NovelToon NovelToon
Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku

Status: tamat
Genre:Komedi / Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:418.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hana Hikari

Terbelenggu dalam pernikahan yang tidak diinginkan, mampukah pernikahan itu bertahan?

Bagaimana bila yang selalu berjuang justru menyerah saat keduanya sudah disatukan dalam ikatan suci pernikahan?

“Cinta kita seperti garis lurus. Bukan segitiga atau bahkan persegi. Aku mencintai kamu, kamu mencintai dia dan dia mencintai orang lain. Lurus kan?” ucap Yuki dengan tatapan nanar, air mata yang mulai merembes tertahan di pelupuk mata. “Akan lucu dan baru menjadi bangun datar segi empat bila sosok yang mencintai aku nyatanya dicintai orang yang kamu cintai.”

“Di kisah ini tidak ada aku, hanya kamu dan kita. Bukankah kita berarti aku dan kamu? Tapi mengapa kisah kita berbeda?” Ucapan lewat suara bergetar Yuki mampu menohok lawan bicaranya, membungkam bibir yang tiba-tiba beku dengan lidah yang kelu.

Ini adalah cerita klise antara pejuang dan penolak hadirnya cinta.

*
*
*

SPIN OFF Aara Bukan Lara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkah Mobil Mogok

Langit malam masih tampak bersinar, tentu saja semua karena sang rembulan masih setia menemani dengan cahaya nya yang menawan. Bahkan keindahan rembulan semakin tampak nyata saat lalu lalang kendaraan semakin berkurang.

“Yakin berani pecat aku?” Tanya Yuki sembari menyeringai, benar-benar mengejutkan Keven yang hendak menarik knop pintu mobilnya. Seakan sedang ada krisis identitas antara atasan dan bawahan, bukannya memohon untuk tidak dipecat, Yuki malah bertanya dengan seringai yang jelas menantang kesabaran Keven.

Memusatkan fokusnya dengan tambahan penerangan lampu restoran yang berdampingan dengan cahaya rembulan, Keven dapat melihat jelas raut wajah Yuki yang menyebalkan.

“Kamu ngelunjak ya.” Ucap Keven jengah, membanting sekuat tenaga pintu yang sempat ia buka.

Terperanjat Yuki memegangi dadanya yang berdebar, bukan debar jatuh cinta, tapi degup terkejut pada besi baja yang saling menghantam. “Followers media sosial ku banyak, jadi jangan pecat aku.” Ucap Yuki yang terdengar tidak jelas arah dan tujuannya di telinga Keven.

“Terserah!” Ucap Keven ketus sebelum akhirnya pergi meninggalkan Yuki yang terbengong.

“Kayak cewek aja suka ngomong terserah.” Gerutu Yuki sambil membawa langkah miliknya mendekati sebuah motor matic diparkiran. “Eh, tapi kan aku juga cewek. Sering ngomong terserah gak ya kalau aku?” Gumam Yuki lagi pada dirinya sendiri sambil menyalakan mesin motor.

Memacu laju mesin motornya, Yuki merasa ada setitik air yang mengenai punggung tangannya. Spontan saja Yuki menengadahkan telapak tangan selama beberapa saat untuk merasakan tetesan air hujan. Dan benar saja bulir itu terasa semakin banyak. Memaksa Yuki menepi pada emperan toko untuk mengenakan mantel hujan terlebih dahulu.

“Jangan deras dulu ya hujan.. Aku belum sampai rumah. Tunggu aku udah rebahan syantik di rumah baru hujan deras gak apa-apa.” Gumam Yuki sembari mengenakan mantel hujannya.

Baru saja ia akan mengenakan helm di kepala yang sudah terlapis tudung mantel, tiba-tiba tetesan hujan langsung menyergap. Sangat deras dan terasa seperti peluru kerikil saat mengenai punggung tangan Yuki. Sungguh berbeda dengan setetes air hujan yang sebelumnya.

Menyipitkan mata seakan mengenali sebuah mobil familiar yang berhenti di tepi jalan, Yuki memperlambat laju motornya. Tampak kap depan mobil terbuka dengan seorang laki-laki yang juga sangat Yuki kenali sibuk memeriksa bagian mesin mobil.

Menghentikan motornya di depan mobil yang terparkir, Yuki menarik mantel hujan yang dikenakan agar bisa menjadi payung untuk laki-laki yang terkejut pada kehadirannya.

“Mas Keven kenapa hujan-hujanan sih!?” Tanya Yuki khawatir, berusaha terus melindungi tubuh Keven dari guyuran derasnya air hujan. Meski percuma, karena tubuh Keven sudah basah kuyup.

“Kamu ngapain?” Tanya Keven yang akhirnya bisa menguasai keterkejutannya.

“Mas Keven yang ngapain hujan-hujanan? Oh.. Mogok ya? Masuk ke mobil dulu, mending minta bantuan.” Ucap Yuki sambil menarik paksa tubuh berat Keven. Membuka pintu tepat di sisi kemudi dan mendorong masuk Keven secara paksa.

“Mas Keven ada baju ganti nggak?” Tanya Yuki yang kini duduk di kursi samping kemudi. Mantel hujan yang dikenakannya sudah tertanggal membasahi lantai mobil Keven.

“Kamu ini apa-apaan sih? Suka banget seenaknya!” Protes Keven tidak suka.

“Sstt..!” Meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, Yuki mengisyaratkan agar Keven berhenti menggerutu padanya.

“Mas Keven gak punya payung ya di mobil? Lain kali sedia payung sebelum kena guyur hujan.” Ucap Yuki lagi saat matanya sudah berkeliling memerhatikan seluruh sisi mobil berserta isinya.

Kembali menengok ke kursi penumpang di bagian belakang, Yuki berdecak sambil menggeleng pelan. “Gak ada sedia baju ganti juga di mobil?”

“Sebenarnya kamu mau apa?” Tanya Keven jengah pada sikap Yuki yang terlalu sesuka hatinya.

“Sebentar Mas, jaket ku ini besar deh, tapi kayaknya gak muat juga sama Mas.” Ujar Yuki sambil menunjuk pada jaket kebesaran yang ia kenakan.

Yuki memang sengaja membeli jaket itu belum lama ini, tentu saja untuk melindungi dirinya dari angin malam. Dan jelas saja dengan ukuran yang kebesaran itu sesuai saran dari Ara, katanya agar Yuki bisa lebih mudah menyembunyikan diri dari cuaca dingin jika mengenakan jaket yang kedodoran.

Mengenai Ara dan Dimas, tentu saja kedua sahabatnya itu belum mengetahui jika Yuki memanfaatkan waktu sore hingga malamnya sebagai seorang pramusaji. Bukan malu mengakui fakta itu, tapi jelas kedua sahabatnya akan langsung tau motif asli Yuki yang hanya ingin berdekatan dengan seseorang.

“Hei!!” Sentak Keven dengan nada meninggi pada Yuki yang sedari tadi sibuk seorang diri.

Menggenggam erat pergelangan tangan Yuki yang hanya dibalas raut kegirangan, Keven bergidik ngeri dan mengendurkan tangannya.

“Kenapa dilepas Mas? Malu ya udah berani pegang-pegang? Aku rela loh kamu pegang gini.. Sini pegang lagi. Hahaha..” Tergelak tawa kencang Yuki menyaksikan Keven yang semakin menatapnya dengan ekspresi keheranan.

“Mending Mas Keven sekarang telepon orang buat bantu urus mobil. Jangan hujan-hujanan buat benerin sendiri. Mas besok harus pergi sama Mas Saka kan? Gak lucu kalau gara-gara kena hujan malam ini jadi demam dan besok jadi batal pergi.” Celoteh Yuki panjang lebar. Dirinya tidak sengaja mendengar pembicaraan Saka dan Keven saat berpura-pura sedang mengepel lantai.

“Kemejanya lepas Mas.” Ucap Yuki tiba-tiba yang kembali menyentak akal sehat Keven.

Menyilang kan tangan di dada seolah sedang melindungi dirinya sendiri, Keven beringsut mundur.

Bugh.

Memukul paha Keven dengan kencang, Yuki jelas tau apa yang sedang Keven pikirkan. “Aku gak mau mesum ya.. Lagi pula kalau jadi mesum juga yang untung Mas Keven, aku jelas rugi.”

Berdehem kuat, Keven menegakkan punggungnya. Bersikap seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. “Mending kamu pulang deh!” Perintah Keven tegas, mendorong tangan Yuki yang kembali menyodorkan jaketnya.

“Iya, habis ini aku pulang. Tapi Mas Keven buka aja itu kemeja, ganti tutup pakai jaket aku ini sambil nunggu bantuan.” Ucap Yuki lagi dengan pantang menyerah.

Menjatuhkan jaket miliknya di paha Keven, kini Yuki menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. “Cepat lepas. Aku udah tutup mata. Aku gak mesum kok.”

Merasa ide Yuki tidak terlalu buruk, Keven mulai melepas satu per satu kancing kemejanya. Melirik sekilas pada Yuki yang masih menutup matanya, tanpa Keven pernah sadari bahwa Yuki sedang mengintip di balik celah jemari yang menghalangi pandangannya. Sungguh batin Yuki bersorak girang pada berkah mobil mogok.

Mengernyitkan dahinya, Keven melambaikan tangan di depan wajah Yuki. Sangat jelas mencurigakan saat melihat pemilik jaket itu sedang menahan kedutan di sudut bibirnya.

“Buka mata kamu!” Ucap Keven masih dengan tidak ramahnya. Kini tubuh bagian depannya sudah terselimuti jaket Yuki, meski tidak bisa benar-benar melindungi seluruh tubuh dengan bahu kokoh dan dada bidang itu secara menyeluruh.

“Nah kan kalau kayak gini gak bikin cepat kedinginan.” Ucap Yuki sangat puas.

Menatap Yuki yang tersenyum sumringah, Keven menghela nafasnya berat. “Sekarang kamu bisa pergi.”

“Jangan ngusir. Bersyukur aku temani. Mending sekarang cepat minta bantuan, minimal telepon Mas Saka.” Mengibaskan tangan di depan wajahnya, Yuki juga menunjuk pada ponsel Keven yang tergeletak di dashboard mobil.

...****************...

*

*

*

Terima kasih sudah setia membaca kelanjutan kisah Yuki 🥰

1
Yuyun ImroatulWahdah
😭😭😭😭
Yuyun ImroatulWahdah
menarik🤔😊😁
Dewi Murni
saka dong suaminya
Indra Fatiria
usahain Yuki bercerai dari Keven, laki2 GUOBLOKKKKK
Indra Fatiria
Tolong Yuki harus meninggalkan suaminya, suami gk punya otak, suami guoblok
Indra Fatiria
kapan Yuki gugat cerainya
Indra Fatiria
bisa gk belut licin itu matikkkkk aja
Indra Fatiria
emang suami Yuki gk punya nama ya
Sedang mengetik...
masih saling cinta tapi keduanya harus merelakan cinta itu berakhir
Sedang mengetik...
nah Nita ketahuan kerja sama om om
Sedang mengetik...
sulit kali ya berada di posisi Dion.. cinta bertepuk sebelah tangan yg lebih parahnya lagi orang itu akan jadi adik ipar
Sedang mengetik...
gimana kev rasanya cemburu enak gak .. mamam tuh cemburu... cemburu mu udah telat... dari kemaren kemana aja.. sekarang Yuki bukan milik mu lagi.. jdi gak usah cemburu
Sedang mengetik...
baca judulnya aku tdi bingung... ehh ternyata oh ternyata....
Sedang mengetik...
setidaknya masih ada kenangan manis yg bisa di ingat sebelum perceraian terjadi
Sedang mengetik...
ada lega tapi rasa sesak itu juga ada
Sedang mengetik...
kev kamu tuh harus bisa bedakan mana yg sedang kamu perjuangan dengan yg tidak,, mana janjimu yg mengatakan hanya ada kita berdua pada Yuki dulu.. nyatanya sekarang kamu masih mendahulukan Alia dari pda yuki
Sedang mengetik...
Keven bodoh selalu saja tertipu dengan sandiwara Alia
Sedang mengetik...
bilang aja kamu juga iri kan dim... kamu juga berharap bisa romantis tomantisan kan sama Yuki
Sedang mengetik...
kadang kala orang lain emang lebih peka dari pda diri kita sendiri
Sedang mengetik...
kasian loh Yuki sebenarnya dia dah nikah tapi belum pernah merasakan roti sobek makannya sampai kebawa mimpi gtu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!