Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7
Alergi
Senja pulang dari Hotel Mulia dengan senyum yang tertinggal di wajah, tapi tidak sampai ke mata.
Pak Hadi tidak bertanya banyak. Dia hanya membukakan pintu mobil, memastikan Senja masuk ke Wijaya Mansion tanpa dikejar wartawan kecil atau mata-mata Serena yang lain, lalu meminta pelayan menyiapkan teh hangat.
"Nyonya belum makan siang dengan benar," katanya.
Senja melepas sepatu di foyer. "Aku makan sedikit di arisan."
Pak Hadi memandangnya dengan tatapan yang terlalu tahu.
Senja akhirnya menyerah. "Baik. Sedikit nasi saja."
Dia makan di ruang keluarga kecil, bukan ruang makan utama. Rumah itu terlalu luas, dan setelah arisan yang penuh senyum palsu, Senja hanya ingin duduk dekat taman dalam sambil mendengar suara air kolam kecil.
Di meja sudah ada beberapa kotak hampers pernikahan yang baru dikirim. Pita emas, kartu ucapan, kue kering dalam stoples kaca. Salah satu kartu bertuliskan nama keluarga Liem.
Senja menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan.
Dia tidak ingin memikirkan Serena.
Ponselnya bergetar. Lara mengirim pesan berturut-turut.
Lara: Kamu sudah pulang?
Lara: Aku masih kesal. Aku tahu Serena pasti bikin ulah.
Lara: Jangan bilang kamu baik-baik saja kalau tidak.
Senja tersenyum kecil. Tangannya mengambil satu kue kering dari stoples terdekat tanpa terlalu memperhatikan. Bentuknya bulan sabit, ditaburi gula halus. Putri salju. Di rumah Liem, kue seperti itu sering muncul saat Imlek atau Natal.
Dia menggigit sedikit.
Manisnya langsung pecah di lidah, diikuti rasa gurih yang samar.
Senja berhenti mengunyah.
Ada sesuatu yang tidak benar.
Rasa kacang mede.
Jantungnya menghentak.
Dia cepat-cepat meletakkan sisa kue, meraih air putih, dan berkumur. Namun beberapa detik kemudian, gatal mulai merayap dari langit-langit mulut ke tenggorokan. Kulit di leher terasa panas. Napasnya yang tadi normal berubah pendek.
"Nyonya?" Pelayan yang baru masuk membawa nasi melihat wajahnya. "Nyonya baik-baik saja?"
Senja mencoba menjawab, tapi tenggorokannya terasa menebal.
"Pak... Hadi..."
Pelayan itu panik dan berlari keluar.
Senja mencengkeram tepi meja. Bintik merah mulai muncul di pergelangan tangannya. Dia tahu tanda-tanda ini. Terlalu tahu. Waktu kecil, dia pernah dilarikan ke IGD karena satu sendok saus kacang yang tidak diketahui isinya. Sejak itu, dia selalu berhati-hati.
Hari ini dia lengah.
Karena lelah. Karena arisan. Karena pesan Serena. Karena di rumah sebesar ini, dia mengira setidaknya makanan di meja sudah aman setelah Rayhan memberi perintah.
Napasnya makin sempit.
"Nyonya!" Pak Hadi datang tergesa bersama dua pelayan. Wajahnya berubah pucat saat melihat stoples kue terbuka. "Ambil kotak obat. Cepat."
"Aku..." Senja berusaha bicara. "Kacang..."
"Saya tahu, Nyonya. Duduk tegak. Jangan berbaring."
Pak Hadi memegang bahunya dengan hati-hati, membantu Senja tetap duduk. Salah satu pelayan menyerahkan tas kecil berisi obat yang dibawa dari kamar Senja. Tangan Pak Hadi bergerak cepat, tetapi tetap terkontrol.
Pintu utama terdengar terbuka.
Rayhan masuk dengan langkah cepat, masih mengenakan jas dari kantor. Awalnya dia hanya hendak mengambil dokumen yang tertinggal sebelum kembali ke SCBD. Namun begitu melihat keadaan ruang keluarga, wajahnya berubah.
Matanya jatuh pada Senja, pada bintik merah di kulitnya, pada stoples kue, lalu pada napasnya yang tersengal.
"Apa yang terjadi?"
Suaranya rendah, tetapi semua pelayan membeku.
Pak Hadi menjawab cepat. "Reaksi alergi, Tuan muda. Kue dari hampers mengandung kacang mede."
Rayhan berjalan mendekat. "Sudah minum obat?"
"Sedang, Tuan."
Senja mencoba mengangkat tangan. "Aku tidak apa-apa."
Kalimat itu terdengar bodoh bahkan di telinganya sendiri, karena napasnya terputus di tengah.
Rayhan menatapnya tajam. "Diam dan bernapas."
Dia mengambil obat dari tangan Pak Hadi, membaca labelnya sekilas, lalu menyerahkannya kembali. "Dosis?"
"Sesuai catatan Nyonya, Tuan."
"Telepon dokter. Siapkan mobil ke rumah sakit jika dalam sepuluh menit tidak membaik."
"Baik."
Senja meminum obat dengan air. Tenggorokannya sakit saat menelan. Matanya berair, bukan karena menangis, melainkan karena tubuhnya berusaha melawan sesuatu yang masuk terlalu cepat.
Rayhan berjongkok di depannya.
Gerakan itu begitu tidak terduga sampai Senja hampir lupa sesak di dadanya.
Pria itu mengambil pergelangan tangannya, melihat ruam yang menyebar. Jari-jarinya hangat dan kuat. Tidak lembut, tapi hati-hati. Seperti dia memegang benda rapuh yang tidak ingin dia akui rapuh.
"Lihat aku," katanya.
Senja menuruti.
"Tarik napas pelan."
Dia mencoba.
"Lagi."
Napasnya masih pendek, tapi sedikit lebih teratur.
"Jangan panik."
Senja ingin berkata bahwa cara Rayhan memberi perintah tidak terlalu membantu orang yang sedang panik. Namun suara itu tersangkut di tenggorokan, jadi dia hanya mengangguk kecil.
Selama beberapa menit berikutnya, ruang keluarga terasa seperti ruang tunggu rumah sakit. Pak Hadi berbicara dengan dokter melalui telepon. Pelayan membereskan semua hampers dari meja. Rayhan tetap di depan Senja, tidak banyak bicara, hanya sesekali memeriksa napas dan warna bibirnya.
Ketika obat mulai bekerja, sesak di dada Senja perlahan berkurang. Ruam masih terasa panas, tetapi kepalanya tidak lagi berputar.
"Lebih baik?" tanya Rayhan.
Senja mengangguk. "Iya."
"Bisa bicara?"
"Bisa."
"Bagus. Kalau begitu dengarkan." Tatapannya mengeras. "Mulai sekarang, jangan makan apa pun dari luar tanpa dicek."
Rasa malu menyentuh pipi Senja. "Aku tidak tahu itu ada kacangnya."
"Makanya dicek."
"Aku sudah biasa mengecek."
"Hari ini kamu tidak."
Kalimat itu tajam. Senja menunduk, bukan karena tidak setuju, tapi karena dia tahu Rayhan benar.
Namun setelah hari yang panjang, benar saja tidak selalu mudah diterima.
"Aku hanya lelah," bisiknya.
Rayhan diam.
Untuk sesaat, kemarahan di wajahnya tampak tertahan di tempat yang tidak biasa. Bukan hilang, hanya berubah arah.
Dia berdiri. "Pak Hadi."
"Ya, Tuan muda."
"Mulai hari ini, semua makanan dari luar diperiksa sebelum masuk area yang bisa dijangkau Nyonya. Hampers, kue, minuman, bumbu, apa pun. Buat daftar bahan dari dapur utama, pantry, mobil, dan ruang kerja. Kalau ada kacang, singkirkan."
"Baik, Tuan muda."
"Semua staf diberi tahu. Kalau ada yang lalai, ganti."
"Baik."
Senja mengangkat wajah. "Tidak perlu sampai mengganti orang."
Rayhan menatapnya. "Perlu."
"Mereka tidak tahu."
"Tugas mereka adalah tahu."
Jawaban itu dingin, tetapi kali ini Senja tidak bisa sepenuhnya menyebutnya kejam. Di balik nada kerasnya, ada sesuatu yang bergerak cepat dan pasti untuk menutup celah yang hampir mencelakainya.
Rayhan mengambil stoples kue yang tadi terbuka. Kartu keluarga Liem masih terselip di pita.
Matanya berhenti pada nama itu.
"Dari Liem?"
Senja cepat berkata, "Hampers biasa. Mungkin mereka juga tidak tahu."
"Mungkin."
Satu kata itu terdengar tidak percaya.
Senja tidak ingin memperpanjang. Dia sudah terlalu lelah.
Dokter yang dihubungi Pak Hadi menyarankan observasi di rumah selama gejala membaik, dengan obat tambahan dan instruksi jelas untuk segera ke IGD jika sesak kembali. Rayhan mendengarkan seluruh penjelasan melalui speaker, lalu menyuruh Pak Hadi mencatat.
Baru setelah semuanya terkendali, Rayhan mengambil dokumen dari ruang kerja. Dia melewati ruang keluarga tanpa melihat Senja terlalu lama.
"Istirahat," katanya.
Senja duduk di sofa, selimut tipis menutupi kakinya. "Rayhan."
Langkah pria itu berhenti.
"Terima kasih."
Rayhan tidak berbalik sepenuhnya. "Aku hanya tidak mau ada orang pingsan di rumahku."
Lalu dia pergi.
Pintu utama tertutup beberapa detik kemudian.
Senja menatap arah kepergiannya, tidak tahu apakah harus tersinggung atau merasa lega. Mungkin dua-duanya.
Sore menjelang malam, setelah tidur sebentar, Senja turun ke dapur kecil untuk mencari air. Dia berhenti di ambang pintu ketika melihat Pak Hadi sedang mengawasi dua pelayan memisahkan bahan makanan. Beberapa stoples diberi label merah. Daftar bahan ditempel di dinding pantry.
"Nyonya sudah bangun?" Pak Hadi tersenyum ketika melihatnya. "Bagaimana napasnya?"
"Sudah jauh lebih baik."
"Syukurlah." Pak Hadi menuangkan air hangat untuknya. "Mulai malam ini, semua makanan Nyonya akan dicek dua kali."
Senja menatap label-label merah itu. "Pak Hadi yang mengatur semua?"
Senyum Pak Hadi lebih lembut dari biasanya.
"Tuan muda yang memerintahkan, Nyonya."
Senja memegang gelas air hangat, terdiam.
Di dadanya, sesuatu yang tadi sesak karena alergi kini berubah menjadi debar kecil yang tidak dia mengerti.