NovelToon NovelToon
Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Contest / Patahhati / Tamat
Popularitas:167.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dian Dhi

Gwen Sandriana Decker, ditinggalkan sang mempelai pria di saat tinggal hitungan menit acara janji suci pernikahan segera berlangsung!

Dia pernah mendengar hal itu terjadi pada orang lain. Namun, tak pernah menyangka dia sendiri akan mengalaminya. Perempuan itu hampir dipermalukan untuk menghadapi puluhan tamu undangan. Tetapi satu hal yang tidak disangka, bosnya yang bernama Kayden Kim bertekad menikahinya saat itu juga.

Akankah bahagia menyapa Gwen setelah dia menikahi pria tak terduga dan tanpa rencana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Dhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebersamaan

Empat hari kemudian, setelah Gwen membersihkan tubuhnya, rambutnya dikuncir ekor kuda, dan mengenakan dress biru muda polos tanpa lengan, ia duduk di meja makan sembari mengunyah roti mentega hangat. Sambil menunggu Kayden mandi dan berpakaian, ia menikmati sarapannya dengan tenang.

Sarapan, begitu Kayden menyebutnya. Lebih mirip perbaikan gizi, pikir Gwen, meringis sambil menelan roti menteganya. Dirasakannya pipinya memanas saat ia duduk di sana, nyaris tidak percaya dengan perubahan dirinya, atau perubahan yang dipaksakan padanya, Gwen mengoreksi pikirannya sendiri.

Tiba-tiba tanpa sadar ia menyeringai tipis dikala mengingat hari-harinya dipenuhi oleh perhatian Kayden. Kecupan di dahi ataupun di bibirnya selalu ia dapatkan setiap waktu. Pria itu juga selalu mengajaknya mengobrol santai disela-sela pekerjaannya. Sesekali mereka juga bercinta saat malam mulai tiba.

Namun, Gwen masih bisa merasakan Kayden jauh di dalam dirinya. Ia mengakui malu-malu dalam batinnya sembari meletakkan sisa roti menteganya di atas meja makan, kemudian menandaskan segelas jus jeruknya sebelum dia berdiri, dan melangkahkan kakinya untuk memandangi bangunan tertinggi yang meruncing di bagian atasnya.

Sekelebat bayangan percintaan mereka beberapa hari ini seketika muncul dipikiran Gwen. Sekujur tubuhnya masih dapat merasakan kenikmatan sentuhannya. Bibirnya pun berdenyut-denyut mendambakan kecupan dari bibir suaminya. Rasanya sungguh luar biasa, hangat dan memusingkan.

Seiringnya waktu, Gwen dapat melenyapkan perasaannya terhadap Rainer. Tentu hal itu menyadarkan Gwen dengan keterkejutannya yang membuatnya ngeri. Ia nyaris tak dapat mengingat wajah Rainer sekarang, apalagi cinta yang begitu mendalam setiap kali Gwen memikirkan pria itu.

Lantas, Gwen menghela napas tidak nyaman kerena ia sama sekali tidak paham soal cinta. Jika harus menggambarkan emosi tersebut, maka Kayden lah sekarang yang bisa disebutnya.

Seolah mendapat isyarat, pria itu tiba-tiba datang, lalu memeluk pinggang ramping Gwen dan mengaitkan tangannya di perut Gwen. “Apa yang begitu menarik di luar sana?” tanya Kayden sambil menghirup dalam-dalam aroma wangi lavender yang menguar dari tubuh istrinya.

Gwen mengerjapkan matanya. “Lihat, gedung itu tampak tinggi dan uniknya bagian atasnya meruncing.”

“Itu adalah The Shard,” Kayden mengoreksinya dengan geli. “The Shard terdiri dari sembilan puluh lima lantai, dan juga menawarkan pemandangan sejauh empat puluh mil ke seluruh kota London,” jedanya. “Bangunan ini setinggi seribu enam belas kaki atau tiga ratus sepuluh meter. Dan menaranya sendiri dirancang oleh arsitek ternama yaitu Renzo piano.”

Kagum dengan wawasan Kayden yang ternyata lebih luas, Gwen mendengus mengejek dirinya sendiri. “Kau seperti perpustakaan berjalan mengetahui segalanya,” katanya, ketika ia berbalik dalam pelukan Kayden untuk menghadapnya. “Dan kau—Oh,” ia mengakhirinya dengan kesiap kecil.

“Apa?” tanya Kayden lembut, lalu tersenyum sebab melihat kebingungan di wajah Gwen.

Wanita itu seketika menahan napas saat melihat Kayden yang sangat berbeda dengan pria yang berjalan ke luar dari ruangan ini dua puluh menit yang lalu.

Setelah mandi dan mencukur kumis tipisnya hingga bersih, saat ini Kayden terlihat sangat tampan. Rambutnya yang masih basah ia sisir rapi ke belakang. Aroma wangi parfum mahal begitu maskulin, menguar di balik kemeja biru tanpa kerah yang kasual sekaligus berkelas. Bau itu begitu mengusik indra penciumannya sebab menimbulkan sesuatu yang mulai dikenalinya—berbahaya serta menggiurkan.

“Kau kelihatan menarik,” kata Gwen malu-malu.

“Kau juga,” balas Kayden. “Sangat cantik dan juga menarik.”

Gwen tersipu mendengar pujian suaminya. Lantas, detik setelahnya Kayden menunduk kemudian menciumnya. Ciuman ini rasanya berbeda. Hangat, lambat, serta lembut. Lebih mirip ciuman mereka di lantai dansa malam itu.

Secara naluriah tangan Gwen terulur, menemukan tengkuk Kayden, berpegangan di sana untuk memperpanjang kesenangan. Kayden sendiri mengaitkan tangan di punggung Gwen, lalu dengan lembut menariknya lebih dekat sehingga momen indah ini akan Gwen hargai selamanya.

Beberapa detik setelahnya, Kayden memutuskan ciuman itu. Akan tetapi, detik berikutnya bibirnya langsung kembali mencium Gwen lagi dengan gesture yang anehnya tampaknya pedih.

Ketika Gwen berani menatapnya, ia menemukan manik hitam Kayden menggelap oleh suasana hati yang tidak bisa wanita itu jelaskan.

“Kau sangat istimewa, Gwen,” kata Kayden serak. “Kau tahu itu?”

Kau juga, begitu Gwen ingin berkata, tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengutarakannya. Jadi, sebagai gantinya ia berjinjit untuk membalas ciuman Kayden, dan wanita itu tersipu malu saat menjauh.

Sisa hari itu berjalan begitu ringan serta romantis, ketika Kayden membawanya berjalan-jalan. Kayden menyeringai puas tatkala melihat istrinya tersenyum bahagia menikmati semua pemandangan, suara, serta aroma baru di Kota London tersebut.

***

Malam pun tiba. Kayden memutuskan mengajak Gwen untuk makan malam di salah satu restoran daerah Notting Hill, London. Sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi kayu, wanita itu langsung mengernyit karena suasana restoran tersebut jauh dari kata mewah dan glamor.

“Tumben kau mengajakku makan di restoran seperti ini?” Gwen bertanya sebab sedari tadi ia sudah penasaran.

Kayden terkekeh. “Seperti ini bagaimana maksudmu?”

“Restoran ini tidak mewah, Kay,” Gwen menjawabnya dengan santai.

“Kau tidak suka?” tanya Kayden lembut. “Apa kita cari restoran yang lain saja?”

“Jangan,” jawab Gwen cepat. “Aku lebih suka restoran sederhana ini dari pada restoran mewah. Biasanya, restoran seperti ini makanan yang di sajikan malah sangat lezat.”

“Tahu dari mana jika makanan di sini sangat lezat?”

Gwen tersenyum lebar sebelum ia menyahut, “Dari acara kuliner dunia yang sering kulihat di TV.”

Kayden seketika tertawa. Bukan menertawakan dalam artian mengejek ataupun merendahkannya. Melainkan, pria itu begitu takjub mendengar kejujuran dari bibir Gwen. Betapa polosnya istrinya itu sampai-sampai ia tak membalasnya untuk memprotes. Gwen sedikitpun tak tersinggung dengan tawa tersebut. Ia menyukainya karena menurutnya lebih baik seperti itu dari pada melihat Kayden yang bersikap pemaksa dengan wajahnya yang selalu tegang, tanpa ada seraut senyuman sedikitpun.

“Jika begitu, sekarang kau bisa menikmati makanan di sini secara langsung,” timpal Kayden, kemudian memanggil pelayan dan memesan makanan.

“Tentu saja,” jawab Gwen, diakhiri senyuman. “Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.”

Dan memang benar-benar lezat makanan yang di pesan Kayden, setelah sebelumnya seorang pelayan menyajikan menu andalan dari restoran tersebut. Sejenak, Gwen tampak tertegun pada saat mencicipi potongan steak daging berlumur saus jamur yang begitu khas, beda dari pada yang lainnya.

Sambil menyantap hidangan terenak itu, mereka berdua pun berbincang-bincang. Kayden membicarakan beberapa proyek yang sedang ia kerjakan bersama kawan-kawannya, dan Gwen berusaha terlihat mengimbanginya dengan perbincangan tentang bangunan yang nilainya fantastis.

Namun, disela-sela obrolan mereka, Gwen sangat tergoda mengamati setiap gerakan pria itu. Kayden sangat tampan sehingga terlalu disayangkan jika melepaskan pandangan darinya. Rahangnya yang kokoh, sangat cocok dengan bahu Kayden yang lebar dan tampak begitu kuat.

***

Hai, Reders ... 😊

Sampai di bab ini, apakah kalian masih penasaran sama kisah cinta Kayden Gwen selanjutnya??

Jika kalian penasaran, beri komentar, like, dan Vote kalian agar Author tambah semangat nulisnya. 😉

Thank you...😘

1
zeze_12
baca ulang 2x nya🤭
Chybie Abi MoetZiy
novel barunya kapan ya, ka.???
cerita nya baggguuus loh ini.., keren..... ditunggu karya selanjutnya... 💞💞💞💞💞💞💞
Junita
sorry Thor tp karakter nya Gwen krg baik masa gak peka gak bs rasakan mn yg benar2 tulus seolah2 dia SDH yg plg menderita...munafik
Anisa Dwi Salsabila
ceritanya bagus, semangat untuk karya mu yg lain ya thor, di tunggu ya
Anisa Dwi Salsabila
kok udah tamat ya😊😊😊
masih kurang rasanya thor
Anisa Dwi Salsabila
Bagus ceritanya gak bertele tele
mantap pokok nya👍👍👍👍
Angling Kusuma
panashhh thorrr
Angle
udah ah...bye
Angle
kenapa rasanya seperri alur cerita yg dipaksakan ya...gwen yg keras kepala ngeyel ribet...kay yg ngulur2 kalimat
Angle
ga nyangka sebegitu begonya gwen
Angle
cape deh....makanya jangan nguping...sepotong2 dapetnya....oon...
Angle
sebel juga liat laki seenak udel
Angle
duh sedihnya...
Angle
namanya jg big bos....
Angle
ngeyel tenan koe Gwen...masih untung ada yg gantiin penganten laki...bersyukurlah....ojo ngeyel
Angle
mau dong Kay...
Angle
menarik
Angle
lanjut...
Angle
wah...seru kayaknya nih....lanjut ah...
zeze_12
sama sama author. saya yang ber-terimah kasih, karena author udah buat cerita sebagus ini. tapi kalau boleh saran, ceritanya kurang panjang. ueheheh, soalnya ceritanya bikin candu😘🤭
Dian Dhi: makasih ya, kakak...
Dengan senang hati akan menampung sarannya...😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!