Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Rendang Pertama Raka
Raka mulai belajar adat dari kata-kata.
Setiap pagi, Nenek Sari memberinya satu dua istilah Minang, lalu meminta Raka mengulanginya seperti anak sekolah.
"Uda."
"Uda."
"Adiak."
"Adiak."
"Mamak."
"Mamak."
"Jangan cuma lidahnya yang hafal," kata Nenek sambil memotong bawang. "Hatinya juga harus paham."
Raka mengangguk serius. "Iya, Nek."
Bayu, yang masih menginap karena katanya `satu malam tidak cukup untuk memahami drama rumah gadang`, duduk di meja dapur sambil makan keripik. "Rak, lo kelihatan kayak ikut kursus bahasa demi menantu."
Pisau Ayu berhenti di atas talenan.
Raka batuk.
Nenek Sari tersenyum tipis. "Kalau mau jadi menantu, kursusnya lebih panjang."
Bayu hampir tersedak keripik karena tertawa.
Ayu menunjuk pintu. "Bayu, kalau mau hidup, jangan komentar."
"Baik, Mbak."
Hari itu, Raka meminta izin belajar membuat rendang.
Ayu menatapnya lama. "Kak Raka yakin?"
"Saya ingin belajar."
"Rendang bukan sambal level tutorial."
"Saya tahu."
"Tidak. Kak Raka belum tahu."
Raka tetap berdiri dengan wajah bersungguh-sungguh. Di tangannya ada buku catatan kecil, pulpen, dan ekspresi orang yang siap mengikuti ujian praktik.
Nenek Sari langsung bersemangat. "Bagus. Laki-laki yang mau masuk dapur harus diuji dengan santan."
"Nek, jangan menakut-nakuti."
"Itu bukan menakut-nakuti. Itu fakta."
Ayu akhirnya mengizinkan, dengan syarat Raka tidak menyentuh kompor besar restoran. Mereka memakai dapur keluarga untuk percobaan kecil. Daging sudah dipotong. Bumbu halus disiapkan. Santan kental dan santan encer dipisah. Daun kunyit, serai, lengkuas, daun jeruk, semuanya tertata rapi.
"Pertama, tumis bumbu sampai harum," kata Ayu.
Raka menulis.
"Kak Raka tidak perlu menulis semua. Lihat, cium, dengar."
"Dengar?"
"Bumbu yang matang suaranya beda."
Raka menatap wajan seperti benda itu akan berbicara.
Ayu menyalakan api sedang. Minyak mulai panas, lalu bumbu halus masuk dengan suara mendesis. Aroma bawang merah, bawang putih, cabai, jahe, lengkuas, dan kunyit langsung memenuhi dapur. Raka refleks mundur setengah langkah ketika uap pedas menyentuh hidungnya.
"Jangan mundur terlalu jauh. Nanti tidak belajar."
"Saya sedang menghormati bumbu."
"Bumbu tidak butuh dihormati dari jauh. Bumbu butuh diaduk."
Raka mendekat lagi, memegang spatula kayu seperti memegang alat operasi. Ayu berdiri di sampingnya, memberi arahan kapan harus mengaduk dasar wajan, kapan membiarkan minyak keluar, kapan memasukkan daun-daun aromatik. Nenek Sari memperhatikan dari bangku kecil dengan ekspresi guru penguji.
"Kalau bumbu masih bau mentah, jangan masukkan daging," kata Nenek.
Raka mengangguk.
"Kalau santan pecah, jangan salahkan santan. Salahkan tangan."
Raka mengangguk lagi, kali ini lebih pelan.
Bayu berbisik, "Rak, lo berkeringat."
"Karena dapur panas."
"Karena takut Nenek."
"Dua-duanya."
Percobaan pertama gagal di menit ke dua puluh.
Raka terlalu takut api besar, sehingga bumbu tidak matang sempurna. Aromanya masih mentah. Nenek mencicip sedikit, lalu memandang Raka dengan wajah penuh belas kasihan.
"Ini bukan rendang. Ini daging sedang mencari jati diri."
Bayu tertawa sampai harus keluar dapur.
Percobaan kedua gagal karena Raka terlalu rajin mengaduk. Daging mulai hancur sebelum bumbu meresap. Ayu memegang pergelangan tangannya untuk menghentikan gerakan, lalu mereka berdua sama-sama membeku.
Sentuhan itu singkat.
Terlalu singkat.
Tapi cukup untuk membuat Raka menatap tangannya sendiri setelah Ayu melepaskan.
"Jangan terlalu sering," kata Ayu, pura-pura fokus pada wajan.
"Iya."
"Maksudnya mengaduk."
"Saya tahu."
Bayu dari luar dapur berseru, "Yakin?"
"Bayu!" Ayu dan Raka berkata bersamaan.
Nenek Sari tertawa keras.
Percobaan ketiga lebih baik. Bumbunya matang. Santannya tidak pecah. Dagingnya masih utuh. Namun rasanya kurang dalam, seperti lagu yang liriknya benar tapi belum punya perasaan.
Raka menatap mangkuk kecil di meja dengan wajah kalah.
"Sulit sekali."
"Rendang memang tidak bisa dipaksa cepat," kata Ayu. "Dia harus ditunggu."
"Seperti naskah."
"Seperti banyak hal."
Kalimat itu menggantung sebentar di antara mereka.
Ayu menatap wajan kecil itu dan tiba-tiba teringat Alim. Dulu ayahnya juga selalu berkata bahwa rendang mengajarkan orang sabar. Api besar hanya membuat santan rusak. Tangan yang terburu-buru hanya membuat bumbu tidak sempat meresap. Waktu kecil, Ayu tidak mengerti. Sekarang, melihat Raka berdiri di dapur keluarga dengan wajah serius, ia merasa pelajaran itu kembali dengan bentuk yang berbeda.
"Ayah saya dulu bilang, orang yang mau belajar rendang harus siap gagal lebih dari sekali," katanya.
Raka menatapnya lebih lembut. "Berarti saya masih sesuai jalur."
"Sangat sesuai."
Nenek Sari mencicip lagi, lalu mengangguk. "Sudah bisa dimakan. Belum bisa dijual."
"Itu kemajuan?" tanya Raka.
"Besar," jawab Ayu. "Dari daging mencari jati diri menjadi makanan keluarga."
Raka tertawa, akhirnya tidak terlalu kecewa.
Malam itu, rendang percobaan Raka disajikan di meja keluarga. Semua orang harus mencicip, termasuk Bayu dan Arif. Dian mengambil video pendek dengan izin Raka, tapi berjanji tidak mengunggah kalau Raka terlihat terlalu menderita.
"Menurutku ini enak," kata Arif diplomatis.
Dian menatap suaminya. "Kamu selalu terlalu baik."
"Tidak, serius. Untuk percobaan pertama..."
"Ketiga," koreksi Nenek.
"Untuk percobaan ketiga, ini menjanjikan."
Bayu mengangkat sendok. "Menurut gue, kalau Raka bisa bikin rendang, berarti dia serius. Dulu dia bikin telur saja bisa gosong sebelah dan mentah sebelah."
Raka menghela napas. "Kenapa semua masa lalu saya dibuka?"
"Supaya Mbak Ayu tahu perkembangan karakter lo."
Ayu tertawa sambil mengambil sedikit rendang buatan Raka. Rasanya memang belum restoran. Tapi ketika ia melihat Raka menunggu reaksinya dengan mata yang terlalu jujur, ia merasa suapan itu lebih penting dari sekadar rasa.
"Enak," kata Ayu.
Raka menatapnya. "Jujur?"
"Jujur. Masih perlu belajar, tapi enak."
Wajah Raka berubah lega, begitu jelas sampai Dian menendang kaki Ayu di bawah meja.
Setelah makan, Raka membantu membereskan dapur. Di sela mencuci panci, ia mengulang beberapa kata Minang yang diajarkan Nenek. Pengucapannya masih kaku. Ayu memperbaiki pelan, dan setiap kali ia mengucapkan dengan benar, Nenek dari ruang tengah memberi nilai.
"Tujuh."
"Delapan."
"Itu enam. Ulangi."
Bayu berbisik kepada Arif, "Ini lebih tegang dari SKD."
Arif mengangguk. "Aku setuju."
Menjelang malam, sebelum Bayu dan Arif masuk kamar, Bayu mengambil sambal lado hijau di meja dan berkata, "Ngomong-ngomong, Rak, lo sudah makin Minang belum kalau belum tahan pedas?"
Raka, yang baru saja mendapat pujian rendang dari Ayu, tampak sedikit terlalu percaya diri.
"Saya mulai terbiasa."
Ayu langsung menoleh. "Kak Raka, jangan."
Bayu menyeringai. "Besok kita tes."
Nenek Sari yang mendengar dari ruang tengah langsung berkata, "Kalau tes pedas, pakai sambal asli."
Raka menelan ludah, tapi gengsinya sudah terlanjur berdiri.
"Baik," katanya.
Ayu menatapnya dengan iba.
Besok, Raka Pratama akan belajar bahwa tidak semua ujian punya passing grade yang ramah.