Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
“Bin, mama mau tes. Di depan sana, binatang apa namanya?.“Tanyaku sambil menunjuk pada buaya yang terlihat sedang memakan satu ekor ayam yang di dapatkan dari petugas yang baru saja memberinya makan.
Bintang terlihat mengulum senyumnya”Buaya ya, ma?.“Ujarnya, aku mengangguk seraya menepuk-nepuk kepalanya pelan.
“Pinter anak mama.“Pujiku dan sukses membuat kedua pipinya bersemu kemerahan.
Aku, Bintang, Melati dan Mia. Kami jalan duluan, sedang Afif dan Laras serta Salsa, mereka jalan belakangan dan tampak terlihat begitu akrab sekali, sesekali Afif akan melontarkan candaan yang di jawab oleh Laras, atau pun sebaliknya. Alih-alih terlihat akrab denganku yang notabennya istri pertama, justru malah sebaliknya. Hahh aku pun tak mengerti kenapa bisa begini.
Mungkin dengan mengajak mereka untuk ikut ke kebun binatang bersama adalah sebuah keputusan yang salah, sebab anakku Bintang malah terlihat sedih, alih-alih bahagia. Kalau aku sih, ya. Biasa saja, sudah ku bilang hati ini rasanya sudah mati rasa.
“Ma, kenapa papa gak mau jalan bareng Bintang sih?.“Tuh kan, wajah Bintang menjadi muram begitu, bibirnya tertarik ke bawah dan kedua matanya berkaca-kaca siap menangis. Padahal tadi terlihat bersemangat sekali saat aku bertanya serta menunjukan beberapa binatang yang tidak Bintang ketahui namanya itu. Tapi setelah kita beristirahat sebentar dan duduk di tempat yang tersedia__Bintang terlihat sedih, apalagi melihat keakraban papanya anak tirinya itu.
Aku sudah masa bodoh, tapi Bintang ini anakku dan dia. Kami melakukannya atas dasar suka sama suka, tapi kenapa Afif begitu tega pada anaknnya sendiri? Kenapa? Apa karena Bintang terlahir dariku? Seorang wanita biasa dan dari keluarga biasa, bukan seperti Laras, yang terlahir dari seseorang yang punya banyak harta?
Sebagai ibu, tentu aku tak terima anakku di perlakukan begini, apalagi tidak ada tuh niatan papanya mau mengajak Bintang ngobrol, atau minimal ajak Bintang dan Salsa barengan layaknya seorang bapak yang menyayangi anak-anaknya, tanpa membe-bedakan.
“Kamu mau sama papa, Bin?.“Tanyaku sambil mengusap kasar air mataku yang sialnya turun begitu saja tanpa bisa ku cegah, aku memang sudah menyerah terhadap pernikahanku, tapi tidak dengan anakku. Aku masihlah seorang ibu yang akan lebih sakit, ketika anakku di sakiti oleh orang lain, takan ku biarkan siapapun menyakiti anakku, meski itu papa kandungnya sendiri.
“Mau ma, Bintang mau di gendong kayak Salsa..hiks hiks.“Ujarnya sambil menangis, aku pun dengan gerakan teratur, mengelap sudut-sudut matanya yang berair, juga memeluknya dan mengusap-ngusap kepalanya sayang.
“Papa enggak pulang, ma. Tapi papa ke sekolah buat jemput Salsa tiap hari.“
“Bintang Kangen, Bintang mau main sama papa ma..“
“Bintang, hiks hikss...“Aku yang tak tahan mendengar isakannya pun kontan memeluk tubuhnya erat-erat.
“Ada mama Bintang, Bintang punya mama yang sayang banget sama Bintang.“Ujarku menghiburnya dan tidak berbohong dengan apa yang ku rasakan, setelah jadi ibu. Tahta tertinggiku adalah Bintang, Aku sangat mencintainya dan menyayanginya melebihi diriku sendiri.
“Bin..tang hiks hiks hiks..“
“Kenapa Bintang nangis, Nya?.“Tanya Mia yang baru saja datang bersama Melati, keduanya dari toilet dan tentu begutu terkejut mendapati tangisan Bintang yang cukup heboh itu.
Aku membuat kode kepada mereka, lalu sepasang sepupu itu seolah paham dan memilih untuk duduk saja tanpa mengatakan apapun di samping tubuhku__beberapa menit ku habiskan dengan mengusap-ngusap punggung Bintang pelan, sampai suara isakannya berangsur hilang dan tergantikan dengan suara nafasnya yang teratur. Ok, Bintang pun akhirnya tertidur, kasihan dia. Pasti sangat capek sekali, menangisi papanya yang benar-benar kelakuannya bukan papa sekali.
Tidak ada papa kandung yang begitu kejam dengan membiarkan anak kandungnya dan lebih memilih anak tirinya, padahal dulu sekali ketika Bintang dalam kandungan, Afif begitu mencintainya, aku ingat betul dia selalu bilang “cepet lahir ya nak, papa sayang kamu” cihhh, ingin ku tinju wajahnya dan menyeretnya untuk meminta maaf, nyatanya apa yang di ucapkannya penuh kebohongan, kelakuannya tidak seperti itu. Dia tidak menyayangi Bintang yang sudah ada di dunia ini, dia juga tidak menjaga Bintang seperti janjinya. Sial, apakah aku berpisah saja dengannya? Jujur, aku sudah tak tahan dengannya, alasan aku belum mau meminta cerai, salah satunya karena aku kasihan dengan Bintang dan calon anakku yang ada di dalam perut. Tapi melihat kelakuannya begini, aku jadi benar-benar geram__mungkin hidupku akan berubah drastis, dari yang tadinya masalah ekonomi bukanlah sesuatu hal yang harus ku pikirkan, setelah bercerai dengannya, maka aku harus pusing dengan masalah ekonomi yang ku pastikan akan menjadi nomor satu di dalam hidupku.
Tapi tidak apa-apa, toh uang masih bisa di cari. Sedang kebahagiaanku dan Bintang? Aku bertahan demi Bintang. Hanya demi supaya Bintang tak merasa hanya punya aku saja, aku memang tidak terlahir dari keluarga broken home. Tapi aku tahu bagaimana rasanya jadi anak broken home__aku banyak belajar dari teman-temanku yang lahir dan tumbuh tanpa sosok ayah, dan itu sangat-sangat sulit sekali. Makanya aku berusaha mati-matian mempertahankan pernikahanku sambil aku mulai mencari sebuah pekerjaan yang bisa ku kerjakan sambil mengasuh Bintang di rumah.
Tapi...
“Nya, ini tisunya.“Suara Melati suksesmenyadarkanku dari lamunan panjangku, aku tersenyum kecut, lalu meraih tisu dari tangannya. Aku pun mengelap kasar air mataku yang turun bagai mata air itu.
Ku lirik sebentar anakku yang sudah tertidur lelap di atas pangkuanku. Kedua mata, hidung hingga bibirnya berubah menjadi bengkak dan berwarna kemerahan habis menangis. Kasihan sekali dia, padahal Bintang masih kecil dan harusnya di usianya segini masih harus menerima limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya__yang tak ku mengerti adalah, Bintang hanya ingin di libatkan saja, bukan sepenuhnya mengambil Afif dari Salsa. Tapi pria itu bahkan tidak bisa.
“Nya, Bintang sama saya aja. Kasihan lho dedek takut kejepit itu.“Ujar Melati yang ku angguki, lalu dengan pelan aku pun memberikan Bintang padanya.
***********
Lagi, Afif yang datang ke sekolah dan Laras tidak ada. Mungkin dia masih sakit, seperti yang selalu Afif bilang.
Aku pun memilih menarik tangannya dan meminta Afif supaya masuk ke dalam mobil untuk berbicara empat mata denganya__jika di pikir-pikir lagi, kenapa malah aku yang terlihat seperti orang ketiga di antara pernikahannya dan Laras, ya? Harusnya dengan percaya diri aku memintanya berbicara di luar mobil. Kan kota suami istri, kenapa malah aku yang harus takut kalau terpergok oleh orang lain sih?
Sial, ini semua karena aku yang tempo lalu mengiyakan keinginan Laras yang ingin merahasiakan pernikahanku dan Afif, sedang Afif dan Laras di beritahukan. Aku itu sudah mirip ibu peri, ya? Baik dengan orang lain dan tersiksa akibat diri sendiri. Ckck
“Ada apa Nad? Kok wajah kamu terlihat begitu?.“Tanyanya sambil memandangku penuh selidik, sebelum ku sampaikan niatku, ku hela nafas dalam-dalam dan ku hembuskan secara perlahan-lahan.
“Mas, ceraikan saya.“Ucapku pelan dan tak sanggup menoleh ke samping untuk melihat wajahku, aku sudah berpikir ribuan kali dan menurutku keputusan ini yang paling tepat, untuk apa pernikahan kaki di pertahankan, jika dia saja tidak menghargaiku dan anakku. Masalah uang, ya, tinggal cari saja. Meski aku tidak tahu nasibku ke depannya akan seperti apa. Tapi aku percaya dengan Alloh yang maha memberi dan menjamin rejeki untuk makhluknya.
“Haha.. kamu bercanda kan, Nad? Gak lucu tahu.“Tukasnya terdengar tertawa dan membuatku mendengus, lalu aku pun membalik tubuhku dan membuat tubuhku berhadapan dengannya.
Kepalaku menggeleng pelan”Enggak mas, saya serius. Ceraikan saya.“
Matanya nampak membeliak pun dengan ekspresi wajahnya yang terlihat mengeras menahan kekesalannya.
“Kamu minta cerai dari, aku? Kamu tahu apa yang akan terjadi?.“Tanyanya sambik tersenyum pongah, aku pun mengangguk pelan dan menatapnya penuh keseriusan.
“Hidup kamu akan menderita, Nad. Kamu gak punya saya lagi yang akan tiap bulan mentrasnfer uang, lalu kamu juga tidak punya tempat__.“
“Iya, saya tahu kok resikonya dan bukan sebuah masalah.“Potongku dengan mata berkaca-kaca menahan tangis, serta rasa sesak di hati ini. Dia bukan Afif yang dulu, sumpah demi apapun Afif yang ku kenal tidak akan pernah mengungkit-ngungkit apa yang sudah ia berikan kepadaku. Ternyata benar ya kata orang, hati manusia itu tidak ada yang tahu, hari ini bicara A besok bisa jadi B. Ya tuhan aku bahkan merasa sangat asing dengan suamiku yang seperti ini.
“Aku tanya sekali lagi, Nad. Kamu serius ingin cerai dari aku? Dan melepas semuanya, sudah siap kamu dengan segala resiko yang akan kamu hadapi sendirian nantinya?.“Aku mengangguk.
“Terus Bintang. Dia anak aku juga, aku gak mau Bintang ngerasa kurang dapet kasih sayang dari aku papanya.“Ujarnya dan kali ini bukan sebuah anggukan dariku melainkan tawa hampa yang terdengar jelas dari mulutku.
Apa katanya tadi? Afif gak mau Bintang ngerasa kurang dapat kasih sayang dari papanya? Hei, apa dia gak punya kaca di rumahnya bersama Laras? Hingga dia tidak pernah merasa kalau selama ini, mana ada dia menyayangi anakku, apalagi sampai perhatian. Heuh dasar pria etd4n.
“Kamu ketawa, Nad? Asa yang lucu?.“
Di sisa-sisa tawa, tanganku mengusap sudut mataku yang ber-air.
“Maaf mas, tapi apa Mas Afif tak merasa kalau beberapa bulan ini Mas Afif kurang memberikan kasih sayang itu terhadap anak mas Afif sendiri?.“Sindirku sambil memberanikan memicing ke arahnya. Afif terlihat gelagapan sambil membuang mukanya mungkin karena ucapanku menohok langsung ke hatinya.
“Tapi kan hanya beberapa bulan saja, Nad. Dan itu pun bukan karena tidak mau, tapi__.“
“Mas Afif lebih perhatian dan sayang kepada istri baru Mas Afif dan anak tiri mas Afif, melupakan kami yang juga keluarga Mas Afif. Bahkan saya yang menemani Mas Afif dari nol.“Sial, aku tak bisa menahan air mataku untuk tidak turun, rssanya sesak bila mengingat ketulusanku di sia-siakan olehnya.
“Nad, kamu tahu kan kalau Laras__.“
“Sedang hamil dan lebih butuh perhatian serta kasih sayang, Mas Afif.“Ucapku yang membuatnya bungkam, aku terkekeuh sinis.
“Dia hamil, bukan mengidap penyakit mematikan. Dan demi apapun, kamu mas. Masih bisa setidaknya menyisihkan satu atau dua hari untuk pulang menengok istrimu dan anakmu, ok. Kamu memang menafkahi kami, kamu juga memberikan kami tempat tinggal. Tapi, apakah hanya itu saja kewajiban yang harus kamu penuhi terhadap istri pertama kamu, ini?.“
Dia diam, dan aku kembali mengeluarkan uneg-uneg ku yang selama inj terpendam.
“Kamu itu suamiku aku juga dan papa dari Bintang, Mas. Harusnya kamu bisa perlakukan kami adil dan bukan berat sebelah kayak gini, heran. Memang hanya Laras ysng butuh perhatian dan kasih sayang, hanya Laras yang perlu kamu jaga perasaannya, sedang aku dan Bintang enggak? Oh atau karena Laras berasal dari keluarga kaya raya, sedangkan aku biasa aja?.“
“Kamu nikah aja, aku enggak tahu ya, mas! Kalau aku gak pergokin kamu waktu di sekolah. Mungkin kamu akan diam terus, sebenarnya kamu anggep aku ini siapa, sih? Kenapa aku gak pernah di libatin dalam hidup kamu, mas? Kenapa?.“Tuturku serak karena menahan kerasa supaya tidak menangis, walau rasanya sia-sia saja, sebab air mata ini terus saja mengucur deras layaknya air hujan.
“Aku capek tahu. Aku lelah dan sakit hati. Bahkan yang paling buat aku nyesek, saat kamu menyetujui supaya aku tetap bungkam siapa suami aku yang sebenarnya dan malah kamu yang gak pernah mau datang ke sekolahan dan di kenalkan sama-sama para orang tua murid, mendadak mau saat dengan Laras..“Aku berdecih”Sebegitu malunya ya, kamu. Sama aku mas.“
“Bukan begitu Nad, kamu sendiri kan yang usul waktu itu.“Cicitnya yang membuatku mendengus.
“Kamu tahu sarkas gak sih? Itu aku saking kesel dan gedek sama kamu, mas. Coba bayangin jadi aku, aku yang selalu berusaha untuk jaga Bintang, ada untuk dia dua belas jam, pun ke sekolah, aku berusaha untuk selalu menjemput dan mengantarkannya, tapi kamu? Kamu bahkan gak pernah mau tuh buat anter dan jemput apalagi ngenalin diri kamu sebagai papa bintang kepada orang tua murid, tapi sama Laras? Mas sebenarnya otak kamu di mana sih? Aku istri saha kamu, Bintang anak kandung kamu. Tapi kenapa kamu malah lebih sayang sama Salsa yang notabennya cuman anak tiri kamu, apa jangan-jangan kamu bohong, ya?.“Todongku yang menatapnya penuh selidik.
“Salsa sebenernya anak kamu.“
PLAKKK
Ku rasakan pipiku berdenyut nyeri tatkala tangan besarnya menampar di sana.