Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Cantik nan Rupawan
Ketegangan yang mengudara di pagi hari itu telah mencapai titik didih. Keberanian Vyora menyalakan percikan api sukses membuat amarah pria botak di hadapannya meledak tak terkendali.
Namun, keberanian saja tak cukup untuk menutupi jurang perbedaan kekuatan fisik mereka. Saat pria bertubuh kekar itu menarik lengannya dan melontarkan kepalan tinju sekeras batu ke arah wajahnya, tubuh Vyora bergetar hebat.
Gadis berambut abu-abu itu menutup mata rapat-rapat, membiarkan kegelapan menyambut rasa sakit yang akan datang.
Wusss!
Hanya hembusan angin kasar yang menerpa wajah dan menyibak poni rambut abu-abunya ke belakang. Rasa sakit yang ia tunggu tak kunjung tiba.
Dalam hitungan kurang dari sedetik, kepalan tinju pembawa petaka itu berhenti mendadak di udara, tertahan hanya beberapa inci dari ujung hidung Vyora. Perlahan, Vyora membuka kelopak matanya yang bergetar.
Dari balik bahu lebar si pria botak, ia melihat sepasang tangan ramping beralaskan sarung tangan putih telah mencengkeram pundak predator buas itu dengan tenang namun bertenaga.
Sesosok wanita dewasa—sekitar usia dua puluh delapan tahun—berdiri di sana. Aroma wangi floral yang lembut langsung menyapu indra penciuman Vyora.
Rambut panjang wanita itu berwarna ungu tua, dikepang rapi menjuntai ke belakang hingga menyentuh kedua bahu. Kacamata bening bertengger di wajahnya, membingkai sepasang mata kuning semu yang tajam.
Penampilannya sangat kontras dengan lingkungan desa yang berdebu. Ia mengenakan gaun ungu muda bergaya bangsawan dengan desain bahu terbuka, disempurnakan oleh korset gelap yang memeluk pas lekuk tubuhnya.
Rok putih bergradasi lilac-nya bergoyang lembut tertiup angin, memperlihatkan detail renda dan motif ornamental yang mahal. Sebuah baret kecil di kepalanya melengkapi penampilannya.
Mata Vyora berbinar.
"Chtholly nee-san!"
Chtholly, sang kakak sulung yang telah meninggalkan rumah sejak usia tujuh belas tahun untuk merantau, kini benar-benar menampakkan batang hidungnya.
Di sisi lain, Cate yang sedari tadi berlutut di samping tubuh Takahiro refleks ikut berdiri tegak. Matanya membulat. Ia melangkah maju, menyejajarkan posisinya di samping Vyora.
"Chtholly nee-san...," sapa Cate lirih.
Dengan tenaga yang tak terduga dari penampilannya yang lembut, Chtholly menarik paksa pundak pria botak itu hingga berbalik menghadapnya.
Begitu tatapan mereka bersirobok, pria bernama Owi itulah yang lebih dulu membuka suara dengan nada menggeram.
"Cih...! Cecunguk bertambah satu. Apa kau datang ke sini hanya untuk mengantarkan nyawa?"
Tangan Chtholly perlahan terlepas dari pundak Owi. Wanita itu sama sekali tak bergeming atau memundurkan langkahnya di hadapan tubuh raksasa itu.
Dengan suara wanita dewasa yang stabil, lembut, namun sarat penekanan, Chtholly meladeni tatapan itu.
"Owi-san, aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu lagi," tuturnya tenang. "Aku juga tidak peduli kamu siapa, dan apa jabatan yang kini kamu punya—"
"Bedebah! Kau sama saja—"
"Aku belum selesai bicara, tolong jangan potong ucapanku."
Owi mendengus keras dan bergumam, "Cih!". Rahangnya mengeras. Jari-jemarinya kembali mengepal.
Namun, saat matanya menyapu detail gaun bangsawan dan material kain mahal yang dikenakan Chtholly, genggaman tinju Owi perlahan mengendur.
Menyerang seorang wanita dengan atribut status sosial setinggi itu di tengah keramaian bisa berarti hukuman gantung baginya.
"Jika kau ingin pulang dengan selamat, maka cepat enyahlah dari hadapanku, dan jangan pernah kau ganggu lagi adik-adikku!"
Owi tak punya pilihan. Dengan langkah berat dan decihan kesal, ia membalikkan badan, melangkah pergi meninggalkan kerumunan.
Begitu siluet Owi menjauh, Chtholly segera berlari kecil menghampiri Vyora dan Cate. Kedua tangannya sibuk memegang lengan, bahu, dan pipi kedua gadis itu, memeriksa dengan saksama kalau-kalau ada luka gores di kulit mereka.
"Vyora, Cate...! Kamu tidak apa-apa?"
Vyora tertawa kecil. "Aku tidak apa-apa—"
Belum sempat Vyora menyelesaikan ucapannya, Chtholly sudah menarik tubuhnya dan Cate ke dalam pelukan yang teramat erat.
"Syukurlah kalau kalian tidak apa-apa! Aku sangat khawatir."
Chtholly memejamkan mata, mempererat dekapannya pada kedua gadis tersebut.
Di belakang mereka, Uchi sedari tadi tidak berhenti berusaha menyadarkan Takahiro. Gadis mungil itu terus menepuk pipi lebam si pemuda berambut putih sambil memanggilnya dengan sebutan "King".
Kelopak mata berhias kacamata itu kembali terbuka. Pandangan Chtholly jatuh ke arah tanah, menatap punggung Uchi dan sosok pemuda babak belur yang terkapar tak berdaya.
Perlahan, Chtholly melepaskan pelukannya, lalu menoleh menatap Vyora dengan sebelah alis terangkat.
"Vyora, jadi ini sebabnya kamu berurusan dengan Owi?"
Vyora tak langsung menjawab. Tubuhnya refleks berputar setengah, matanya melihat kondisi Takahiro yang masih belum merespons tepukan Uchi. Tangannya terkepal.
"Ya, inilah penyebab aku berhadapan dengan si pria brengsek itu!" tegas Vyora.
"Kamu ini bodoh sekali! Kenapa tidak—"
"Aku tidak peduli dengan keselamatanku! Jika memang aku harus mati, aku lebih baik mati dari pada harus dia yang mati."
Teriakan Vyora melengking. Chtholly tertegun, matanya membulat tak percaya.
'Kenapa ia bertindak bodoh demi satu orang yang bukan keluarganya?' batin Chtholly. Namun, ia memilih menelan rentetan pertanyaan interogasi itu.
"Apa spesialnya kau mengorbankan nyawa—"
"Dia orang yang jenius. Dia juga berencana untuk membantu keluarga kita keluar dari masalah ini!" potong Vyora lugas.
'Membantu keluarga kita keluar dari masalah ini...' Frasa itu menggema di dalam benak Chtholly. Otaknya berputar cepat mencerna korelasi antara pemuda asing babak belur ini dengan krisis panjang di keluarganya, namun ia gagal menemukan titik terang.
"Apa jaminannya kalau dia benar-benar ingin membantu kita?" tanya Chtholly.
Alih-alih Vyora yang membalas, Cate ikut menimbrung.
"Kalau Chtholly nee-san tak percaya, coba lihat saku belakang dia," pinta Cate, menunjuk lurus ke arah pinggul Takahiro yang terbaring miring di atas tanah.
Sebagai seorang wanita elegan, sebenarnya mengecek saku celana pria asing yang kotor bukanlah hal yang sudi Chtholly lakukan. Namun, tatapan penuh keyakinan dari Cate memancing rasa penasarannya.
Mendengar instruksi Cate, Uchi segera menyingkir, memberi ruang bagi wanita bergaun ungu itu.
Chtholly melangkah mendekati Takahiro. Dengan hati-hati agar gaunnya tak menyentuh debu, ia sedikit membungkuk. Saat matanya memindai bagian belakang celana pemuda itu, ia melihatnya dengan jelas.
Noda cokelat dari lumpur sawah yang telah mengering menempel tebal di kain saku tersebut.
"Noda lumpur itulah yang jadi bukti," jelas Cate.
Lumpur. Sebuah anomali kecil yang tak asing bagi warga desa petani. Fakta bahwa pemuda asing ini membawa jejak lumpur ladang di sakunya memiliki benang merah yang kuat dengan kegagalan panen keluarganya.
"Lalu—"
Vyora mengambil alih kendali pembicaraan.
"Jika Chtholly nee-san penasaran, bantu kami mengangkat tubuh pemuda itu. Aku akan menjelaskannya nanti setelah kita tiba di rumah."
Chtholly menghela napas. Ia tak bisa lagi membantah. Setiap teka-teki yang dilontarkan adiknya justru membuatnya makin penasaran.
Begitu situasi dirasa aman dari pantauan warga yang mulai membubarkan diri, keempat gadis itu bahu-membahu.
Dengan susah payah, mereka mengangkat tubuh Takahiro yang tak sadarkan diri ke atas sebuah gerobak kosong di tepi jalan.