Jika orang lain memilih pergi saat tahu suaminya mendua, aku memilih bertahan dan memberi kejutan manis untuk suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susan saliman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wasiat Bapak
Paginya Menur menyiapkan sarapan untuk Yoga seperti biasa, dia tadi kesiangan sih, bangun hampir jam 6, sholat subuhnya jadi terburu buru.
Hanya Nasi goreng sederhana plus telor ceplok yang Menur sajikan diatas meja.
" Kok cuma sepiring Nur, sarapan mu mana?", Tanya Yoga terheran.
" Menur belum lapar, nanti aja kalau lapar Menur siapin sendiri, gampang", Menur menjawab namun tidsk melihat kearah Yoga.
" Hari ini kerja seperti biasa atau ada rencana lain?", Tanya Yoga penuh selidik.
" Maksud mu apa mas? Aku ini orang yang tidak suka membalas perbuatan jahat dengan kejahatan kembali mas, aku lebih suka diam dan tenang menunggu karma itu bekerja dengan sendirinya, jadi Menur tegasin disini ya mas, Menur tidak akan membalas perbuatan mu dengan hal yang sama", Sinis Menur memandang galak pada Yoga.
Yoga hanya melihat Menur dengan diam dan kemudian menghela nafas dalam.
" Buatkan janji dengan dokter yang memeriksamu kemarin, mas juga mau test", Yoga memandang Menur dengan mata lembut, berharap Menur mau menanggapi keinginannya meski semalam dia sudah memberikan luka.
" Oke, nanti Menur kabari", Menur mengangguk menjawab ucapan Yoga tanpa melihat Yoga, dia sibuk memainkan sendoknya pada gelas minumnya.
" Oke mas berangkat dulu", Yoga membelai kepala Menur dengan lembut dan mencium kening Menur cukup lama, tapi Menur hanya diam tanpa membalas, bahkan Menur tidak mencium punggung tangan Yoga.
" Salam dulu dong", Yoga menyodorkan tangannya pada Menur, namun Menur hanya menyentuh sekilas punggung tangan Yoga tanpa menciumnya.
" Kok ga di cium seperti biasa Nur?", Tanya Yoga berharap mendapatkan kebiasaan itu.
" Ga usah, tangan mas sekarang bau", Jawab Menur ketus.
" Hah, bau", Yoga menciumi telapak tangannya yang habis di pakein hand sanitiser.
" Harum kok, harum lidah buaya", Jawab Yoga sambil mrngendus punggung tangannya.
" Coba sekali lagi mas cium, bukan lidah buaya mas tapi bau wanita m*****n", Jawab Mrnur sinis.
" Ck... sok tahu kamu", Yoga kemudian pergi melenggang menuju mobilnya, saat hendak melajukan mobilnya, dia melihat menur tersenyum hangat dengan seseorang, namun siapa? Yoga pun tidak tahu.
Yoga memperhatikan Menur dan orang itu sejenak, kemudian Menur menunjuk pada beberapa barang, Yoga mengambil kesimpulan jika orang tersebut hanya pembeli dan akhirnya Yoga pun berangkat.
" Mas hari ini antar barang pesanan ke pak lurah, ke kampung Waru, ke kampung suka maju, dan juga ada pesanan ke sekolah SMA kita dulu, mau bangun kamar mandi baru katanya", Ucap Menur ketika menuju toko dan berpapasan dengan Dani yang baru datang.
" Siap bu, semua barang pesanan akan saya antar", Dani bergegas dengan senyum sumringah.
" Nur, ibu mau bicara, di rumah ya ibu tunggu", Tiba tiba saja bu Salim ke toko dan bicara sama Menur.
" Ya bu", Menurpun melangkah mengikuti ibu mertuanya ke rumah.
" Nur, ibu harap kamu segera hamil, malu Nur ibu itu, semua teman ibu sudah punya cucu, bahkan sudah ada yang punya 3 cucu, lha ibu anak cuma satu cucu pun belum ada saja", Bu Salim menatap nanar penuh harap pada Menur.
Menur menarik nafas, menatap sang ibu mertua, "Ibu doa kan yang terbaik buat Menur, dalam waktu dekat menur akan mengantar mas Yoga test, semoga hasilnya bagus jikapun tidak Menur akan usahakan harapan ibu semaksimal mungkin, percaya sama Menur bu, dukung Menur dan doakan terus", Menur meraih punggung tangan ibu mertuanya memohon doa dari beliau.
Bu Salim manggut, setuju.
Untuk beberappa saat kemudian Menur terdiam, pikirannya melayang, sungguh setiap hari selalu di tekan seperti ini, mampukan dirinya untuk selalu sabar menghadapi.
Menur tertunduk dalam, air matanya rasanya ingin tumpah, tapi hanya akan membuat lemah, lebih baik Menur kembali ke toko, minimal di sana banyak orang datang silih berganti membuat hatinya sedikit bisa terhibur.
Menurpun kembali pada pekerjaannya, disana Menur menghubungi dokter Gita dan menjelaskan problem yang sedang di hadapi juga memberi tahu jika suaminya bersedia menjalani test.
Akhirnya menur membuat janji namun tidak dalam waktu dekat ini karena ada sebuah pekerjaan yang Menur mau jalani dulu.
Kian hari Menur pun kuan akrab dengan Dani, bahkan dalam banyak hal Dani membantu kesulitan kesulitan Menur.
Seperti sekarang Menur mengajak Dani bicara serius.
" Mas, ini daftar barang pesanan untuk besok tolong siapkan semuanya sekarang dan selesaikan besok pagi pagi sekali, karena Menur minta mas untuk menemani kesuatu tempat besok sorenya ya, Terima kasih mas", Ucap Menur.
Dani hanya mengangguk pasrah, perempuan di depannya ini menurut Dani memang luar biasa, selain pesonanya, wajah cantik bercampur manis yang tak pernah bosan bagi siapun untuk memandangnya, badan yang kencang dan langsing serta karismanya itu lho, beuh.... pancaran matanya, dalam memerintahpun sulit orang untuk menolaknya, bahasanya yang tegas namun halus dan sopan disertai senyum manis diujung ucapannya serta ungkapan terima kasih yang tak pernah terlewatkan, sungguh hati Dani menghangat, tapi apa daya perempuan itu semakin jauh melesat meninggalkan dirinya yang hanya seonggok pungguk merindukan bulan, seenggaknya begitulah ungkapan hati Dani.
Mata Dani tak berkedip, masih setia memandang wajah Menur, pikirannya melayang jauh menggambarkan sosok ayu penuh karisma di depannya ini.
" Mas Dani, sibuk mikirin apa sih, sampai melonggo begitu", Suara menur membuyarkan lamunan Dani.
" Eh iya, cantik emmm.... maaf bu iya ada apa?", Ucap Dani gugup.
" Mungkin Menur bakalan sering ngajak mas pergi bareng untuk menemani Menur, tidak apa apa kan?", Tanya Menur.
" Iya Nur, mas siap", Jawab Dani senang karena bisa lebih dekat dengan Menur
Malam harinya saat jam makan malam terlihat lengkap ada Menur, bu Salim dan Yoga, mereka makan dengan dian tanpa suara, hingga puring mereka kosong baru ada percakapan.
" Yoga, ibu harap kamu segera memiliki anak dengan Menur, masih ingat dengan wasiat bapak mu dulu sebelum bapak meninggalkan kita? Semua harta yang atas nama ibu, akan langsung jatuh ke cucu tanpa perantara dirimu, iya to, begitu pesan bapak mu dulu, jadi otomatis 65% harta itu langsung menjadi haknya anak mu nanti", ucsp tegas bu Salim mengingatkan Yoga.
Yoga manggut manggut saja, sementara Menur terhenyak kaget mendengar ucapan bu Salim.
" Ingat ya Nur, beri ibu cucu secepatnya, yang sehat dan banyak juga gapapa, tidak perlu kawatir masa depannya, warisan dari ibu sudah menjamin masa depan mereka", Bu Salim menatap Menur penuh harap, Menurpun hanya bisa mengangguk pasrah.
" Iya bu", Menur tertunduk pasrah.
Sementara Yoga hanya bisa menghela nafas panjang, memandang sang ibu yang beranjak mmeningggalkan meja makan mennuju kamar.
Sama tokoh yoga,gak ada insyafnya
Semakin tua,bukannya keimanan diperkuat,dipeluk diam aja,kaya kucing
Garong,udah thor pisahin aja mereka
Biar aja menur jadi janda daripada dibohongi terus,tobat sambel
bagus ceritanya
sukses
semangat