Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.
Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.
Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.
"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Berjualan di Pasar Gelap
Keesokan harinya, Meng Lin ke kota bersama dengan Liu Yuran. Rekan sekamat Xia Ning. Dia juga pergi ke kota untuk mencoba peruntungan, waktu sekolah nilainya lumayan bagus.
Sedangkan Yan Rao yang tau dari langsung menyerah, jika itu adalah mata pelajaran Matematika.
Sebenarnya bukan tes ujian pada umumnya. Semuanya yang ikut mendaftar diberi waktu untuk mengajar para murid. Dan murid lah yang akan memilih, siapa yang cocok jadi Guru mereka.
Ternyata bukan cuma untuk Guru SMP tapi juga pemilihan Guru SD. Liu Yuran yang melihat banyak memilih SMP, dia langsung ganti target jadi guru SD. setidaknya saingannya lebih sedikit.
Acara itu berlangsung sampai siang hari. Meng Lin mengajak Liu Yuran untuk makan siang di Restoran Negara.
"Meng Lin.. Aku makan siang di asrama saja!" ucapnya dengan pelan sambil memeras tasnya. Bukan tidak punya uang, tapi dia harus berhemat sampai panen.
"Hari ini aku yang traktir.. Nanti setelah kamu sudah sukses, giliran kamu yang mentraktirku..!" kata Meng Lin.
Liu Yuran menatap Meng Lin dengan perasaan haru. Dia tahu, Meng Lin tidak ingin dia menoleh, jadi dia sengaja mengatakan kalimat seperti itu.
"Emm baiklah... Aku pasti mentraktirmu, kalau sudah sukses nanti!" balasnya dengan tegas. Di dalam lubuk hatinya, dia berharap hal itu benar-benar terjadi.
Meng Lin mengangguk sambil tersenyum kecil. Dia menarik tangan Liu Yuran dan masuk ke dalam Restoran dan memasan beberapa makanan.
"Kak Liu, aku makannya tidak banyak. Kalau tidak dihabiskan, kita bungkus pulang saja!" ujar Meng Lin.
Liu Yuran menatap sisa makanan di meja. Memang masih banyak. Meng Lin hanya mengambil sedikit saja. Kalau tidak dibawa pulang, sangat mubazir.
"Ya. Kita bawa pulang saja. Tadi kita makan dipinggirnya saja. Tidak sampai diaduk-aduk. Masih bisa dipanaskan untuk makan malam.!" jelasnya.
Meng Lin mengangguk. Dia memanggil pelayan, dan meminta untuk membungkus semua sisa makanan di meja. Meng Lin harus membayar lebih, untuk kotak makannya.
***
Setelah keluar dari Restoran, Meng Lin meminta Liu Yuran untuk pulang lebih dulu. Karena dia masih ada urusan.
"Hei.. Kita harus pulang bersama. Aku akan menunggumu di luar gerbang kota.!" Liu Yuran langsung menolak. Jika dia pulang lebih dulu, Meng Lin pasti pulang sendiri, dan itu sangat berbahaya. Apalagi Meng Lin belum mengenal area sekitar.
"Tapi, aku sedikit lama..!" sahut Meng Lin. Tidak mungkin dia jujur, kalau dia mau pergi pasar gelap untuk jual panen.
"Tidak apa-apa.. Aku akan menunggumu. Jika hari mulai gelap, dan kamu belum balik juga aku akan melapor ke kantor polisi..!" kata Liu Yuran dengan serius.
Meng Lin tersenyum, teman barunya itu benar-benar mengkhawatirkannya. Tapi itu sangat wajar, dia baru beberapa hari di sini.
"Kak Liu.. Kamu tenang saja. Aku akan balik sebelum gelap..!" ujar Meng Lin dengan yakin.
"Emm.. Kamu pergilah, hati-hati dengan orang asing!"
Meng Lin mengangguk dan pergi meninggalkan Liu Yuran yang Masih terus berdiri di depan Restoran.
Meng Lin terpaksa mengambil jalan yang lain. Agar Liu Yuran, tidak menebak kemana dia pergi..Dia sudah lama desa, pasti sudah tahu banyak hal.
***
Setelah membayar biaya masuk, Meng Lin akhirnya melangkah ke dalam pasar gelap.
Suasana di sana jauh lebih ramai daripada yang dibayangkannya.
Lorong-lorong sempit dipenuhi orang yang berlalu-lalang, sementara suara tawar-menawar terdengar dari berbagai sudut. Beberapa orang menjajakan beras, tepung, telur, dan bahan makanan lainnya.
Ada pula yang menjual pakaian bekas, kain, serta berbagai barang kebutuhan sehari-hari.
Meskipun tempat ini disebut pasar gelap, kegiatan jual beli berlangsung cukup teratur.
Para pedagang menempati sudut-sudut yang telah mereka pilih sendiri, sedangkan pembeli bergerak dari satu lapak ke lapak lain untuk mencari barang yang mereka butuhkan.
Meng Lin tidak terburu-buru. Dia mengamati keadaan sejenak, kemudian berjalan ke sudut yang tidak terlalu jauh dari kerumunan, tetapi masih cukup strategis untuk menarik perhatian pembeli.
Dia meletakkan keranjang bambu yang dibawanya di tanah.Begitu labu itu diletakkan di atas kain yang dibentangkannya, seorang perempuan yang kebetulan lewat langsung menghentikan langkah.
"Astaga! Labu sebesar itu?" tanyanya dengan terkejut. Dia baru pertama kali melihat labu sebesar itu.
Seruannya segera menarik perhatian beberapa orang di dekatnya. Seorang lelaki paruh baya yang sedang memilih sayuran ikut menoleh.
Ketika melihat labu berwarna hijau kekuningan di hadapan Meng Lin, matanya langsung membesar, dia sudah tua, dan baru kali ini melihat labu yang tumbuh begitu dengan baik.
"Anak muda, berapa harga labu ini?" tanya seorang perempuan yang berjongkok di depan lapak Meng Lin.
"200 wen per jin." balas Meng Lin. Itu memang sedikit lebih mahal. Tapi, semua itu tanpa alasan karena tanaman yang ditanam di ruang dimensi memiliki khasiat nya sendiri.
Perempuan itu sedikit terkejut mendengar harganya, tetapi setelah memperhatikan ukuran labu yang hampir sebesar tubuh bagian atasnya, dia merasa harga tersebut masih layak.
"Kalau begitu, potongkan aku dua jin."
"Baik.!" Meng Lin mengambil pisau yang sudah disiapkannya, kemudian memotong sebagian labu dengan rapi. Setelah menimbangnya menggunakan timbangan yang dibawanya, dia menyerahkan potongan labu tersebut kepada perempuan itu.
Perempuan tersebut membayar 400 wen, lalu membawa pulang belanjaannya dengan wajah puas.
Melihat transaksi itu berlangsung begitu mudah, orang-orang yang sejak tadi memperhatikan segera mendekat.
"Aku juga mau! Satu jin saja."
"Potongkan aku tiga jin!"
"Aku mau dua jin. Pilihkan bagian yang bagus!"
Dalam sekejap, lapak kecil Meng Lin dikerumuni pembeli. Dia tetap tenang menghadapi keramaian tersebut.
Setiap kali seseorang memesan, dia memotong labu sesuai jumlah yang diminta, meletakkannya di atas timbangan, lalu menyebutkan harga yang harus dibayar.
Satu jin seharga 200 wen, dua jin 400 wen, dan tiga jin 600 wen. Perhitungannya sederhana sehingga tidak ada alasan bagi pembeli untuk bingung.
Yang membuat orang-orang semakin tertarik adalah kualitas labu tersebut. Kulitnya tampak segar, dagingnya tebal, dan ukurannya jauh lebih besar daripada labu yang biasa mereka temukan di pasar.
"Di mana kau mendapatkan labu sebagus ini?" seorang lelaki bertanya sambil menunggu gilirannya.
"Hasil panen," jawab Meng Lin singkat.
"Panen dari mana? Kenapa ukurannya bisa sebesar ini?" tanyanya penasaran.
Meng Lin mengangkat kepala dan tersenyum tipis dibalik maskernya. "Kalau ingin membeli, silakan. Kalau hanya ingin bertanya, jangan menghalangi pembeli lain."
Lelaki itu langsung terbatuk kecil, sementara beberapa orang di dekatnya menahan tawa. Dia tidak marah dengan sikap Meng Lin, karena aturan pasar gelap adalah melarang bertanya dari mana hasil barang jualan.
Jika ada masalah dengan barang tersebut maka harus tanggung sendiri akibatnya itulah resiko jika sudah masuk ke tempat seperti itu.
Meng Lin kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaannya. Dia hanya mengeluarkan 5 labu yang utuh dan memotongnya di tempat.
Lalu berpura-pura lagi mengambil yang sudah dipotong. Ya, semalam dia masuk ke ruang dimensi untuk memotong buah labu tersebut agar lebih mudah.
Setelah semuanya habis terjual Meng Lin segera membereskan barang-barang dan bergegas untuk pulang. Dalam satu jam saja di sudah mendapatkan 7 Yuan.
.
.
.
next double up ya Thor 😁
update nya kurang banyak Thor 😀👍
gift ☕ biar semangat 🥰🥰