Setelah lulus kuliah, kamu mau ngapain nih bestie? Kerja? Lanjut S2? Atau bahkan langsung nikah?? Xixixi.
Buat yang lanjut S2 semangat, yang kerja ga usah lesu letih dan lunglai, yuk mampir baca kisah seorang tokoh yang berakhir di jodohkan, dan hidup bahagia (?) setelahnya.
Kirana Putri yang baru saja lulus dari pendidikannya, harus merelakan mimpinya dan menikah dengan seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya. Lelaki penyayang, lembut dan setia, tentu saja bukan. Ia menikah dengan orang yang terlihat begitu membencinya, bahkan ia bukanlah wanita satu-satunya bagi suaminya. Mampu kah ia bertahan dalam kehidupan rumah tangga seperti itu? Atau justru ia akan menyerah dan kembali mengejar mimpinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya_BC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nadine Ada Aja
Hari ini seperti biasa Rei melakukan pekerjaannya di kantor. Ketenangan bekerja harus hilang ketika Nadine memasuki ruangan lelaki itu.
"Lain kali ketuk pintu dulu. Ada apa?" Tanya Rei malas. Ia juga masih sibuk dengan laptopnya.
"Galak banget sih? Aku ke sini kan mau nyemangatin kamu" Nadine berdiri di samping Rei dan duduk di pegangan kursi kerjanya.
"Ck! Minggir ga?! Kalau nanti ada yang masuk gimana?" Pekik Rei seraya berusaha menjauhkan perempuan itu dari dekatnya.
"Kamu kenapa sih? Ga akan ada yang masuk. Udah balik kerja sana" Nadine memainkan rambut Rei, lelaki itu merasa risih dan menjauhkan tangan Nadine darinya.
"Aduh" Nadine tak dapat menjaga keseimbangannya dan terjatuh di pangkuan Rei, membuat lelaki itu kian panik, takut akan ada yang membuka pintu.
Benar saja, seseorang membuka pintu, membuat mata Rei langsung tertuju pada pintu. Jantungnya mencelos saat melihat dua sosok yang memasuki ruangan. Ia segera memerintahkan Nadine untuk bangun dan menjauh darinya.
Dengan gelagapan, ia menyengir dan memberikan salam pada orang yang kini tengah menatapnya serius. ".. Selamat siang pak!" Ucap Rei dengan jantung tak santai.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya papah dengan suara datar, membuat Rei seketika menelan ludahnya semakin panik, tangannya bahkan berkeringat kini.
"Maaf pak, tadi saat dia mengantarkan dokumen, dia terpeleset, dan jatuh mengenai saya" Jawab Rei berusaha tetap tenang.
"Benar itu Nadine?" Mata papah beralih menatap Nadine, menunggu jawaban perempuan itu.
Nadine memutar mata malas, lalu menjawab dengan ketus. "Iyaa pak"
"Pekerjaan kamu di sini sudah selesai kan? Kamu bisa keluar" Ucap papah membuat Nadine segera keluar dari ruangan itu. Rei menarik napas lega ketika perempuan itu keluar dari ruangan.
Kini matanya tertuju pada seorang perempuan cantik dan mungil yang ada di belakang papah. "Kenapa bapak dan Ran ada di sini?" Tanya Rei kemudian.
"Papah sengaja ngajak Ran ke sini, liat-liat kantor kamu" Jawab papah membuat Rei manggut-manggut mengerti.
"Yasudah, papah mau ke ruangan dulu. Ran di sini saja ya?" Ran mengangguk.
"Dan kamu Rei" Panggil papah namun dengan suara serius.
"Jangan macam-macam di kantor. Kalau papah tau kamu berani mengkhianati Ran, papah yang akan turun tangan untuk mengurus perpisahan kalian berdua" Rei diam sebentar lalu mengangguk paham. Papah keluar dari ruang kerjanya.
"Kamu ke sini kok ga bilang-bilang saya?" Rei menghampiri sofa dan duduk di samping istrinya.
"Kenapa? Supaya mas bisa mesra-mesraan sama mba Nadine?" Tebak Ran dibalas gelengan kepala oleh Rei.
"Kamu tuh ngomong apa sih? Kalau saya bilang hubungan saya dan dia udah selesai, ya udah selesai. Saya ga akan bohong sama kamu" Tutur Rei yang kini menggenggam jemari Ran, ingin perempuan itu percaya padanya.
"Yah, selagi bukan mas langsung yang bilang, aku ga akan percaya kok. Aku percaya sama mas" Rei tersenyum lalu mengelus kepala perempuan itu.
"Tapi karena kita mau mulai semua dari awal, sekarang saya ga bisa mentoleransi perselingkuhan. Mas paham?" Rei mengangguk, ia tak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Lelaki itu tersenyum jahil lalu menarik Ran mendekat padanya. "Hayo mau ngapain? Ini di kantor!" Ran memukul pelan lengan Rei.
"Ya terus? Haha" Rei mengecup pipi istrinya.
"Aku mau ke ruangan papah aja! Sama mas bahaya!" Ran berusaha menjauhkan tangan Rei yang melingkar di perutnya.
"Jangan dong" Rei tertawa dan kembali mengeratkan pelukannya, ia menyandarkan kepalanya di kepala Ran.
"Gini dulu bentar, tenaga saya udah mau habis. Harus nge-charge" Ucap lelaki itu. Ran tersenyum lalu mengusap lembut pipinya.
"Hari ini mamah minta kita main ke rumah mas, Keli juga udah di sana" Ucap Ran.
"Boleh, nanti pulang kerja saya jemput kamu, kita ke sana sama-sama. Tapi..." Ran mengangkat satu alisnya, menunggu Rei melengkapi perkataannya.
"Kita belum bawain mamah cucu loh, mau ke sana malam ini? Apa kita ngga gas poll aja di kamar malam ini??" Rei menarik turunkan alisnya, menggoda perempuan yang tengah berada dalam dekapannya.
"Is mas! Mesum banget!" Ran memalingkan wajahnya menatap pintu.
"Hahaha ayo! Mau gaa?" Tanya Rei usil, ia mencolek hidung Ran, membuat perempuan itu salah tingkah.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Rei segera bergegas pulang untuk menjemput Ran yang tadi pulang lebih dulu ke rumah. Kini mereka sudah berada di depan rumah orang tua Rei. Mereka masuk ke dalam dan duduk di ruang keluarga. Ternyata papah dan mamah sedang mencoba untuk video call dengan Regi.
"Halooo papah mamah~" Sapa Regi saat panggilan sudah terhubung.
"Halo juga sayang~"
"Halo bang, mba! Eh ada Keli!" Ucap Regi excited.
"Halooo oooom" Sapa Keli yang sedang memakan jeli.
"Masih aja suka makan jeli, haha" Sahut Regi lalu tertawa kecil.
"Loh, Regi udah tau?" Tanya Rei yang kini menatap Ran.
"Udah bang, dulu pernah ketemu. Aku pernah gendong dia juga dulu" Jelas Regi membuat raut wajah Rei sedikit tertekuk.
"Gimana kuliahnya Reg?" Tanya Ran. Perempuan itu menoleh pada Rei yang menggandeng lengannya cemberut.
"Kenapa??" Bisik Ran. Lelaki itu menggeleng namun masih memasang wajah cemberut.
"Masih penyesuaian mba, ih tapi tau ga.." Mereka membicarakan banyak hal, berbagi apa yang terjadi di luar sana dan di sini. Hingga akhirnya telepon ditutup.
"Oh iya, mamah masak ayam kecap, ada telur balado, mamah juga masak opor loh Ran. Kamu suka kan?" Ucap mamah senang.
"Waah mamah tau dari mana Ran suka opor?" Tanya Ran dengan mata berbinar.
"Tau dooong. Kalau Keli? Mamah lupa tanya Keli sukanya apa, Keli suka apa?" Tanya mamah seraya mengelus lembut kepala anak laki-laki itu.
"Keli suka semua mah"
"Kalau makanan yang paling kamu suka ada?"
"Ada. Semua yang di masak Kakak"
"Waaah kayaknya mamah harus belajar sama Kakak nih, hahahaha"
"Tapi papah sama mamah belum tahu nih, kok namanya Keli? Padahal kan cowo. Atau memang Keli ya?" Tanya papah penasaran.
"Kel-" Belum sempat Keli menjawab, Rei memotong.
"Keliando pah" Mendengar ucapan Rei, mamah dan papah tertawa terbahak bahak.
"Apakah selucu itu?" Batin Rei heran.
"Iii ooom" Keli memukul lengan Rei kesal.
"Loh bener, kan?"
"Hahahaha sudah-sudah"
"Tapi mah, nama Keli itu sebenelnya Kevin. Tapi kalena suka makan jeli, jadinya dipanggil Keli sama Kakak" Jelas Keli membuat tawa kembali pecah, mungkin papah dan mamah merindukan sosok anak kecil di rumah?
"Ahahahaha, dasar ya~" Papah mengelap sisi matanya yang mengeluarkan air mata karena tertawa.
"Nanti kita main bola yuk?" Ajak papah.
"Bola?!" Tanya Keli penuh semangat.
"Boleh tuh pah, ayo Li?"
"Hayok om!"
Setelah selesai makan, Ran membantu mamah merapihkan piring-piring yang kotor. Sedangkan papah, Rei dan Keli pergi ke halaman belakang untuk bermain sepak bola.
Sore hari datang. Mereka sedang bersantai di belakang rumah sambil membakar sosis sebagai camilan. Namun saat sedang asyik bakar membakar, terdengar suara bel yang di tekan. Sepertinya ada tamu.
"Mah, biar Ran saja ya yang buka pintunya?" Ran menawarkan.
"Oh, boleh deh. Tolong ya nak"
"Baik mah"
Ran segera menuju pintu. Namun sebelum membuka pintunya, ia mengintip di jendela dan melihat siapa yang datang. Ia sangat terkejut saat melihat seorang wanita berambut panjang dengan celana longgar dan kaos putih sedang berdiri di depan pintu.
"Ada urusan apa sampai ke sini? Masa mau mencari mas? Katanya mereka sudah selesai?" Batin Ran.
Ran awalnya ragu untuk membukakan pintu, hingga wanita itu memencet bel beberapa kali. Namun perlahan ia membukakan pintu untuk Nadine.
Saat mata mereka bertemu, Nadine hanya menatap Ran dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutnya.
".. Maaf mba, ada apa ya?" Tanya Ran.
".. Maaf aku datang mengganggu, tapi ada hal yang harus aku sampaikan sama kamu dan Rei"
"Apa itu mba?"
"Sekarang juga, aku minta kamu tinggalkan Rei"
si ratu drama nadine minta di baigon nie
pengen ku bunuh dua orang itu😭👍
Cuss bacaa jan lupa tinglkan jejaakk🤗
tkn prfil q aja yaa😍
vielen danke😘