NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Ancaman

Langit di atas Desa Veria membentang biru bersih, menyuguhkan pendar cahaya yang menyejukkan. Namun, keasrian pagi itu terasa sangat kontras dengan nasib sial yang tengah menghimpit Takahiro.

Di tengah jalan setapak, kegaduhan pecah. Tak ada satu pun warga yang berani mendekat untuk melerai. Mereka hanya melintas dengan langkah cepat, melemparkan tatapan bingung sekaligus ngeri, seolah-olah perkelahian itu adalah tontonan yang haram untuk dicampuri.

Buk! Buk! Buk!

Tiga pukulan keras mendarat telak di wajah Takahiro. Pipi dan kedua pelipis matanya mulai membiru, membengkak di bawah hantaman tangan besi si pemuda botak.

Tubuh Takahiro mulai tak berdaya, napasnya tersengal parah, dan kesadarannya kini terasa setipis tisu yang siap robek kapan saja. Jika amukan ini tidak segera dihentikan, mungkin nyawa pemuda itu benar-benar akan habis di sana.

Jauh di belakang pusat keributan, tiga gadis yang bangun kesiangan akhirnya menampakkan batang hidung mereka. Langkah mereka melambat saat melihat kerumunan warga di kejauhan.

Vyora, yang merasa asing dengan suasana riuh yang mendadak ini, bertanya lirih pada Cate.

"Cate, tumben banget hari ini ramai. Kira-kira ada apa, ya?"

Cate menoleh singkat, matanya menyapu sekeliling selama beberapa detik sebelum kembali menatap jalan di depan.

"Aku sendiri juga nggak tahu."

Uchi, yang berjalan di tengah dengan bahu terhimpit di antara Vyora dan Cate, tak sabar jika hanya harus menunggu jawaban yang tidak pasti. Rasa penasarannya mulai memicu kegelisahan di dadanya.

Tanpa aba-aba, Uchi berlari meninggalkan barisan, menghampiri seorang pria paruh baya yang tengah memanggul karung beras di pundaknya.

"Emmm... pagi, Pakde," sapa Uchi ragu. Sifat pemalunya mendadak muncul saat harus berhadapan dengan orang asing.

Pria itu menghentikan langkahnya, menurunkan beban karung dari pundak ke atas tanah, lalu menyahut dengan nada lembut.

"Iya, pagi juga," jawabnya. "Ada apa, ya?"

"Di depan ada apa, ya? Kok ramai sekali."

Tanpa curiga, pria itu menjawab dengan nada bicara yang datar.

"Oh, di sana, ya... aku sendiri nggak tahu apa penyebabnya. Tapi yang pasti, ada keributan antara pemuda asing dan—"

Mendengar frasa 'pemuda asing', jantung Uchi seolah berhenti berdetak sesaat. Firasat buruk langsung menyergap pikirannya. Tanpa sempat mengucapkan terima kasih atau sekadar salam pamit, ia langsung melesat kencang ke arah keributan, meninggalkan Cate dan Vyora yang masih terpaku jauh di belakang.

"Uchi!" Cate sempat meneriakkan namanya, namun panggilannya tenggelam di tengah hiruk-pikuk obrolan warga yang makin bising.

Di tempatnya berdiri, Vyora merasakan firasatnya makin menajam dan gelap. Ia menoleh ke arah Cate dengan raut serius.

"Cate, kita harus cepat menyusul Uchi. Firasatku semakin nggak enak!"

Meski tak sepenuhnya paham dengan ketakutan sahabatnya, Cate ikut berlari membuntuti Vyora dari belakang. Begitu mereka tiba di pusat keramaian, langkah keduanya terhenti mendadak.

Di sana, Uchi berdiri mematung dengan mata membulat sempurna dan mulut ternganga, persis seperti orang yang baru saja melihat hantu di tengah terangnya pagi.

Cate yang pertama kali mendekat, mencoba merengkuh bahu Uchi yang tampak membeku karena syok.

"Uchi. Kamu kenapa?"

Uchi tak sanggup bersuara. Bibirnya bergetar, namun jari telunjuknya perlahan terangkat, menunjuk ke arah sumber kebisingan di tengah lingkaran warga.

Cate mengikuti arah jari itu. Matanya seketika menyipit tajam. Di sana, Takahiro sudah terkapar tak berdaya, sementara si pemuda kekar masih terus menghujani wajah Takahiro dengan pukulan demi pukulan.

Vyora yang berdiri di belakang mereka pun ikut menyaksikan pemandangan brutal itu. Ia sadar, lawan yang dihadapi Takahiro bukan orang biasa.

Tanpa pikir panjang mengenai keselamatannya sendiri, Vyora berlari menembus kerumunan, bermaksud melerai kegilaan itu.

Begitu sampai di titik buta si pemuda botak...

"HENTIKAN!!"

Vyora berteriak sekuat tenaga. Bersamaan dengan itu, ia menabrakkan seluruh berat tubuhnya, mendorong si pemuda kekar hingga terlempar mundur dari atas tubuh Takahiro.

Uchi dan Cate yang sempat terpaku segera sadar dari keterpanaan mereka. Keduanya berlari menyusul Vyora untuk menolong Takahiro dari amukan si botak.

Cate segera berlutut di samping kiri Takahiro, ia melebarkan telapak tangan kanannya ke arah si pemuda botak—sebuah isyarat bisu yang tegas untuk berhenti. Gurat kemarahan kini terpulas jelas di wajah Cate.

Sementara itu, Uchi dengan tangan gemetar menepuk-nepuk lembut pipi Takahiro yang lebam, berusaha memanggil sisa kesadaran pemuda berambut putih itu yang kian meredup.

Sadar pesta pukulannya diganggu, pemuda botak itu menggeram. Saat Vyora membanting tubuhnya tadi, ia dengan cepat membalas dengan berdiri tegak, matanya menatap tajam ke arah Vyora.

"Oh, jadi kau ya, Vyora?!"

Vyora memasang badan, menjadi garda terdepan untuk melindungi kawan-kawannya. Meski lututnya gemetar hebat menghadapi sosok yang jauh lebih besar darinya, ia memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak demi seseorang yang bahkan baru ia kenal kemarin.

"Berani sekali menggangguku," lanjut pria itu. Suaranya yang berat dan dalam membuat aura di sekitar jalanan itu mendadak mencekam. Warga yang menonton mulai menundukkan kepala, tak berani menatap matanya. "Kau tahu dengan siapa kau sedang berhadapan?"

"Aku tahu!" tegas Vyora singkat. Suaranya memang bergetar, tapi sorot matanya menolak untuk tunduk.

"Lantas... jika kau sudah tahu siapa aku, maka cepat enyahlah dari hadapanku! Biarkan aku—"

"AKU TIDAK TAKUT DENGANMU! KAU HANYA PECUNDANG YANG BERANI MENINDAS ORANG LEMAH!"

Kalimat cempreng Vyora yang melengking itu seketika membuat suasana makin panas. Frasa 'orang lemah' seolah-olah menjadi bahan bakar yang membuat pembuluh darah si pemuda botak mendidih.

Alisnya menukik tajam, bibir bawahnya digigit kuat-kuat menahan luapan emosi yang kini mencapai puncaknya.

Dalam sepersekian detik, pemuda botak itu menerjang maju. Langkahnya berat dan cepat menghampiri Vyora. Tangan kanannya sudah mengepal keras di sisi tubuh, siap meluncurkan pukulan telak yang mematikan ke arah wajah gadis itu.

"KURANG AJAR!!!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!