Setelah akhirnya memasuki masa pensiun, Raya memutusakan menghabiskan hari tuanya seorang diri di sebuah vila mewah yang telah ia beli dengan hasil kerja keras selama puluhan tahun.
Namun, nasib seolah mempermainkannya. Baru sehari menikmati kehidupan sebagai pensiunan kaya, keesokan paginya ia terbangun di dunia yang sama sekali asing.
Bukan hanya itu, ia kini menghuni tubuh seorang wanita berusia tiga puluhan yang terkenal genit dan mesum.
Beruntung, ia mengetahui satu rahasia besar.
Halaman belakang rumah reyot yang tak diinginkan siapa pun itu ternyata terhubung dengan zaman lain.
Dalam ruangan penghubung dimensi, ternyata menyimpan kekuatan yang mengubah nya selangkah demi selangkah menjadi abadi.
2 Agustus 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Angh, I-istriku... A-ampun
1 Sichen ( 2 jam ) berlalu.
Huo Beichen membuka matanya, ia menatap dengan tak percaya. "Dalam waktu sesingkat ini aku hampir menembus batas!"
Su Wanwan yang juga berkultivasi-- duduk di sebelahnya juga ikut membuka mata. "Bagaimana dengan lukamu?"
"Sudah sembuh, aku juga hampir tembus 3 Qi. Mungkin beberapa jam berkultivasi lagi aku bisa naik tingkat."
Su Wanwan mengangguk. "Baiklah itu bagus, tapi ayo keluar dulu. Bawahan mu mungkin menunggu mu dengan khawatir."
Huo Beichen mengangguk, dan mereka berdua pun keluar dari dalam ruang. Setelah keluar, Su Wanwan memanggil kedua laki-laki itu untuk menemui suaminya.
"Salam tuan, syukurlah anda selamat."
"Kenapa? Tidak percaya kepada ku?" Goda Su Wanwan menatap Heyu.
"T-tidak senior, kesembuhan tuan Heyu berkat senior. Terimakasih banyak."
Su Wanwan tersenyum menahan tawa. "Sudahlah, sudahlah, kalian bahas lah apa yang ingin kalian bicarakan. Aku keluar dulu."
Huo Beichen menahan tangan Su Wanwan, "istriku... Jangan pergi, tetaplah disini dengan ku."
Heyu dan Huyu seketika terbelalak, mereka saling melirik-- seolah berbicara melalui telepati. 'Hebat sekali tuan mereka, baru bertemu sudah memeluk kaki senior erat-erat.'
Tidak peduli apakah tuan mereka jadi tidak tahu malu-- baru kenal sudah panggil istri, tapi yang pasti mereka rasa keputusan tuan mereka sangat tepat. Senior abadi ini, jika bisa masuk menjadi pendukung tuan mereka-- itu akan sangat menguntungkan.
"Baiklah, aku akan menemanimu."
Su Wanwan duduk di samping Huo Beichen, membiarkan lelaki manja nya selama dua kehidupan itu memeluk nya dari samping.
"Bagaimana dengan pembunuh itu"
"Lapor tuan, berkat senior, lima di antara tujuh pembunuh sudah kami bereskan. Bekas darah dan pertarungan juga sudah di hilangkan, sisa dua orang yang di biarkan hidup untuk di interogasi juga diam-diam mati karena racun di mulut mereka."
"Baiklah, tanpa di interogasi pun kita sudah tahu dalangnya. Huyu, kau pulang lah ke ibukota. Laporkan kepada keluarga ku aku tidak apa-apa, hanya menetap beberapa hari sebelum kembali."
"Jika Ayahku mengintrogasi mu, katakan sejujurnya saja, jangan di tutup-tutupi."
"Heyu, kau tetap dengan ku. Jaga kediaman ini dari kegelapan "
"Baik tuan, Heyu/Huyu laksanakan perintah." Dalam beberapa detik Huyu dan Heyu pun melesat pergi, Huyu langsung pergi ke Ibukota dan Heyu langsung bersembunyi di pepohonan luar kediaman.
Setelah kedua bawahan nya pergi, Huo Beichen semakin menempel erat kepada istrinya. "Istriku, terimakasih... Jika tidak ada kamu, suami kesayangan mu ini pasti sudah tiada."
"Sudahlah, sudahlah. Kamu sudah menderita." Su Wanwan mem puk-puk kepala suaminya dengan lembut. Lalu melanjutkan ucapannya, "tapi, siapa sebenarnya dalang di balik penyerangan mu semalam?"
"Siapa lagi jika bukan saudara tiriku, Huo Minho. Dia ingin aku mati sehingga dia lah yang akan menjadi pewaris satu-satunya di kediaman jendral Huo."
"Huo Minho di dukung oleh Ibunya, sementara aku sendiri tanpa Ibu. Istriku, kamu harus menyayangi ku ya..."
Su Wanwan tentu tahu jika Ibu Huo Beichen meninggal beberapa bulan setelah melahirkan nya. Dan kediaman jendral mengangkat nyonya baru, yaitu ibu dari Huo Minho ini.
Namun bagaimana ia akan menceritakan hal lainnya kepada suaminya-- seperti dunia ini adalah cerita dan pintu penghubung dunia modern. Ia bisa melakukannya pelan-pelan, saat ini adalah waktu nya ia dan suaminya melepas rindu.
Semua masalah bisa di bicarakan nanti, namun rindu batin harus segera di selesaikan.
"Sayang~" Su Wanwan menangkup setengah wajah suaminya, saling tatap dengan suasana yang mulai memanas.
Saat Huo Beichen mulai memejamkan mata, mengira mereka akan berciuman. Pipinya tiba-tiba terasa dingin dan tubuh yang ia peluk mulai menghilang.
"Istriku..."
Su Wanwan tersenyum. "Tunggu dulu sebentar." Ia mengeluarkan pena dan kertas, menuliskan sesuatu lalu menempelkan di luar pintu.
Jika ingin bebas melepas rindu tanpa gangguan, maka jangan biarkan orang mengganggu. Ia takut, dengan perasaan ketiga bujang yang telah di ungkapkan mereka tidak akan membiarkan nya tenang.
Setelah mengunci pintu, Su Wanwan berjalan mendekati suaminya dan mengulurkan tangan. Huo Beichen tanpa ragu menerima uluran tangan istrinya dan langsung menarik tubuhnya. Lalu tanpa ragu lagi ia langsung mengk0k0p nya.
"Hmphh~ "
**
Setelah kejadian semalam, tidak ada lagi kehangatan makan bersama. Hu Zheng, Shen Yuzhi dan Bai Rongxin mulai menyusun rencana mereka sendiri.
Pagi-pagi sekali Bai Rongxin sudah memasak dan menyiapkan hidangan-hidangan yang pernah di puji nyonya nya. Ayam tepung, ayam tumis rebung, soup... Wangi masakannya sangat menusuk perut.
Shen Yuzhi sedang menulis puisi indah untuk nyonya nya, mencari kata-kata indah untuk menyenangkan nyonya-nyonya.
Sementara Hu Zheng mulai menyusun info-info yang akan di laporkan kepada nyonya. Semua hal yang terjadi di desa bahkan sampai siapa yang pernah berkunjung ke rumah saat Su Wanwan pergi ia menuliskan nya dengan rinci, semuanya hanya demi satu hal... Agar ia memiliki waktu berdua dengan nyonya nya.
Namun,,, saat kaki mereka mulai melangkah ke halaman nyonya nya. Satu persatu harus merasa kecewa, dengan tulisan. 'Apapun Yang Terjadi, Jangan Ganggu!'
Kata-kata itu sangat jelas dan menghancurkan harapan mereka, Bai Rongxin membawa kembali hidangan nya.
"Hah... Apakah nyonya sengaja menjauhi kita?"
Akhirnya hidangan yang di masaknya hanya bisa di makan bersama, dan buku yang berisi puisi hanya bisa tertutup dan laporan-laporan dalam kertas gulung itu hanya bisa tersimpan di laci gelap.
Sementara itu, tanpa mereka duga dan sangka sebenarnya nyonya di dalam bilik sedang menyiksa pria lain dengan begitu kejam.
Di bawahnya, Huo Beichen sudah bermandikan keringat dengan napas yang sudah tak beraturan. "Istriku, biarkan aku di atas saja... Gantian, anghh"
"Kenapa huh? Apakah suamiku tidak puas dengan guncangan yang ku lakukan? Apakah paku kecil ini tidak puas, huh~ "
"I-istriku... Punyaku jelas bukan paku, apakah kamu merasa kecil?"
Su Wanwan menahan senyum nya. "Iya-iya, bukan paku tapi palu. Puas!"
Plok!
Di atasnya Su Wanwan yang sudah terbiasa mempermainkan suaminya kini bergerak dengan luwes dan terencana. Ia tidak memberi napas untuk palu itu merasakan rileks setelah keluar, ia terus memompa nya sampai palu Huo Beichen terus keluar dengan tak terkendali.
Wajah Huo Beichen memerah. Rona merah perlahan menjalar ke bagian tubuhnya yang lain, seolah-olah bara api di dalam perutnya menyebar ke seluruh tubuh, membakar setiap bagian yang dilewatinya.
"Istriku, Arghhh~ Pelan-pelan, kasih napas..."
Tubuh Huo Beichen terus bergetar menahan kenikmatan yang terus datang tanpa henti, Su Wanwan dengan senyuman jahat membelai wajahnya.
"I-istriku... A-ampun..."