NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ungkapan Hati Adira

Malam semakin larut.

Aretha sudah tertidur pulas di dalam boksnya setelah menyusu tadi. Adira yang menidurkan dan memastikan putrinya nyaman sebelum kembali ke kamar.

Tak lama kemudian, Areksa masuk menyusul Adira. Ia baru saja dari ruang kerja Aruna.

“Dia sudah tidur?” tanya Areksa.

“Sudah, Tuan.”

Areksa mengangguk pelan. Kemudian pandangannya beralih kepada Adira.

“Sama Kenzo, kamu panggil dia Kakak. Sama saya, kamu tidak mengubah panggilan sedikit pun.”

Adira tidak menjawab.

“Saya sedang ngomong sama kamu, Adira.”

“Iya saya dengar, Tuan.”

“Kalau dengar, kenapa enggak kamu jawab?”

“Saya lebih nyaman manggil dengan nama Tuan.”

Areksa menghela napas. “Lalu kenapa kamu enggak jujur saja kalau kamu yang masak tadi?”

“Saya takut masakan saya tidak pas di lidah Tuan.”

“Padahal enak. Sampai saya nambah berkali-kali.”

Adira tersenyum kecil. “Benarkah?”

“Besok-besok, saya mau kamu yang masak.”

“Iya.”

Areksa kemudian berjalan menuju tempat tidur. “Saya mau tidur di kasur.”

“Oh, ya sudah. Saya di sofa." Adira mengambil bantalnya.

“Enggak. Kita tidur berdua.”

“Maaf, enggak bisa, Tuan.”

Adira hendak membawa bantalnya menuju sofa. Namun Areksa spontan meraih lengannya. “Adira, tunggu.”

Tarikan itu membuat Adira kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh Areksa.

Areksa refleks menahan pinggang Adira agar perempuan itu tidak terbentur.

Keduanya membeku sesaat. Tatapan mereka bertemu.

Jarak yang begitu dekat membuat Adira dapat merasakan hembusan napas Areksa di wajahnya. Sementara itu, aroma lembut lotion yang digunakan Adira tercium jelas oleh Areksa.

Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak.

Adira kemudian menyadari posisi mereka dan hendak segera bangkit.

Namun sebelum itu, Areksa lebih dulu berkata pelan, “Adira...”

“Iya, Tuan?”

“Sebentar sebelum tidur...” Areksa menarik napas pendek. “Apa kita bisa bicara santai di balkon?”

Adira kembali menatap matanya. Entah mengapa, sorot mata laki-laki itu terasa begitu familiar.

Ada sesuatu yang samar di sana.

Sesuatu yang membuat pikirannya melayang jauh ke masa kecilnya—kepada sosok laki-laki yang dulu selalu ia bayangkan sebagai seorang pahlawan. Seseorang yang pernah membuatnya merasa aman ketika dunia terasa begitu besar.

Kenapa mata Tuan mengingatkan aku kepadanya?

Adira tidak menemukan jawabannya.

Ia hanya mengangguk pelan. “Iya.”

Perlahan, Adira bangkit dari tubuh Areksa dan merapikan pakaiannya sebelum berjalan menuju balkon.

Areksa masih berada di tempatnya beberapa saat. Tangannya naik menyentuh dada sendiri.

Denyut jantungnya terasa jauh lebih cepat dari biasanya.

Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri.

Kenapa setiap kali dekat Adira seperti ini, gue selalu jadi aneh?

Areksa akhirnya bangkit dan menyusul Adira ke balkon.

Di sana, Adira sudah berdiri menghadap halaman rumah yang diterangi lampu-lampu taman.

Areksa berhenti beberapa langkah di belakangnya.

“Adira.”

Perempuan itu menoleh. “Iya?”

Areksa menunjuk kursi di dekat pagar balkon. “Duduk saja. Saya cuma ingin bicara.”

Adira mengangguk dan duduk.

Areksa mengambil kursi di sebelahnya, tetapi tetap memberikan jarak.

Malam terasa tenang.

Angin berembus pelan, membawa aroma bunga dari taman.

Untuk beberapa saat, keduanya hanya menikmati keheningan. Hingga akhirnya Areksa membuka percakapan.

“Saya sebenarnya mau tanya sesuatu.”

“Apa?”

Areksa menatapnya. “Kenapa kamu selalu merasa harus menjaga jarak dari saya?”

Adira menatap halaman di bawah balkon. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan.

“Karena saya takut.”

“Takut apa?”

Adira menarik napas panjang. “Apa saya boleh mengatakannya dengan jujur?”

“Itu yang saya inginkan.”

Adira menundukkan wajah. “Pernikahan saya dengan mantan suami saya awalnya baik. Selama tiga bulan pertama, dia memperlakukan saya dengan baik. Saya pikir... saya akhirnya punya keluarga.”

Suaranya perlahan melemah. “Tapi setelah dia di-PHK, semuanya berubah. Dia tidak punya pekerjaan dan tidak punya penghasilan. Saya yang harus bekerja. Saya membuat warung makan kecil. Apa pun saya lakukan supaya kami tetap bisa hidup.”

Adira tersenyum getir. “Tapi bukannya keadaan membaik, dia justru semakin kasar.”

Areksa mengepalkan tangannya, tetapi tetap membiarkan Adira melanjutkan ceritanya.

“Bahkan ketika saya sedang hamil muda. Waktu itu dokter menyarankan saya untuk menjaga kondisi kehamilan dan tidak melakukan hubungan intim untuk sementara. Tapi suatu malam dia pulang dalam keadaan mabuk. Dia tidak peduli dengan kondisi saya. Saya sudah menolak, tapi dia tetap memaksa.”

Suara Adira mulai bergetar. “Setelah itu dia memukul saya. Menghina saya. Bahkan menyalahkan anak kami. Dia bilang sejak saya hamil, hidupnya semakin kacau. Padahal sejak awal dia memang tidak ingin punya anak.”

Adira mengusap sudut matanya. “Beruntung anak saya tetap bisa lahir dengan selamat meskipun prematur.”

Ia berhenti sebentar. “Dan sampai sebelum kami resmi bercerai... dia masih terus memaksa saya melakukan hal-hal yang tidak saya inginkan.”

Balkon kembali sunyi. Angin malam bergerak pelan melewati mereka.

Areksa akhirnya bertanya dengan suara rendah, “Jadi maksud kamu... ketika melihat saya malam itu, kamu seperti melihat mantan suami kamu?”

Adira mengangguk. “Sejujurnya, iya.”

Tatapannya mulai berkaca-kaca. “Bukan karena Tuan sama seperti dia. Saya tau keadaan Tuan malam itu berbeda. Saya tau Tuan tidak sepenuhnya sadar. Tapi bagi saya... tubuh saya tidak bisa membedakan rasa takut itu.”

“Apa tubuh ini tidak berhak menolak?” suara Adira bergetar. “Kenapa setiap kali saya bilang tidak, tubuh saya selalu seperti tidak punya hak untuk didengarkan?”

Air matanya mulai jatuh. “Kenapa tubuh saya selalu dijadikan tempat orang lain melampiaskan sesuatu?”

Areksa menundukkan kepala. “Adira...”

“Itu sebabnya saya tidak nyaman.”

Adira mengusap air matanya. “Dan itu juga alasan saya menolak pernikahan kita.”

“Tapi saya tidak seperti dia.”

“Saya tau.”

Adira tersenyum getir, ia menatap suaminya. “Setidaknya saya ingin percaya begitu. Tapi siapa yang bisa menjamin? Pertama kali Tuan melakukannya...Tuan mungkin tidak berniat menyakiti saya. Tapi tetap saja saya tidak menginginkannya.”

Areksa mengangguk pelan. “Maaf, Adira.”

Hanya dua kata. Namun kali ini tidak ada pembelaan setelahnya.

Tidak ada alasan.

Adira kembali menatap halaman. “Saya takut kalau saya benar-benar menerima pernikahan ini, suatu hari nanti saya akan mengalami hal yang sama lagi.”

Suaranya semakin kecil. “Saya takut suatu saat Tuan berubah. Saya takut suatu hari Tuan merasa saya sudah tidak dibutuhkan lagi, lalu saya dibuang begitu saja.”

Areksa ingin menyela, tetapi urung.

“Mungkin memang saya sudah ditakdirkan untuk hidup sendiri.”

Air mata Adira kembali mengalir. “Sejak kecil saya sudah kehilangan banyak hal. Saya pernah diculik. Saya diasuh oleh orang-orang yang bahkan tidak saya kenal. Saya harus mencari uang sendiri.”

Bahu Adira mulai bergetar. “Pernikahan saya juga hancur. Dan anak saya...”

Kalimat itu terputus. “Anak saya juga pergi meninggalkan saya.”

Tangisnya akhirnya pecah.

Adira menundukkan wajah dan menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan suara tangis yang semakin deras. Dadanya terasa sesak.

Areksa refleks bergerak mendekat. Namun ia berhenti sesaat.

Ia tidak ingin menyentuh Adira tanpa memastikan bahwa kehadirannya diterima.

“Adira...”

Perempuan itu tidak menjawab. Bahunya masih terguncang.

Areksa kemudian berkata lirih, “Boleh saya peluk?”

Adira tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, ia hanya mengangguk kecil.

Areksa perlahan merangkulnya.

Tidak erat. Tidak memaksa. Hanya cukup untuk membuat Adira tau bahwa ia tidak sendirian.

Adira tidak menghindar.

Mungkin setelah bertahun-tahun harus menanggung semuanya seorang diri, malam itu ia hanya membutuhkan tempat untuk menangis.

Areksa mengusap punggungnya perlahan. "Menangislah kalau memang ingin menangis. Saya tidak akan menyuruh kamu berhenti.”

Tangis Adira justru semakin pecah. “Saya enggak tau harus bagaimana, Tuan...”

“Saya juga tidak akan meminta kamu melupakan semua yang sudah terjadi. Saya tau saya tidak bisa menghapusnya.”

Ia menundukkan wajah sedikit. “Tapi saya bisa memastikan satu hal. Saya akan belajar mendengarkan kamu ketika kamu bilang tidak. Dan kalau suatu hari kamu merasa takut kepada saya, kamu berhak menjauh. Saya tidak akan memaksa kamu.”

Adira tidak menjawab.

Ia hanya membiarkan air matanya jatuh, sementara setelah sekian lama, ia tidak harus menanggung tangis itu sendirian.

***

Setelah tangis Adira perlahan mereda, Areksa melepaskan pelukannya.

Ia menatap wajah Adira yang masih basah oleh air mata. Tangannya terangkat, lalu dengan hati-hati mengusap sisa air mata di pipi perempuan itu.

“Tunggu sebentar.”

Adira mengerjapkan mata. “Mau ke mana, Tuan?”

“Nanti saya kembali.”

Areksa kemudian meninggalkan balkon.

Adira masih duduk di sana, berusaha mengatur napas. Ia mengusap pipinya sendiri sambil menatap halaman yang mulai sepi.

Tak lama kemudian, langkah Areksa kembali terdengar.

Laki-laki itu muncul sambil membawa sesuatu di tangannya.

“Nih.” Areksa menyodorkan sebuah batang cokelat kepada Adira.

“Ini, makan.”

Adira menatap cokelat tersebut dengan bingung. “Cokelat?”

“Iya.”

Adira menerimanya. “Kenapa?”

Areksa duduk kembali di kursinya. “Cokelat bisa bikin kita sedikit lebih baik.

"Dari sedih jadi happy?”

Areksa tersenyum tipis. “Kurang lebih begitu.”

Ia mengangkat bahu. “Memang cokelat enggak bisa menghilangkan kesedihan kita. Masalah juga enggak akan langsung selesai cuma gara-gara makan cokelat. Tapi setidaknya bisa sedikit memperbaiki mood.”

Adira membeku. Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa begitu familiar.

Ada sesuatu yang bergerak pelan di dalam ingatannya. Sesuatu yang sudah bertahun-tahun terkubur begitu dalam hingga hampir tidak pernah ia pikirkan lagi.

Deg!

Adira menatap cokelat di tangannya.

Perlahan, ia mengangkat wajah dan memandang Areksa.

“Tuan...”

“Hm?”

“Itu kata-kata dari siapa?”

Areksa tidak langsung menjawab. Tatapannya justru berubah lembut. Kemudian ia tersenyum tipis.

“Saya sendiri.”

Adira membeku.

Saya sendiri...

Perlahan, kelopak matanya terpejam.

Entah kenapa, jawaban itu justru membuat sebuah potongan ingatan muncul begitu saja.

Seorang anak perempuan kecil. Duduk sendirian. Wajahnya sembap karena menangis.

Lalu seorang anak laki-laki berdiri di hadapannya. Anak laki-laki yang selalu ia anggap sebagai seorang superhero.

Sosok yang dulu selalu muncul ketika ia merasa takut.

Yang selalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Yang pernah memberinya sesuatu untuk membuatnya berhenti menangis.

Siapa kamu...?

Adira mengerutkan kening.

Potongan ingatan itu datang terlalu cepat dan terlalu samar. Wajah anak laki-laki tersebut tidak pernah benar-benar terlihat jelas dalam ingatannya.

Namun ada satu hal yang masih ia ingat.

Suaranya. Dan cara anak itu membuatnya merasa aman.

Adira membuka mata perlahan.

Tatapannya kembali jatuh kepada Areksa.

Untuk sesaat, ia kembali memperhatikan mata laki-laki itu.

Mata yang sejak tadi terasa begitu familiar.

Kenapa setiap kali melihat mata Tuan, aku seperti pernah mengenalnya?

Areksa menyadari tatapan Adira. “Kenapa?”

Adira segera menggeleng. “Enggak apa-apa.”

“Kalau begitu, makan cokelatnya.”

Adira mengangguk. “Iya.”

1
sunaryati jarum
Mama mertua the best tahu cara membantu putranya untuk dekat dengan istrinya /Good//Heart//Heart/
sunaryati jarum
Memang dia punya magnet untuk menarik kamu Nak Arka
sunaryati jarum
Emak beri dr Kenzo Adira itu istri majikannya
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Beneran jatuh cinta Tuan Reksa
cutegirl
nah kan begtu enak Diomongin
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
sunaryati jarum
Jalani saja Adira.Mungkin Areksa pernah bertemu Adira,atau cinta pertama saat kecil,jadi sekarang rasanya sangat familiar
sunaryati jarum
Ayah yang bijaksana sana,kirain. terjebak Felicia ternyata dengan Adira,itu kemauan Aruna,Niki Reksa harus menikah ya dengan Adira
Syti Sarah
kyak nya udh bucin tuh areksa sama Adira 🤭🤭
Syti Sarah: tinggal mnunggu Adira mnerima nya aja lgi kak 🤭
total 2 replies
NN
lanjut
Syti Sarah
smoga suatu hari nanti mreka bisa mnjdi sbuah kluarg yg bnar2 bhgia dan bisa mnrima stu sama lain 😊
kembangperawan
kapan terungakp siapa gadis kecik areksa?
Syti Sarah
areksa juga mnyukai Adira
just a grandma
blang aja kmu mencintai adira kan Reksa🥲
Syti Sarah
apakah nanti Adira akan mambenci areksa ya 🤔
Syti Sarah: psti nya itu Thor .bikin areksa pusing 7 kliling dulu Thor demi untuk mndpatkn Adira 🤣🤣🤣
total 2 replies
sunaryati jarum
Berarti kalian.pernah ketemu saat kecil
Syti Sarah
psti di kasi obat perangsang deh oleh felicia.itu psti rncan nya dgn mama nya 😏
Syti Sarah: iya btul bnget kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!