Untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada orang tua angkatnya, Arabella bersedia menyamar dan menikah dengan Fardhan, lelaki yang sebenarnya dijodohkan dengan kakak angkatnya.
Fardhan adalah lelaki berhati dingin yang terluka karena cinta sebelumnya. Meskipun dia tahu keluarga angkat Bella telah menipunya, tapi dia tetap menikahi gadis itu.
Tapi cinta masa lalu Fardhan hadir kembali, merusak apa yang sudah terjalin dan membuat dia dilema. Sementara Bella merasa bersalah karena sudah membohongi Fardhan dan Ibunya.
Akankah Fardhan dan Bella mampu mempertahankan rumah tangga mereka setelah semua rahasia terbongkar?
Atau justru berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bella sudah berganti pakaian dan menyesap teh hangat buatan Ranti di meja makan, sejujurnya dia masih kesal kepada Fardhan, tapi belum sempat melampiaskan kekesalannya, lelaki itu sudah kembali pergi ke rumah Bara saat Bella masih di dalam kamar mandi.
"Karin, maafkan kelakuan Fardhan, ya? Dia memang gitu kalau lagi cemburu." ujar Ranti sambil tersenyum penuh arti.
Bella terkesiap mendengar ucapan mertuanya itu. "Ibu ini bicara apa?"
"Memangnya kau nggak sadar kalau dia sebenarnya menyukaimu dan cemburu dengan sahabatmu itu?" tanya Ranti.
Bella tersenyum getir sambil menggelengkan kepalanya. "Itu perasaan Ibu saja. Dia masih mencintai Keyla dan mereka sudah saling mencintai sejak lama jadi mana mungkin dia menyukaiku apalagi cemburu."
"Karin, mungkin masa lalu masih menghantuinya, tapi Ibu yakin sebenarnya Fardhan sudah menyimpan rasa untukmu. Dia hanya butuh waktu untuk meyakinkan dirinya, sebab dia pernah sangat terluka karena cinta. Jadi Ibu mohon kau bersabar sedikit lagi sampai dia benar-benar menyadari perasaannya kepadamu." ucap Ranti penuh keyakinan.
"Ibu ... aku nggak berani banyak berharap. Aku takut pada akhirnya dia tetap nggak bisa menerimaku."
Bella tak berani membayangkan jika suatu saat Fardhan tahu jika dia bukan Karina yang asli, mungkin lelaki itu akan menceraikan nya atau mungkin lebih buruk dari itu.
"Fardhan pasti bisa menerimamu. Kau cantik, baik dan tulus. Ibu saja bersyukur sekali bisa memiliki menantu seperti dirimu." Ranti menggenggam erat tangan Bella, membuat Bella canggung dan merasa semakin bersalah karena telah membohonginya.
"Maafkan aku, Bu." batin Bella.
"Ibu jangan terlalu memujiku, nanti kupingku bisa terlepas dan terbang." seloroh Bella demi menutupi rasa canggungnya.
Keduanya pun tertawa bersama, meskipun hati Bella masih merasa gelisah.
***
Bara masih bersimpuh di sisi makam sang ibunda yang basah dan bertabur bunga, dia mengusap nisan putih bertuliskan nama Herlina Monalisa sambil menyusut sudut matanya.
"Selamat beristirahat dengan tenang, Ma. Aku pasti sangat merindukan Mama." ucap Bara lirih.
Fardhan hanya mengusap pundak sahabatnya itu, berusaha memberikan dukungan melalui sentuhan. Dia tentu tahu rasanya kehilangan secara tiba-tiba, karena dia pun pernah mengalaminya.
Bara berdiri setelah mengecup nisan sang ibunda dengan perasaan sedih yang tak terkira, tapi berusaha tegar demi hidup yang harus terus dia jalani.
"Sudah?" tanya Fardhan.
Bara mengangguk. "Yuk."
Keduanya berjalan menyusuri hamparan rumput hijau dan beberapa makam menuju gerbang besar bertuliskan Pemakaman Keluarga Sudarsa. Suasana hening dan tenang disekitar makam benar-benar membuat tempat itu layak disebut tempat peristirahatan terakhir.
"Jadi bagaimana keadaan Papamu? Sudah lama aku nggak bertemu dengan beliau." tanya Fardhan memecah keheningan.
"Kondisi Papa mulai membaik, walaupun hanya bisa berbaring." jawab Bara.
"Kau harus menghiburnya, dia pasti sangat sedih dan kehilangan atas kepergian mamamu."
Bara tak menjawab, dia hanya mengembuskan napas berat mendengar ucapan Fardhan. Hubungan kedua orang tuanya sejak lama sudah tidak harmonis, bahkan sejak ayahandanya kecelakaan dan lumpuh, mereka sudah tidak tidur sekamar lagi. Ditambah sang mama yang terlalu sibuk mengurus perusahaan menggantikan papanya, praktis mereka pun jadi jarang bertemu. Mungkinkah papanya masih merasa kehilangan?
Apalagi beberapa kali dia pernah memergoki sang papa mengigau menyebut nama seorang wanita saat tidur, definisi nyata jika papanya itu sebenarnya mencintai wanita lain.
"Bara ...." Fardhan menyentuh pundak Bara saat melihat sahabatnya itu melamun.
Bara tersentak. "Eh, kau bicara apa tadi?"
"Kau melamun ya?" Fardhan membalasnya dengan pertanyaan juga.
"Aku teringat Papa." jawab Bara pelan.
"Ya sudah, kalau begitu cepatlah! Agar kita segera tiba di rumahmu. Aku juga ingin bertemu papamu untuk mengucapkan belasungkawa." pinta Fardhan, tadi dia tak sempat bertemu ayahanda Bara yang tergolek di kamar.
Bara mengangguk menyetujui permintaan sahabatnya itu.
***
Fardhan serta Bara duduk di sisi kanan dan kiri ranjang, seorang pria paruh baya bernama Robby Sudarsa sedang terbaring lemah tak berdaya. Sejak kecelakaan yang menimpanya dua puluh tahun lalu, Robby lumpuh total dan hanya bisa terbaring tak berdaya.
"Aku turut berdukacita, Om." ucap Fardhan.
"Terima kasih, Dhan. Oh iya, bagaimana kabarmu? Lama nggak bertemu."
"Baik, Om. Akhir-akhir ini aku sedikit sibuk, jadi jarang datang kesini." jawab Fardhan.
"Om dengar katanya kau sudah menikah? Selamat ya. Semoga bahagia selalu."
Fardhan tersenyum malu. "Iya, Om. Terima kasih.
"Pesan Om, jadilah suami yang baik dan bertanggungjawab, jangan sia-siakan wanita. Karena penyesalan itu datangnya terlambat dan akan menyiksamu seumur hidup." ujar Robby dengan wajah yang berubah sendu.
Bara dan Fardhan saling pandang demi mendengar penuturan Robby itu, apalagi saat melihat wajah tuanya mendadak sedih. Bara semakin yakin bahwa ada yang disembunyikan sang papa.
"Kapan-kapan ajaklah istrimu kesini, kenalkan pada Om. Bagaimanapun juga kau sudah Om anggap sebagai anak sendiri." lanjut Robby.
"Iya, Om." balas Fardhan dengan senyum yang terkembang. Seketika dia teringat dengan Bella yang pasti sedang marah kepadanya saat ini.
Setelah mengobrol sebentar dengan Robby, Fardhan pun memutuskan untuk pulang. Bara mengantarnya sampai ke pintu utama.
"Bagaimana, kau sudah mencari tahu siapa sebenarnya istrimu itu?" tanya Bara.
"Aku bingung mau mencari tahu dari mana? Aku sudah berusaha mencari akun media sosialnya, tapi nihil." jawab Fardhan penuh sesal.
"Lalu bagaimana dengan Karina yang asli? Apa kau menemukan sesuatu di akunnya?"
Fardhan menggeleng. "Nggak ada, aku hanya menemukan fotonya dan kedua orang tuanya saja, nggak ada foto wanita itu atau tanda-tanda lainnya."
"Mungkin dia sudah menghapusnya atau memang wanita itu bukan bagian dari keluarga Rudi Hartono?"
"Entahlah, aku pun bingung."
"Baiklah, sepertinya aku harus ikut campur. Aku akan cari tahu langsung dari Pak Rudi." ujar Bara dengan seringai licik dan Fardhan pun ikut tersenyum, dia tahu apa yang sedang direncanakan sahabatnya itu.
"Tapi aku nggak melihat Pak Rudi, apa dia nggak datang melayat?"
"Tadi dia menghubungiku, dia minta maaf karena nggak bisa datang, katanya dia dan keluarganya sedang berada di luar kota."
Fardhan mengernyit heran. "Mereka di luar kota? Tapi kenapa Karina yang palsu ngotot ingin pulang kerumahnya kalau memang mereka nggak ada di rumah? Nggak mungkin kalau dia nggak tahu orang tuanya pergi. Aneh sekali. Tadi juga temannya datang dan bilang kalau baru dari rumahnya, dia juga nggak bilang apa-apa."
"Benarkah? Apa mungkin Pak Rudi berbohong? Tapi untuk apa?"
Fardhan mengangkat bahunya. "Aku nggak tahu. Tapi pasti ada alasan tertentu. Aku akan cari tahu."
***
jadi begini misalnya suami author punya teman cewek yang perhatian pada suami author (kayak perhatian raka dan bella) dan suami author dengan senang hati menerima segala kebaikan cewek itu, dan suami author berinteraksi dengan cewek itu kayak intraksi raka dan bella
bagaimana perasaan author
coba tanyakan pada dirimu thor
*jika kau Terima suamimu berteman dan berinteraksi dengan cewek lain (kayak interaksi raka dan bella) maka pola pikir mu tidak ada masalah
*tapi jika kau tidak suka suamimu berteman dan berinteraksi dengan cewek lain ( kayak interaksi raka dan bella), maka pola pikir mu ada masalh thor
renungkan lah
saat di novelmu, kau membenarkan seorang istri berteman dan diperhatikan pria lain dan semua interkasi sang istri dengan pria lain kau benarkan maka tanya kan pada dirimu sendiri apakah kau Terima juga jika suamimu punya teman cewek dan diperhatikan oleh cewek lain
renungkan lah