NovelToon NovelToon
Heavenly Earth

Heavenly Earth

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:6.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: nenengsusanti

Jika Atap ibadah saja sudah berbeda, lalu bagaimana kita bisa menjalani hubungan yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Kahyangan langsung tak sadarkan diri saat itu juga, dunia bagai runtuh seketika di atas kepalanya mana kala mendengar Dokter memberi pernyataan tentang waktu sang ibu menghembus nafas terakhirnya.

"Yang, sadar sayang" bisik Bumi yang langsung menggendong Kahyangan ke sofa.

Bumi meminta Sarah untuk menjaga Kahyangan sedangkan ia akan menghubungi keluarganya untuk memberitahukan kabar duka.

.

.

Sedih rasanya melihat gadis yang teramat ia cintai itu semakin rapuh dan terluka. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali memberi rasa aman dan nyaman.

Dua puluh menit berlalu, keluarga Bumi sudah datang kerumah sakit tapi tidak dengan si Bungsu, Reza melarangnya ikut karna kondisinya sedang tak begitu baik.

"Pah, Mah"

Reza dan Melisa memeluk Kahyangan secara bergantian, tubuhnya begitu lemah saat ia sudah sadar dari pingsannya.

"Sabar ya sayang, ada kami" bisik Melisa.

"Kamu kuat ya, Papa akan urus semuanya" timpal Reza yang langsung pergi bersama Bumi untuk mengurus segala sesuatunya, mulai dari kepulangan, rumah duka sampai

Air dan Hujan mulai mendekat, keduanya memberi ucapan turut berdukacita yang teramat dalam dan tulus, Hujan memang jarang sekali bertemu dengan Yayang tapi ia bisa merasakan bagaimana sedihnya menjadi anak yatim piatu. Dan Untuk Air, Kahyangan tetap menjadi sosok gadis terbaiknya selama ia memiliki teman wanita, sikap ramah dan baik hatinya pernah memberi rasa yang lain di masa lalu.

"Terimakasih " jawabnya sedih dalam pelukan Melisa.

Karna malam semakin larut, semua proses di lakukan dengan cepat. Kahyangan tetap memaksa untuk ikut Langsung kerumah duka meski Bumi sudah memohonnya untuk pulang dulu bersama mama dan juga Hujan.

"Sayang, kali ini aja aku mohon, dengerin aku ya. Kamu istirahat sebentar nanti pagi kamu langsung kesana, ok" Bumi masih merayu Kahyangan dalam pelukannya.

Ia tak ingin gadis Kesayangannya itu jatuh sakit karna terlalu lelah.

"Aku gak bisa tinggalin ibu," rengeknya masih menolak.

"Aku ngerti, tapi kamu gak bisa kaya gini. Aku gak izinin kamu ikut sekarang, Paham!" ucap Bumi, ia harap ini adalah kalimat terakhirnya yang tak ingin di bantah.

"Ayo, yang. Kita pulang dulu" ajak Hujan ikut merayu.

Perlahan Kahyangan mengurai pelukannya, dengan menghela nafas berat akhirnya ia mengalah.

Melisa, Hujan dan kahyangan bergegas pulang sedangkan Reza, Bumi, dan Air langsung menuju rumah duka.

.

.

.

"Mau ganti baju?" tawar Hujan.

Kahyangan menggelengkan kepalanya, ia duduk lesu di tepi ranjang kamar Bumi.

"Tidur sama aku aja yuk, dikamarku" ajak Hujan lagi, ia terus menawarkan diri ingin menemani Kahyangan yang begitu sangat terlihat berantakan karna terpukul.

"Gak apa apa, aku tidur disini aja, maaf sudah merepotkan mu" ucap Kahyangan dengan derai air mata.

"Jangan bicara begitu, kita kelurga."

Jawaban Hujan semakin menusuk hatinya yang terasa sangat pedih.

Dengan status apa aku dianggap keluarga?

"Ya sudah, aku balik kamarku ya, kalau ada apa-apa masuk aja, gak aku kunci. Kalo adek biasanya gak boleh ada yang ganggu waktu istirahatnya" jelas Hujan, ia sudah hafal betul dengan kebiasaan keluarga suaminya itu, termasuk tentang si bungsu Ratu nya RAHARDIAN.

" Ya, aku paham. Selamat istrirahat ya Hujan"

"Kamu juga" balasnya.

Sepeninggal Hujan, Kahyangan langsung bangkit menuju kamar mandi, matanya yang sembab seakan berat ia rasakan.

Gadis itu mencuci wajahnya, tak ada senyum dan aura kebahagiaan yang kini ia lihat dari pantulan cermin.

Kini ia seorang diri di dunia, entah apa yang harus ia lakukan setelah ini.

"Bu.. Yayang ikhlasin ibu" lirihnya yang kembali menumpahkan air matanya.

Serasa sudah lebih baik, ia pun kembali menuju tempat tidur. Namun, langkahnya berhenti di meja belajar Bumi.

Begitu banyak buku yang tersusun rapih di sana, Ia pun tersenyum simpul.

"Kamu nanti kelewat pintar, Bu" kekeh Kahyangan yang kini sudah duduk dikursi di meja belajar.

Satu persatu Kahyangan mengusap semua foto mereka berdua yang tertata rapih dalam bingkai.

Begitu banyak yang sudah mereka lewati selama menjadi sepasang kekasih.

Senyum dan tangis datang bersamaan, lukanya semakin pedih saat ia membaca satu kalimat yang menempel di rak meja belajar Bumi.

💕💕💕💕💕💕💕💕💕

Begitupun denganku

Tak mungkin tukang sate jualan di tukang seblak..

kecuali mie ayam dan baso yang sering satu gerobak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣

Ngode Mulu tapi gak di kasih kasih 😭😭😭

Like komen nya yuk ramai kan ♥️

1
Rista Awwalina
keren
mommy neng
aku baru mampir baca ini thor.. setelah baca judul lain2nyaa heehee
pipi gemoy
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼🙏🏼
SNN 💠
/Good/
SNN 💠
Sombong...
Maritanias
😘
Desi Lestari
cerita Mitha dan Iqbal ada gak
Amelia suhartono
aku selalu suka karya mu,singkat, padat,suka suka pokok nya😊
Jumi Eko
Bagus
kalea rizuky
ne nanti ibunya samudera bukan sih
kalea rizuky
waduh yusuf murtad demi merlyn
Dewi Utami
asli buat nguras air mata saat baru baca.
sempat hampir menjalin hub dgn yg beda agama, tapi aku langsung mundur karna imanku tak sekuat itu. sebelum perasaan terlalu dalam lebih baik mundur teratur.
Hardiana Rahim
gila berjamaah ini mah😂😂😂
Hardiana Rahim
bahas apaa sih🤔😁
Sipora Ira
Luar biasa
Sipora Ira
Buruk
ibeth wati
ya Alloh kok bisa nangis ya AQ wlo ini hny cerita novel ada rasa haru dan bahagia
Lulu embul
Astaghfirullah mak othor 🫣🫣😂😂
Lulu embul
jiplakan bumi banget 🤪🤪🤪
Lulu embul
Ngalahin bapaknya Oey..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!