Novel ini hanya lucu di awal, semakin ke ujung ada sedikit bawang. Semoga suka.
*******
Mulutmu harimau-mu. Pepatah itu sering kita dengar. Tapi sering kita lupa. Sehingga sangat gampang berucap tanpa memikirkan dampak dari ucapan kita sendiri.
Aurelia Syafitri. Gadis cantik berumur 25 tahun, pribadi yang periang, suka bercanda dan gemar melancarkan jurus bucin. Bagi orang itulah yang menyenangkan bagi Syafi. Tapi, tidak berlaku bagi calon suaminya. Ucapan calon suaminya saat menjelang hari pernikahan bagaikan air yang melunturkan semua warna pada hidup Syafi. Bukan cuma ucapan itu yang menyakitkan bagi Syafi. Tapi di tinggal saat menjelang akad nikah. Menjadi tamparan keras di wajahnya. Duka menjelang hari pernikahan itu membuat Syafi kehilangan jati dirinya.
Bagaimana nasib Syafi yang di tinggal saat menjelang pernikahan? Atau akan ada keajaiban yang bisa membuat Syafi kembali menjadi pribadi yang ceria dan menyenangkan? ‘’
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Cengeng
Dirga memejamkan kedua matanya, kepedihan ini membuat dia menjadi laki-laki cengeng, yang begitu mudah mengeluarkan air matanya. Andai saja Syafi tidak serapuh ini, saat ini juga dia terbang untuk kembali ke kotanya, memberi pelajaran pada Arnaff. Tapi, saat ini Syafi yang lebih penting. Perlahan suara tangis itu reda, Dirga melonggarkan pelukannya, mengintip wajah Syafi yang tenggelam dalam dada bidangnya. Terlihat wanita itu memejamkan kedua matanya. Dirga merasa tenang, dia meng-eratkan kembali pelukannya pada tubuh wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya, hingga keduanya larut ke dalam alam mimpi.
Lantunan suara kajian ayat suci al-qur’an mulai bersahutan dari arah yang berbeda. Perlahan Dirga mengerjapkan kedua matanya, entah kenapa ada hawa hangat yang berhembus di bagian dadanya. Dirga berusaha mengumpulkan kesadarannya, senyuman terukir dari wajah Dirga, saat menyadari wanita yang dia cinta dalam diam, berada dalam pelukannya. Rasanya tidak rela melepaskan pelukan ini. Terlihat kedua mata Syafi mulai mengerjap. Dirga langsung memejamkan kedua matanya, dia tidak punya alasan jika Syafi menanyakan keadaan ini.
Rasanya sangat malas membuka kedua mata yang sangat nyaman terpejam. Alam mimpi saat ini lebih
indah bagi Syafi. Perlahan Syafi membuka kedua matanya, sangat sulit membuka kedua bola matanya, terasa perih dan ber-air, karena terlalu lama menangis. Entah kenapa guling yang dia peluk ini terasa nyaman dan hangat. Saat kedua bola matanya terbuka sempurna, rasanya ingin sekali berteriak, dia tidur memeluk Dirga. Melihat Dirga masih berpejam, Syafi berusaha menahan keinginannya untuk berteriak. Perlahan dia melepaskan diri dari pelukan Dirga.
“Fiuhhh ….” Sangat lega bisa melepaskan diri dari pelukan Dirga, tanpa membuat laki-laki itu terbangun. Syafi tidak ambil pusing, dia segera menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
Merasa keadaan aman, Dirga segera membuka kedua matanya, duduk di sisi tempat tidur, entah kenapa kebahagiaannya begitu besar, lupa akan duka yang baru dia rasa. Sulit sekali untuk menghilangkan senyuman dari wajahnya. Segera bangkit dari posisinya saat ini, tidak ingin melewatkan pemandangan indah, memandang Syafi yang nanti keluar dari kamar mandi. Segera melangkah menuju kamar mandi yang Cuma ada satu di rumah itu.
Tidak berselang lama, gadis yang mencuri hatinya itu keluar dari kamar mandi, tidak ada tegur sapa diantara keduanya, setelah Syafi keluar, Dirga segera masuk kedalam kamar mandi, sudah lebih dari cukup bisa memandang gadis istimewa itu di pagi hari.
***
Suasana pagi yang sepi, kedua penghuni rumah itu betah mengurung diri di kamar mereka masing-masing. Suara mesin mobil berhenti di depan rumah Ardhin. Terlihat seorang gadis turun dari mobil, membawa kantong makanan yang dia tenteng.
“Whoyy May … kepagian kamu bertamunya, di rumah itu sepasang pengantin baru, jangan di ganggu apa!” Salah satu tetangga Ardhin mengenali sosok gadis cantik yang baru keluar dari mobilnya.
“Iya cil … kepaksa ini gangguin pengantin baru, soalnya saya harus ke Bandara nanti siang, saya kemari mau ambil handphone saya yang ketinggalan.” Mayfa melempar senyuman manisnya, dia menganggukkan kepalanya sembari memberi hormat pada lawan bicaranya, sebelum meneruskan langkah kakinya.
Mayfa terus melangkahkan kakinya menuju rumah Ardhin. Kini dia berada tepat di depan pintu rumah itu. Terlihat lampu teras rumah itu masih menyala. Perlahan dia mengetukkan punggung telapak tangannya, sambil mengucapkan salam.
Pintu terbuka, terlihat sosok laki-laki tampan diantara pintu itu. “Wa’alaikum salam,” ucapnya, senyuman manis juga menghiasi wajahnya.
“Maaf kak, ganggu pagi-pagi.” Mayfa merasa bersalah bertamu sepagi ini.
“Santai saja, ayo masuk ….” Dirga membuka pintu selebar-lebarnya.
Ruangan itu terlihat kosong, kursi tamu yang biasanya ada di ruangan itu masih berada di luar rumah, karena masih ada pengajian yang diadakan di rumah itu nanti malam.
“Duduk aja May, tapi maaf, kita lesehan dulu.”
“Iya, kak.” Mayfa segera duduk lesehan di lantai rumah itu, sedang Dirga melangkah menuju kamar Syafi.
“Fiy ….” Sambil mengetuk pintu kamar itu.
Perlahan pintu kamar itu terbuka, terlihat sosok Syafi yang tampak cantik mengenakan baju santai yang serba Panjang, dengan kerudung persegi yang menutup bagian kepalanya.
Dirga berusaha menyadarkan dirinya, entah kenapa walau hanya memandang Sayfi rasanya pertahanan dirinya seketika oleng. “Ada Mayfa, di luar.” Hanya kalimat itu yang bisa dia ucapkan.
Tidak ada reaksi apapun dari wajah itu, dia Kembali lagi ke dalam kamarnya. Melihat Syafi masuk ke dalam kamar lagi, Dirga segera menemui Mayfa.
“Tunggu sebentar, ya May.” Dirga duduk leseh di lantai tidak jauh dari Mayfa.
“Aku ke sini pagi-pagi, karena nanti siang aku harus ke Bandara, maaf banget loh kak ….” Mayfa masih merasa bersalah.
“Aku senang kamu kemari, setidaknya ada yang membuat Syafi bersemangat.”
“Ini juga hari terakhir aku di sini, aku tidak menyangka, lamaran kerja aku yang aku kirim 6 bulan lalu, di terima. Makanya aku ingin pamitan sama kalian, sekalian mau ambil handphone aku yang ketinggalan,” ucap Mayfa.
“Ngenes banget hidup aku. Apa ini karena do’a-do’a orang yang nggak suka sama aku terkabul?” Syafi berjalan mendekati Mayfa, memberikan handphone Mayfa yang ketinggalan pada Mayfa.
“Lu ngomong apaan?” Seketika kesedihan terlihat dari wajah Mayfa.
Syafi memberikan senyuman yang dia paksakan. “Bibi pergi, Paman pergi, sekarang teman yang selama ini membuatku Bahagia juga akan pergi ninggalin aku.” Syafi ikut duduk lesehan di lantai, menyandarkan punggungnya di dinding rumah itu. “Maaf May, tadi malam aku membuka handphone kamu.” Wajah itu memang menampakkan senyuman, tapi membuat yang memandang merasa khawatir.
Seketika kemarahan Dirga menyala mengingat isi rekaman video yang dia tonton tadi malam, tidak ada adegan yang tertangkap, hanya suara Ardhin, Kamal, Mayfa, dan Arnaff yang terdengar. Dirga izin pada Mayfa dan Syafi untuk pergi ke kamarnya.
Mayfa tidak mampu lagi menahan air mata yang sedari tadi ingin tumpah, air matanya seketika merembes membasahi pipi mulusnya. Dia langsung mendekati Syafi, memeluk wanita itu. “Maafin gua, gua nggak bermaksud
ninggalin lu, saat lu masih berduka seperti ini.” Semakin erat memeluk Syafi. “Lamaran kerja yang gua kirim 6 bulan lalu, jauh sebelum gua ketemu elu, barusan adik bunda kasih kabar, kalau lamaran yang gua kirim dulu di terima, mau nggak mau, gua harus pergi.”
Syafi melepaskan pelukan Mayfa. “Hei … santuy aja kali … kamu nggak pergi ‘pun aku tetap akan pergi, aku sekarang istri kak Dirga, otomatis jika dia Kembali, aku juga ikut dia, bukan?”
“Ya sudah, itu aku bawakan sarapan buat kalian, aku harus cepat pulang, karena ini sungguh dadakan.”
Syafi menganggukkan kepalanya, memeluk erat tubuh Mayfa. “Semoga sukses, dan sampai jumpa lagi,” ucapnya.
“Hem … jangan kangen ya ….”
Syafi melangkah menuju kamar Pamannya, memanggil Dirga, karena Mayfa ingin pulang. Setelah berpamitan pada Dirga dan Sayfi, Mayfa segera pergi dari rumah itu.
Selepas kepergian Mayfa, tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Syafi segera mempersiapkan sarapan buat Dirga dan dirinya. Menikmati sarapan mereka masing-masing ‘pun masih sama-sama Diam.
***
Malam harinya, kediaman Ardhin ramai, banyak warga yang berhadir untuk pengajian buat Ardhin dan Kamal. Bagi mereka yang melihat reaksi Syafi dan Dirga, sepasang pengantin baru itu masih malu-malu. Mereka memaklumi
kecanggungan diantara keduanya.
Tidak terasa, hampir sebulan Dirga meninggalkan tugasnya di perusahaan Ozage Cryton Group. Saat Sam mengetahui pernikahan yang batal, dia sangat sering menelepon Dirga, memintanya segera Kembali, karena tugasnya di Kalimantan harusnya sudah selesai, tapi hanya mendapatkan jawaban nanti dan nanti.
“Kalau Tuan keberatan memberi saya waktu, ganti saja posisi saya, Tuan.” Perkataan Dirga yang itu membuat Sam memberi Dirga pengecualian.
Rangkaian acara pengajian untuk Adhin dan Kamal sudah di lewati, keadaan rumah Ardhin sudah Kembali seperti semula. Pagi yang selalu cerah, tapi tidak bagi Dirga. Dari awal menikah hingga saat ini, hanya melihat wajah Syafi yang tidak ada expresi sama sekali. Bahkan Syafi hanya mengurung diri di kamar, hanya seorang wanita paruh baya yang di pekerjakan Syafi untuk menyiapkan makanan dan keperluan lain. Dirga tidak bisa berbuat banyak, dia menghabiskan waktu di rumah Ardhin dengan menyibukkan diri menarikan jari jemarinya pada tombol keayboar laptop. Mengerjakan pekerjaan yang bisa dia kerjakan.
“Kapan kau siap ikut aku Kembali?”
“Kapan saja jika kakak mau.”
“Aku terlalu lama meninggalkan pekerjaanku, bagaimana kalau kita Kembali minggu depan?”
Syafi hanya menganggukkan kepalanya, menanggapi pertanyaan Dirga.
***
Maaf banget ya, aku baru bisa update, dan maaf juga coretan ini tidak sesuai dengan khayalan kalian, inilah made halu ala aku, salam sayang semua .... 🤗🤗🤗