ke Ranah Kaisar Surgawi. Namun, semasa hidupku, aku adalah seorang Kaisar Surgawi. Jadi, fenomena tadi adalah proses menerobos ranah di atas Kaisar Surgawi," jelas Flares.

Asta tidak sadar menelan ludahnya sendiri. Ia tak percaya bahwa menerobos ke ranah tinggi bisa menimbulkan fenomena alam yang sangat menakutkan.

"Nak, apakah kau masih ingat janjimu?" tanya Flares.

"Tentu saja. Aku tidak akan melupakannya. Aku akan berjuang keras untuk membantu guru mendapatkan kembali tubuh baru," jawab Asta.

"Apakah kau tidak ingin tahu mengapa aku memintamu melakukan ini?"

"Aku mempercayaimu, Guru. Aku yakin ini demi kebaikanmu dan juga demi diriku. Aku tidak akan meragukanmu," ujar Asta.

Flares tersenyum bangga dengan jawaban itu. "Baiklah, saatnya kita mengunjungi tempat yang belum pernah dikunjungi oleh siapa pun sebelumnya."

Asta mengangkat alisnya, penasaran tentang tempat apa yang dimaksud.

"Bukankah tadi kau berbicara tentang mempercayai guru?" kata Flares. "Apakah kau ingin menarik kata-katamu?"

"Ehh..?!! Maksudku bukan begitu, Guru. Aku hanya ingin tahu tentang tempat itu. Kau bilang itu adalah tempat yang belum pernah dikunjungi dalam waktu yang lama. Tempat seperti itu pasti berbahaya," jawab Asta.

"Tepat. Tempat ini memang berbahaya bagi orang lain, tapi tidak bagi guru. Kau akan melihatnya sendiri nanti. Tempat yang kita cari berada di Lembah Neraka, goa ketiga."

Flares menarik lengan muridnya dan memasuki goa ketiga. Asta masih bingung dan berpikir apa yang akan ditemukannya di dalam sana. Mereka berjalan dan menuruni anak tangga yang menuju ke bawah.

Asta terkejut dan terkagum-kagum dengan pemandangan yang dilihatnya saat menuruni tangga. Di dalam goa, tidak terasa gelap karena dindingnya berhias permata biru yang berkilauan, memberikan penerangan alami.

Setelah berjalan beberapa saat, Asta akhirnya melihat ujung lorong. Tekanan mengerikan terasa berasal dari sana, lebih kuat daripada yang pernah dirasakannya saat berlatih di Lembah Neraka.

"Meskipun berhasil menguasai kontrol dasar dengan baik, jangan terlalu bangga. Kamu tahu bahwa itu hanya langkah awal dalam perjalanan Kultivasi," peringatkan Flares.

"Iya, murid ini menyadari masih punya jalan panjang menuju puncak Kultivasi," jawab Asta.

Asta merasa berutang kepada Ace dan Flares karena tanpa mereka, dia tidak akan berada dalam posisi ini. Kehadiran mereka berdua memberikan pencerahan dan pemahaman yang belum pernah dia temui sebelumnya.

"Bagus, selama mengerti. Jangan sampai terhenti di suatu ranah hanya karena tak mau meningkatkan kontrol dasar lebih lanjut," kata Flares.

Asta mengerutkan kening dalam kebingungan. Dia tidak sepenuhnya memahami maksud ucapan guru.

"Tingkat kontrol dasar memiliki tahap yang lebih tinggi dari tingkat tinggi, dan jangan meremehkan terhenti di suatu ranah. Kamu sendiri yang pernah menyarankan jangan terlalu fokus pada pemahaman itu, bukan?" Flares menjelaskan.

"Ah, begitu paham," kata Asta sambil tersenyum tipis.

"Semakin tinggi ranah kultivasi, semakin tinggi persyaratan yang diperlukan. Meskipun bukan persyaratan utama, tetap memiliki dampak. Jika tidak dipenuhi, kekuatanmu akan berbeda dari orang lain dalam ranah yang sama," jelas Flares.

"Terlebih untuk mencapai Ranah Kaisar Surgawi. Banyak yang berada di Ranah Tetua Langit, tapi hanya dua orang yang berhasil mencapai Ranah Kaisar Surgawi. Itu tidak hanya memerlukan pemahaman, tapi juga pengakuan dari Hukum Surgawi," lanjut Flares.

"Ini termasuk kamu juga, Guru," kata Asta. Flares menganggukkan kepala dan melanjutkan saat mereka masih berjalan di lorong, yang sebenarnya masih sangat jauh dari ujung.

"Tapi, Guru, mengapa seorang Kaisar Surgawi yang kuat bisa tewas?" tanya Asta.

"Lebih baik untuk tidak tahu terlalu banyak saat ini. Mari kita akhiri pembicaraan ini. Kita sudah sampai," ujar Flares, menunjuk ke makhluk setinggi 50 meter yang ada di depan.

"Tidak mungkin... Bagaimana bisa ada makhluk seperti itu di tempat latihanku...?!" ujar Asta terkejut.

"Hahaha... Tentu saja, ada seseorang yang menahankannya di sini. Kamu sangat lucu, muridku," Flares tertawa melihat reaksi Asta.

Makhluk itu diikat dengan rantai besar yang melingkari tubuhnya. Tubuhnya seperti terbuat dari lahar dan batu, tetapi rantai-rantai itu terlihat tak terpengaruh oleh suhu tinggi tubuhnya.

"Groaaarrrrrr....!!!!!!!"

Asta tersentak saat makhluk itu tiba-tiba mengintimidasi. Ia tak menyangka berlatih di dekat makhluk menakutkan seperti itu.

Makhluk itu menatap Asta tajam. Seperti tidak akan membiarkannya lepas jika rantai-rantai itu tak mengikatnya.

Asta merasakan tekanan luar biasa dan hampir pingsan sejak memasuki ruangan tempat makhluk itu berada. Beruntungnya, Flares membantunya tetap sadar.

"Guru, apa ini? Mengapa Guru membawaku ke sini? Apakah tempat ini yang Guru maksud sebagai tempat yang belum pernah dikunjungi siapapun dalam waktu lama?" tanya Asta dengan ketakutan.

"Ya, inilah tempatnya," kata Flares sambil tertawa.

"Apa Guru berencana menjadikanku makanannya? Aku ingin tetap hidup," ucap Asta, gemetar dan gugup.

"Haha.. Tentu saja tidak. Aku membawa kamu kemari untuk memberikan kamu hadiah," kata Flares.

Asta pun terduduk di tanah, memandangi sosok yang menjulang setinggi 50 meter. Ia bertanya-tanya tentang hadiah apa yang dimaksud oleh Flares. Mungkin hadiah itu adalah dirinya yang akan dijadikan makanan oleh makhluk tersebut.

"Hadiah? Hadiah apa..???!!! Mana ada makhluk hidup yang mau dihadiahi kematian. Tidak, Guru. Aku menolaknya. Aku masih ingin hidup," balas Asta sambil berusaha bangkit.

"Kemari," panggil Flares.

"Tidak akan, Guru," balasnya mantap.

"Kemari," panggil Flares sekali lagi.

"Tidak akan, Guru," balasnya dengan tegas.

Tanpa ragu, Asta langsung berbalik dan berlari menjauh dari gurunya. Dia begitu ketakutan sehingga tak memperhatikan langkah kakinya, terburu-buru menjauhi sosok mengerikan itu.

"Asta, kamu tak perlu terlalu cemas. Makhluk itu tidak akan menyakitimu," kata Flares dengan nada lembut.

Asta menatap Flares dengan wajah penuh ketidakpercayaan. "Tapi, Guru, itu... itu terlihat sangat menakutkan."

Flares tertawa. "Ya, memang terlihat menakutkan, tapi itu hanya penampilan luarnya saja. Mari, aku akan membantumu untuk berhadapan dengannya."

Asta masih ragu, tapi akhirnya mengangguk pasrah. Flares membimbing Asta mendekati makhluk raksasa itu dengan langkah hati-hati. Makhluk itu tetap memancarkan aura yang kuat dan menakutkan, tetapi seiring mendekat, Asta merasa bahwa aura itu juga memiliki kehadiran yang tak terduga, hampir seperti... kebingungan?

Makhluk itu menatap Asta dengan mata besar yang menyala, dan Asta merasa ada kecerdasan di balik tatapan itu. Sesaat kemudian, Flares mengulurkan tangannya dan menyentuh makhluk tersebut, sementara Asta menahan napas.

"Jangan khawatir, Asta. Ini bukanlah makhluk yang berbahaya," ujar Flares dengan suara lembut.

Makhluk itu tiba-tiba tersenyum meremehkan, membuat bulu kuduk Asta seketika merinding membayangkan dirinya sedang dijebak oleh gurunya untuk dijadikan makanan makhluk tersebut.

"Tidak, Guru! Aku tidak mau! Aku masih ingin hidup..!!!" Teriak Asta, lalu berlari pergi.

1
Evigenia
ditunggu ya thor....
Yusuf CeperNya Ce'Mas
okeerreeekkkk nihh
Y. I. Amery: Hallo kak maaf ganggu waktunya, aku mau izin numpang promonya kalau ada waktu mampir yuk ke novel aku yang judulnya

~~𝐌𝐲 𝐖𝐢𝐟𝐞 𝐢𝐬 𝐁𝐚𝐝 𝐆𝐢𝐫𝐥~~

𝐌𝐨𝐡𝐨𝐧 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤🙏🤗
total 1 replies
WawanJS
brenti ini..
.
Atalia
ditunggu part selanjutnya yaa thor😁
Atalia
menarik💗🎈
next
Atalia
keren 😎
next
Atalia
diluar dugaan yaa, tapi seru banget.
oke next 😅
Atalia
wow lumayan rumit yaa. Tapi semangat terus thor
Atalia
keren😎
strawberry milk
bagus ceritanya, cuma sayang ngegantung🥲
strawberry milk
gaada lanjutannya thor
ovi
lnjut kk
Ratry Try
gak ngerti blas
arfan
up
❤️⃟Wᵃf🤎𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ ☘𝓡𝓳🏡⃟ªʸ
masih lanjut baca thor👍
❤️⃟Wᵃf🤎𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ ☘𝓡𝓳🏡⃟ªʸ
lanjut baca
Atalia: next 😅
total 1 replies
❤️⃟Wᵃf🤎𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ ☘𝓡𝓳🏡⃟ªʸ
mampir thor
❤️⃟Wᵃf🤎𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ ☘𝓡𝓳🏡⃟ªʸ: ok thor saya lanjut baca ny keren👍👍
total 4 replies
Slamet Riyanto
t
Slamet Riyanto
yt..y6d k 7mmjh lmi

k8muhf
Suk Ling
lanjut semengat keluaraga sabar orang manusia masih hidup asli sama bahasa indonesia wkwkwkwkwok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!